My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 21 - Pendekatan



Usai makan malam, Kanaya meminta izin pada putranya untuk diberikan waktu sebentar bersama Amara. Proses pendekatan kalau katanya, namun yang Kanaya bahas justru tentang Syakil semata.


"Apapun masalah kalian nanti, jangan pernah tinggalkan dia, Ra ... ketika Syakil memilih wanita, maka cintanya tidak main-main," tutur Kanaya lembut menatap manik indah menantunya, jika Kanaya lihat Amara adalah wanita yang begitu lembut dan baik.


Amara dan Zia sama-sama baik, hanya saja nasib Amara sedikit lebih baik karena dia bertemu Syakil. Meski Kanaya paham apa alasan Syakil nekat menikahi Amara yang baru dia kenal beberapa hari itu mungkin karena wajah Amara, akan tetapi tentang hal itu bukan tanggung jawab Kanaya untuk memaparkannya. Entah itu pengganti atau Syakil memang memilih jiwa Amara, namun yang jelas Kanaya percaya putranya takkan menggoreskan luka dalam hati seseorang.


"Beberapa waktu lalu kak Mikhail juga bilang begitu ... kalau boleh tau alasannya apa, Ma?"


Dia memberanikan diri untuk bertanya, penasaran sekali kenapa keduanya berpesan hal yang sama. Apa mungkin Syakil memiliki trauma? Ya, untuk kali ini dugaan Amara hanya ini.


"Dia pernah kehilangan, Syakil bahkan hampir mengakhiri hidupnya beberapa tahun lalu. Suami kamu kalau cinta memang sedikit boddoh, Ra ... sebelas dua belas persis kakaknya."


Amara mengangguk mengerti, wajar saja pria itu akan panik ketika dia tidak ada di apartement ketika Syakil datang.


"Kak Mikhail juga begitu, Ma?" Sedikit terkejut dia dengan pernyataan ini, karena dari segi fisik Mikhail nampaknya pria itu bukanlah seseorang yang akan tunduk dengan perempuan.


"Itu mah lebih parah, Syakil masih mending ditinggalkan wanita justru jadi acuan untuk sukses setelah terpuruk. Kalau Mikhail justru sebaliknya, tidurnya sering diluar, pulangnya tengah malam kadang hampir pagi ... bahkan mungkin lebih banyak minum alkohol daripada air putih, Ra."


Jika Kanaya ingat hal itu, yang bisa Kanaya lakukan saat ini hanya bersyukur lantaran putranya sudah menemukan Zia. Andai saja tidak, entah sampai kapan Mikhail akan begitu.


Wajar efek maboknya sampai sekarang. Amara membantin, mengingat dengan jelas sikap Mikhail yang hampir seperti preman, pikirnya.


"Tapi kamu tenang saja, Syakil tidak begitu ... jangan takut." Kanaya mengusap pundak Amara lembut, khawatir jika menantunya akan berpikir macam-macam terkait Syakil.


"Iya, Ma, aku percaya."


"Maaf ya, anak Mama memang sedikit pemaksa," tutur Kanaya lembut, sikap kedua putranya ini memang sedikit meresahkan.


"Tidak apa-apa, Ma," jawab Amara sopan seraya mengangguk pelan.


Apa yang Syakil lakukan memang membuat Amara tidak habis pikir. Akan tetapi, ini jauh lebih baik dibandingkan dengan Syakil yang benar-benar merenggut kehormatannya. Fakta bahwa Syakil memang pria baik-baik dan berbeda dari Mikhail sungguh membuat Amara bernapas lega.


Tidak sia-sia dia menghabiskan waktu bersama Kanaya sebelum menyusul Syakil ke kamar. Karena dengan begini, pikiran buruknya tentang Syakil yang suka sesama jenis perlahan terpatahkan.


Sepanjang waktu bersama Kanaya, Amara mendengarkan begitu seksama setiap penuturan sang mertua. Sebahagia itu dia memiliki Syakil, sejak kecil Syakil selalu berusaha membuat Kanaya tersenyum dengan semua usaha yang dia mampu di tengah terjangan sikap Mikhail yang menjadi-jadi.


.


.


.


Sementara di kamar, Syakil yang kini sendirian tengah menghubungi orang kepercayaannya. Meski sempat terkejut, pria itu akhirnya hanya mengiyakan perintah Syakil yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Ya, kali ini Kendrick akan dibuat repot dengan titah Syakil untuk menyambut kepulangannya dengan membawa seorang wanita.


