
Perfect, satu kata yang mengungkapkan tentang istrinya malam ini. Secantik itu Syakil sakiti hanya karena merasa terganggu dengan pertanyaan Amara tentang Ganeta, sungguh penyesalan tiada tara yang mungkin akan dia rasakan hingga nanti di hari tua.
"Siapa?"
Daniel mengerutkan dahi kala Syakil ternyata datang membawa seorang wanita malam ini. Padahal, dia sudah menyiapkan seseorang untuk menemani Syakil malam ini, seorang model asal London yang kecantikannya membuat Amara merasa bagai butiran debu.
"Istriku," jawabnya tegas, pria itu nampaknya mengerti kenapa di meja itu ada dua wanita sementara yang dia ketahui kekasih Daniel ialah Caroline.
"What? Sejak kapan kau menikah? Oh my god, Syakil."
Dia terkejut, karena memang hal ini belum dia ketahui dari Kendrick sebelumnya. Amara hanya diam saja dan mencoba memahami ucapan mereka, ya meski dia sempat bolos pelajaran bahasa inggris tapi jika percakapan dasar begini, sedikit-sedikit Amara pahami.
"Mungkin dua bulan lalu, iya kan, Sayang?"
Syakil meminta Amara turut bicara, istrinya yang sejak tadi diam membuat dua wanita dengan pakain kurang bahan di hadapan mereka menjadikan dia pusat perhatian.
"Cantik, ternyata seleramu yang begini ya? Hm, susah payah aku mencari wanita seksi seperti Aily, rupanya tetap cinta produk dalam negeri."
Candaan apa itu? Amara muak sekali melihat pria yang kini bercengkrama dengan suaminya. Baru satu rekan kerja Syakil yang dia temui dan ternyata wataknya begini, bagaimana dengan yang lain? Mungkin akan lebih kurang ajar lagi, pikir Amara.
"Istriku bahkan lebih seksi dari semua wanitamu," ungkap Syakil membanggakan wanitanya di hadapan pria lain, memang sejak dahulu Syakil tidak pernah mau kalah walau kenyataannya tidak demikian.
"Jangan membuatku penasaran, Syakil."
"Kau mau mati?" Belum apa-apa kening Syakil sudah berkerut, meski tahu jika Daniel kerap bercanda prihal wanita, akan tetapi untuk yang kali ini dia mendadak tidak suka.
"Hahah bercanda, lagipula mana mungkin aku berani mengusik wanitamu ini," tutur Daniel mengedipkan matanya tanpa ragu pada Amara.
"Dih?" Sontak Amara mengalihkan pandangannya, pembicaraan mereka kenapa semakin mengada-ngada. Dia seyakin itu bahwa Syakil adalah pria baik-baik, akan tetapi kenapa dia bisa memiliki rekan bisnis yang isi otaknya begini.
Pengalaman makan malam paling buruk yang pernah Amara rasakan, kenapa juga harus bersama kedua wanita yang belahannya itu terlalu nyata. Berkali-kali Amara memastikan Syakil tidak melihatnya, miliknya yang hanya setengah dari wanita itu membuat Amara merasa kurang percaya diri.
Syakil tetap bisa menikmati makanan tanpa merasa sedikipun terjadi gangguan, berbeda dengan Amara yang justru meggunakan ekor matanya untuk menangkap Aily yang kini tengah memandangi Syakil dari jarak yang tak jauh berbeda.
Pilihan yang tepat sekali dia ikut Syakil malam ini. Jika dia tidak berada di sisi Syakil, kemungkinan besar pria itu akan tergoda dan bisa saja permainan api yang kerap dilakukan pria kaya itu akan terjadi juga.
"Are you okay, sweety?"
Amara bergidik kala Daniel bertanya demikian dan yakin betul pertanyaan itu diberikan untuknya. Amara yang mendadak kenyang memutuskan untuk tidak menghabiskan makanannya, dan hal itu yang membuat perhatian Daniel tertuju padanya.
