
Jika asmara yang sesungguhnya baru di mulai oleh Ganeta dan Kendrick, asmara yang kini kian utuh tengah dirasakan Syakil bersama sang istri. Pria itu tidak henti-hentinya tersenyum pada sang istri, malam panjang yang akan mereka habiskan dengan suasana yang berbeda.
"Kok cemberut, ayo masuk, Sayang."
Memang Amara sempat meminta untuk tidur di sebuah tenda bersama Syakil. Akan tetapi yang dia maksudkan itu di luar, bukan di dalam kamar begini.
"Maksud aku beneran di alam terbuka, kalau begini doang nggak seru lah!!"
Amara protes lantaran merasa Syakil asal-asalan dalam membuatnya bahagia. Memang Syakil mengatakan apapun akan dia turuti, tapi sayangnya dia tidak mengatakan jika dituruti sesuai dengan kemauan atau seadanya saja.
"Seru lah, jendelanya juga sudah terbuka ... kita berdua juga sudah pakai jaket, ayo sini, Sayang. Hangat loh di dalem."
Dia membujuk Amara layaknya bocah TK, setelah seharian Amara meminta camping di alam terbuka dan menikmati waktu berdua kemarin, kini dia dengan santainya mengatakan jika sudah sesuai sekali dengan keinginan Amara.
Mau tidak mau, Amara harus tetap menurut. Ya, meski malam ini dia tiba-tiba jadi korban harapan palsu seorang Syakil tidak masalah. Dia terima karena memang pada faktanya Syakil suka berbohong demi membuatnya senyum sementara.
Banyak sekali kemauan Amara akhir-akhir ini, lama di sangkar emas membuat wanita itu merasa bosan hingga ada beberapa hal yang ingin dia rasakan selama hamil.
Hanya saja, kekhawatiran Syakil memang begitu luar biasa dan jelas dia takkan memberikan izin Amara untuk menikmati waktu di luar semudah itu. Selain dia hati-hati dengan Wiranata yang bisa saja berubah tanpa sepengetahuannya, Syakil juga khawatir tentang hal lainnya.
"Nanti ya, Sayang ... kalau sekarang jangan dulu, kamu nggak paham seberapa jahatnya dunia, Ra."
Amara mengangguk pasrah, dia duduk di sisi Syakil dan kini keduanya memandang jauh ke luar sana. Hujan sebenarnya, namun dengan sengaja Syakil buka jendela demi membuat Amara merasa benar-benar berada di alam terbuka.
"Papa lagi apa ya? Sayang sekali kamu terlambat datang ... seharusnya dia bertemu pria baik sepertimu dulu baru boleh pergi meninggalkanku," tutur Amara seraya memandang jauh ke luar saja, dari gurat wajahnya tampak jelas Amara benar-benar mencintai sosok papanya.
"Maaf ya, aku datang terlambat," ujar Syakil merengkuh Amara dalam pelukannya, ada sejuta penyesalan dalam hidup Syakil yang tidak akan berguna walau dia sesali.
"Bukan salah kamu, Papaku saja yang nggak sabaran."
Amara menarik sudut bibir, sebelum kepergian papanya memang dia selalu diminta mengenalkan sosok pendamping Amara, hingga dia terpaksa menerima Rega lantaran pria itu terus saja menagih janji Amara terkait kekasihnya.
"Jangan saling salahkan, Sayang ... jodoh kita saja yang belum tiba kala itu."
Amara tersenyum hangat usai mendengar kalimat itu. Syakil mengelus pipinya pelan, dia paham akan kerinduan Amara dan hal itu terjadi pasca drama nama Wiranata yang kini dia kenal sebagai papa biologisnya.
"Kamu membencinya?"
"Siapa?" tanya Amara kemudian, dia merasa bingung dengan pertanyaan sang suami.
"Papamu ... Wiranata." Sebenarnya hal semacam ini tidak seharusnya dia bahas, akan tetapi penasaran saja apa respon Amara.
"Sebenarnya nggak, karena dengan drama dari Tuhan yang begitu panjang aku mengenal Papa yang benar-benar menyayangiku lahir dan batin, jika saja aku akan sama seperti Ganeta."
