
Tidak pernah terpikirkan jika huru-hara pagi ini akan terjadi. Mikhail yang sama-sama tidak bisa berpikir jernih sama khawatirnya dan menduga jika adik iparnya benar-benar pergi.
Syakil mengacak kasar rambutnya, mereka mengambil arah yang berbeda dari Kendrick dan lainnya. Pikirannya sudah benar-benar kacau dan tidak lagi bisa mengira-ngira Amara pergi kemana.
"Sabar, Kil ... jika kau begitu aku semakin bingung harus kemana," tegur Mikhail fokus dengan kemudinya, ya hanya demi Syakil dia rela jadi sopir dadakan begini.
"Sabar katamu? Istriku pergi kau bisa bilang sabar?"
Astaga, ternyata adiknya bisa juga membentak bahkan membuat Mikhail terkejut. Selama ini, yang biasanya marah dan tidak sabaran adalah dia, akan tetapi setelah Syakil menikah sepertinya kesabaran pria itu bisa menipis juga.
"Ck, salahmu kenapa juga buka mata untuk masa lalu ... Papa tau semua ini bisa-bisa kau mati, Kil."
Masalah ini saja belum selesai, dan Mikhail menambah sakit kepala Syakil. Matanya kini menatap tajam Mikhail, sepertinya dia menyesal ikut Mikhail dalam pencarian ini.
"Papa tidak akan tau jika kau tutup mulut, Khail."
"Hm ... aku bisa saja tutup mulut, yang aku khawatirkan istrimu mengadu, Syakil. Kalau aku yang bicara pada mereka kemungkinan besar Mama tidak akan percaya."
Benar juga, mana mungkin Kanaya percaya pada mulut Mikhail. Sesaat Syakil terdiam, jujur dia khawatir Amara akan mengungkapkan apa yang terjadi sejak dia menyakiti Amara malam itu.
"Ya Tuhan, jangan membuat kepalaku semakin sakit, Khail."
Sudah kali kesekian dia meminta Mikhail berhenti mengutarakan kalimat-kalimat tidak berguna itu. Kendrick yang juga turun tangan belum menemukan keberadaan Amara, demi Tuhan Syakil sepertinya akan menangis beberapa saat lagi.
"Tenang, tidak perlu menangis astaga ... kau sudah dewasa, bukan bayi lagi."
Dia memang tidak akan mengaku jika dirinya menangis, hanya saja mata Syakil yang memerah sudah mengutarakan bagaimana hancurnya dia.
Sebagai kakak yang baik jelas saja Mikhail merasakan bersalah telah membuat Syakil di posisi sulit akhir-akhir ini, pria itu menghela napas dan sadar betul saat ini kemungkinan besar Syakil tengah ketar ketir.
"Jangan khawatir, Amara tidak paham jalan di sini ... rasanya dia dia belum jauh, Kil."
Mikhail serius kali ini, dia bicara sebagaimana mestinya. Wajah Syakil yang menyedihkan itu meggores hati lembut seorang Mikhail, sungguh tragis nasib adiknya ini.
Sementara di sisi lain, Amara yang merasakan perutnya tidak nyaman baru saja keluar dari kamar mandi. Penyiksaan pagi-pagi, dia berpikir apa mungkin ini bentuk amarah bayinya lantaran tadi malam sengaja menyiksa Syakil.
"Eum, dia sudah bangun?"
Amara yang tidak merasa curiga jelas saja berpikir baik-baik saja. Wanita itu merapikan tempat tidur sebelum kemudian menyusul Syakil yang dia yakini ada di ruang makan, menyiapkan sarapan maut yang sejak dulu selalu dia hindari.
Tubuhnya terasa sedikit lemas, sakit perut yang dia rasakan pagi ini terasa luar biasa menyiksa dan Amara bingung sendiri tadi malam dia makan apa.
"Kok sepi?"
Kening Amara berkerut kala menyadari suasana di mansion pagi ini sedikit berbeda. Biasanya akan ada beberapa maid dan bodyguard yang menyapanya di pagi hari, akan tetapi kali ini hanya ada Ester yang bertanggung jawab di dapur.
"Nona? Anda dari mana saja?"
Pertanyaan aneh untuk sapaan selamat pagi, Amara mengerutkan dahi dan bingung sendiri kenapa Ester bertanya demikian.
"Kenapa tanyanya begitu, Ester?"
