My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 71 - Jaga Dia



Syakil salah menduga, Ganeta yang tadinya terlihat diam nyatanya menggila ketika dia menyinggung masalah orang tuanya. Wanita itu berontak bahkan harus ditenangkan melibatkan dokter di sana.


"Jaga dia, dasar gila ... tanganku sampai luka."


Kendrick datang di saat yang tepat, Amara menghubungi asisten pribadi suaminya itu setelah dibuat panik lantaran Ganeta menggigit tangan Syakil hingga pria itu meringis.


Biasanya Syakil kerap mengumpat istrinya gila adalah candaan, kini dia benar-benar merasakan brutalnya orang gila. Amara saja tidak pernah menggigitnya sampai begitu, belum lagi cakaran di wajahnya, saat ini Syakil benar-benar merasakan siksasan manusia kehilangan akal.


"Maklumi saja, Tuan. Saya yakin jika dia waras tidak akan begitu," jelas Kendrick susah payah menahan tawa lantaran kondisi Syakil sudab persis korban kekerasan, bajunya robek dan luka-luka di wajah sungguh membuat hati Kendrick prihatin.


"Kau tertawa?"


"Tidak, malam ini lumayan dingin ... otot-otot di wajah saya kaku jika tidak tertawa begini," elak Kendrick karena masih sayang terhadap nyawa dan pekerjaannya.


"Alasan saja!! Aku pulang, hubungi orang tuanya ... mau bagaimanapun mereka berhak tahu, tapi ingat mereka hanya berhak tahu, bukan berarti bebas membawa Ganeta pulang."


Amara mendelik, demi Tuhan dia terkejut dengan ucapan Syakil. Apa lagi yang pria itu inginkan hingga tidak mengizinkan Ganeta dikembalikan kepada orang tuanya.


"Lalu bagaimana?"


"Mental wanita itu terganggu, Ken ... jika dia hanya pulang kemungkinan besar Ganeta semakin parah. Dia butuh penanganan khusus, kalau perlu rumah sakit jiwa." Syakil berucap datar sembari menatap nanar ke depannya, sungguh tidak dia duga jika wanita manis yang selalu ceria beberapa tahun lalu akan mengalami kegilaan begitu.


"Aku tidak tega menyebutnya gila, tapi mau bagaimana ... fakta yang bicara, mau secantik apapun dia tetap tidak waras," tutur Kendrick menatap pintu ruang rawat Ganeta, pria itu menggigit bibirnya kemudian menghela napas pelan, sungguh tragis nasib mantan kekasih bosnya itu.


"Dia bisa sembuh, dokter mengatakan kemungkinan dia sembuh tetap ada ... Ganeta hanya terlalu dalam meratapi perpisahan, aku rasa dia butuh pengganti seperti yang aku butuhkan dulu."


Amara membuang muka kala Syakil berucap demikian, meski memang semua ucapannya benar. Hanya saja, selama Syakil sepeduli itu dia tetap saja cemburu.


"Pengganti?" tanya Kendrick tampak berpikir beberapa saat, pria itu sedikit bingung dengan penjelasan Syakil.


"Iya, hatinya terlalu kosong ... cobalah kau isi, dia wanita pertama yang benar-benar kau akui cantik," tutur Syakil mengada-ngada tapi memang nyata, selama ini Kendrick kerap mengutarakan seorang wanita cantik hanya sebatas pujian belaka.


"Ya, tapi bukan begitu juga maksudnya."


"Aku titip dia, Ken ... aku tidak bisa lagi menjaganya karena sudah ada Amara, anggap saja ini bagian dari pekerjaanmu."


Syakil tidak bisa melepasnya begitu saja, mau bagaimanapun Ganeta pernah menjadi pengisi relung hatinya untuk waktu yang lama. Mana mungkin dia bisa membenci dan mengabaikan Ganeta begitu saja, dia meminta Kendrick menjaganya semata-mata untuk kebaikan Ganeta. Akan tidak adil rasanya jika Syakil benar-benar menutup mata setelah dia menemukan kebahagiaan sementara Ganeta masih terbelenggu dengan cinta yang hingga akhir takkan menjadi miliknya.


"Baik jika itu yang Anda mau, gaji saya naik tiga kali lipat ya?" tanya Kendrick seenak dengkulnya, padahal semenjak tugas menjaga Ganeta itu ada, Syakil meminta bantuan Mikhail di perusahaannya untuk sementara, dan tentu saja itu tidak gratis.


"Hm, besok-besok tubuhmu yang kulipat," ungkap Syakil kemudian yang berhasil membuat Kendrick bungkam.


.


.


.


Rumah, biasanya hati Syakil akan berbunga selama perjalanan ke rumahnya. Akan tetapi malam ini berbeda, sengaja dia mengurangi kecepatan hingga Amara lama-lama jengah di perjalanan.


