
"Kendrick sialaan, sudah kukatakan jangan asal menyebarkan nomor ponselku," kesal Syakil memaki asisten pribadinya yang mungkin saja saat ini tengah bermimpi indah dan mengkhayal bidadari memberikan kehangatan padanya.
Didiamkan berkali-kali malah semakin menjadi, merasa khawatir telepon itu memang penting Syakil mengangkatnya meski sedikit geram sebenarnya. Ya, wajar saja dia geram, pria paling berbatas ini tidak suka dihubungi sembarang orang secara pribadi.
"Hal_"
"Heh kurang ajar!! Berani kau blokir nomorku?"
Syakil yang tadinya memang kesal, kini semakin sebal lantaran mendengar suara kematian di balik ponselnya. Bagaimana tidak, setelah tenang beberapa hari lalu kini dia kembali dikejutkan dengan suara sang kakak yang penuh amarah padanya.
"Apalagi?"
Suara Syakil terdengar dingin dan tidak peduli sekalipun itu adalah kakak kandungnya sendiri. Dia tengah berusaha membuang Mikhail karena saran dari pria itu adalah awal dia menyakiti Amara sebenarnya.
"Jawab dulu pertanyaanku, kau memang tidak tahu terima kasih ya, Kil ... jangan jadi kacang yang lupa kulit, paham?"
Sebenarnya bukan begitu, sama sekali Syakil tidak melupakan jasa-jasa Mikhail. Hanya saja, setelah dia pikir-pikir lagi, apa yang Mikhail sampaikan tidak selamanya jadi pengaruh baik dan justru membuat Syakil tidak jernih dalam berpikir.
"Oh atau jangan-jangan kau ingin menghindar setelah membuat adik iparku lebam-lebam begitu? Belum saja Mama tau ulahmu."
Mata Syakil membulat sempurna kala mendengar ucapan Mikhail yang kali ini. Nampaknya ada seseorang yang tengah cari mati dengan menyampaikan kesalahan Syakil pada kakaknya.
"Aku tidak mengerti maksudmu," tutur Syakil kemudian seolah tidak paham titik permasalahannya. Padahal, saat ini dia ketar-ketir dan menatap Amara yang sudah terlelap di sampingnya.
"Jangan pura-pura bodoh, di antara kita yang paling jujur adalah Nathan ... kemarin dia mengatakan jika menemukan kejanggalan ketika memeriksa Amara, kenapa bisa begitu, Syakil? Kau sudah gila atau kenapa?"
Matilah Syakil, pertanyaan berturut menyerbunya dan dia bingung hendak menjawab bagaimana karena kemungkinan besar Mikhail memang akan percaya pada Nathan. Akan tetapi, Nathan yang mengatakan Amara lebam-lebam ini sedikit membuat Syakil keberatan.
"Bukan lebam, Kak. Bagaimana ya menjelaskannya, aku hanya mempraktekkan ajaranmu dalam bercinta," ungkap Syakil mengelak sebaik mungkin, berusaha tenang dan tidak terdengar gugup karena jika sampai terjadi kesalahan mulut kejam Syakil bisa saja mengatakan kekerasan Syakil di hadapan keluarga Megantara bahkan Chandrawyatama sekaligus.
"Dasar boddoh, bercinta yang bagaimana sampai lebam semua? Kau jangan bohong, apa yang terjadi sebenarnya!!"
"Siapa yang bilang dia lebam, Mikhail!! Ck, aku sama sekali tidak memukulnya," gertak Syakil mulai kehabisan kesabaran, pria itu kesal hingga amarahnya seakan naik ke ubun-ubun.
"Lalu bagaimana?"
"Cuma gigit, Setan!! Kau jangan membuat kepalaku semakin sakit," keluh Syakil mulai lelah, pria itu bahkan mengusap wajahnya berkali-kali lantaran kesal dengan Mikhail yang mengacaukan malam yang luar biasa indah ini.
"Dasar gila, aku tidak pernah mengajarkan padamu begitu, Syakil!"
Mikhail memang pria yang tidak mau kalah dan tidak menerima jika ditempatkan di posisi salah. Akan tetapi, tampaknya Syakil lebih gila lagi. Selain tidak menerima dianggap salah, dia akan melemparkan kesalahan pada orang lain dan menganggap apa yang Amara alami adalah akibat dari ulah Mikhail.
"What? Salahku?"
"Hm, memang kesalahanmu."
Entah bagaimana kesalnya Mikhail saat ini menghadapi adiknya. Sudah berbaik hati memberikan ilmu yang luar biasa itu, bisa-bisanya Syakil justru menyalahkannya.
"Untuk kali ini, aku mohon tutup mulut, Kak ... Mama hanya paham kami bahagia, dan aku juga tidak sengaja melakukannya."
Saat ini yang perlu Syakil jaga adalah kepercayaan sang mama. Sebagaimana saran dari Kendrick ketika dia hubungi usai membuat Amara menangis malam itu, yang perlu Syakil lakukan saat ini hanya menutup rapat-rapat apa yang terjadi dan hal ini jangan sampai ke telinga Kanaya.
"Kau bisa jamin ini yang terakhir, Syakil?" tanya Mikhail dengan nada dingin jurus andalaannya, memasuki ranah serius biasanya dia akan begini.
"Hm, percaya padaku."
"Aku pegang ucapanmu, jika sampai terulang lagi ... aku akan menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian," seru Mikhail kemudian, orang ketiga dalam artian sebagai penengah dan tidak segan ikut campur dalam rumah tangga adiknya, bukan sebagai perebut Amara dari Syakil tentu saja.
.
.
.
"Banyak sekali yang membelanya," gumam Syakil menarik sudut bibir, istrinya hanya wanita asing yang masuk ke keluarganya dalam waktu yang singkat. Anehnya, Mikhail yang biasanya hanya peduli tentang Zia justru sangat mengkhawatirkan Amara juga.
Syakil menghela napas panjang dan meletakkan ponselnya di atas nakas, setelah khawatir yang menghubunginya adalah jallang gila yang mungkin saja dikirim oleh rekan bisnisnya, Syakil merasa lebih baik malam ini.
"Ganti baju ya, tubuh kamu sesak pakai baju begini," tutur Syakil sembari pelan-pelan melepas long dress Amara, demi bisa ikut dan tidak membuat Syakil terancam dia rela mengenakan pakaian yang Syakil pahami mungkin sedikit tidak nyaman sebenarnya.
"Juno mohon kerja samanya, malam ini kamu cuti dulu."
Meski status Amara adalah istrinya, bukan berarti Syakil bisa memaksakan kehendak dan menganggap istrinya pemuas belaka.
"Tapi besok dua kali lipat ya, Sayang," bisiknya kemudian di telinga Amara kemudian terkekeh merasa lucu dengan dirinya sendiri.
-Tbc-