My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 68 - Salah Takutnya.



"Bagaimana?" tanya Syakil kala dia sudah berada di sisi korban kecelakaan


"Masih hidup, aku bisa merasakan denyut nadinya."


Syukurlah, setidaknya hal ini tidak segila yang Syakil pikir. Dia sadar betul jika Kendrick melaju dengan kecepatan cukup tinggi, hal itu memang atas izinnya dan ketika semua terjadi Syakil jelas tidak akan pernah bisa menyalahkannya.


"Ck, dia sengaja atau bagaimana?"


Syakil berdecak kesal kala menyadari wanita itu tidak mengenakan alas kaki. Matanya sudah mencari ke sekeliling, mungkin saja terpental atau bagaimana, akan tetapi hasilnya sama saja.


Hati Syakil tergerak untuk membenarkan posisi wanita itu. Harap-harap cemas, sungguh dia khawatir jika wajah korban hancur nantinya. Pelan-pelan, dia memperlakukannya sopan sebagaimana kepada wanita yang sedang tidak berdaya.


"Ambulance masih lama?" tanya Syakil cemas karena saat ini semuanya terasa kacau, apalagi ketika Syakil menyadari kepala wanita itu sedikit basah.


"Sebentar lagi, Tuan ... biarkan saya saja." Kendrick merasa heran dengan Syakil yang rela duduk di jalan demi wanita itu.


"Tidak perlu," tukas Syakil tanpa menatap lawan bicaranya.


Bukan berarti tidak memikirkan perasaan Amara, hanya saja nalurinya berbicara untuk mengangkat kepala wanita itu dipangkuannya. Pelan-pelan Syakil menepikan rambut yang menutupi wajah wanita itu, dengan perasaan yang kian tak karuan Syakil merasa kehilangan setengah kesadaran ketika keseluruhan wajahnya terlihat jelas.


Deg


Mulut Syakil dibuat bungkam, salivanya bahkan terasa pahit dan beberapa kali Syakil memandangi wanita dalam pangkuannya dari ujung kepala hingga kaki.


"Nona?!"


Mata Kendrick yang dibuat terkejut refleks mengucapkan hal itu. Syakil menatapnya tajam tiba-tiba dan pria itu hanya bisa menganga sembari menutup mulutnya rapat-rapat.


"Biasa saja, Ken ... kau tau di dunia ada tujuh kembaran bukan?"


"Tidak, teori dari mana, Tuan?" Kendrick bahkan tidak peduli dengan kehadiran bebarapa pengguna jalan di sana, yang membuatnya bingung kenapa dia justru menabrak seseorang yang dia yakini sejak tadi ada bersamanya, bahkan detik ini tetap di dalam mobil.


"Jaga istriku, pastikan dia tetap di sana dan tidak perlu kau ceritakan apa yang kau lihat, Ken." Syakil memberikan perintah demikian karena khawatir sang istri justru keluar lantaran mereka terlalu lama.


"Baik, Tuan."


Hanya menyisakan mereka berdua, jemari Syakil bergetar, tertahan hendak menyentuh wajah itu. Tidak, Syakil tidak lagi merindukannya. Hanya saja, ada sebuah pertanyaan besar yang muncul di benak Syakil saat ini.


Sempat ragu pada awalnya, akan tetapi melihat liontin kecil di lehernya keraguan Syakil benar-benar terpatahkan. Dia wanita yang selama ini Syakil cari, pria itu menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya begitu perlahan.


"Dia kenapa sebenarnya?" Syakil bertanya-kala ketika menyadari fisik Ganeta tidak lagi seperti dulu.


Belum tuntas semua pertanyaan itu, Syakil terpaksa berhenti berpikir dan fokus kala ambulance datang dengan secepat itu. Syakil membopong sendiri tubuh mungilnya yang terasa begitu ringan, beberapa luka di pergelangan tangan dan memar di kakinya masih menjadi tanya dalam benak Syakil.


"Ken!!"


Hanya dengan isyarat Kendrick paham maksud Syakil, dia tidak mungkin bisa meninggalkan Amara. Lagipula pria itu tidak ingin istrinya berpikir terlalu jauh jika sampai dia yang turun tangan sendiri padahal ada Kendrick.


"Urus dia," titah Syakil kemudian menepuk pundak Kendrick, paham betul jika pria itu sebenarnya khawatir kecelakaan ini akan membuatnya di posisi sulit.


.


.


.


Syakil buru-buru masuk mobil, meminta Amara pindah duduk ke depan karena kini mereka hanya berdua. Istrinya masih pucat, terlebih ketika menyadari di tangan Syakil terlihat noda darah yang tiba-tiba membuatnya mual.


"Nggak mau, aku di belakang saja."


"Depan, Sayang ... kamu pikir aku sopir?" Syakil tetap terlihat santai demi membuat istrinya terlihat lebih tenang.


"Tangannya, bersihin dulu."


"Nggak usah turun, langsung maju kan bisa, Istriku."


Syakil menarik pergelangan tangan istrinya, jika ada yang mudah kenapa harus yang sulit? Begitulah cara berpikir Syakil yang memberikan efek luar biasa dalam hidupnya hingga saat ini.


"Kenapa kita pulang jadi berdua?"


