My Possessive Billionaire

My Possessive Billionaire
BAB 58 - Kesepakatan Pernikahan.



"Kenapa, Nona? Apa Nona tidak suka makanannya? Kalau memang begitu saya akan memasak yang lain untuk Nona."


Ester bertanya demikian lantaran khawatir jika nanti Syakil justru marah besar padanya. Dia yang bertanggung jawab di dapur, dan kali ini sepertinya Amara tidak berselera bahkan hanya dia pandangi sekilas saja.


"Ah tidak perlu, Ester ... aku hanya belum lapar saja, mungkin beberapa menit lagi aku akan makan." Amara berucap lembut sembari mengulas senyum hangatnya untuk Ester.


"Apa Nona menunggu tuan Syakil?"


Sebenarnya iya, karena sejak beberapa hari terakhir mereka selalu bersama dan makanpun terkadang satu piring berdua. Meski sedikit aneh di mata para pekerja yang ada di sini, akan tetapi Amara memang tidak merasa kenyang jika tidak makan bersama suaminya.


"Bu-bukan, tinggalkan saja aku sendiri ... atau kamu mau ikut makan bersamaku?"


Sontak Ester menolak, dia tidak punya keberanian untuk makan di tempat yang sama dengan tuan rumah. Ya, meskipun Amara sendiri yang memintanya tetap saja secara sadar dia enggan melakukannya.


"Saya pergi saja, Nona."


Amara mengangguk kemudian, perutnya terasa lapar tapi firasatnya mengatakan jangan dulu. Beberapa kali dia menoleh seolah menantikan kehadiran seseorang, ya seseorang itu tentu saja suaminya.


"Lama, dia makan siang sama siapa ya? Pasti orang yang dia temui bawa perempuan bahenol seperti waktu itu lagi."


Wajar saja jika Amara berpikir demikian, mengingat kejadian kala itu Daniel dengan jelas mengatakan jika wanita di sampingnya adalah seseorang yang sengaja dibawakan untuk Syakil.


Amara memegang erat sebuah garpu dan mulai menusuk pisang di hadapannya. Tatapannya tak tentu arah, giginya mendadak bergemelutuk dan gerakan yang awalnya hanya menusuk pelan kini semakin bertenaga.


"Makan siang ... bukan ... makan siang ... bukan."


Amara mengucapkannya dengan cepat, sebagaimana cara dia menusuk pisang tersebut dengan garpu yang ada di tangannya. Suaminya tampan bahkan mendekati sempurna, bohong sekali jika Amara tidak khawatir suaminya berpaling.


Sudah tusukan kesekian dan tagannya sama sekali tak merasa pegal, satu pisang sudah hancur dia berpindah ke pisang yang lain. Inilah alasan dia meminta Ester pergi dan meninggalkan dia sendirian di ruang makan, Amara tengah mengekspresikan kekesalannya.


"Ah ayolah!! Dia makan siang atau yang lain," gerutu Amara dengan mata yang kini berkaca-kaca, janji Syakil hanya sebentar dan ini sudah terasa sangat lama bagi Amara.


Sementara di sisi lain, pria yang tengah membuatnya gundah gulana masih berada di ruang tamu. Sengaja diam dan bermaksud membuat istrinya terkejut lantaran pulang lebih cepat, Syakil yang sudah paham jadwal Amara yakin betul jika istrinya ada di ruang makan.


.


.


.


"Aaarrrgghhh!! Makan yang lain jangan-jangan!!"


Tusukan terakhir dan bahkan garpunya sampai bengkok. Kekesalan Amara kian menjadi hingga pada akhirnya dia melemparkan garpu yang tidak lagi layak untuk dipakai itu ke lantai.


"Ra?"


"Heeuh?!!"


Kaget, sama-sama terkejut dan bingung dengan tatapan masing-masing. Amara mengusap air matanya cepat-cepat, sementara Syakil sudah panas dingin melihat pisang yang tidak lagi berbentuk di hadapannya.


