
"Shuut!! Dasar gila, siapa yang mengotori otakmu sampai bisa jawab begini, hm?" tanya Syakil panik tetapi tidak kuasa menahan tawanya, pria itu menutup mulut sang istri tiba-tiba lantaran kaget mendengar pernyataannya.
Di tempat umum begini bisa-bisanya Amara berkata demikian, walaupun ucapan Amara belum tentu dipahami setiap orang yang mendengarnya tetap saja Syakil panik.
Amara hanya terkekeh menyadari suaminya sepanik itu. Tidak pernah dia duga hanya dengan sebuah pernyataan sederhana begitu Syakil ketar-ketir seolah akan dibuka aibnya.
"Becanda, serius banget hidupnya," tutur Amara masih dengan gelak tawa yang tiada habisnya.
"Iya-iya asal kamu bahagia saja, tapi ingat panggilnya sayang ... not Syakil, atau kamu aku tinggal kerja dua hari dua malam."
Syakil cari mati, wajah Amara mendadak tertekuk kala mendengar pernyataan konyol suaminya. Matanya mendelik dengan bibir yang sudah bisa diikat. Amara memang setakut itu Syakil tidak pulang, rasanya tidak mungkin istrinya berani membantah kali ini, pikir Syakil.
"Ya sudah, aku tidurnya gabung aja sama kak Zia ... biar kami bertiga!!"
Jawaban yang jelas, tepat dan berhasil membuat urat Syakil menegang. Seyakin itu dugaannya sebelum bertanya, kini Syakil dibuat mati kutu dengan jawaban asal istrinya.
"Kamu benar-benar mau Zia jadi janda ya, Ra?"
Bukannya takut, Amara justru terkekeh mendengar ancaman Syakil. Pria itu masih memasang wajah datar lantaran kali ini lagi-lagi Amara melibatkan nama Mikhail dalam menyelesaikan perdebatan.
"Seyakin itu bisa bunuh kak Mikhail? Yang ada tulang kamu patah dia banting," ejek Amara mengingat postur tubuh kakak iparnya yang memang persis tukang pukul.
"Yakin, aku karate tingkat nasional loh dulu ... sementara dia cuma menang gede, itupun kebanyakan lemak, Ra."
Ya, kembali lagi Syakil mengejek tubuh Mikhail. Saat ini mungkin telinga pria itu panas lantaran menjadi topik pembicaraan kedua insan ini.
"Aku aduin ya! Nggak boleh bawa-bawa fisik begitu loh," ucap Amara sebal, entah kenapa dengan Syakil yang terus saja mengejek Mikhail perkara bentuk tubuh, dia justru ketar-ketir suaminya akan melakukan hal sama jika nanti tubuhnya tidak selangsing ini lagi.
"Kenyataan, Sayang ... memang dia yang persis badak, Mama sendiri bilang kan yang hamil Zia tapi yang bunting justru dia. Artinya aku nggak salah, seorang Mama yang jujur luar biasa aja bilang gitu," ungkap Syakil lembut dan masih tidak berpikir alasan kenapa istrinya tiba-tiba meninggi sepertu itu.
"Ih sumpah jahat banget, kemarin gajah bengkak sekarang badak ... mulut kamu tu ya, kamu nggak tau seberapa usaha seseorang yang berat badannya berlebih buat kurus tu gimana? Susah!! Ngerti nggak!!" tegas Amara dengan tatapan luar biasa tajamnya, dadanya kini bergemuruh seolah merasa terhina dengan sikap suaminya.
Kenapa justru Amara yang marah? Padahal yang Syakil anggap persis badak adalah Mikhail, bukan dirinya ataupun orang-orang di dekatnya.
"Sayang, kok marah? Aku kan bahas Mikhail ... kamu kenapa?"
Jelas saja Syakil bingung, beberapa waktu lalu dia mengulas senyum ketika Syakil genggam tangannya. Kini, matanya menyala-nyala seolah Syakil benar-benar bersalah.
"Kamu ngejek kak Mikhail terus dari kemarin ... padahal aku lagi hamil, kamu tau nggak kalau ucapan jelek-jelek begitu kalau nggak balik sama diri kamu ya sama orang-orang terdekat kamu."
Syakil mengerutkan dahi, tampaknya permasalahan terkait badan Mikhail berunjung panjang. Dia paham gurat wajah istrinya, dan saat ini terlihat jelas jika istrinya tengah marah besar.
"Maksudnya?" tanya Syakil masih belum mengerti juga arah pembicaraan Amara, ya memang dia tidak sebaik itu dalam memahami wanita. Maklumi saja, Syakil bukan pemain seperti Mikhail yang memahami sejuta bahasa wanita.
"Kalau nanti aku gendut juga gimana? Mau kamu katain apa? Paus? Sapi laut? Kudanil atau apa?"