"Kendrick harus tanggung jawab, Ra ... seharusnya aku minta dia pelan seperti biasa," sesal Syakil menatap kosong sebelum kemudian mencoba untuk fokus melajukan mobilnya.


"Terus gimana? Yang dia tabrak sudah tua?"


Amara bertanya karena memang sejak tadi dia tidak berani untuk melihat langsung. Selain itu, bertanya kepada Kendrick juga percuma karena pria itu mengatakan tidak ada hal yang serius.


"Masih muda," jawab Syakil lembut dan hal itu sukses membuat Amara merinding, yang Amara khawatirkan bukan hanya Kendrick saja saat ini, melainkan wanita itu.


"Hah kasihan," desis Amara serius sekali, sebagaimana wanita yang kerap mendapatkan hal tragis di hadapannya jelas saja amara khawatir dibuatnya.


"Biarkan saja, Ra ... salah dia tiba-tiba lari ke jalan raya," ujar Syakil berharap Amara tidak terlalu memusingkan hal itu, sungguh semakin membuat pikirkan Syakil terganggu.


"Dia kenapa ya? Apa karena buru-buru sampai begitu?" Amara bertanya-tanya, dia masih dibayang-bayangi rasa bersalah padahal bukan dia pelakunya.


"Hm, entahlah ... seharusnya kalau cari mati jangan melibatkan orang lain."


Entah kenapa Syakil mendadak emosi, kesal sekali dan itu berusaha dia tutupi. Amara yang masih belum memahami jelas hanya berpikir kesalnya Syakil karena memang wanita itu yang salah.


"Nggak boleh begitu bicaranya, mungkin saja dia menghindari sesuatu atau yang lainnya ... kan kita nggak tau." Perihal kesabaran memang Syakil akui, Amara sesabar itu dan luar biasa dalam membuat suasana hatinya perlahan lebih tenang.


"Maaf, aku hanya kesal saja perjalanan kita terganggu, Sayang."


Syakil menggenggam jemari Amara, hal itu tidak biasanya dia lakukan. Beberapa saat kali juga Syakil mengecup punggung tangan Amara, mungkin betah dengan parfum terbarunya.


"Kamu jangan pernah pernah keluar sendiri ya, andai kamu nggak suka diikuti bodyguard ataupun asistenku setidaknya harus bersamaku." Yang kecelakaan bukan Amara, namun khawatirnya Syakil justru mengalir dan bayangan wajah Ganeta yang tadinya pucat basi dan tidak berdaya kembali hadir dalam benaknya.


"Iya," jawab Amara patuh, sebenarnya wajar saja seorang suami khawatir tentang istrinya, apalagi jika kejadian seperti ini nyata terjadi di depan matanya.


"Kamu baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir ... nanti malam kita makan di luar, aku butuh waktu berdua."


Syakil berbicara seperti itu dengan tiba-tiba, tidak ada rencana sebelumnya dan Amara dibuat bingung tentu saja. Cara bicara Syakil juga berbeda, terlihat gurat kesedihan yang begitu jelas di wajahnya.


"Kenapa begitu?"


"Hm ingin saja, sudah beberapa malam kita makan selalu berempat ... aku nggak puas," ucap Syakil yang memang benar adanya dia merasa sedikit tidak bebas semenjak Mikhail menumpang di mansionnya.


"Kan sama-sama makan, apa bedanya?"


"Beda, aku nggak bisa makan kamu sekalian ... padahal itu seru, Ra," jawab Syakil terkekeh kemudian, padahal beberapa saat lalu wajahnya terlihat murung.


"Kamu kenapa sebenarnya?" tanya Amara kemudian, mata Syakil terlalu kentara jika tidak baik-baik saja saat ini.


"Kangen saja, sumpah," ucapnya mulai semakin aneh dan kini menepikan mobilnya perlahan, tanpa aba-aba Syakil menarik istrinya dalam pelukan. Mengecup wajahnya berkali-kali dan Amara memberikan waktu untuk Syakil tanpa protes atau apapun.


"Tiap hari ketemu padahal," ucap Amara menarik sudut bibir, ada-ada saja ucapan Syakil.


"Rindunya setiap detik, dan banyak detik-detik dimana kita nggak sama-sama. Jadi, wajar saja kan suami kamu ini merindukan istrinya?" bisik Syakil semakin mengeratkan pelukannya.


-Tbc-


Hai, aku ingkar janji minggu ini kan ya. Hm maaf guys, aku benar-benar sibuk bahkan ayangku aja ga aku ladenin udah tiga hari. Kemarin aku yudisium, besok wisuda ... jadi mohon dimaklumi❣️


Terkhusus buat yang cemas banget sama konfliknya, kenapa guys? Beberapa komen takut jika aku buat kisahnya seperti ikan terbang, padahal buat naik jadi drama di ikan terbang tu susah tau🤣 Satu lagi, aku nggak paham konsep Sinetron Indonesia tu gimana. Dah bubay, jujur aja lama up itu ya karena mempertimbangkan ini akan dikatain ikan terbang atau ikan bakar setelah epsnya aku tayangkan, ikuti saja alurnya ... konflik akan diselesaikan penulisnya ... Insya Allah aku bukan lagi tipe yang suka menggantung kehidupan tokoh setelah Gio, Ara dan Arinda.