My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 76 - Berbagi Peran



Setelah beberapa hari kacau, kali ini Syakil sudah bisa kembali normal seperti biasa. Beregelut dengan pekerjaan sementara Kendrick benar-benar dia tugaskan menjaga Ganeta.


Tanggung jawab sebagai asisten pribadi tentu saja dilimpahkan kepada sang kakak, pria perhitungan yang biasanya menjadi orang terhormat kini harus menjalani peran sebagai asisten pribadi, tentu saja dia sedikit kurang ikhlas.


"Jadwalku hari ini apa saja?" tanya Syakil baik-baik seraya menatap pergelangan tangan kirinya, dia harus memaksimalkan waktu dan jangan sampai pulang telat hari ini.


"Baca sendiri, mataku sakit."


Sudah Amara katakan lebih baik jangan meminta bantuan Mikhail. Akan tetapi Syakil tidak mau rugi dan berpikir akan lebih baik jika menggunakan tenaga Mikhail selama dia tinggal di mansion pribadinya.


"Bacakan saja apa susahnya, kerja kok malas-malasan," umpat Syakil pelan yang sukses membuat emosi Mikhail naik hingga ubun-ubun.


Demi apapun dia seakan tidak berharga di rantauan, seorang bos besar seperti Mikhail tiba-tiba merasa persis anak magang begini. Mana bisa dia menerima seluruh perlakuan Syakil, pria itu mendengkus kesal dan melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.


"Kerja katamu? Hei ... kami kesini untuk bulan madu, bukan adu nasib begini. Kau lupa siapa aku?"


"Di sini bosnya aku, kau lupa berapa banyak orang yang berminat kerja di kantorku, Khail. Sementara kau? Masuk jalur orang dalam itu bukan hal mudah, harusnya kau bersyukur," ungkap Syakil menekan setiap kalimatnya.


Bersykur kata dia? Bersyukur apanya, Mikhail berdecak sebal usai Syakil mengucapkan hal tersebut. Seorang Mikhail datang ke tempat ini dengan alasan untuk menenangkan diri dan menepi dari hiruk pikuk pekerjaan, kini sang adik tiba-tiba memaksanya jadi asisten pribadi.


"Itu mereka, sementara aku sama sekali tidak berminat, Syakil!! Perusahaanku memang tidak sekaya milikmu, tapi tetap saja di dunia bisnis aku seniormu," balas Mikhail serius dan dia benar-benar resah lantaran menerima pekerjaan kali ini, seorang Presdir MN Group ini seolah tidak punya harga diri lagi di mata Syakil.


"Ck, jangan begitulah ... karena kau senior makanya aku butuh kau di sini, Kak," ungkap Syakil menepuk pelan pundak sang kakak.


Wajah Mikhail yang semakin masam dan mata tajamnya sukses membuat para bawahan Syakil ciut, sontak saja Syakil justru berpikir profesi yang cocok untuk Mikhail sebenarnya.


"Ah begini saja, kalau tidak tukar posisi saja ... jadi bodyguard Amara mau?"


"Kau mau mati, Syakil?"


Jadi asisten pribadi saja dia enggan, apalagi diminta jadi bodyguard. Syakil yang benar saja, sungguh Mikhail berambisi sekali untuk membuat Syakil masuk dalam peti mati.


"Tubuhmu lumayan, kalau kau yang jaga Amara sepertinya tidak butuh teman ... karena bisa dipastikan orang asing akan berpikir beribu kali untuk menyakiti istriku jika yang menjaganya sepertimu, Kak."


Itu pujian, sama sekali Syakil tidak berbohong. Akan tetapi, percayalah pujian Syakil membuatnya ingin bunuh diri. Senyum Syakil sungguh memuakkan bagi Mikhail, menyesal sekali dia menumpang di mansion Syakil demi alasan hemat biaya.


"Kita saudara tiri ya jangan-jangan," ungkap Mikhail dengan wajah datar seraya menghela napas panjang, tidak habis pikir juga kenapa adiknya kini sama kejam seperti Zia.


"Hm mungkin," jawab Syakil santai kemudian kembali fokus dengan benda pipih di mejanya, ingin sekali rasanya Mikhail mencaci adik kandungnya ini.


.


.


.


.


