
Tadi malam dibuat sakit kepala, Syakil menghabiskan paginya dengan mengikuti kegiatan rutin sang papa. Pagi-pagi sekali dia sudah meninggalkan Amara, karena jika terus bersama yang ada di otak Syakil hanya adegan film siialan yang membuatnya tak bisa tidur semalaman.
Awalnya joging biasa, tapi lama-lama ini berubah jadi lari cepat. Keringat Syakil bercucuran bahkan berhasil membuat pakaiannya basah.
Pemandangan pagi hari yang begini membuat mata tetangganya terbuka lebar. Bayangkan saja, putra bungsu konglomerat yang kepulangannya begitu dinanti kini keliling kompleks dengan celana di atas lutut dan rambut yang tertiup angin kian membuat pesona Syakil tak terkalahkan hari ini.
"Huft ... 30 menit? Ya Tuhan, sejauh ini aku berlari baru setengah jam?"
Syakil menarik napasnya susah payah, pria itu memejamkan mata sejenak. Ini bukan lagi olahraga biasa, melainkan cari keringat sekaligus membuat ototnya nyut-nyutan.
"Kenapa Papa bisa kuat sampai satu jam lebih ya?"
Dia yang lemah atau memang Ibra terlau gagah hingga sang papa tidak ada lemahnya sama sekali. Sungguh aneh namun nyata begini adanya, Syakil menyeka keringat dan merasa dirinya benar-benar lemah padahal umur Ibra tidak lagi muda.
"Yang benar saja, masa kalah sama tenaga kakek-kakek?"
Syakil mengusap wajahnya kasar, tujuannya masih jauh sebenarnya. Masih beberapa meter lagi jika hendak mengikuti rute yang biasanya Ibra telusuri. Akan tetapi, demi menjaga kewarasan dan mempertahankan sisa tenaganya, Syakil memilih kembali pulang ke rumahnya.
Mungkin karena terbiasa, lagipula Ibra lari tidak seperti dirinya yang persis balap liar begitu. Semula tenaganya terisi full bahkan mengalahkan semangat tukang sayur, akan tetapi ketika kembali dia sudah terlihat lemas bahkan Rohman bertanya dia dari mana sudah tidak Syakil jawab lantaran pria itu terlalu lelah.
"Amara ...."
Memasuki ruang makan, dia mulai bersuara lantang hingga membuat Ida yang kini fokus di dapur segera menghampiri majikannya.
"Butuh sesuatu, Den?" tanya wanita paruh baya dengan tahi lalat tepat di tengah jidat itu menghampiri Syakil dengan tergopoh-gopoh.
"Minum, Bi," ujar Syakil serius, haus ini begitu menyiksa bahkan persis ikan kekurangan air.
"Tunggu sebentar ya, Den Syakil tunggu saja di sini."
Padahal air mineralnya tak begitu jauh dan Syakil bisa ambil sendiri. Akan tetapi, sepertinya pria ini lebih manja jika sudah pulang ke rumahnya, menurut penuturan Kanaya putra bungsunya ini memang sedikit manja jika di rumahnya.
"Aden lari paginya jauh ya? Sampai ngos-ngosan gitu," tutur Ida kemudian memberikan segelas air mineral untuk majikan super tampannya ini.
"Tentu saja, dalam waktu singkat aku bahkan memecahkan rekor lari pagi papa."
Dia menjawab asal sekali lagi alasannya ialah agar terlihat keren. Lebih gilanya lagi, Ida percaya begitu saja dengan ucapan majikannya bahkan tepuk tangan lantaran rasa kagumnya.
"Hahah berlebihan ... Bibi jangan terlalu mengagumiku, aku sudah punya istri ... jangan lupa itu," ucapnya kemudian dan membuat Ida terkekeh cukup lama.
Ada-ada saja, lagipula mana mungkin wanita seumuran Ida akan memiliki ketertarikan pada Syakil, janda anak dua yang umurnya bahkan dua kali lipat dari pria itu.
"Aaahh lega, istriku mana, Bi? Belum turun ya?" tanya Syakil usai menegak satu gelas penuh air mineral itu.
"Non Amara ke kamar lagi, tadi sudah turun sebentar ... mungkin mandi, Den."
Syakil mengangguk pelan usai mendengar penjelasan pembantu rumah tangganya. Pria itu kemudian beranjak dan kembali ke kamar segera.
.
.
.
Tiba di kamar, Syakil mendorong pintu perlahan. Sengaja, siapa tahu memang Amara sedang tidak siap dengan kehadirannya yang tiba-tiba masuk layaknya pencuri.
