
"Ck, dasar boddoh ... mana mungkin jatuh dari ketinggin segitu bisa patah," ucapnya seraya terkekeh kemudian mencubit dagu lancip Amara.
"Segitu kamu bilang? Aku masih bisa lihat dan yang tadi itu tinggi!! Kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Tiba-tiba patah kaki, atau bisa saja gegar otak ... kamu tu masih punya istri loh, hati-hati kan bisa."
Entah apa sebenarnya alasan Syakil buru-buru seperti tadi. Pria itu berhasil membuat Amara bingung sendiri dengan kegaduhan yang dia ciptakan, baru saja hendak marah Syakil sudah tidak bisa ditinggal begini.
"Kalau aku gegar otak, paling amnesia, Ra." Enteng sekali dia menjawab, mata Amara yang begitu tajam seolah tak memiliki makna apa-apa di hadapan Syakil.
"Syakil ...."
"Bercanda, Sayang."
Bukan karena apa, entah kenapa Amara benar-benar tidak suka kala Syakil berandai begini. Pria itu tersenyum begitu santainya, mungkin merasa ini adalah kesempatan dan istrinya tidak jadi marah.
"Maaf ya, soal Eva ... aku akan pikirkan," tutur Syakil kemudian, awal permasalahan dia bisa terjatuh begini ialah karena Eva.
Amara mendongak, menatap Syakil serius dan ini memang cukup serius untuk mereka bahas. Amara bukannya pelit, sejak dahulu dia bahkan memberikan hampir seluruh gajinya untuk Eva, akan tetapi jika sampai jatah bulanan Eva lebih besar darinya jelas saja Amara merasa ini tidak masuk akal.
"Jangan hanya dipikirkan, tapi benar-benar lakukan. Papa memang pernah mengatakan jika aku bahagia, Eva juga harus bahagia ... tapi, bukan berarti kamu harus tanggung jawab penuh atas hidupnya."
Selain jumlahnya yang tidak masuk akal, satu hal yang membuat Amara tidak ikhlas ialah pria yang kini menumpang hidup pada kakaknya, mantan kekasih yang tidak tau diri itu jelas saja ikut merasakan kebahagiaan Eva prihal materi pemberian dari Syakil.
"Hm, aku hanya berusaha jadi yang terbaik, Ra. Sebagai suami kamu dan juga adik ipar untuknya."
Cara Syakil sama sekali tidak salah, dia bahkan baik sekali di mata Amara. Akan tetapi, mau bagaimanapun tetap saja, mengulurkan tangan dan mensejahterakan hidup wanita seperti Eva adalah hal yang tidak berguna bagi Amara.
"Kalau begitu, aku juga mau jadi adik ipar yang baik untuk kak Mikhail ... beberapa waktu lalu kak Mikhail mengeluh karena kak Zia suka menolak ketika dia minta dipijit, gimana kalau aku pijitin kak Mikhail kalau ketemu?"
Pertanyaan diluar nalar, Syakil sontak menatap tajam Amara seolah hendak menelan istrinya bulat-bulat. "Kamu mau mati ditanganku, Ra?"
"Sebagai analogi saja, kamu nggak mau kan aku melakukan hal yang seharusnya jadi tanggung jawab istri untuk kamu terus dilakukan ke orang lain," ucap Amara menaikkan kedua alisnya, analogi yang sama sekali tidak bisa diterima akal dan Syakil panas mendengarnya.
"Ya nggak gitu juga, dengarkan aku ... tangan kamu yang halus ini hanya boleh menyentuh tubuhku, berani menyentuh kak Mikhail aku buat istrinya jadi janda mendadak," ancam Syakil serius namun terdengar lucu bagi Amara, pembicaraan mereka kenapa jadi begini, pikirnya.
"Kalau begitu, hentikan menganggap Eva sebagai tanggung jawab ... suamiku ini hanya memiliki kewajiban untuk menafkahi istrinya, bukan wanita lain," balas Amara kemudian mencebikkan bibirnya.
Sejak awal memang dia tidak setuju kala Syakil mengiyakan permintaan Eva, apalagi ketika Amara menyadari Eva tidak hidup sendiri dan sudah jelas uang dari Syakil digunakan untuk hidup berdua bersama pria tidak memiliki hati nurani itu.
"Iyaa Amara iyaa," ujar Syakil menghela napas panjang, sepertinya Amara mulai ketularan Mikhail yang mulai perhitungan dan tidak rela rugi sedikit saja.
Hanya karena jatuh dari tangga, Syakil mendadak seperti sakit parah dan membuat Amara harus berperan sebagai pengasuh tiba-tiba. Makan di kamar, dan harus disuapi dengan alasan sikunya ngilu karena terbentur sudut anak tangga.
"Aku telepon dokter ya, kamu nggak mungkin baik-baik saja kalau begini," ucap Amara merasa Syakil sepertinya mengalami hal yang serius, karena sejak tadi dia memang tidak bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.
"Aku baik-baik saja, Sayang, sumpah."
Syakil berucap sembari mengulas senyum namun teta saja Amara khawatir dan merasa Syakil memang cidera.
"Oh iya? Masa?"
"Hm, aku seriu_"
"Aaaaaaaaarrrrrggghhh, Amara!! Sakit," desis Syakil kemudian kala Amara hendak menepuk bahunya, padahal bersentuhan saja belum dan Syakil sudah berteriak sehisteris itu, aneh sekali memang.
"Huft, nggak mau diperiksa ke dokter padahal sakit begini," ujar Amara merasa serba salah sebenarnya suaminya mau apa.
"I need you, Honey ... itu saja."
Baiklah, Amara mencoba memahami dan kembali melanjutkan suapan terakhir untuk Syakil. Ketika di bawah tangan Syakil tidak patah ataupun terkilir, entah kenapa ketika naik ke kamar justru parah begini.
"Aku tetap di sini," jawab Amara kemudian mengelap mulut Syakil dengan tisu usai menyuapinya makan, ya terpaksa semua ini Amara lakukan sebenarnya.
"Terima kasih, istriku."
"Aku cuci tangan dulu sebentar ya," tutur Amara tanpa membalas ucapan Syakil sebelumnya, wanita itu kemudian berlalu meninggalkan sang suami yang senyam senyum tanpa henti menatap punggungnya yang kian menjauh.
"Iyesss!!" seru Syakil sembari mengepalkan tangannya lantaran merasa merdeka kali ini, pria itu menepuk dadanya lantaran berhasil mendapatkan perhatian lebih dari sang istri.
"Aaahh tidak sia-sia pernah ikut casting tujuh tahun lalu," gumamnya tersenyum miring kemudian memejamkan mata sembari bersandar di headboard. Sisi romantis Amara memang sulit bahkan sangat jarang dia dapati sejak menikah, kali ini jelas akan Syakil manfaatkan sebaik-baiknya.
-Tbc-