
Lama memendam, jika lebih lama lagi bisa-bisa beku. Syakil tidak main-main dengan ucapannya, pria itu mengunci tangan Amara di atas kepala demi bisa membuat Amara yang dipegang sedikit saja geli ini diam sebentar.
"Syakil jangan begitu, aku merinding."
Bagaimana tidak merinding, Syakil tiba-tiba saja membuat posisinya siap diterkam begini. Dia bahkan belum ganti baju, masih mengenakan bathrobe dan rambut yang belum sempat dia keringkan.
"Masa merinding? Tarik napas coba ... bagus, buang ... lakukan lagi, Sayang."
Dengan patuhnya dia menuruti perintah Syakil. Mengatur napas sembari memandangi wajah Syakil yang kini berada tepat di atasnya, baru sadar jika suaminya tampan.
"Sudah tenang?"
Amara menggeleng, karena memang saat ini dia sama sekali tidak tenang. Bias cahaya dari luar sana membuar kamar mereka terang benderang, meski sudah Syakil tutup gorden dan matikan lampunya tetap saja suasana siangnya masih terasa.
"Ikuti aku, tarik ... tahan ... buang, santai-santai, jangan terlalu tegang, Ra."
Mau bagaimanapun cara Syakil mengajarkannya untuk tenang dan tidak gugup, tetap saja bagi Amara ini seperti ancaman yang membuat jiwanya benar-benar terguncang. Apa Syakil sesinting itu sampai tidak sabar menunggu malam.
Kakinya kini bergerak kesana kemari, percayalah ini benar-benar pertama kali dan kenapa dia mendapatkan suami yang begini. Sungguh Amara bahkan pusing sendiri dibuatnya.
Beberapa saat dia mencoba menenangkan diri dan mengatur napasnya, kini Syakil kian mengikis jarak.
"Let's try again, jangan gugup ... kamu cuma perlu menerima, jangan menolak. Itu saja intinya," tutur Syakil begitu dekat, bahkan napas Syakil yang beraromakan mint itu dapat Amara rasakan begitu hembusannya.
"Tatap mataku, setelah itu kamu bisa memejamkan mata jika setelah bibir kita bertemu, paham?"
Jangan gugup, tatap matanya dan tetap tenang. Ya, inti dari pelajaran Syakil kali ini adalah tiga poin itu. Akan tetapi, semakin Syakil pertegas semakin dia gugup bahkan rasanya jantung Amara seakan lepas dari tempatnya.
Sebenarnya ini juga kali pertama bagi Syakil, secara teori memang dia paham bahkan dahulu kerap beberapa kali menonton video dewasa rasanya cukup untuk menjadi modal Syakil mampu membawa Amara terbang bersama.
Dia sudah berusaha, dia memang sedikit nakal ketika remaja. Akan tetapi hanya sebatas nonton dan itu sama sekali tidak dia praktikkan ketika dewasa, meski sempat hampir menikahi Ganeta, akan tetapi Syakil sama sekali belum pernah mengecap rasa manis dari wanita itu.
Syakil meraup bibir ranum Amara begitu lembut, meski belum mendapat balasan pria itu tidak berhenti meski sesaat saja. Pria itu mengeratkan genggamannya di pergelangan tangan Amara, pria itu menghangat kala tidak ada penolakan dari sang istri.
Dada Amara mulai sesak, Amara mulai memalingkan wajahnya berharap Syakil paham jika dia hampir kehabisan napas. Teorinya tadi tidak begini, kenapa sedikit menyiksa, pikir Amara.
"Bernapas, Ra, jangan ditahan ... kamu masih bisa napas walau aku cium," tutur Syakil mengusap bibir Amara yang kini begitu basah akibat ulahnya.
"Kamu kelamaan, tadi teorinya nggak begitu," omel Amara kesal kemudian mencebikkan bibirnya, posisinya kini memang sulit, Syakil yang mengunci tangannya di atas kepala adalah sebab utamanya.
"Hahah maaf, Sayang ... kita coba sekali lagi."
Belum juga selesai Amara mengatur napasnya normal, pria itu sudah kembali membenamkan bibirnya dan kali ini lebih dari yang sebelumnya. Bukan hanya ciuman tapi ini sudah menjadi lumattan dengan gigitan kecil di bibir sang istri.
