My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 24 - Tertembak



"Mama kok nggak bilang kalau mau tidur di sini?"


"Halah, padahal bahagia Mama nggak pulang," ujar Mikhail sembari menikmati jus mangga di sofa ujung sana, pria itu memang memiliki pendengaran yang luar biasa tajam melebihi manusia lainnya.


Memang sengaja sebenarnya, selesai pesta ulang tahun Mikhayla, Kanaya baru mengatakan jika dia tidak bisa ikut pulang. Tentu saja wanita cantik yang mulai keriput itu masih merindukan cucunya.


"Aku bukan dirimu, Mikhail."


Syakil berdecak kesal kala mendengar ucapan sang kakak. Meski memang tidak bisa dipungkiri dia bahagia kala Kanaya meminta mereka berdua pulang sebelum magrib.


"Aku tau isi otakmu, kita sama-sama dewasa jangan naif, Syakil."


Memang benar, yang waras sebaiknya mengalah. Mikhail akan terus menindasnya dengan berbagai ucapan gila yang membuat Syakil terpojok.


"Pulanglah, Syakil ... takutnya nanti macet, kasihan Amara."


Ibra memang dingin pada Amara, entah apa alasannya. Akan tetapi, sore ini Syakil dibuat terharu kala sang papa mengatakan hal itu padanya.


"Iya, Pa."


Syakil beranjak, memanggil sang istri yang kini tengah duduk bersama Mikhayla dan juga putra Mikhail. Jika dia lihat, Amara adalah wanita yang sangat mencintai anak-anak, terbukti kini lantaran istrinya mampu menjalin kedekatan bersama putra putri Mikhail dalam waktu dekat.


"Om Syakil mau kemana? Masa pulang?"


Mikhayla mencebik kala Syakil menghampirinya. Seakan tak terima dan merasa belum puas bersama Amara, wanita cantik yang diperistri omnya ini memiliki sifat keibuan yang membuat Mikhayla betah.


"Pulang dong, Sayang ... rumah Oma nggak ada yang jagain nanti," ucap Syakil tersenyum hangat, dia mencubit pelan pipi sang keponakan yang kini semakin terlihat cantik padahal umurnya baru menginjak sepuluh tahun.


"Tante pulang juga?" tanya Mikhayla mengeratkan genggaman tangannya di lengan Amara, takut sekali ditinggalkan sendiri.


"Iya, Sayang ... Tante pulang dulu ya," ujar Amara lembut seraya mengusap puncak kepala Mikhayla.


"Kok gitu? Kita kan baru ketemu!!" Mikhayla berdecak kesal.


"Besok-besok Om sama Tante datang lagi, sekarang pulang dulu ... boleh ya, Sayang?" Berusaha merayu Mikhayla selembut itu, bibir keponakannya mulai maju beberapa centi dan matanya kini mulai berkaca-kaca.


"Nggak mau, Om pulang sendiri aja ... kan cowok masa nggak berani."


Papanya sudah sedikit merepotkan, kini putrinya juga sama. Ditambah lagi dengan Zean yang ikut-ikutan menodongkan pistol mainnya ke arah wajah Syakil dan Sean yang berkacak pinggang di hadapannya.


.


.


.


"Tante Amara nggak boleh ikut, Om pulang sendiri!"


Astaga, satu saja sudah membuat Mikhail sulit. Kini mereka keroyokan dan mulai mempertahankan Amara.


"Masa sendiri, Sayang ... Om tidurnya sama siapa nanti kalau Tantenya nggak boleh ikut." Syakil tetap berusaha dengan cara lembutnya, pria itu menghela napas kasar dan menatap Amara memelas.


"Sama bi Ida, Hahaha!!!" Sean terbahak.


Belum juga dewasa, usianya masih 7 tahun tapi sudah berani mengejek pamannya sendiri. Gelak tawa keponakannya membuat Syakil hanya bisa menghela napas kasar.


"Om beliin es krim mau?"


"Di kulkas banyak," sahut Mikhayla menjulurkan lidahnya.


"Iya!! Zean batuk, kata Papa nggak boleh makan es krim," lanjut Zean masih dengan posisi seperti tadi yang siap menarik pelatuk pistolnya.


"Ya Tuhan, Kak Ziaa ... anak-anakmu berulah."


Syakil memilih memanggil Zia, karena jika Mikhail takkan peduli bahkan mungkin makin membuat Syakil tersudutkan.


"Om pengecut!! Ngadu sama Mama kita ya kan, Zean?"


"Hm ... Om pikir kita takut? Aaaah Zean tembak juga nih!!" ancam Zean bahkan memicingkan mata layaknya penembak jitu.


