
Pengalaman pertama biasanya sang suami akan marah jika istrinya di sentuh pria lain. Hal yang tidak jauh berbeda kini kembali terjadi dan sebagai dokter yang baik, Nathan hanya bisa mengikuti kemauan pasiennya kali ini.
"Begini sudah benar?"
Sebenarnya dilarang keras, mana bisa seorang dokter membiarkan seorang suami memeriksa kandungan istrinya sendiri. Meski memang dalam mengawasannya, tetap saja jika hal ini tidak dibenarkan sebenarnya.
"Ya menurutmu bagaimana? Apa tekanan darah istrimu normal, Syakil?"
Syakil yang memang tidak mengetahui sama sekali nampaknya yakin-yakin saja dengan hasil pemeriksaannya sebagai dokter dadakan, tepatnya anak magang.
"Entahlah, aku tidak paham ... katakan saja ini normal atau bagaimana?"
Nathan menghela napas pelan, pada akhirnya masih butuh bantuan dan tetap saja merepotkan. Nathan sengaja memberikan waktu khusus untuk pria ini, nyatanya Syakil justru membuat resah.
"Aku saja, Syakil." Nathan mulai meminta agar Syakil mengembalikan semua alat-alatnya, dia paham ini benar-benar dilarang dan jika sampai ketahuan karirnya mungkin bisa saja dipertaruhkan.
"Ck ... kau tidak dengar kata-kataku?" Syakil menggerutu dan kini menghempas tangan Nathan, demi apapun Amara merasa malu saat ini.
"Dasar gila, aku bisa dipecat jika seseorang mengetahui hal ini," ungkap Nathan mulai khawatir, pria itu masih memiliki tanggungan yang harus dia pikirkan. Dia bukan pria yang hidup segala kuasa seperti Syakil, jelas saja hidup harus sesuai aturannya.
"Ck, mereka tidak akan berani memecatmu ... sahamku lumayan besar di sini, bahkan aku bisa membuat pimpinanmu dipecat kalau mau sebenarnya," tuturnya santai dan terdengar sebagai ungkapan kebanggaan akan kekuasaannya.
"Tapi tetap saja, sampai kapan kau akan selesai memeriksanya jika begini. Pasien yang lain masih banyak, Syakil." Tak peduli meski memang ucapan Syakil sangat benar. Tetap saja, pria itu tidak bisa menahan kekesalannya.
"Huft ... jawab saja pertanyaanku, ini normal?" desak Syakil kini menatap tajam mata Nathan, pria itu tampaknya mulai kehabisan kesabaran hingga dia berucap demikian.
"Hm, normal," jawab Nathan mulai tidak ikhlas dan malas menjawab pertanyaan Syakil, berawal dari ingin memastikan detak jantung Amara, kini dia justru semakin penasaran dengan hal lainnya.
"Woah ternyata jadi dokter tidak sesulit yang aku kira ... jadi menyesal kenapa dulu tidak mengikuti saranmu, Bangtan." Syakil mengeluarkan panggilan zaman purbakala pada sahabat kakaknya itu, panggilan yang sejak dulu kerap membuat huru hara di lingkungannya.
"Syakil ... aku pegal begini. Kapan selesainya?" keluh Amara mulai menyadari jika Syakil hanya membuat peran Nathan terganggu dan semakin lambat saja.
Risih sebenarnya, berbaring di hadapan pria yang bukan hanya suaminya membuat Amara ingin semua ini cepat-cepat berakhir. Wajahnya terlihat biasa saja, namun percayalah saat ini Amara tengah gundah gulana seakan menjadi bahan praktikum suaminya.
Karena Amara yang meminta barulah dia menyerah dan memilih untuk berdiam diri di sisi Nathan. Bukannya berada di samping istrinya, Syakil justru berdiri di samping Nathan persis perawat yang membantu tugas dokter tampan itu.
"Jangan di sini, aku tidak fokus!!" kesal Nathan kini menghela napas kasar, pria itu bisanya tidak gugup diperhatikan siapapun. Akan tetapi yang kali ini dia sedikit tidak nyaman dan berharap sekali Syakil menjauh bahkan jika bisa keluar secepatnya.
"Kau tidak akan menyentuh yang lainnya kan? Berani turun dari bawah pusarnya mati kau, Nathan!!" ancam Syakil kemudian, dia kira semua pria mesum sepertinya.
