
"Sejak awal kita bertemu aku sudah memintanya baik-baik, bahkan aku hanya meminta bertemu tapi tidak kau izinkan sama sekali."
Wiranata berbicara dengan nada sedikit bergetar, kala itu istrinya memaksa untuk menemui Syakil demi kesembuhan Ganeta. Akan tetapi, di sisi lain Wiranata memiliki maksud terselubung ketika bertemu dengan pria itu.
"Oh, jadi sejak lama memang niatmu sudah sebusuk itu ya?"
Mikhail ingat, memang Wiranata sempat meminta izin untuk dipertemukan. Hanya saja, dia yang terlampau dendam jelas saja menolak kehendak pria itu.
"Terserah apa katamu, aku tidak peduli karena memang faktanya aku adalah seorang papa yang gagal untuk putriku ... tapi perlu kau ketahui, kami bersikap tidak adil karena terpaksa keadaan, Syakil."
Sorot matanya terlihat berbeda, tidak seperti seorang pria arogan yang dulu sempat merendahkannya. Saat ini Wiranata menginginkan Amara kembali, jelas saja sangat-sangat terlambat karena memang dia baru menyadari sebuah kehilangan kala kesehatan Ganeta mulai terganggu.
"Terpaksa katamu? Terpaksa yang bagaimana?"
Sebenarnya Syakil dendam sekali, bahkan menatap wajahnya saja enggan. Akan tetapi hati Syakil masih memiliki sisi lembutnya untuk mendengarkan alasan sesungguhnya.
"27 tahun yang lalu istriku melahirkan anak kembar ... salah-satunya menderita kelainan jantung dan kami tidak mampu untuk membiayai hidupnya. Kondisi ekonomi sedang sulit ditambah aku yang kehilangan pekerjaan membuat kami sepakat untuk membuang salah-satu putri kami, ya tentu saja saat itu kami keberatan lantaran dia penyakitan."
Wiranata berhenti sesaat, dia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Dia menatap Syakil yang kini masih membeku di hadapannya, iya bisa dibilang dia cukup tertarik dengan kisah yang akan Wiranata sampaikan.
"Lalu?"
"Akan tetapi, nasib baik sepertinya berpihak pada putriku. Seorang dokter yang saat itu bertugas di rumah sakit tempat istriku melahirkan meminta izin untuk merawat Amara."
Wiranata membuka fakta ini di hadapan Syakil. Peristiwa kelam yang dia tutup rapat-rapat demi dunia memandangnya sebagai pria penuh wibawa dan sangat menyayangi keluarga. Akan tetapi, usianya yang tidak muda lagi, ditambah dengan kondisi Ganeta membuat Wiranata membuang ego terkait nama baiknya itu.
"Dan Anda benar-benar mengizinkannya?"
"Iya, aku tidak punya pilihan lain ... sekalipun aku yang merawat juga tetap akan kubuang saat itu," tutur Wiranata benar-benar tanpa rasa bersalah mengungkapkannya. Jujur, Syakil sakit sekali mendengarnya.
Keadaan memang berat kala itu, Wiranata hanyalah orang biasa yang bahkan dipandang sebelah mata. Istrinya hamil tanpa terduga, dan ternyata kembar pula. Sang istri yang dari sejak awal sudah menolak kehadirannya, semakin menekan Wiranata untuk membuang Amara karena kemungkinan anak hidup juga tidak akan lama.
"Orangtua macam apa kalian? Bahkan lebih sadisnya lagi, ketika dia beranjak dewasa dan kehidupan kalian bergelimang harta tetap diabaikan? Woah, perlu dipertanyakan otak kalian sehat atau tidak?" Syakil tidak peduli sekalipun dia adalah orangtua yang wajib dihormati, di matanya Wiranata hanyalah pecundang yang tidak pantas disebut ayah.
"Aku terlena, saat itu kebahagiaan kami bersama Ganeta sudah sangat-sangat cukup hingga kami merasa tidak perlu mencarinya lagi. Lagipula, pria yang merawatnya bukan orang sembarangan, maka dari itu aku percaya putriku baik-baik saja." Wiranata lagi-lagi menghela napas pelan, ini adalah kesalahan yang sama sekali takkan dia lupakan.
