
Sepanjang perjalanan pulang Amara memalingkan wajahnya, pemandangan kota di luar sana sepertinya lebih baik daripada menatap wajah Syakil yang tanpa dosa di sampingnya.
"Dalam hitungan ketiga belum menatap ke arahku ... robek bajumu, Amara."
Suara Syakil terdengar datar, sudah hampir delapan menit keduanya hanya berdiam-diaman di dalam mobil yang dikemudikan sang sopir dengan pelan. Pria itu bersedekap dada begitu sabar menanti suasana istrinya kembali baik-baik saja.
"One ... two ... Amara kamu jangan pura-pura tuli ya, Sayang."
Selalu saja, memaksa seperti biasa. Pria gila yang datang ke hidupnya dengan harta berlimpah namun otaknya kurang setengah ini semakin hari semakin menjadi, pikir Amara semakin kesal.
"Three ... three ... three!!"
Faktanya ucapan Syakil yang akan merobek pakaian istrinya itu memang hanya ancaman. Terbukti kali ini sudah hitungan ketiga berkali-kali gaun pakaian Amara tetap baik-baik saja.
Merasa ancamannya gagal dan Amara terlihat santai saja, Syakil meghela napas kasar dan mengusap wajahnya frustasi. Adanya orang lain di dalam mobil membuatnya mengurungkan niat.
"Mike hentikan mobilnya," titah Syakil tiba-tiba, pria itu tidak suka ditentang dan pantang diabaikan. Amara yang seolah tak peduli dengan ucapannya membuat kesabaran Syakil terkikis.
"Baik, Tuan."
Amara yang mendengar Syakil meminta hal demikian pada sopirnya mendadak ketar-ketir. Sungguh sebuah hal aneh, Amara bahkan takut pada suaminya sendiri. Pria itu tidak hanya tak tertebak menurut Amara, melainkan messumnya luar biasa.
"Kenapa berhenti?" tanya Amara gugup dan menatap heran sang suami, rasanya tidak ada hal yang salah. Lantas mengapa Syakil justru meminta Mike berhenti segala.
"Kita akan terus di sini kalau kamu lihatnya ke luar terus," tuturnya singkat, padat dan ini menyebalkan bagi Amara.
Pria itu tidak mendekat, tidak juga agresif ataupun menarik paksa Amara. Melainkan terus menunggu dan bahkan begitu betah di posisinya.
"Sudah, aku lihat depan sekarang."
Amara yang masih memendam kekesalan lantaran Syakil mellumat bibirnya di depan umum juga enggan mendekat, dia menatap ke depan dan bersandar sebagai bukti jika dia lelah dan ingin segera pulang saat ini juga.
"Mendekat, Ra. Sejak kapan kita musuhan begini."
Sejak kapan dia tanya? Sudah jelas-jelas sejak kapan masih saja bertanya. Amara mendelik dan tidak ingin berdebat bersama sang suami untuk saat ini, terserah Syakil karena jujur jika menatap wajah suaminya malam ini yang ada dalam benak Amara hanya perasaan malu tiada henti.
"Kenapa nggak kamu aja yang geser, aku udah nyaman di sini."
Amara tidak mau mengalah sementara ego Syakil malam ini sama tingginya. Dia yang kesal diabaikan enggan membujuk dan merasa kehilangan harga diri di hadapan sopir pribadinya jika sampai mengemis pada Amara.
"Sama, aku juga lebih nyaman di sini ... tapi kamu tau nggak salah satu dosa besar tu apa?"
"Bantah ucapan suami," tambahnya kemudian dan Amara hanya bisa berdecak pelan.
"Tetap saja, sejak tadi aku sudah memerintah tapi kamu pura-pura nggak denger, apa namanya kalau bukan bantah? Mendekat kalau nggak mau dosa kamu bertambah malam ini."
Ya, seperti biasa jurus Syakil jika Amara membangkang ialah ceramah. Ada saja materinya, meski memang yang dia ucapkan tidak salah dan dari sudut pandang manapun ucapan Syakil sangat-sangat benar.
Baiklah, mau tidak mau Amara yang harus mengalah. Wanita itu duduk di sisi Syakil bahkan tak melonak kala pria itu melingkarkan tangan di pinggangnya, tidak apa dia memperkecil masalah, bahaya juga jika Syakil nanti mengeluarkan dalil karena tidak diikuti kehendaknya.
"Jalan, Mike ... tapi pelan saja."
Mike terbiasa dengan Syakil yang dingin dan tidak banyak bicara merasa terkejut bahkan merasa majikannya ini bukan Syakil yang dia kenal. Bosnya memang belum pernah dia membawa Syakil bersama seorang wanita, akan tetapi tidak pernah dia duga jika hadirnya seorang wanita di sisi Syakil akan menciptakan drama seperti sekarang.
Deru mobil kembali berseru , memecah jalanan Los Angeles di malam hari. Amara mulai mengantui kala Syakil memintanya bersandar di pundak, ini memang dia yang lelah atau tubuhnya saja yang sedang manja.
.
.
.
Tiba di kediamannya, Syakil membopong Amara ke kamar. Istrinya benar-benar tertidur padahal yang terjadi di restoran tadi masih ingin dia lanjutkan.
Meski demikian dia tidak berniat membangunkan Amara sebentar saja. Dari hal semacam ini dia sedikit lebih waras dari Mikhail dan tidak memaksakan kehendak dan menerobos masuk kala istrinya sedang tertidur.
Beberapa saat Syakil memandangi wajah sang istri yang kini terlelap. Jika menatap Amara yang begini, lagi-lagi yang Syakil rasakan hanya penyesalan tiada tara. Bisa-bisanya dia kerasukan dan membuat Amara menangis malam itu.
"Maaf, Ra ... aku akan benar-benar kehilangan akal sehat jika kamu pergi."
Syakil memang bukan pria lemah, akan tetapi jika Amara hilang dari dirinya maka bisa dipastikan jiwa Syakil takkan sempurna.
Drrtt Drrt
"Ck, mengganggu saja," umpat Syakil kala ponselnya berdering dan mengusik ketenangannya. Pria itu kemudian memilih mengabaikannya kala nomor yang tertera tidak dia dikenali sama sekali.
"Kendrick sialaan, sudah kukatakan jangan asal menyebarkan nomor ponselku," kesal Syakil memaki asisten pribadinya yang mungkin saja saat ini tengah bermimpi indah dan mengkhayal bidadari memberikan kehangatan padanya.
-Tbc-
Assalamualaikum, hai maaf ya aku upnya nggak tiga karena kemaren ya biasa aku terhambat review manual dan jadinya ga semangat begitulah. Hari ini aku bawain rekomendasi novel buat dibaca sementara Syakil up, cuss kesana.