"Ck bodohnya keterlaluan." Tentu saja Nathan berdecak kesal, manusia yang mana tidak kesal jika sudah dihadapkan degan lawan bicara yang sedemikian rupa.
"Ah baiklah jika begitu, sana."
Ingin marah, sungguh-sungguh Nathan ingin dibuat marah dengan keadaan ini. Nathan menatap Syakil datar kemudian menghela napas kasar kala pria yang dia tatap itu memberikan senyum penuh kepalsuan.
"Semua normal sebagaimana ibu hamil biasa, perkembangan janinnya baik sekali ... usianya masih 11 minggu, tolong dijaga dengan baik bukan hanya calon bayinya tapi juga ibunya. Kau dengar aku, Syakil?" Nathan terdengar serius dan Amara paham tujuan pria itu bicara sedemikian rupa, tentu saja menyindir perihal Syakil yang dahulu kehilangan kadar kewarasannya.
"Iya dengar," jawab Syakil sembari mengangguk dan menahan sedikit malu karena kini Amara menarik sudut bibir sembari menggeleng pelan.
"Paham maksudnya?" tanya Nathan sekali lagi, untuk pasien kali ini yang perlu ditekankan benar-benar adalah calon papanya.
"Iya paham!! Kau gila ya lama-lama, kau dokter atau wali kelas sebenarnya." Syakil baru sadar jika interaksi dia dan Nathan persis seperti siswa bebal yang tengah mendapat siraman rohani oleh wali kelasnya, ya kira-kira begitu.
"Bukannya begitu, ini demi kebaikan kalian juga ... kau tau dampak kekerasan dalam rumah tangga itu bagaimana? Dimanapun, kapanpun dan apapun alasannya itu tidak dibenarkan, Syakil."
Mereka sebenarnya tengah melakukan apa, periksa kandungan tapi seolah masuk ruang mediator. Lagipula Syakil hanya melakukannya sekali, dan itupun sudah jadi penyesalan Syakil hingga akhir.
"Bisakah kau berhenti membahas hal itu? Aku jahat sekali di matamu ... iya paham aku salah, tapi kau tidak paham seberapa menyesalnya aku setelah menyakitinya, berhenti memandangku seburuk itu." Syakil menggigit bibirnya kemudian, Nathan tidak tahu saja jika saat ini ada beberapa alasan yang membuatnya tidak akan berani macam-macam pada sang istri.
"Baiklah, aku percaya padamu ... terakhir kali aku tegaskan, jangan pernah menyakiti wanita baik fisik maupun batinnya, ketika kau telah melakukannya maka sesalmu tidak terkira, Syakil."
Iya, Syakil sangat-sangat setuju dengan apa yang Nathan utarakan. Dia yang baru menikahi Amara beberapa bulan saja sudah merasakan sesal usai dia menyakiti Amara secara langsung melalui fisik maupun tidak langsung dengan menggores hatinya. Kalau dipikir-pikir dia amat berdosa sebagai suami.
"Untuk kali ini cukup dulu, sampai jumpa di bulan selanjutnya."
Akhirnya selesai juga, sesi periksa kandungan merangkap siraman rohani yang dilakukan sekaligus oleh dokter tampan kebanggaan keluarga itu berakhir dengan senyuman hangat di wajah mereka, ya meski Syakil sedikit sebal sebenarnya.
-----
Keduanya berjalan beriringan menelusuri koridor rumah sakit, ya sebagaimana pasangan muda lainnya mereka jelas tampak berseri. Syakil menggenggam tangan istrinya begitu posesif, takut selagi jika istrinya pergi padahal jika dilepas juga Amara akan kembali.
"Syakil," panggil Amara menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Sa ... yang!! coba sesekali begitu, Syakil-Syakil-Syakil-Syakil terus. Aku bukan teman bermain kamu, Ra." Akhirnya, setelah resah sekali dengan panggilan itu pria tampan ini mulai menyampaikan protesnya,
"Heum? Kan kita memang teman bermain, main di dapur ... di ranjang ... di sofa ... dan di lain tempat seper_"
"Shuut!! Dasar gila, siapa yang mengotori otakmu sampai bisa jawab begini, hm?" tanya Syakil panik tetapi tidak kuasa menahan tawanya, pria itu menutup mulut sang istri tiba-tiba lantaran kaget mendengar pernyataannya.
Di tempat umum begini bisa-bisanya Amara berkata demikian, walaupun ucapan Amara belum tentu dipahami setiap orang yang mendengarnya tetap saja Syakil panik.