Sederhana saja bagi Amara, dia dibuang tapi Tuhan mengenalkannya dengan sosok papa yang jauh lebih baik daripada Wiranata. Jelas saja dia tidak sedih sama sekali melainkan marasa babagia, apalagi kala mengetahui bagaimana sikap orangtua kandungnya.
Syakil takkan meminta Amara memaafkan Wiranata, itu adalah pilihan dan dia berhak memutuskan. Jika dia lihat secara nyata, Ganeta saja enggan kembali pada Wiranata, lantas bagaimana dengan Amara?
"Ya sudah, jangan bersedih begitu ... maafkan orang-orang yang sudah membuat luka di hatimu," ucapnya lembut kemudian mengecup hangat kening sang istri, pelukan dan perlakuan hangat Syakil memang lebih dia butuhkan kali ini.
"Oh iyaa? Begitu?"
Iya, memang benar begitu. Amara menghela napas panjang, dia menatap wajah sang suami sembari yang kian hari kian manis di matanya. Padahal, awal pertemuan dia justru merasa geli dengan tingkah Syakil yang benar-benar mengusik hidupnya padahal sama sekali tidak pernah mengenal.
.
.
.
"Oh iya, kita nggak pulang? Kak Zia melahirkan beberapa minggu lagi," ungkap Amara terlihat sedikit terkejut, sungguh dia melupakan fakta ini.
"Kita di sini saja, aku khawatir kamu kecapekan, Ra ... nggak masalah kan?"
Sebenarnya tidak masalah, hanya saja Amara ingin saja melihat bagaimana paniknya seorang Mikhail kala istrinya melahirkan. Jika hanya mendengar cerita rasanya tidak seru dan kurang puas saja.
"Yaah aku mau lihat, Sayang."
Syakil menggeleng, dia tidak akan mengizinkan istrinya terbang sejauh itu. Jangankan ke Indonesia, Amara minta waktu untuk merasakan dunia luar saja belum dia izinkan.
"Kamu tetap harus perhatikan kandungan kamu, Sayang ... ingat kan Nathan kemarin bilang apa? Jangan terlalu lelah, Amara."
Pasca Nathan mengatakan jika Amara terlalu lelah kemarin dia benar-benar membatasi ruang gerak sang istri. Kandungan istrinya yang kini menginjak usia enam bulan sama sekali belum membuat Syakil merasa aman-aman saja.
"Kak Zia nggak marah kalau kita nggak disana?"
"Mama disana, Papa, Mikhail, ketiga anaknya dan keluarga besar lengkap menemani Valenzia ... kita bantu doa saja, dan tentu saja bayar rumah sakitnya." Seperti candaan Mikhail sebelum pergi, nyatanya itu benar-benar Syakil pertimbangkan.
"Ya sudah kalau begitu, terus nanti kalau aku lahiran temennya kamu doang? Masa begitu?"
Dia mencebik, saat ini Amara sudah bisa merasakan cemburu. Dia menginginkan Kanaya juga ada di sisinya. Selama ini hanya Zia yang Kanaya utamakan secara langsung, jelas saja dia menginginkan hal yang sama.
"Nanti ada Mama, Papa kalau perlu keluarga besar kita kumpulkan di sini."
Berbeda dengan Mikhail yang setakut itu orang lain akan mendekati istri dan anaknya, Syakil justru berpikir untuk mengumpulkan mereka ketika nanti putranya melihat dunia.
"Kak Eva bagaimana?" Nurani Amara masih begitu baik pada sang kakak meski dia sadar Eva bukan saudara sebenarnya, akan tetapi sewaktu kehidupan mereka masih baik-baik saja Eva adalah sosok kakak yang cukup baik padanya.
"Hm boleh, tapi jangan bawa kekasihnya itu ya."
Tentu saja, tanpa ditegaskan Amara juga dengan terang-terangan akan menolaknya. Pria gila yang sampai akhir hanya jadi beban hidup pasangan, itulah Rega.
"Sayang basah, airnya masuk kamar." Amara menyadari jika air hujan dari luar tampak masuk dan membuat lantai mulai membasah.
"Tidak apa-apa, anggap kita lagi kemah di pingir danau, nikmati kan ini yang kamu mau, Ra." Memang dasar wanita, meminta di alam terbuka dengan segala usaha. Akan tetapi, air hujan masuk saja dia gelisah.
- To Be Continue -