"Kamu kenapa? Males pulang atau gimana?" tanya Amara tiba-tiba setelah lama dia terdiam dan tidak mengucapkan apa-apa.


"Kenapa tanyanya begitu, Ra?" Syakil yang terkejut dengan pertanyaan bernada tinggi dari Amara masih tetap menjawab lembut.


"Cuma tanya aja, atau kita bawa sekalian Ganetanya ... kamu kepikiran dia kan?" tanya Amara semakin meninggi lagi, tampaknya Syakil akan terus salah di mata istrinya untuk waktu beberapa hari kedepan.


"Alasan, kalau nggak bisa bawa mob ... Aarrrgghh!! Kamu mau aku mati atau gimana?"


Serba salah di mata Amara, lambat salah cepat juga salah. Syakil memacu laju kendaraan di saat Amara belum selesai bicara, ya memang cari mati dan akhirnya pria itu mendapat makian dari sang istri sepanjang perjalanan.


"Katanya suruh cepat, kenapa jadi marah?" tanya Syakil masih mempertahankan kecepatannya, jalanan sepi semakin membuat Syakil merasa puas dengan bebas.


"Nggak begini juga, pelan-pelan," titah Amara baik-baik terus menatap Syakil dengan tatapan penuh permohonan.


"Biar saja begini, kamu mau cepat sampai kan?" Syakil yang pantang ditantang memang akan terus membuktikan dengan caranya, kesal di cap tidak bisa berkendara kini dia benar-benar menggila.


"Pelan-pelan!! Paham nggak?!!"


Bukan lagi meminta biasa tapi sudah dengan kekerasan. Syakil meringis ketika Amara menarik telinganya kuat-kuat, hanya dengan cara itu dia bisa mengurangi kecepatannya tiba-tiba.


"Aaaww awww, iya-iya ... lepaskan dulu, aku pelan."


Sama-sama brutal pada faktanya, baik Amara maupun Ganeta sepertinya menjadikan tubuh Syakil sebagai sasaran kemarahan. Perih dan sakit akibat amukan Ganeta masih terasa, dan kini istrinya lebih gila lagi bahkan telinga Syakil rasanya panas luar biasa.


"Kejamnya, Ra ... kalau daun telingaku robek bagaimana? Kamu punya suami cacat mau?" Amara tidak menjawab kini, pria itu menarik sudut bibir ketika istrinya semakin cemberut usai ditanya demikian.


.


.


.


Setelah cekcok di tengah jalan itu, keduanya kini tiba di mansion hampir dini hari. Jelas saja pasangan legend itu sudah tidur di kamar mereka, mana mungkin Mikhail akan menunggu kehadiran Syakil.


"Buka bajunya," titah Amara kini duduk di sisi Syakil dengan membawa obat-obatan untuk merawat luka-luka suaminya.


"Bukain," pinta Syakil sengaja memasang wajah malas seperti biasa, sepertinya akhir-akhir ini Syakil kekurangan keterampilan.


Mau tidak mau, meski kesal membatu di hatinya Amara tetap berusaha menjadi istri yang baik untuk Syakil.


"Kamu marah ya?" tanya Syakil memecah keheningan, Amara fokus sekali mengobati luka-luka akibat cakaran Ganeta yang dia yakini tidak potong kuku satu tahun lamanya.


"Marah karena?"


"Yang tadi, maaf ya jika malam ini aku melukai kamu lagi ... aku hanya ingin memastikan, apa memang aku masih bergetar memeluknya, tapi ternyata tidak, Ra." Syakil bercerita meski sama sekali Amara tidak mengungkit masalah ini.


"Sangat-sangat melukaiku, tapi terima kasih untuk malam ini. Setidaknya kamu berani menatap dua-duanya dalam waktu bersamaan ... andai masih ada perasaan ketika kamu memeluknya itu wajar saja, dia cinta pertama kamu mana mungkin semudah itu bisa lupa," jawab Amara tenang, dia begitu berbeda seperti di rumah sakit dan di mobil beberapa saat lalu.


"Cinta pertamaku Zia, bukan Ganeta." Jawaban spontan yang Amara tidak bisa percayai ini sontak membuatnya mencubit luka akibat gigitan Ganeta hingga pria itu meraung luar biasa sakitnya.


"Aaarrrgghh, Amara!! Kamu benar-benar ingin membunuhku atau bagaimana?"


"Andai bisa, sudah kubunuh sejak kamu memeluknya," omel Amara kini sengaja menekan luka lainnya sedikit kuat dengan alasan agar alkoholnya bekerja maksimal.


"Lakukan jika memang kamu puas, Ra," batin Syakil menahan sakitnya, dia paham saat ini Amara tengah memperlihatkan kemarahannya pelan-pelan.


-Tbc-