Amara mengepalkan tangannya, Syakil yang justru terbahak semakin membuat amarahnya melayang hingga ke ubun-ubun.
"Hm, apa yaa? Dugong mungkin," jawab Syakil sekenanya dan dia penasaran sekali bagaimana reaksi Amara selanjutnya.
"SYAKIL!!" bentak Amara kemudian mencubit perutnya hingga pria itu meringis dengan gelak tawa yang makin tidak terkendali.
"Hm, masih Syakil juga ya sampai sekarang ... aku buat gendut beneran kamu lihat saja, tiap tahun punya bayi mau?" Ancaman spontan yang sebenarnya sama sekali tidak niatkan sebelum ini. Hanya saja, melihat Amara yang luar biasa cemas jika bentuk tubuhnya berubah, Syakil menemukan titik kelemahan sang istri.
Takut? Jelas saja dia takut, Syakil bisa melakukan apa saja ketika dia mau. Andai saja Syakil benar-benar berniat membuatnya hamil tiap tahun jelas saja bisa, hanya dengan membatasi dan mengawasi ruang gerak Amara semua akan tertata dengan mudah.
"Maaf, Sya-yang ... aku khilaf, nggak sengaja beneran."
Panggilan yang unik, kesalahan penyebutan dan justru terdengar seperti suara salah satu penyanyi dangdut senior kebanggaan tanah air.
"Iya, Syayang nggak masalah." Syakil mengejek hingga wanita itu membuang muka kala Syakil hendak mencolek dagunya.
.
.
.
Terlalu lama menunggu, Kendrick rasanya sudah lumutan. Bingung juga yang diperiksa hanya kandungan Amara atau otak bosnya juga. Hingga ketika mereka masuk mobil, tanpa menunggu perintah Kendrick melaju dan berhasil membuat Syakil yang belum siap kaget luar biasa.
"Kendrick!! Aku belum memintamu untuk jalan!!" sentak Syakil sebal dan kini pria itu hanya mengucapkan maafnya dengan alasan perutnya sedikit nyaman.
"Sekali lagi maaf, Tuan, Nona ... tadi malam saya memang masuk angin," ungkap Kendrick seolah benar-benar tersiksa padahal tidak separah itu lagi.
"Ini kan sudah siang, beda cerita."
Berharap belas kasihan, Syakil justru tidak peduli lantaran sebal akibat Kendrick yang melaju sebelum dia benar-benar siap.
"Jangan gitu, mungkin Kendrick memang nggak enak badan, Sayang ... lagipula marah-marah begitu nggak baik. Jantungan bahaya, aku belum siap jadi janda ," ucap Amara di luar dugaan dan berhasil membuat Syakil menelan salivanya pahit, dia pikir Amara akan mengutarakan hal-hal manis. Nyatanya? Semua hanya sebatas khayal Syakil di siang hari.
"Buahahaha ... Anda benar sekali, Nona!!" Kendrick yang memang memahami ucapan Amara kini tidak bisa menahan gelak tawa ini lebih lama.
"Fokus!! Lihat ke depan dan jangan gunakan telingamu untuk menguping pembicaraan orang lain," ujar Syakil semakin dibuat marah kala Kendrick berani membela Amara di hadapannya.
Beberapa saat Kendrick kembali fokus dengan tugasnya. Jalanan begitu lenggang membuat Kendrick nyaman berkendara, atas persetujuan Syakil pria itu menambah kecepatan mengingat cuaca yang tidak bisa ditebak akhir-akhir ini.
"Arrghh, Shiitt!!" umpat Kendrick keras dan terpaksa berhenti mendadak hingga Amara dan Syakil sama-sama panik dibuatnya.
Nyatanya mau sefokus apapun Kendrick dia tetap tidak bisa menduga apa yang akan terjadi setelahnya. Karena terlalu cepat, pria itu tidak bisa menghindar ketika seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan dengan langkah cepatnya.
"Ken, ada apa?!" tanya Syakil panik karena memang sejak tadi dia tidak fokus dengan jalanan melainkan sibuk bersenda gurau bersama sang istri.
"Saya menabrak seseorang, Tuan," jawab Kendrick singkat.
"What? Kendrick tunggu!!"
Tanpa peduli perintah Syakil, Kendrick berlalu keluar meninggalkan mereka. Sementara Amara kini sudah pucat pasi lantaran terkejut Kendrick berhenti mendadak.
"Calmdown, kamu tunggu di sini sebentar ya, Sayang." Amara mengangguk cepat, sebelum semakin banyak yang melihat ada baiknya Syakil juga harus bertindak cepat.
............. Lanjut
Malam buta aku mau rekomen novel dari salah satu teman aku yang lainnya, hayuuk❣️