Gleg


"Ka-kamu kenapa? Pisangnya kenapa jadi be-begini?" tanya Syakil menelan salivanya kuat-kuat, adik kecilnya mendadak ciut padahal tidak Amara apa-apakan.


"Sudah makan siangnya? Sama siapa?"


"Syakil?"


"Hah? Apa, Sayang?"


Mendadak kehilangan kecerdasan, katakanlah Syakil benar-benar dibuat ciut pertama kali padahal istrinya bukan tipe wanita pemarah dan suka menuduh macam-macam. Akan tetapi, jika dia ingat bagaimana cara Amara menusuk pisang itu beberapa saat lalu, dapat disimpulkan istrinya ini bisa melakukan hal-hal di luar dugaan.


"Sudah makan siangnya?" tanya Amara mengulang kembali pertanyaannya, pria itu mengangguk kemudian duduk di sisi istrinya.


"Nggak jadi ... kita makan siang berdua saja, Ra."


Syakil menggosok hidungnya, berusaha tenang dan tidak terlihat gugup di hadapan istrinya. Akan tetapi, semakin Syakil berusaha semakin dia merasa panik seolah diterkam keadaan.


"Kenapa nggak jadi?"


"Hm restorannya tutup," jawab Syakil sekenanya padahal alasannya bukan itu.


Amara tidak bertanya lagi, akan tetapi pulangnya Syakil membuatnya merasa lebih baik. Apalagi ketika Syakil menyeka sudut matanya.


"Kamu nangis?"


"Nggak, kelilipan."


Jawaban yang berhasil membuat pria itu mengerutkan dahi, dari warna hidungnya yang kini memerah jelas saja Amara menangis. Entah apa alasannya hingga wanita itu benar-benar mengeluarkan air mata.


"What wrong, Honey? Kamu jangan bohong, Ra."


Meski jiwanya dibuat seakan gila perkara pisang tersebut, Syakil kembali bisa menguasai dirinya dan menjadi figur suami di saat istrinya begini.


"Aku cuma takut kamu bukan makan siang, tapi makannya yang lain," tutur Amara menunduk dan dia sedikit malu mengutarakan jika dia takut kehilangan sebenarnya.


"Makan yang lain gimana?" Syakil menarik sudut bibir, dia sudah dewasa dan hal semacam ini dapat dia mengerti meski Amara tidak mengatakan yang secara gamblang.


"Ya itu ... zaman sekarang laki-laki banyak bermain curang di belakang istrinya, dan kam_"


"Astaga, Amara ... untuk apa aku melakukannya? Sudah hampir punya bayi masih berpikir main gila? Kalau memang aku mau sebelum aku menikahi kamu aku bisa lakukan, Sayang." Syakil mengerti kekhawatiran Amara, mungkin istrinya kebanyakan nonton televisi hingga otaknya terkontaminasi begini.


"Bener kamu nggak begitu?" Syakil mengangguk, memang nyata dia tidak begitu mau bagaimana lagi.


"Hm, kalau sampai aku menyimpang sedikit saja kamu bebas mau menghukumku dengan cara apapun," ungkap Syakil tanpa pikir panjang demi membuat istrinya lebih tenang.


"Apapun?" tanya Amara menekan setiap kalimat sembari menatap mata Syakil dalam-dalam yang kemudian berpindah menatap pisang yang ada di hadapannya.


Gleg


Lagi-lagi Syakil menelan salivanya dan ngilu yang tiba-tiba mengalir kemudian berpusat di inti tubuhnya. Pria itu menarik napas panjang kemudian menggigit bibirnya.


"Iya, apapun." Keputusan yang sangat-sangat menentukan bagaimana nasib Juno jika dia berani macam-macam nantinya.


-Tbc-


Jan lupa ntar malem stor votenya pasukan Duta Minyak Angin 😱