
"Kamu yang minta, kalau sampai nangis awas saja ... aku nggak akan berhenti, Amara." Syakil menekan setiap kata-katanya, pria itu menarik Amara begitu dekat dalam pelukannya, sang istri yang meminta maka tidak akan ada alasan untuk Syakil berhenti.
"Iya, aku yang minta," tutur Amara kemudian mengecupnya singkat tanpa Syakil minta.
Beberapa saat Syakil biarkan istrinya melakukan apa yang dia mau sendirian. Kemampuan Amara tidak seburuk itu, mungkin ilmu tadi pagi dia serap dengan cepat.
Syakil menarik sudut bibir kala Amara menjauhkan wajahnya sejenak, sejak tadi Syakil tidak membalas ciuma*nnya. Hanya ingin melihat bagaimana reaksi Amara setelah ini.
Sesuai dugaan, istrinya tertunduk malu kemudian hendak menjauhinya. Syakil meraih dagu Amara sebelum kemudian mengecupnya sebagaimana yang Amara lakukan.
Good girl
Didikan Syakil tadi pagi rupanya benar-benar berhasil, pria itu semakin terpacu kala Amara membalas ciumman yang kini telah berubah menjadi lummatan yang kian memanas.
Syakil yang lapar dengan hidangan yang datang sendiri begini jelas saja semakin membuatnya lupa daratan hingga lupa jika mereka masih berada di ruang kerja papanya.
"Syakil ...."
"Apa lagi, Ra?"
Hampir saja kecewa lagi, Amara jangan gila jika malam ini kembali gagal. Amara yang tiba-tiba menahan tangannya kala hendak merobek baju dinasnya membuat Syakil berdecak kesal.
"Jangan di sini, besok pagi-pagi Papa sama Mama pulang."
Dia bahkan lupa jika ini bukan rumah pribadinya. Syakil membopong Amara kemudian melangkah dengan langkah santai namun pastinya.
Brugh
"Aarrrrgghh ... pelan-pelan kan bisa, aku kaget."
Di antara banyak cara kenapa istrinya harus dibanting. Meski tempat tidur itu memang empuk tetap saja Syakil yang begitu membuatnya terkejut luar biasa.
Srek
Belum selesai keterkejutan Amara lantaran tubuhnya dibanting layaknya karung beras, kini kembali dibuat terkejut dengan gerakan cepat Syakil yang menarik lingerienya hingga tak lagi berbentuk.
"Kamu terlalu lama menyiksaku, mari kita tuntaskan."
Kerinduan Syakil akan hal yang sama sekali belum dia rasakan kian menjadi. Pria itu tidak mungkin mampu menahannya lebih lama lagi.
Memastikan semua yang dia lakukan tadi siang tidak terlewatkan. Kata Mikhail, jangan biarkan dia tersadar dalam buaian, lakukan semaksimal mungkin sampai wanitamu benar-benar pasrah.
Syakil akan mencoba lagi kali ini, Mikhail bisa bicara begitu karena lawan mainnya ada Zia. Bukan Amara yang belum apa-apa sudah ketakutan seperti tadi siang.
Senyum Syakil terbit kala istrinya berinisiatif membuka kancing piyamanya. Dia mandiri, belajar dari siapa juga dia tidak paham. Apa mungkin Amara menyibukkan diri dengan banyak mencaritahu tentang ini, pikir Syakil.
Dalam keadaan yang sudah sama persis layaknya bayi, Syakil kembali menelusuri setiap inci tubuh Amara tanpa terlewatkan. Gigitan kecil di beberapa bagian tubuhnya tidak lagi terasa sakit, yang ada hanya getaran panas dalam diri Amara kian menjalar cepat.
Sepertinya memang cara Syakil tadi pagi terlalu kasar, kini tanpa harus mengunci tangan sang istri di atas kepalanya, Amara dapat menikmati permainan tanpa rasa takut. Yap, wanita perlahan mampu menyeimbangi Syakil meski memang belum selihai itu.
Dessahan yang awalnya dia tahan sekuat tenaga kini lepas juga pada akhirnya. Persetan dengan rasa malu, sepertinya semakin malam semakin panas hingga membuat jiwa Amara terbakar dan membuat wanita itu menyerah.
Apapun yang Syakil lakukan padanya, Amara takkan lagi menolak. Dengan napas yang kini sudah tersengal, Amara tetap membalas kecupan singkat Syakil.
Jangan terlena hanya karena dia terbuai, lakukan dengan santai dan jangan memaksa ... tidak perlu buru-buru kalau tidak ingin patah.
Pesan keramat kakanda Mikhail lewat pesan singkat kala dia menutup teleponnya sepihak tadi siang masih Syakil ingat dengan jelas.
Setelah melakukan hal sebagaimana fantasi yang tersemat dalam benaknya, Syakil kini memposisikan diri untuk siap bertempur di lapangan yang sesungguhnya.
"Boleh, Ra?" tanya Syakil sebelum membombardir lahan persawahan milih Amara, tentu saja harus atas seizin yang punya lahan.