"Tidak semua wanita bisa kau perlakukan sama, hentikan panggilanmu yang begitu, Daniel!!" pungkas Syakil yang mulai kehilangan batas kesabaran, pria itu terlihat santai namun kemarahannya tidak bisa direkayasa.
"Aku hanya mengkhawatirkan istrimu, dia makan sangat sedikit ... apa dia baik-baik saja?"
Syakil menghela napas perlahan, pria itu menatap ke arah sang istri dan dia juga baru sadar jika sejak tadi sepertinya terlalu fokus dan tidak memerhatikan jika Amara tidak melanjutkan makannya.
"Dia benar-benar istrimu, Syakil? Woah, kenapa aku justru berpikir kau menyewa gadis untuk pura-pura jadi pasanganmu malam ini?"
Daniel tengah merendahkan cara Syakil memperlakukan wanitanya. Pria itu tertawa sumbang dan menggeleng pelan lantaran sikap Syakil yang dia nilai tidak begitu romantis dan ragu jika mereka pasangan suami istri.
"Maksudmu apa sebenarnya?" Syakil menatap Daniel begitu tajamnya, hubungan mereka sebenarnya cukup baik sejak dahulu, hanya sedikit berbeda saja masalah wanita.
"Aneh saja, kau mengatakan dia istrimu tapi sepertinya lebih romantis pasangan yang belum menikah ... kenapa rupanya? Apa kau terpaksa menikahinya demi orang tuamu?"
Dugaan Daniel semakin mengada-ngada, Syakil sebal sekali rasanya bahkan kini pria itu ingin sekali menghajar Daniel detik ini juga. Tidak romantis? Tidak tahu saja Daniel bagaimana dia jika dirumah, pikir Syakil.
"Menurutmu? Apa pria sepertiku akan menikahi wanita tanpa perasaan?"
"Entahlah, tapi aku bingung saja kalian suami istri tapi terlihat sangat-sangat kaku," ungkapnya kemudian setelah menegak air mineral di gelas, sejak dahulu Daniel meragukan kelelakian Syakil, wajar saja jika dia berpikir demikian.
"Lalu yang tidak kaku bagaimana? Apa begini, Daniel?"
Syakil menarik tengkuk leher Amara hingga keduanya tak lagi berjarak. Di tempat umum Syakil meraup bibir Amara dengan mulutnya begitu lembut, ini bukan sekadar kecupan biasa melainkan ciuman panas yang membuat istrinya kewalahan.
Benar-benar tidak berbatas dan Syakil melakukan hal yang sama seperti yang kerap dia lakukan jika hendak bercinta di rumah. Benar-benar sebuah jawaban tanpa banyak bicara dan berhasil membuat orang-orang di sana menganga.
"What the fuc*k?"
Daniel panik kala Syakil bukannya berhenti melainkan terus melakukannya dan seakan tak peduli mereka ada dimana. Amara yang menyadari jika Syakil lama-lama benar bisa menggila segera mendorong dada sang suami dan memalingkan wajahnya.
"Masih kaku?" tanya Syakil menarik sudut bibir dengan jarak yang masih berdekatan dengan sang istri.
Gleg
Daniel menyerah, cara Syakil menjawab benar-benar membuatnya tertampar. Dia saja yang merupakan playboy kelas kakap tidak berani berciuman sepanas itu di tempat umum begini.
"Dasar gila, aku tidak butuh pembuktianmu yang begitu!!" kesal Daniel lantaran Syakil benar-benar tidak terduga begini.
Bukannya menjawab Syakil justru tertawa sumbang dan merasa dirinya benar-benar menang. Tanpa dia sadari jika saat ini istrinya tengah cemberut dan bertahan dengan rasa malu yang sudah lebih besar dari tubuhnya.
"Terima kasih makan malamnya, sangat-sangat berkesan."
Berkesan bagi dia, tapi tidak bagi Amara. Wanita itu mungkin akan trauma jika hendak mendampingi Syakil yang kedua kali. Niat hati menjaga sang suami dari godaan para wanita ular yang mungkin saja mendekat, Amara justru dibuat sinting akibat ulah Syakil malam ini.
-Tbc-