"Mandi?"
Gemercik air yang kini terdengar sudah menjawab pertanyaan Syakil. Pria itu menghampiri tempat tidur, menghempaskan tubuhnya yang lelah meski masih keringat semua.
Sembari menunggu Amara selesai, dia memejamkan mata, hanya terpejam tapi tidak terlelap.
Hingga, beberapa menit menunggu aroma yang begitu familiar kini menusuk indera penciumannya. Syakil menarik sudut bibir kala mendengar langkah sang istri yang nampaknya berjalan ke arahnya.
"Keringetnya ya Tuhan, baju kamu sampai basah begini ... lari pagi atau dari mana?"
"Tunggu-tunggu, kamu keramas?"
Syakil menyadari mandinya Amara kali ini sedikit berbeda. Biasanya sang istri tidak keramas di pagi hari walau dia memang mandi.
Amara menggigit bibirnya kemudian mengangguk pelan, pagi ini dia memang mandi untuk membersihkan hadas besar di sekujur tubuhnya.
Lelahnya Syakil lari pagi seakan hilang begitu saja, pria itu tertawa sumbang padahal sama sekali tidak ada yang lucu di sini. Amara menyadari jika Syakil nampaknya salah tingkah, lihat saja gelagatnya persis pria yang tengah dimabuk asmara.
"Serius?" tanya Syakil bahkan terharu padahal ini hanya perkara istrinya yang kini bersih.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Sudah selesai? Yakin sudah?"
"Iya!" jawab Amara sedikit meninggi lantaran sebal melihat Syakil yang semakin tidak jelas begini.
"Mana? Coba aku periksa," ungkapnya kemudian benar-benar menyentuh bagian inti Amara dari luar demi memastikan istrinya tidak lagi pakai pembalut.
"Ih apasih, ini pelecehan namanya." Amara merinding bahkan panik sendiri kala Syakil melakukan hal tak terduga begini.
"Aku suami kamu, hanya memastikan, Sayang."
Hanya memastikan, tapi tidak dia lepaskan hingga detik ini. Syakil melingkarkan tangannya di pinggang Amara agar istrinya tidak bisa melepaskan diri meski sejenak saja.
"Ss-sudah, lepaskan aku."
Mana mungkin Syakil lepaskan, pria itu menarik tubuh Amara agar terbaring di sampingnya. Jangan bercanda, pengantin mana yang justru melakukan hal itu pertama kali di siang hari.
"Kita mulai saja bagaimana?" tanya Syakil mengerlingkan matanya, pria ini nampaknya masih dibuat gila perkara tadi malam.
"Mulai? Jangan gila, ini siang ... malu sama matahari," ungkap Amara sedikit berbisik dan berusaha menahan tubuh Syakil yang kian mengikis jarak.
"So what? Sah-sah saja kan?"
Iya, memang sah-sah saja. Tapi bagaimana mungkin harus sekarang juga. Amara bimbang, menatap wajah Syakil yang sama seperti semalam.
"Aku malu, Syakil."
"Aku sudah melihatnya, sama-sama sudah melihat satu sama lain, kenapa kamu malu?" tanya Syakil mengerutkan dahi, mandi bersama kala itu seharusnya cukup untuk jadi pengenalan menurut Syakil.
"Tapi kenapa harus siang, bukankah malam pertama itu dilakukan malam?" Amara serius bertanya dan berpikir jika konsep Syakil sangat-sangat salah.
"Kamu maunya malam?"
Pertanyaan jebakan, kenapa jadi begini. Seakan-akan Amara yang meminta, padahal yang paling memikirkan hal itu adalah Syakil.
"Siang ini kita gladi dulu, siapa tau gagal ... kita sama-sama pemula, Ra."
Pemula kata dia, tapi caranya bergerak sudah melebihi pemain. Belajar dari siapa, sejak awal dia mengenal Syakil sama sekali Amara tidak yakin jika pria ini pria masih suci.
"Gladi apanya? Kalau keterusan mau gimana?"
"Kalau keterusan ... ya artinya kita berhasil dong."
Sungguh rasanya bodoh sekali Amara sempat berpikir bahwa suaminya menyukai sesama jenis. Jika sudah begini, bisa dipastikan dugaan Amara 100 persen salah bahkan itu adalah hal paling konyol yang pernah ada.
"Akan aku perlihatkan jika aku pria tulen dan tidak seaneh yang kamu pikirkan," tutur Syakil tiba-tiba dan membuat Amara bungkam, dari mana suaminya mengetahui hal ini, pikirnya.
Tbc
Syakil be like : Dari bisikan netizen✨