Jadi ini liburan yang dimaksud, Tuan?


"Hahaha anggap saja begitu," jawab Syakil terkekeh menjawab pertanyaan asisten pribadinya, untuk kali ini dia memang memberikan sedikit kejutan. Selama Kendrick mengenalnya, pria itu dikenal sebagai pria tidak tersentuh dan paling anti dengan kehadiran wanita. Bahkan tak jarang Kendrick kewalahan kala menghadapi beberapa wanita yang mencoba mendekati Syakil dengan cara elegan sekalipun.


Apa dia lebih cantik?


Keduanya memang cukup dekat, peran Kendrick begitu besar dalam hidup Syakil. Dia yang anti perempuan membuat Kendrick terpaksa memegang keseluruhan tanggung jawab terkait semua kehidupannya.


Ah aku tidak sabar berjumpa bersama nona ... selama ini aku menunggu, setidaknya tugasku berkurang satu, aku sudah lelah harus bangun pagi demi menyiapkan pakaianmu.


"Ck, dasar perhitungan! Gajimu juga berkurang setelah ini."


Ya sudah kalau memang masih butuh bantuanku memasangkan dasimu itu tidak masalah, tapi apa nona tidak akan berpikir kita saling mencintai, Tuan? Dengan gelak tawa tanpa dosa dia bertanya demikian, Syakil sontak meras geli hingga bulu kuduknya berdiri.


"Dasar gila!! Kau pernah berpikir begitu?"


Sedikit, apa aku salah menduga? tanya Kendrick disertai gelak tawa yang tiada habisnya, padahal tugasnya bukan main-main kali ini.


"Aku mual mendengar suaramu, sudah cukup ... lakukan saja tugasmu."


Syakil memang kerap mendengar desas-desus terkait kedekatan dirinya dan Kendrick. Akan tetapi, sama sekali dia tidak berpikir jika pria itu akan berpikir sama, entah bercanda atau memang sungguhan yang jelas Syakil geli mendengarnya.


Syakil mengakhiri sambungan teleponnya kala pintu kamarnya mulai terbuka. Tepat sekali, dia selesai Amara juga selesai.


"Sudah?"


"Iya, sudah."


"Lama sekali, aku sampai bosan menunggumu," ujar Syakil sedikit mendramatisir keadaan, meski memang benar dia cukup lama menunggu Amara selesai berbincang.


Kehidupan pengantin baru yang sangat-sangat tidak sesuai rencana, Syakil hanya bisa mengusap wajahnya kasar kala Amara mendekatinya. Padahal pakaiannya sama sekali tidak terbuka dan bentuk tubuh Amara tidak begitu menonjol, hanya saja aroma parfum yang istrinya gunakan membuat indera penciuman Syakil tidak bisa diajak kompromi.


"Kamu sedang menggodaku, Amara?" tanya Syakil kian mengikis jarak, memandangi wajah istrinya sedekat ini hanya membuat Syakil haus berkali lipat.


"Maksudmu? Goda yang bagaimana?" Heran saja, dia bahkan tidak menggunakan baju haram sebagaimana nasehat Zia, kenapa suaminya justru tergoda.


"Dasar wanita, sudah tahu kamu tidak bisa tanggung jawab malam ini ... harusnya jangan dipancing, Sayang." Apa salah dirinya? Datang-datang dituduh begini.


"Siapa yang mancing? Di sini tidak ada ikan," tutur Amara mencoba tetap menjaga kewarasan meski dia paham arah pembicaraan Syakil sepertinya tanggung jawab ke arah sana.


"Ada, bahkan lebih ganas dari ikan lelemu."


"Ikan apa?" tanya Amara mengerutkan dahi, pria itu tertunduk kala dengan santainya Amara justru bertanya sedemikian rupa.


"Ck, lupakan! Kenapa jadi bahas ikan?"


Dia yang mulai, dia juga yang mengakhiri. Syakil tidak kuasa terlalu lama berbincang tentang hal ini. Meresahkan, pikirnya lama-lama kian gusar. Amara membeku kala Syakil menenggelamkam wajah di ceruk lehernya. Untuk wanita yang sama sekali belum pernah disentuh, hal-hal seperti ini jelas saja membuatnya kaget.


"Sayang ...."


"Ehm, iya?" Belum apa-apa sudah segugup ini.


Tbc