My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 57 - Terlambat.



"Kau ... tidak ingin tahu kabar tentang putriku? Bukankah selama empat tahun terakhir kau masih mencarinya, Syakil?"


Dari mana dia tahu jika Syakil mencari Ganeta selama itu. Pria itu mengusap wajahnya kemudian dengan santai dia sudah menyiapkan jawaban yang dirasa pas untuk Wiranata dengar kali ini.


"Benar, seperti yang Anda katakan saya memang mencarinya ... setiap hari saya luangkan untuk mencari tahu tentang Ganeta, akan tetapi semuanya terhenti ketika Amara hadir." Syakil masih bertahan dengan posisinya, dia tidak sama sekali berminat untuk duduk di hadapan Wiranata.


"Benarkah? Apa kau yakin dengan jawabanmu? Matamu tidak bisa berbohong, Syakil ... masih ada Ganeta di sana," ujar pria itu sembari bertopang dagu dan jujur saja ini membuat Syakil terusik, sebal dan kesal menyatu dan jiwa untuk menghantam Wiranata luar biasa menggebu.


"Jangan terlalu percaya diri seseorang akan terus mengingat putrimu, cinta semudah itu berpaling ketika hati yang lain lebih menerimaku." Sedikit berbohong sebenarnya, karena pada faktanya dia mendapatkan Amara dengan cara memaksa dan tidak menerima penolakan sedikitpun.


"Kau bisa bicara begitu karena tidak menatap matanya secara langsung, andai saja aku mengizinkan Ganeta untuk kembali berdiri di hadapanmu ... yakin cintamu untuk wanita itu tidak akan goyah, Syakil?"


"Yakin, Amara adalah wanita terakhir dan selamanya hanya dia ... tidak peduli sekalipun Anda menghadirkan putrimu kembali di hadapanku." Dengan jelas dan mantap dia menjawab demikian, Wiranata dibuat bungkam dengan mata yang tiba-tiba sendu seakan kehilangan harapan.


Wiranata bungkam dibuatnya, sepertinya memang sudah terlambat dia menampakan diri di hadapan Syakil. Egonya terlalu tinggi dan membuat dua insan sama-sama tersakiti, hingga pada akhirnya sang putri menjadi korbannya.


"Jika Anda herpikir saya masih terikat bayang-bayang Ganeta, Anda salah besar ... meski mereka bahkan sulit dibedakan, tapi setelah memutuskan untuk menikahinya hati saya bisa merasakan mereka adalah orang yang berbeda."


Syakil menekan setiap kata-katanya, awal pertama dia bertemu Amara memang benar yang terpikirkan dalam benak Syakil adalah kekasihnya di masa lalu, akan tetapi saat ini Syakil justru merasa biasa saja dan hatinya tidak lagi sehangat dahulu ketika mendengar nama itu.


Satu menit, dua menit dan bahkan hampir lima menit Wiranata hanya diam tanpa bicara sama sekali. Entah kehabisan kata-kata atau merasa malu karena merasa Syakil sama sekali tidak terkejut dengan kehadirannya.


"Pertemuan kita cukup sampai di sini, dan mengenai kerja sama perusahaan lebih baik kita batalkan ... permisi."


Belum juga dimulai, sama sekali Wiranata belum membahas hal itu namun Syakil sudah menutup diri dan citra perusahaan yang dia impikan itu rusak seketika. Meski dia sendiri bingung kenapa bisa Leonard digantikan pria tua sepetti Wiranata.


"Syakil tunggu!!"


Pria itu menghela napas pelan, suara Wiranata terdengar bergetar dan atas dasar kemanusiaan entah kenapa Syakil tersentuh dan menghentikan langkahnya.


"Soal istrimu, apa bisa kau pertemukan aku dengannya?"


Tidak akan, bersamanya saja Wiranata berani bicara yang tidak-tidak. Apalagi di hadapan Amara, pikir Syakil mantap menolak permintaan Wiranata.


"Sayang sekali, istriku tidak bisa ditemui sembarang orang."


