
Malam kehilangan akal, siangnya Syakil manusiawi. Amara bahkan dibuat bingung melihat suaminya kini. Usai dengan sarapan untuk Amara, Syakil merapikan kamar sementara sang istri mandi.
Tidak biasanya pria ini jadi rajin begini, Syakil menatap ke arah Amara yang hanya mengenakan bathrobe dan handuk kecil untuk membalut rambutnya, kebiasaan sekali selesai mandi tidak langsung ganti baju, sejak dahulu Amara memang begini.
"Sudah? Lama sekali kamu mandi," tutur Syakil sembari menatap arlojinya, Amara mandi hampir satu jam.
"Aku lupa mandi wajib ... makanya dua kali," jawab Amara santai dan membuat Syakil batuk cukup lama, istrinya tidak berniat melawak, akan tetapi jawaban tersebut menyebabkan suaminya tersedak.
"Kamu kenapa?"
Amara bingung sendiri kenapa jadi berkepanjangan, padahal memang yang terjadi begitu adanya. Wanita itu benar-benar mandi dua kali, dan parahnya lagi Amara baru ingat dia melewatkan mandi wajib itu ketika sudah hampir keluar kamar mandi.
"Entahlah, mungkin ada seseorang yang mengumpatku," jawabnya asal dan menghampiri Amara yang berada tidak jauh darinya.
"Obati dulu lukamu sebelum pakai baju."
Sejak tadi memang sudah dia siapkan, obat luar yang sempat dia minta pada pelayan kala Amara membersihkan tubuhnya. Sadar betul Amara kembali bergetar setiap Syakil sentuh, pria itu menghela napas panjang namun tidak berhenti berusaha membuat istrinya luluh.
"Masih marah?" tanya Syakil kala Amara sudah duduk di sisinya.
Sebenarnya iya, bahkan ini lebih dari marah. Hanya saja Amara tidak mungkin berontak dan menepis sentuhan Syakil layaknya pelaku pemerkossaan.
"Buka," titah Syakil tiba-tiba dengan wajah yang super serius saat ini.
"Kamu mau apa?"
Pria yang memintanya demikian adalah Syakil, akan tetapi entah kenapa Amara was-was. Bukan hanya takut Syakil khilaf seperti tadi malam, melainkan memang dia sedikit geli jika diminta polos di hadapan Syakil jika terang benderang begini.
"Buka, Amara ... bagaimana aku bisa obati lukanya kalau ditutup begitu."
Amara terlalu lambat menurutnya, Syakil melepaskan sendiri namun tidak terkesan memaksa kali ini. Amara mempertahankan bagian dadanya tetap tertutup, keningnya berkerut kala Syakil berdecak sebal.
"Singkirkan tanganmu."
Luka dibagian lehernya saja belum Syakil obati, seharusnya jika memang niat obati saja dulu yang terbuka, pikir Amara mulai merasa Syakil liciknya luar biasa.
"Lehernya saja dulu, yang lain biar aku sendiri," ucapnya lembut kemudian mendongak menatap Syakil yang kini frustasi dibuatnya.
"Ini tanggung jawabku, kamu cukup diam, Amara."
Selembut-lembutnya Syakil tetap saja, apa yang dia mau harus terjadi sekarang juga. Pria itu merebahkan tubuh istrinya dan menyingkirkan tangan Amara secara halus, secepat itu tubuh Amara sudah terpampang jelas di matanya.
Amara menarik selimut demi menyembunyikan bagian pinggang ke bawahnya, dalam keadaan sadar begini rasa malunya masih setebal itu. Syakil hanya menarik sudut bibirnya tipis menyadari apa yang dilakukan sang istri.
"Aaahh," desis Amara kala jemari Syakil mulai mengoleskan obat luar itu di bagian leher dan bahunya.
"Enak?" Syakil terkekeh, suara Amara yang terdengar barusan dia artikan sebagai dessahan.
"Kamu aaah aaah begitu kenapa?" tanya Syakil menirukan suara sang istri dan tentu saja dimodifikasi seakan benar-benar desaahan.
"Perih gilaa, kamu mikirnya apa?!"
Setelah semalaman hingga pagi dia merasa Syakil begitu membahayakan dan membuatnya memilih diam, baru kali ini Amara berani mencacinya sekaligus luapan emosi terpendamnya.
"Siapa tahu, makanya aku tanya."
Santai sekali dia, senyum Syakil terlihat jelas di mata Amara. Pria itu sepertinya memang tidak lagi segila tadi malam, sorot teduh Syakil masih tertutu kepada setiap inci tubuhnya yang terluka.
.
.
.
"Banyak sekali," sesal Syakil menggigit bibirnya, dia benar-benar tidak sadar jika ulahnya akan segila ini.
Raut wajah Syakil jelas saja terlihat menyesal, pria itu membuang napasnya kasar kemudian kembali fokus mengobati bekas gigitannya yang lain.
"Kenapa semalam nggak pukul aku saja, Ra?" tanya Syakil memejamkan matanya, baru sadar seharusnya dia berhenti dan tidak meluapkan emosi pada sang istri begitu brutalnya.
"Pukul gimana, kamu lupa berapa lama tangan aku kamu iket pakai ikat pinggang siallan itu?"
Jika dia ingat sebenarnya ingin sekali menampar wajah Syakil berkali-kali. Akan tetapi, wanita itu masih berpikir dan khawatir Syakil justru lebih marah lagi.
"Maaf, Ra ... aku hilang kendali, aku begitu karena takut kehilangan kamu," ungkap Syakil jujur dan memang alasannya adalah itu, dia ingin memberikan penekan pada Amara jika dia bisa melakukan hal yang lebih gila lagi jika berani pergi darinya.
"Semalam aku hanya minta penjelasan, nggak lebih."
Salah cara menghadapi masalah, pria itu memang harusnya menjelaskan dengan baik-baik. Bukannya menggila dan menyelesaikan semuanya di atas ranjang.
Penyelesaian paling ampuh hanya di atas ranjang.
Ilmu paling sesat dari Mikhail yang tidak seharusnya Syakil praktekan tadi malam, sungguh membuat Amara justru kacau dan menilainya sebagai pria tidak berakal.
"Aku sudah jelaskan, tapi pikiran kamu terlalu macam-macam dan itu menggangguku, Amara."
Meski memang benar alasan utama dia menikahi Amara adalah karena sang istri mirip mantan kekasihnya. Akan tetapi, tentang perasaannya memang tidak ada perbedaan sama sekali. Setakut itu dia kehilangan Amara karena pernah merasakan sakitnya kehilangan Ganeta, itu saja.
"Jangan mencintai jiwa yang berbeda di raga yang terlihat sama, Syakil." Amara memalingkan wajahnya kala mengucapkan kalimat itu, mau sebaik apapun Syakil jika pada faktanya dia hanya pengganti hati Amara seakan remuk tanpa sisa.
-Tbc-