My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 70 - Tak Lagi Sama



Amara hanya diam dan tidak banyak bicara. Wanita itu cukup memahami jika suaminya tengah fokus mengemudi, mereka hanya berdua tanpa kehadiran Kendrick seperti biasa.


"Dingin?"


Amara menggeleng ketika Syakil bertanya demikian. Mungkin pertanyaan itu dia lontarkan karena sejak tadi istrinya hanya diam, di saat-saat begini Syakil tetap berusaha memberikan perhatian sekecil itu untuk istrinya.


Tidak butuh waktu lama bagi Syakil tiba di rumah sakit yang Kendrick maksud. Pria itu tidak melepaskan tangan Amara menuju ke ruang rawat Ganeta, dengan gejolak hati yang berdebar hebat dan tidak bisa Syakil ungkapkan.


"Kita mau jenguk siapa?"


Pertanyaan yang sejak tadi dia tahan kini akhirnya terungkap juga. Wanita itu mendongak demi menatap wajah Syakil, akan lebih baik daripada dia bertanya ketika sudah masuk, pikir Amara.


"Hm, someone ... aku pikir kamu perlu tau, dan aku ingin memastikan sesuatu."


Syakil takkan mengatakan sekarang siapa yang akan mereka temui. Alasannya jelas saja karena khawatir istrinya memilih pergi jika sampai mengetahui bahwa Ganeta yang ada di dalam sana.


Belum apa-apa Syakil sudah menggenggam erat pergelangan tangannya. Pria itu membuka pintu ruang rawat Ganeta begitu pelan, khawatir jika wanita itu merasa terganggu nantinya.


Amara masih diselimuti pertanyaan yang tak jua dia temukan jawabannya. Berjalan di sisi Syakil dan menatap penuh tanya ruangan dengan aroma khas yang sejak dulu Amara benci.


"Siapa?"


Syakil belum menjawab juga, dia masih terpaku begitu melihat Ganeta yang membelakanginya, duduk bersila dan semua yang Kendrick katakan benar adanya.


Lukanya memang tidak begitu parah, tapi saya khawatir ketika kecelakaan otaknya yang bermasalah.


Tidak, sepertinya tidak begitu. Syakil menatap Amara sekilas, istrinya juga sama-sama menatap wanita itu penuh tanya.


Merasa Syakil tidak juga menjawab dan rasa penasaran Amara sudah terlanjur besar, dia memilih melepaskan genggaman tangan Syakil dan melihat siapa wanita itu lebih jelas.


"Amara!!"


Syakil panik dan sontak memanggil Amara dengan nada tinggi, suaranya kemudian membuat Ganeta menoleh ke arah mereka lantaran merasa terganggu.


Sesaat, Amara dibuat bingung dengan keadaan. Dia menatap keduanya bergantian, Syakil yang terfokus padanya sementara wanita dengan bibir pucat pasi itu menatap Syakil begitu lekat, tanpa berkedip namun tidak juga mengucapkan sepatah kata.


.


.


.


.


"Kamu sudah menemukan dia ya ternyata, tapi kenapa akhir-akhir ini justru seolah mencintaiku setengah mati?"


Tidak perlu penjelasan lebih dulu Amara sudah meyimpulkan apa yang terjadi saat ini. Besar kemungkinan Syakil sudah menemukannya sejak lama, entah kapan namun yang pasti Amara merasa Syakil aneh akhir-akhir ini karena Ganeta.


"Bukan seolah-olah, Amara ... tapi memang begitu." Syakil menghela napas panjang, ucapan Amara membuatnya sedikit terluka.


"Lalu kenapa kamu masih mencari dia? Kamu sembunyikan dia berapa lama di sini?"


"Buk_" Belum sempat Syakil bicara, istrinya kembali bersuara.


"Oh atau jangan-jangan kamu sering pulang malam karena jagain dia rumah sakit, terus karena kamu merasa bersalah akhir-akhir ini kamu baikin aku ... biar aku percaya kalau suamiku nggak main api, gitu kan?"


"Sama sekali bukan dicari, tapi dunia yang kembali mempertemukan dengan cara yang begini, Ra ... beberapa hari lalu Kendrick menabrak seseorang, dia Ganeta dan aku membawamu kesini bukan untuk membuat marah tapi memastikan perasaanku, itu saja."


Syakil tetap berbicara dengan selembut itu meski belum apa-apa Amara sudah kerasukan. Amara sejenak terdiam, jika dia ingat memang benar Syakil berubah pasca kecelakaan yang Kendrick sebabkan.