Beberapa menit awal dia memang menjalani peran sebagaimana keinginan Syakil meski memang sedikit malas. Akan tetapi, usai makan siang Mikhail mengundurkan diri sebagai asisten dan dia memilih tidur di sofa yang terletak di sudut ruangan kerja Syakil, hendak marah namun tidak bisa karena memang Mikhail bukan pegawai tetapnya.


Mau tidak mau Syakil harus kerja sendirian, dengan ditemani Amara melalui panggilan video, rasa bosan Syakil sedikit berkurang siang ini.


"Tidur siang sana, kamu ngantuk sepertinya," tutur Syakil pada sang istri begitu lembut, Amara yang keras kepala tetap menolak padahal sejak tadi sudah menguap.


"Ini bukan ngantuk, cuma nguap aja."


Apa bedanya, matanya sudah memerah dan sejak tadi menguap tanpa henti. Apalagi kalau bukan mengantuk, jawaban di luar nalar yang cukup membuat Syakil sedikit bingung.


"Jangan bantah, tidurlah ... nanti malam kita lembur, awas ketiduran," ucap Syakil santai yang kemudian mendapat respon berbeda dari Amara, wanita itu memerah lantaran paham kemana arah pembicaraan Syakil.


"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Syakil sembari menarik sudut bibir, wajah Amara yang bersemu merah dapat dia tangkap begitu nyata.


"Siapa yang senyum-senyum ... filmnya tuh lucu, bukan senyum karena kamu," jawab Amara snagat-sangat menolak ungkapan Syakil.


"Film apa memangnya? Perasaan kamu nggak suka nonton," balas Syakil paham jika istrinya tengah berbohong dan cari alasan agar tidak terlihat malu.


Satu menit, dua menit hingga tiga menit Amara tidak juga menjawab pertanyaan Syakil. Pria itu kemudian menyadari jika istrinya sudah terpejam, entah tidur sungguhan atau hanya pura-pura lantaran malu pada suaminya.


"Ck, tidur juga kan ... keras kepala, tapi aku suka," ungkap Syakil memandangi wajah teduh Amara yang kini terlelap begitu nyenyak.


Jika dia lihat dari wajahnya yang kini tertidur, sama sekali tidak terpancar aura brutal Amara yang kerap membuatnya seolah dianiaya ibu tiri. Istrinya yang terkadang pemarah cukup membuat Syakil berpikir dua kali untuk bertindak, meski Amara berbeda dengan Zia akan tetapi dia merasa memang sikap Amara yang dia butuhkan.


Drrrt Drrt Drrt


Belum usai dia memandangi wajah Amara, ponsel Syakil yang lainnya kini bergetar. Sempat mendengkus kesal lantaran memang saat ini tidak ingin diganggu, akan tetapi dia memutuskan untuk menerima panggilan tersebut.


"Hm, kenapa?"


Lain orang, lain pula cara bicara. Begitulah Syakil kepada Amara dan orang-orang lainnya. Pria itu mulai mendengarkan dengan sungguh-sungguh penjelasan Kendrick, rahang Syakil mengeras bersamaan dengan kepalan tangan yang kini kian kuat.


"Halangi mereka, Ganeta bisa gila sampai akhir hayat jika kau mengizinkan mereka membawanya, Ken."


Bukan atas dasar cinta, hanya saja Syakil tidak akan membiarkan seseorang tersiksa dengan kegilaan sementara dia bisa membantunya. Jelas saja yang akan bergerak di sini Kendrick, dia takkan turun tangan secara langsung demi menjaga hati istrinya.


"Damn it!!" umpat Syakil ketika mendengar jawaban dari Kendrick, memang benar-benar licik sekali orang tuanya.


"Begitu pesan Wiranata, Tuan."


"Aku tidak mau, Ken ... sampaikan saja padanya jika memang ada sesuatu yang ingin dia katakan, bicarakan padaku. Jangan pernah usik istriku karena dia sama sekali tidak bersalah di sini." Gagal meminta pada pertemuan bersama Syakil, Wiranata masih tetap mengatakan hal tersebut melalui Kendrick.


-**Tbc-


Seperti biasa, kemarin aku Up 3 Bab dan viewsnya aww ๐Ÿ˜Œ Ingin menyerah tapi gimana yaah :( Ini yang buat rada males up tiga bab sekarang tu ๐Ÿ™‚**


Hai-hai, rekomen novel siang iniโฃ๏ธ Mampir ya sementara aku up.