"Tuan Syakil mencari Nona, bahkan semuanya pergi dengan alasan yang sama ... syukurlah jika Nona sudah ditemukan," tutur Ester yang kian membuat Amara tersedak ludah.
"Hah? Saya belum keluar kamar sejak pagi, ditemukan apanya?"
Sama-sama bingung, hingga beberapa saat kemudian Zia muncul dengan penampilan yang sudah terlihat segar. Kakak iparnya memang selalu begini setiap pagi, wanita itu melangkah dengan anggun menghampiri mereka.
"Kok sepi? Yang lain pada kemana?"
"Kakak nggak tau mereka kemana?"
"Nggak, mas Mikhail juga kemana ... kamu lihat, Ra?" tanya Zia yang juga mulai bingung sendiri kemana suaminya berada saat ini.
"Hah? kak Mikhail hilang juga?"
"Hilang apanya? Ini kenapa jadi aneh semua?"
Melihat pembicaraan mereka, Ester bingung sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi di sini, bisa-bisanya suami istri hilang komunikasi.
"Telpon Syakil," titah Zia kemudian, sementara dia akan menghubungi Mikhail, sama-sama dibuat panik dengan ulah pasangan masing-masing.
.
.
.
"Aduh, memang Syakil dodol!! Kak, dia nggak bawa hp-nya," teriak Amara dari pintu kamar, suara itu terdengar dari kamar Zia.
"Sama, Ra ... mas Mikhail nggak bawa hp juga, mereka kemana sebenarnya astaga."
Merasa tidak punya pilihan, Amara coba-coba menghubungi Kendrick. Berharap asisten pribadi suaminya itu mengetahui keberadaan Syakil, namun lebih dramatisnya lagi Kendrick yang berpisah dari Syakil jelas tidak mengetahui dimana keberadaan bosnya. Akan tetapi, telepon dari Amara setidaknya membuat hati Kendrick sedikit tenang.
"Aduh ... terus gimana, Ken?"
"Nona tenang saja, tetap diam di sana dan jangan kemana-mana. Saya akan mencari keberadaan mereka."
Amara mengucapkan terima kasih sebelum kemudian menutup teleponnya. Harap-harap cemas, Amara hanya bisa berharap suaminya tidak terlalu lama di luar sana.
****
Dua jam mereka mencari, Mikhail menyerah. Rasanya perjalanan mereka terlalu jauh, meski dengan kecepatan tinggi sekalipun mereka tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Bagaimana? Kita pulang dulu saja, Kil."
"Pulang?"
Suara Syakil sudah serak, dia tidak lagi menyembunyikan air mata yang mengalir begitu derasnya. Mau dikatakan cengeng juga terserah, namun yang jelas saat ini batin Syakil benar-benar tertekan hingga napasnya terasa sesak.
"Hm, kita tidak bawa handphone ... siapa tahu Kendrick dan anak buahnya sudah menemukan Amara," jelas Mikhail serius dan berharap adiknya yang kini lemas bisa menerima ajakannya.
"Kalau seandainya dia benar-benar pergi bagaimana? Aku bagaimana, Khail?"
Mana Mikhail tahu, yang jelas lebih parah daripada ditinggalkan Ganeta, pikir pria itu. Wajah Syakil terlihat amat menyedihkan, Mikhail melemparkan kotak tisu ke wajah sang adik lantaran merasa risih dengan air mata dan cairan di hidung Syakil yang banjir persis bayi kehilangan induknya.
"Menyebalkan, hapus air matamu itu ... umurmu 29 tahun, bukan 29 bulan."
Terserah, Syakil tidak peduli dengan hinaan Mikhail. Pria itu memijat pangkal hidungnya, kepalanya terasa sakit dan yang dia pikirkan saat ini hanya Amara.
"Aku mencintainya, kau juga dulu begini di rumah sakit sewaktu meminta Mama mencari Zia," ucap Syakil kini membawa masa lalu, kebiasaan mengeluarkan jurus andalannya.
"Ck itu masa lalu, lagipula aku wajar menangis ... kami terpisah berbulan-bulan, sementara kau baru beberapa jam sudah begini. Dia tinggalkan sungguhan mungkin kau gila," tutur Mikhail tertawa sumbang, sempat kasihan namun perasaan itu hilang lantaran Syakil membawa masa lalunya barusan.
-Tbc-