My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 55 - Bukan Penyakit



Satu hal di dunia yang sejak empat tahun lalu Syakil yakini ialah, jangan percaya kepada wanita. Kini, semua kembali terulang dan Syakil merasakan bagaimana akibat dari mempercayai ucapan Amara, tubuhnya mendadak panas hingga pada akhirnya pria itu mandi satu jam setelah Amara mengoleskan minyak angin yang memang dia bawa dari tanah air tercinta.


Gemericik air masih terdengar meski sudah lebih dari tiga puluh menit, melihat Syakil yang begitu Amara semakin yakin jika suaminya tidak masuk angin.


"Kehamilan Simpatik?"


Berbekal sebuah artikel yang dia temukan beberapa waktu sejak Syakil sibuk dengan acara mandinya, Amara mulai memahami keadaan dan menyimpulkan jika Syakil yang begitu adalah bawaan bayinya.


Kehamilan simpatik atau disebut juga Sindrom Couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Kasihan sebenarnya, akan tetapi Amara tidak bisa berbuat apa-apa karena hal ini alami terjadi dan sebagai istri dia hanya bisa menjaga Syakil saat ini, itu saja.


Amara sendiri sebenarnya mual juga, hanya saja tidak separah Syakil yang heboh sendiri. Entah dibuat-buat atau memang begitu cara Syakil muntah, namun yang pasti pria itu sudah dibuat tersiksa calon buah hatinya sejak dalam kandungan.


Sembari menunggu Syakil selesai, dia menyiapkan pakaian untuk sang suami seperti biasa. Ya, meski memang tidak bekerja tetap saja harus disiapkan pakaian yang senyaman mungkin.


Sesuai dengan dugaan, Syakil kini muncul dengan rambut masih basah kuyup dan bahkan butiran air masih begitu nyata melekat di tubuhnya. Semalas itu Syakil mengeringkan tubuhnya hingga keluar persis anak kecil yang belum bisa mandiri sendiri.


"Lap dulu kan bisa, kamu kenapa mandinya begini?" tanya Amara tetap lembut meski jujur sedikit kesal lantaran Syakil terlihat biasa saja dan tidak peduli dengan tetesan air di lantai kamarnya.


"Malas, biar kering sendiri."


Enteng sekali dia menjawab, sebenarnya alasan dia tidak segera mengeringkan tubuhnya jelas karena rasa panas yang ternyata tidak sembuh juga meski dia sudah menggosok tubuhnya berkali-kali.


"Huft ya sudah terserah kamu saja, lantainya basah ... kalau aku kepleset gimana?"


"Nanti kan dipel, lagipula nggak becek-becek banget," tuturnya kemudian sudah sedikit bahagia dan terlihat baik-baik saja, mungkin benar yang membuat Syakil mual adalah parfum Amara.


"Masih mual?"


Syakil menggeleng kemudian menarik sudut bibir, sepertinya bukan tidak lagi hanya belum saja. Perhatian Amara setulus itu, Syakil benar-benar terdiam kala Amara kini meraih handuk kecil dan mulai mengeringkan rambut Syakil meski harus sedikit berjinjit.


"Menunduk sedikit," pinta Amara yang kemudian Syakil turuti, padahal tanpa diperintah seharusnya Syakil bernisiatif, akan tetapi kali ini tampaknya berbeda dan pria itu justru menunggu sang istri meminta lebih dulu.


"Tinggi kamu berapa sih?"


"157 ... kenapa memangnya?"


Amara paham maksud Syakil menanyakan hal ini jelas saja bermaksud mengejeknya. Meski tinggi Amara sebenarnya masuk kategori lumayan, tapi jika dibandingkan dengan Syakil jelas saja dia masih terlihat kecil.


"Lumayan, sepertinya kamu gagal tumbuh ... kamu kurang gizi ya, Ra?"


Pertanyaannya sopan sekali bukan? Harus dengan cara apa Amara menjelaskan jika dia bukan berasal dari keluarga serba kekurangan kala itu, orang tuanya cukup mampu dan perihal gizi jelas saja mereka sangat-sangat peduli.


Syakil terdiam beberapa saat, jika dia ingat memang mereka sangat amat berbeda dari segi fisik. Sama sekali tidak Syakil temukan kemiripan antara istri dan kakak iparnya itu.


"Hmm, berarti kamu mirip mama ya?"


Amara mengangguk dengan memberikan senyum sumringahnya. Sebahagia itu mengakui jika dia mirip mendingan sang mama, wanita paling lembut yang Amara miliki di dunia ini meski cukup singkat.


"Terima kasih mama sudah melahirkan anak secantik ini," tutur Syakil kemudian mencuri kecupan singkat di bibirnya, ya di segala kesempatan pria itu akan selalu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.


.


.


.


"Aku sakit, sampaikan saja apa yang terjadi, Ken."


Benar-benar menjadi alasan, karena kehamilan simpatik yang Syakil alami, Kendrick terpaksa menjenguknya sekaligus menyampaikan berita baik yang mungkin saja akan membuat Syakil tersenyum setelah ini.


"Maovan group menghubungi kita dan berniat menjalin kerja sama, Tuan."


"Kau bercanda?"


Syakil bahkan dibuat hampir tidak percaya dengan ucapan Kendrick, setelah sekian lama dia mengincar kerja sama perusahaan ritel multinasional Amerika yang mengoperasikan rantai global toko bahan makanan itu, kini yang dimaksud justru datang sendiri dan Syakil jelas saja dibuat menganga sore ini.


"Tidak, perwakilan dari mereka mendatangi kita dan mengatakan pemimpin mereka ingin bertemu Anda secara pribadi sebelum kerja sama dilakukan," ungkap Kendrick dan sedikit membuat Syakil tertantang, selama ini pemimpin perusahaan itu sangat sulit untuk ditembus akan tetapi kali ini justru ingin bertemu secara pribadi lebih dulu.


"Tuan Leonard?" tanya Syakil mengerutkan dahi, jika benar pria itu yang ingin bertemu dengannya sungguh aneh sekali.


"Sepertinya bukan, Tuan Leonard tidak lagi memegang kendali Maovan Group."


"Laki-laki?" Syakil mengerutkan dahinya, niat awal justru penasaran dan tertarik melakukan kerja sama, akan tetapi siapa sosok pemimpinnya lebih membuat Syakil penasaran.


"Maybe," jawab Kendrick usai berpikir beberapa detik.


"Lebih tua dariku?" tanya Syakil lagi, sungguh dia sedikit terkejut kala mengetahui jika perusahaan tersebut sudah mengalami beberapa perubahan diluar sepengetahuannya.


"Hm rahasia, Anda harus datang sendiri untuk mengetahui siapa dia," ujar Kendrick menarik sudut bibir dan mulai membuat Syakil merasa asistennya ketularan Mikhail yang hidupnya penuh teka-teki.


-Tbc-