Tanpa basa-basi, Syakil meninggalkan ruangan tersebut. Tidak biasanya dia begini, pria itu sangat mengerti sopan santun dan dia akan bersikap baik sebagaimana adab kepada orangtua terlepas dari status mereka. Akan tetapi, untuk kali ini sepertinya sedikit berbeda dan Syakil enggan melakukannya.


Tinggalah Wiranata yang kini memejamkan mata usai Syakil benar-benar berlalu dari hadapannya, ternyata benar kata pepatah apa yang kita tanam itulah yang nantinya kita tuai. Semenjak Syakil menjadi kekasih putrinya, Wiranata memang tidak begitu suka dan lebih menyukai Mikhail yang waktu itu sudah berstatus suami orang.


"Maaf, Ganeta ... Papa terlambat."


"Fuc*k you!! Kau gila hah? Kau pasti tahu siapa yang menungguku dan kau memilih diam, Kendrick!!"


Sama sekali Kendrick tidak mengetahui jika pria yang menunggu di sana adalah seseorang yang akan membuat Syakil naik darah. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai asisten, ya dia akui memang salah karena tidak memastikan lebih dulu dan berpikir jika pemimpin Maovan Group yang baru adalah saudara Leonard keluarga dekatnya.


"Maaf, Tuan ... saya tidak menduga semua ini akan terjadi."


Mau bagaimana lagi, memang salah dia dan ditamparpun Kendrick akan terima. Akan tetapi, nampaknya pria itu tidak berniat utnuk mendaratkan telapak tangan di wajah tampannya.


"Huft, blacklist maovan Group ... jangan pernah terlibat kerja sama sekecil biji mata semut sekalipun, Kendrick! Kau dengar aku?" Syakil mengomel dengan suara lantangnya di belakang Kendrick. Kesalahan seperti ini jangan sampai terjadi dan Syakil tidak lagi ingin berhubungan degan perusahaan tersebut tak peduli seberkuasa apa mereka.


"Baik, Tuan."


Hanya itu bisa dia utarakan sebagai jawaban, meski Kendrick sendiri penasaran sebesar apa biji mata semut sebenarnya. Hendak bercanda namun belum waktunya, pria itu kemudian kembali melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, maklum pria di belakangnya itu sedikit kurang fit sepertinya.


Belum lama menelusuri perjalanan, Kendrick mencium aroma yang begitu asing dari arah belakang. Dia mencuri pandang apa yang dilakukan Syakil dibelakang, pria itu melongo kala Syakil terpejam sembari mencium sesuatu minyak dengan warna hijau pekat dibotol yang begitu kecil di tangannya.


"Ac-nya menganggu, Tuan?"


"Hm, buka jendelanya ... mobil ini kenapa jadi bau sampah," gerutu Syakil yang berhasil membuat Kendrick bingung sendiri, kapan mobil ini digunakan untuk mengangkut sampah, pikirnya.


"Aarrrgghh tutup, Ken, kenapa anginnya sekencang itu ... apa akan terjadi badai siang ini?"


Serba salah, dasar tukang ngarang. Padahal suasana biasa saja dan sama sekali tidak kencang. Syakil saja yang berlebihan, saat ini Kendrick hanya berharap tiba di mansion dengan cepat karena jujur dia tidak kuat jika menghadapi Syakil lebih lama lagi.


"Sepertinya tidak, Tuan."


"Hah? Apa iya? Dunia akhir-akhir ini menyeramkan, Ken ... kau harus hati-hati," ucapnya sedikit lembut dan tidak lagi marah-marah, secepat itu suasana hati Syakil berubah, persis hormon wanita hamil menurut Kendrick.


Dasar gila, yang istri dalam pernikahan ini siapa sebenarnya? Nona Amara saja tidak berisik seperti ini.


Kendrick menggerutu namun jelas hanya berani dalam batinnya, dia tidak memiliki nyali untuk bicara terang-terangan saat ini.


-Tbc-