"Ayolah, sayang ini sudah sore. Sebentar lagi hujan, nanti Om susah pulangnya."


DOR


Zean yang sudah siap dengan posisi benar-benar menarik pelatuknya dan peluru itu mendarat tepat di kening Syakil.


"Aahh Shiitt!! Sakit, Zean!!"


Itu pistol mainan, tapi pelurunya cukup keras dan jelas saja menyakiti lantaran area yang menjadi sasaran Zean adalah keningnya. Pria itu bahkan mengeluarkan air mata akibat ulah titisan jin iprit ini.


"Tembak lagi, Sean?" tanya Zean menunggu perintah saudara kembarnya, sisa pelurunya masih ada beberapa dan bisa jadi membuat Syakil lari dari hadapan mereka.


"Off course!! Tembak tepat di jantungnya, Zean!"


Dasar kriminal, masih kecil sudah mengerti cara menjatuhkan musuh. Melihat Syakil yang bahkan masih terdiam begitu, Amara benar-benar berpikir jika suaminya kesakitan.


"Sayang stop, kasihan Om-nya."


DOR


"Terlambat, Tante ... Zean sudah tembak om Syakil," ucap Zean kemudian meniup ujung pistolnya, entah adegan dari film apa dia tiru hingga kini mereka menjalani peran sebaik itu.


"Allahu akbar, Zean!!"


Zia yang sudah curiga dengan suara mainan anaknya kini panik kala melihat Syakil yang menggosok kening dan dadanya berkali-kali.


"Zean lari!!!" Sean kembali bersuara begitu lantangnya.


Secepat itu putranya berlari dari kejaran Zia. Meninggalkan Mikhayla yang masih duduk di sofa dan memeluk erat tubuh Amara.


"Ya Tuhan, Syakil ... kamu baik-baik saja?" Merasa tidak enak, putranya yang luar biasa nakal itu memang kadang membuat kepala Zia ingin terbelah dua.


"Putramu brutal semua, jangan keseringan nonton film action." Syakil menghembuskan napasnya kasar, keningnya yang memang putih itu memerah dan sepertinya memang sakit sekali, untung saja tidak kena mata.


"Ck, ya kakakmu yang ajarin, aku mah ajak dia nonton kartun."


Aneh sekali memang, padahal sejak dahulu Mikhail suka nonton kartun. Entah kenapa anaknya justru berbeda.


"Sakit?"


"Iyalah, ck ... aku mau pulang, ayo, Sayang."


Malas dengan kelembutan, sakit yang Syakil rasakan benar-benar membuatnya kesal. Pria itu sebenarnya ingin marah, akan tetapi dia tidak setega itu pada anak-anak Zia.


"Izinin Tante pulang, Sayang, besok-besok masih bisa main lagi. Mikhayla kan nurut sama Mama, udah gede juga."


Memang, hanya kelembutan Zia yang berhasil membuat sekeluarga ini luluh. Akhirnya, setelah drama panjang itu, Amara berhasil jatuh di tangan Syakil. Ya meskipun harus dengan bantuan Zia lebih dulu, akan tetapi tidak masalah tentu saja.


"Sakit banget ya?" tanya Amara mendongak menatap kening Syakil yang tingginya lumayan membuat leher tegang.


"Lumayan, ck ... kenapa mereka senakal itu." Syakil menyembunyikan rasa sakit yang sedikit berdenyut saat ini.


"Tapi mereka lucu, aku suka," tuturnya tersenyum manis di hadapan Syakil yang kini tengah meringis.


"Ck, suamimu ini sedang menderita, bisa-bisanya tersenyum ... nanti kamu yang kutembak awas saja," ujar Syakil mencubit dagu Amara hingga wanita itu mencebikkan bibirnya kesal.


"Kita benar-benar pulang berdua?" tanya Amara sebelum kemudian masuk ke mobil.


"Hm, Mama sama Papa lusa pulangnya ... masuklah, semoga saja nggak hujan."


Diperlakukan bagai ratu oleh pria yang baru saja dia kenal. Amara masih terhenyak setiap kali Syakil membukakan pintu untuknya, pria itu selalu memperlihatkan cinta dengan tindakannya.


"Kalau ngantuk tidur ya, jangan dipaksakan ... perjalanan kita lumayan." Syakil yakin tak lama lagi sang istri akan terlelap karena mata Amara mulai terlihat lelah.


"Aku temani kamu saja sampai rumah."


"Benar-benar meragukan, matamu sudah sekecil itu, Ra ... paling-paling lima menit di mobil tidur," tebak Syakil kemudian membuat Amara mengerutkan dahinya tak terima.


Tbc