"Memastikan apa?" tanya Amara masih sedingin itu, karena bagaimanapun masa lalu seorang pria akan terus menjadi masalah dalam hubungan.


"Perasaanku ... beberapa hari lalu aku terus berpikir, aku mencintaimu karena dia atau bagaimana."


Semua yang Syakil katakan memang benar adanya, dia hanya ingin memastikan sebenarnya cinta untuk Amara karena apa. Jika benar cintanya hanya sekadar fisik yang mirip Ganeta, maka ketika Syakil menatap Ganeta seharusnya tidak lagi ada Amara.


Akan tetapi, jika yang terjadi justru sebaliknya. Maka artinya, yang Syakil cintai benar-benar seorang Amara, tanpa melibatkan masa lalunya. Malam ini, di nekat menatap dua wanita ini sekaligus di hadapan matanya, untuk memastikan mata siapa yang saat ini menggetarkan jiwanya.


"Kalau ternyata alasannya memang begitu bagaimana? Apa kamu akan memilih dia, aku hamil anak kamu ... kamu jangan gila, tolonglah."


Mendengar penuturan Syakil yang begitu dia mendadak cemas. Pertanyaan itu bukan hanya pertanyaan Syakil melainkan pertanyaannya juga sejak lama.


"Jangan berpikir sejauh itu, Amara."


"Mulut kamu bisa bilang begitu, kenyataannya belum tentu ... ada berapa banyak kasus perceraian karena ujian perasaan? Banyak sekali bukan?"


Syakil diam yang kemudian mendekati Ganeta yang sejak tadi terpaku hanya menatapnya sesendu itu. Wajah cantiknya dulu tak lagi sama, tatapannya sudah berbeda bahkan seperti tengah berusaha mengenalinya.


"Ganeta, kamu ingat aku?"


Syakil bertanya dengan jarak yang cukup dekat, disaksikan Amara yang tengah mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hatinya benar-benar sakit, dan merasa tidak rela mata itu kembali menatap masa lalunya.


Benar kata Kendrick, Ganeta sepertinya memang tidak baik-baik saja sejak lama. Dia hanya diam meski Syakil juga berusaha mengajaknya bicara, dan kini pria mengguncang pundaknya, hasilnya sama saja.


"Maaf, hidupmu terlalu sulit karena aku."


Interaksi Syakil disaksikan Amara dengan begitu jelasnya. Hatinya sakit? Sebenarnya iya, hanya saja tidak mungkin dia mengamuk di sini.


"Boleh aku memeluknya?" tanya Syakil meminta izin lebih dulu pada sang pemilik hati yang tengah menatapnya sedatar itu.


"Boleh," jawab Amara tengah berbohong pada hatinya, Syakil bicara pada wanita lain selembut itu saja dia sudah tidak rela sebenarnya, apalagi jika sampai Syakil memeluknya.


Syakil menghela napasnya panjang, dia cukup lega setelah memeluknya beberapa saat. Hanya perlu memastikan apa benar hatinya masih berdebar ketika memeluk Ganeta, dan jawabannya tidak lagi.


Meski matanya begitu menyedihkan, hati Syakil terasa biasa saja padahal selama empat tahun dia mencari wanita ini. Seolah hambar padahal dia hampir gila ditinggal Ganeta dahulu, apa mungkin perasaannya benar-benar terganti dalam kurun waktu yang bahkan belum enam bulan.


"Aku pulang, istriku bisa menangis sebentar lagi ... besok Kendrick akan menjagamu lagi," tutur Syakil lembut sebelum kemudian berlalu, dia paham istrinya sudah berkaca-kaca di sana, bukan karena terharu dengan pertemuan mereka melainkan marah padanya, pikir Syakil.


"Apa kamu merindukan Papamu? Besok aku katakan agar dia bisa menemuimu."


Tanpa diduga, Ganeta menggeleng cepat dan menggenggam tangan Syakil seerat itu kala dia menanyakan perihal papanya. Sejak tadi Ganeta hanya diam, namun setelah kalimat ini barulah dia menunjukkan respon penolakan bahkan kini berurai air mata.


"Jangan ... aku benci papa, benci mama dan benci semuanya." Kalimat yang disertai tangisan kimi kian menggema dan membuat Amara panik ketika wanita itu justru memukuli Syakil berkali-kali.


-Tbc-


Ohayu, siang ini aku bawa tekomendasi dari salah satu teman aku, yippi ini dia.