My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
Bonus Chapter - Become The Best Daddy



Menjalani peran sebagai seorang papa bukan hal yang mudah sebenarnya. Akan tetapi, berbekal pengalaman dari Mikhail dia bisa perlahan mengerti cara yang benar jaga bayi. Tidak berdampingan bukan berarti mereka tidak saling peduli, beberapa kali Syakil terbangun di malam hari dan dia selalu menghubungi Mikhail lantaran tidak tega untuk membangunkan Amara, bidadarinya.


Perbedaan waktu antara mereka bukan penghalang, dan biasanya Mikhail juga tidak merasa direpoti. Hanya sesekali saja dia mengomel tidak jelas, wajar saja sebenarnya.


"Pelan-pelan, bayimu masih lembut."


Lembut, dia pikir putranya sejenis kue basah atau apa? Syakil merasa kalimat-kalimat yang Mikhail gunakan sangat aneh dan asing di telinganya.


Sebenarnya bisa saja dia meminta bantuan pada Kanaya yang saat ini masih menetap di mansion untuk beberapa waktu. Hanya saja, memang dia tidak ingin merepotkan wanita itu. Selagi ada Mikhail kenapa harus repot mengusik sang mama yang tengah beristirahat, pikirnya.


Sudah kali ketiga ganti popok, mata Syakil bahkan sudah terasa perih. Akan tetapi dia benar-benar khawatir jika istrinya sampai terbangun juga. Seharian Amara sudah sangat lelah, apalagi saat ini kedua putranya benar-benar butuh ASI sebagai sumber kehidupan satu-satunya. Jelas saja Syakil harus mengutamakan kesehatan sang istri.


Zeeshan Abraham dan Zain Abraham, sama seperti putra Mikhail yang diberikan nama langsung oleh sang kakek, putra Syakil juga demikian. Sempat protes lantaran makna nama belakang Zeeshan hampir mendekati nama sang papa, akan tetapi Ibrahim mengatakan jika itu adalah nama yang ingin selalu hidup dari masa ke masa. Dia ingin, jika nanti dia pergi untuk selamanya. Nama itu akan abadi dan terus mengalir dalam darah keturunannya, sesederhana itu impian Ibra.


Beberapa menit berlalu, kali ini tampaknya Syakil tidak mampu menghentikan tangisnya. Amara mengerjap dan bangun dengan segera walau kepalanya terasa berat, wanita itu mengambil alih Zeeshan secepatnya.


"Kenapa kamu milih selesaikan sendiri? Padahal aku nggak susah bangunnya," tutur Amara pelan, hal seperti ini membuatnya tidak tega. Syakil banyak kesibukan dan jika dengan begini rasanya sulit juga, bisa-bisa lingkar hitam di mata suaminya kian menjadi saja.


"Kamu butuh tidur yang banyak, Sayang ... mereka butuh air susu yang berkualitas, kalau kamu terlalu lelah bagaimana nantinya?"


Hal yang sama sekali tidak akan bisa dia gantikan adalah memberikan nutrisi terbaik di dunia itu untuk putranya. Dengan cara apapun juga tidak akan pernah bisa, hal itu mutlak hanya istrinya yang bisa.


"Tapi kamu juga lelah, lihat mata kamu sampai hitam begitu ... tidur sana."


Jam tidur Syakil benar-benar berantakan, pria itu sulit sekali mengatur waktu sebenarnya. Akan tetapi dia berusaha untuk tetap melakukan hal sebaik mungkin sebagai seorang papa yang baik untuk kedua putranya.


"Nanti saja, tunggu Zeeshan tidur."


Syakil mendekat, dia memandangi pangeran kecilnya yang kini tampak berkeringat. Padahal hanya minum ASI, tapi keringatnya sebanyak itu, pikir Syakil.


"Santai, Eshan ... kita bukan saingan," bisik Syakil namun dapat Amara dengar dengan jelas, pria itu terkekeh kemudian mengecup sang putra begitu lama.