"Ehm." Amara mengangguk pelan dengan mata yang kini begitu kecil.
Sudah sama-sama terbakar api asmara, keduanya mungkin gosong sebentar lagi. Amara tak lagi peduli dengan rasa malu, sekarang perasaan itu hilang sudah tergantikan dengan segudang hassrat yang sama minta dituntaskan segera.
.
.
.
Kata Mikhail tidak sesulit itu, kenapa dirinya berbeda. Syakil mencoba beberapa kali dan itu tidak semudah yang dibayangkan.
"Udah?"
Syakil menggeleng, Amara yang tidak sabar atau memang Syakil yang terlalu lama. Yang benar saja, sampai kapan lagi dia menunggu, pikir Amara.
"Pegel, Syakil."
"Sabar, Ra ... sempit."
Ini tidak bercanda, memang sesulit itu bahkan Syakil harus menahan napas seraya menggigit bibir kala kembali mencoba memasuki inti tubuh Amara.
Calmdown, Juno ... sedikit lagi, jangan panik.
Yang panik dia, yang ditenangkan Juno. Memang Syakil sedikit tidak sadarkan diri malam ini, sudah dia elus-elus demi membuat Juno bisa kerja sama malam ini.
Let's try again, Juno!!
"Aaaaa_"
"Shutt, jangan menjauh Amara ... kita hampir berhasil," ucap Syakil kala Amara hendak menjauh, dada wanita itu berdegub lebih kencang kala merasakan sesuatu yang terasa asing namun akan familiar baginya itu membuka gerbang surgawinya.
"Bentar-bentar, tarik napas dulu."
Bukan hanya Syakil yang butuh ketenangan, tapi dia juga. Ini pertemuan pertama adik-adik mereka, Amara yang tengah menarik napas dibuat membeliak kala miliknya semakin terasa sesak. Demi menghindari teriakan yang bisa dipastikan akan persis toa masjid, Amara mengigit tangan Syakil sebagai pelampiasan.
"Hmmpp."
Pria itu terpejam kala berhasil menguasai bagian inti Amara pada akhirnya. Tak peduli seberapa sakit yang dirasakan tangannya, semua terganti dengan perasaan tak bisa terungkap kala Juno berhasil menelusup masuk meski tadi Syakil sengaja menghentaknya kala Amara lengah.
Syakil mulai melakukan langkah selanjutnya sebagaimana yang Mikhail katakan. Jika sudah di tahap ini tidak lagi begitu sulit, hanya saja Syakil perlu sedikit tenaga.
"Oh my gosh, Amara!!"
Ini benar-benar gila, keduanya sama-sama tak berdaya kala mengarungi lautan madu yang begitu manisnya. Penantian bertahun-tahun terbayar sudah, Syakil mempercepat gerakannya hingga berhasil membuat Amara melambung untuk kesekian kalinya.
"Wait, Baby ...."
Syakil meracau tak karuan, tak terhitung berapa kali dia mengatakan I love you selama menguasai tubuh Amara yang kian lama kian tak berdaya. Syakil berhasil melakukannya, membuat wanita yang di bawahnya kini mencapai puncak berkali-kali hingga napasnya terengah-engah.
Hingga Syakil mengerang kala merasakan sesuatu yang sebentar lagi akan meledak di bawah sana. Pria itu ambruk di atas tubuh Amara setelah Juno muntah pada akhirnya.
Amara sudah tidak berdaya lagi sesungguhnya, akan tetapi jemarinya refleks mengelus kepala Syakil entah apa sebabnya. Mata Amara berkaca-kaca, padahal ini bukan sebuah trgadei mengerikan sebenarnya.
"Jangan tinggalkan aku setelah ini," lirih Amara terdengar bergetar, Syakil yang tengah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Amara jelas saja terkejut mendengar suara lemah istrinya.
"Hm? Kenap_ Amara? Kenapa nangis? Apa aku menyakitimu? Dimana sakitnya kalau memang iya," ucap Syakil panik luar biasa, padahal tenaganya hampir habis tapi pria itu masih berusaha terjaga.
"Bukan, aku cuma bilang ... jangan tinggalkan aku setelah ini." Amara kembali mengulang ucapan yang sebelumnya, sang istri yang begini membuat Syakil tidak tega tentu saja.
"Kamu kira aku sejahat itu, Ra? Suami mana yang meninggalkan istri secantik ini," bisik Syakil berusaha mempertahankan daya matanya.
Atas dasar apa Amara bertanya demikian dia juga bingung sebenarnya. Padahal Syakil sudah memperlihatkan cintanya sejak awal bertemu, akan tetapi Amara memang setakut itu hingga mengeratkan pelukannya.
Tbc
Sawer aku sawer!! Otw crazy up karena Mikhail fiks tamat❣️ Gaskeun dukung Syakil cicip rank seperti Mikhail.
Sementara Syakil up, boleh mampid di novel satu ini.