My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 74 - Seperti Membalikkan Telapak Tangan.



Pulang tanpa harapan sebenarnya, Syakil terpaksa mengiyakan keinginan Mikhail karena pria itu memang sudah lelah dan menyerah mencari keberadaan adik iparnya.


Syakil menatap kosong ke depan, dia pasrah dan sudah berniat menghubungi sang mama. Akan tetapi, pikiran Mikhail menyelamatkannya.


Tiba di mansion sebagian bodyguard yang ditugaskan menjaga Amara kini sudah kembali. Syakil mengepalkan tangan dan hendak meluapkan amarah lantaran mereka pulang sebelum misi di selesaikan.


"Siapa yang mengizinkan kalian pulang? Kendrick mana, Mike?"


"Nona Amara sudah menunggu Tuan di dalam, dan Ken bersama rekan yang lainnya sedang dalam perjalanan mencari keberadaan Anda," jelas Mike, salah satu bodyguard favorit Amara lantaran pria itu begitu sabar dan menjaga dengan sepenuhnya.


"Hah?"


Mendadak dodol, benar kata Amara jika kecerdasan Syakil seakan berkurang akhir-akhir ini. Pria itu kemudian berlari begitu mendengar penuturan Mike. Jelas saja dia meninggalkan Mikhail yang sudah lelah luar biasa menjadi sopir pribadinya.


"Kerja bagus kalian, minta gaji tiga kali lipat nanti," bujuk Mikhail menepuk pundak Mike beberapa kali, jelas saja jika sudah berhubungan dengan Mikhail semua akan menjadi uang.


"Terima kasih, Tuan."


Mike bukan pengawal mata duitan seperti Mikhail. Sekalipun dia diminta tidak tidur sebelum Syakil pulang ketika awal pernikahan majikannya, Mike tetap memastikan rumah dalam keadaan baik-baik saja.


Mikhail menyusul kepergian Syakil, pria itu menggeleng pelan melihat adiknya. Apa mungkin semua orang akan menjadi sebodoh itu jika sudah berurusan dengan cinta, pikir Mikhail.


"Amara!!"


Teriakannya menggema, Syakil berlari menuju lantai dua dan membuka pintu kamarnya dengan tenaga dalam. Hingga, Amara yang tengah merapikan alisnya terperanjat kaget dan bingung suaminya kerasukan apa.


"Ya Tuhan, Amara!! Kamu dari mana saja, Hah?!!"


Dia membentak sang istri sebelum kemudian menariknya dalam pelukan. Syakil mengecupnya berkali-kali kemudian mengusap pelan pundaknya begitu lembut, matanya terpejam dan kini pria itu kembali menitikkan air mata.


"Sebentar, kamu yang dari mana?"


Amara menghela napas pelan, keringat di dahi suaminya membasah seperti dari perjalanan jauh. Kasihan sebenarnya, tapi jujur saja Syakil yang begini begitu lucu di matanya.


"Aku cari kamu, Sayang ... aku pikir pergi, jangan begini lagi, Amara."


Napas Syakil belum normal seperti biasa, pria itu berucap dengan bibirnya yang bergetar. Seakan dibuat gila dalam sekejab, Syakil menghela napas berkali-kali kala yang dia peluk kini benar-benar istrinya.


"Aku di kamar mandi, lagipula udah dibilangin, sekalipun kamu lepas aku nggak akan bisa pergi ... kamu lupa ya?"


Lupa? Jelas saja Syakil lupa. Mana dia ingat jika Amara pernah mengatakan hal itu. Saat ini, yang dia dia pahami ialah kemarahan Amara sebagai istri usai dia kelabui dan menempatkan posisi Amara sebagai pengganti wanita lain.


"Ehm, masa lupa."


Syakil mengangguk, jangankan masalah itu. Ponselnya saja Syakil bisa lupa, pria itu hanya bisa pasrah dan bersyukur Tuhan masih baik padanya.


"Lalu apa yang kamu ingat? Pelupa terus akhir-akhir ini," ungkap Amara seraya menyeka keringat sang suami, bingung juga kenapa bisa keringat Syakil sebanyak itu.


"Entahlah, bawaan bayi sepertinya," jawab Syakil sekenanya, jawaban paling ampuh yang bisa dia gunakan untuk saat ini.


"Mandi sana, abis itu sarapan ... walau telat nggak masalah, yang penting makan."


Tadi malam istrinya persis elang hamil, kini Amara sudah terlihat seperti Amara yang lembut dan perhatian padanya. Sungguh istri yang amat sulit untuk ditebak, Syakil hanya mengangguk patuh untuk perintahnya kali ini.


"Kamu udah?"


Amara menggeleng, jujur saja dia sebenarnya panik ketika Kendrick belum juga menemukan keberadaan Syakil.


"Kenapa belum? Sudah lewat jam sarapan kamu, apa karena nunggu aku?" tanya Syakil dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi.


"Ck, iyalah!! Udah sana cepet, kenapa juga pagi-pagi heboh banget ... makanya tidur tu jangan asal biar bangunnya waras dikit. Cuci kaki, cuci muka gosok gigi dulu kek abis itu doa baru tidur, sementara kamu susu di bibir aja dibiarin begitu apaan."


Salah lagi, sungguh istrinya persis guru BK Syakil sewaktu SMA. Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, mau protes tapi memang ucapan Amara benar adanya.


"Maaf, Sayang ... semalem udah ngantuk makanya ga gosok gigi lagi, aku cuma minum susu kok bukan makan jengkol apa salahnya," jawabnya membela diri, ya mana mau dia terima begitu saja.


"Salah lah, aku nggak mau punya suami ompong padahal masih muda ya," omel Amara kemudian mendorong Syakil perlahan ke kamar mandi, sepertinya memang suaminya ini butuh gebrakan dari pihak luar.


"Aku bisa bayar dokter kalau cuma urusan gigi."


"Percaya, sana mandi."


"Temani," ucapnya tanpa terduga menarik pergelangan tangan Amara hingga wanita itu membeliak dan tidak bisa melepaskan diri begitu saja, ya sudah biasa hal semacam ini akan menjadi cara Syakil mendapatkan kesempatan.


"Lepasin nggak ... ih pelecehan kamu ya, aku teriak kalau masih maksa," ancam Amara mulai panik padahal yang menariknya adalah suaminya sendiri, bukan pria lain.


"Teriak sepuasnya kalau mau masuk berita dan aku dianggap melecehkan istriku sendiri," tutur Syakil tak peduli dengan tatapan tajam Amara yang seolah hendak menggigitnya hidup-hidup.


"Ah Papa!!" teriaknya menggema seolah yang tinggal di tempat ini hanya mereka berdua, keduanya sama-sama lupa jika pintu kamar masih terbuka.


-Tbc-