"Lalu, kenapa sekarang Anda berubah pikiran?"
"Bukan hanya sekarang, tepatnya sedari tiga tahun yang lalu ... ketika kesehatan mental Ganeta mulai terganggu, aku baru berinisiatif mencarinya sendiri walau istriku melarang."
Memang takdir sekejam itu, Wiranata yang kala itu mulai luluh dan merasa butuh putri kandungnya harus curi-curi kesempatan untuk mencari keberadaan Amara lantaran Wulan tidak menginginkan anaknya kembali. Tujuan mereka sudah berbeda sejak tiga tahun lalu, Wulan yang terfokus dengan kesembuhan Ganeta. Sementara Wiranata mempercayai jika obat yang sesungguhnya bukan rumah sakit jiwa.
"Terlambat, Anda datang hanya ketika membutuhkannya ... seyakin itu jika hidupnya baik-baik saja, Anda tau seberapa malang nasib Amara ketika kedua orang tuanya meninggal dunia pasca kecelakaan di jalan raya? Miris sekali."
"Mau bagaimanapun kisahnya, Anda tetaplah salah. Anda sendiri yang lepas tanggung jawab hanya karena dia sakit begitu ... saat ini, Amara adalah istriku. Sekalipun darah tetap darah dan aku tidak akan bisa memutusnya, tetap saja jika Anda menginginkan dia kembali jangan berharap lebih."
Terserah, mau dikatakan menantu durhaka atau durjana sekalipun Syakil tidak peduli. Dia datang hanya untuk mempertegas jika Amara hanya miliknya, tidak ada yang boleh memisahkan selain Tuhan berkehendak.
"Iya, aku paham kau memang akan keras kepala, Syakil ... aku menyerah, karena memang pria yang pantas menaunginya adalah kau sebagai suaminya."
"Tapi sebelum itu, izinkan Amara mengetahui siapa aku," lanjutnya kemudian.
Setelah melihat bagaimana Syakil mempertahankan Amara, pria itu akhirnya menyerah dan benar-benar mutlak kalah. Biarlah, dia tidak akan mengusik lagi, cukup Syakil dan Amara tahu yang sebenarnya.
"Tentang Ganeta, aku mengalah ... aku bersedia membawanya ke rumah sakit jiwa seperti yang kau katakan, Syakil."
Di luar dugaan, Wiranata juga membicarakan hal ini. Sontak Kendrick yang sejak tadi diam mendongak dan dia angkat bicara tanpa diminta lebih dulu.
"Tidak bisa!! Ganeta tidak gila, dia hanya tertekan lantaran Anda memperlakukannya seperti hewan. Dia hanya membenci kalian yang membuatnya diikat dan dipasung layaknya monster," cerca Kendrick menggebu bahkan lebih garang dari Syakil, pria tampan di sampingnya ini bahkan terkejut kala Kendrick menolak ucapan Wiranata begitu tegas.
"Kau siapa?" tanya Wiranata kaget, bingung sendiri kenapa pria ini justru menyalak-nyalak begitu sadis.
"Aku? Psikiater Ganeta, kenapa memangnya?" tantang Kendrick seraya berkacak pinggang dan membuat Syakil melongo, sejak kapan Kendrick bergelut di dunia itu hingga jadi Psikiater dadakan, pikirnya.
.
.
.
Pulang dengan hati yang sedikit lega dan sakit sekaligus. Pria itu mengusap wajahnya kasar kemudian menoleh ke arah Kendrick yang duduk di sampingnya.
"Hai, calon adik ipar," sapa Syakil dengan suara lemahnya, pria di sampingnya bersikap biasa saja dan fokus dengan kemudinya.
"Siapa?"
Pura-pura o-on adalah jurus andalan Kendrick. Meski dia paham arah ucapan Syakil kemana, menyesal juga dia menyampaikan orasiny di hadapan Wiranata seperti tadi.
"Kau lah, siapa lagi."
Syakil menepuk kening asisten pribadinya. Baru juga diminta menjaganya beberapa minggu, Kendrick sudah memproklamirkan diri sebagai psikiater Ganeta, sungguh pria itu lucu sekali.
- To Be Continue -