Dari mana Syakil mengetahui hal ini dia juga bingung sendiri. Tubuh Amara bahkan dingin saat ini, napasnya tercekat bahkan sebenarnya dia gemetar namun Syakil tetap melakukan aksinya bahkan kian tak terkendali.
"Balas, Ra," bisik Syakil setelah melepas pagutannya yang luar biasa menuntut bahkan Amara kelipungan dibuatnya.
Dada Amara naik turun, padahal Syakil baru melakukan 15 persen dari keseluruhan acaranya. Mata Syakil sudah benar-benar tertutup kabut, yang ada di otaknya saat ini hanya nikmat surgawi yang kerap dibahas Zidan dan juga Mikhail sejak dahulu.
.
.
.
Cengkaram tangannya memang terlepas, namun bukan berarti Amara bisa lepas. Usai dengan buah chery milik Amara, pria itu beralih menelusuri leher Amara.
Tidak hanya bibirnya yang beraksi, melainkan tangan kini sudah beraksi melepaskan membuka bathrobe sang istri dengan semudah itu.
Amara mulai terbuai kala tangan Syakil menelusuri setiap inci tubuhnya. Istrinya yang baru sudah mandi begini jelas saja semakin memacu jiwa kelelakiannya, setelah satu minggu lalu dia dapat memandangi puas-puas, kini dia merasakan bagaimana kehangatan di puncak gunung sinabung dan sekitarnya.
Sejak tadi tubuhnya sudah panas, Syakil melepas bajunya dan melemparkan asal dengan gerakan yang secepat itu.
Perfect body ... Amara tetap wanita normal yang juga menyukai sesuatu yang disukai wanita lainnya.
Selesai membuat bajunya hilang entah kemana, Syakil masih ingin membuat istrinya melayang di udara lebih dulu. Sesuai dengan ajaran Mikhail bahwa membahagiakan pasangan itu harus utama.
Amara menutup kakinya yang kala Syakil berusaha untuk membukanya, Syakil bilang ini gladi, tapi kenapa jadi seserius ini.
"Calm down, Amara."
.
.
.
"Haaaa Syakil mau apa?"
Dalam keadaan hampir kehilangan akalnya lantaran semua yang Syakil lakukan membuat tubuhnya bergetar, kini Amara semakin dibuat takut kala pria itu hendak membuka celananya.
"Kamu benar-benar bertanya aku mau apa?"
Syakil mengerutkan dahi, padahal sudah jelas tapi kenapa Amara masih bertanya.
"Jangan, Syakil ... sumpah itu sakit!!"
"Tau dari mana?"
"Kata Mario," jawabnya singkat dan memalingkan wajah lantaran tidak berani berhadapan langsung Dinoasaurus di hadapannya, Syakil memang benar-benar gila, sudah dilarang tapi masih dia buka.
"Bullshitt, jangan percaya ... kita coba dulu, Sayang."
"Nggak mau, kalau robek gimana?" Amara menggeleng cepat, sungguh dia belum bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti.
"Nggak akan robek, Amara ... kamu belajar dimana ilmu ini bisa buat robek."
Aneh sekali, padahal Syakil sudah melakukan apa yang Mikhail ajarkan sebagai jurus malam pertama, tapi kenapa Amara masih takut melihat Dinosaurusnya.
"Sekali saja ya?"
Dia bertanya tapi sedikit memaksa, hingga Amara benar-benar menangis kala Syakil tetap bersikeras mencoba meski tanpa izinnya.
"Syakil jangan!!" sentak Amara kala mulai merasakan sesak di permukaan miliknya, sepertinya pria itu memang pemaksa.
"Astaga, Amara."
Melihat istrinya menangis tersedu-sedu dan kini gemetar, Syakil mengalah dan mengurungkan niatnya. Kesal? Sedikit, dia mungkin harus melakukannya sendiri jika tidak ingin sakit kepala setelah ini.
"Maaf, Ra ... tenanglah," ucap Syakil lembut kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya, dia memang bisa saja memaksa namun jika begini dia takkan tega.
Syakil menarik istrinya dalam pelukan, sungguh kali ini dia persis korban pelecehan. Syakil menghapus air mata Amara begitu lembut, tak lagi dia memikirkan hal itu. Yang ada hanya sesal dalam batinnya.
Tbc
Thor kok tunda lagi😎
Aku maunya malam😋