"Sana-sana, gerah dianya."


"Kan cuma dicium, bukan dipeluk, Ra."


"Tetap saja, dia risih, Sayang ... kamu aja risih kalau jadi dia."


Amara khawatir putranya akan kembali merasa terganggu dan nenangis lagi. Syakil memang benar-benar tengil, tiada habisnya membuat Amara gusar dengan tingkahnya.


"Tidur lagi ya, Sayang ... kan sudah nyaman," tutur Syakil begitu lembut kala putranya sudah kembali terlelap. Pria itu tidak lupa mengecup Amara juga setelahnya, lagi dan lagi Amara dibuat luluh dengan perlakuan suaminya.


Selesai satu, satunya ikutan menangis. Baru saja mereka berhasil membuat Zeeshan tertidur, kini Zain turut menangis. Ingin mengeluh tapi ini adalah nikmat yang seharusnya mereka syukuri, terpaksa dua-duanya harus dipeluk untuk sementara.


"Kamu sudah berapa kali minum susu, Daddy belum sama sekali ... kalian berdua curang ya."


Syakil gemas sendiri, entah ke arah mana Syakil bicara hanya saja Amara sudah geli sendiri. Ingin dia tepuk bibir Syakil yang kemerahan itu, akan tetapi dia urungkan karena khawatir dianggap istri durjana.


Hampir pagi barulah mereka benar-benar bisa terlelap, meski ini hanya akan sedikit. Tapi tidak masalah, setidaknya masih ada waktu.


"Sayang," panggil Syakil dengan suaranya yang terdengar lemah, bisa dipastikan dia benar-benar lelah.


"Iyaa, kenapa?"


"Berapa lama lagi?" Dia bertanya dengan kantuknya yang begitu besar, dalam rengkuhan Amara dia memperlihatkan betapa dia butuh kehangatan.


"Apanya yang berapa lama?"


"Kamu boleh kusentuh, sudah satu bulan ... apa belum bisa?"


Padahal dia ngantuk sekali, bisa-bisanya malah bertanya ke arah sana. Amara hanya tersenyum simpul kemudian menjawab dengan suara pelannya.


"Sebentar lagi, sudah tidur sana ... nanti sakit kepala besoknya." Anggap saja punya tiga bayi, karena di beberapa saat Syakil akan begini. Amara tidak keberatan jika suaminya tiba-tiba manja begini, ya dia paham jika Syakil juga tetap perlu diperlakukan selembut mungkin.


"Hm, kamu juga tidur ya ... Love you, the best mommy," ucapnya kemudian menenggelamkan wajah ke dada Amara, seperti kurang dekat saja hingga perlu memeluk seerat itu.


"Mommy?" Asing bagi Amara karena sejak kemarin-kemarin Syakil tidak menyebutnya begitu.


"Iya, kenapa memangnya?" tanya Syakil masih dengan matanya yang terpejam sempurna, rasa kantuk mengalahkan segalanya.


"Hahah lucu saja, kemarin-kemarin bukan Mommy manggilnya."


"Setingkat lebih keren dari Zia dan Mikhail ... setelah aku pikir-pikir kita harus berbeda," ungkapnya kemudian, hal ini membuat Amara tergelitik dan menghangat sekaligus.


"Baiklah kalau begitu, Love you too the best Daddy," balas Amara tidak mau kalah, dia mengecup kening Syakil sebagai penutup malam harinya.


Dia datang tanpa terduga, pria asing yang sempat kupikir gila nyatanya sebaik-baiknya cinta yang Tuhan kirimkan padaku dengan bentuk paling sempurna. - Amara Nayri


Mencintaimu sejak pandang pertama. Aku membawa namamu dalam aliran darah, menyatu dalam nadi dan akan kubawa hingga mati. Aku mencintaimu, Amara ... wanita yang aku butuhkan, aku inginkan dan akan selalu kuusahakan menjadi pria yang berhak menjadi pemilikmu hingga akhir. - Syakil Agha Mahendra.