
Aku mencari beberapa referensi di internet tentang desain gaun yang sedang trend. Ada sebuah gaun moderen yang menarik perhatianku, nuansa moderen dengan kain warna ungu yang berarti anggun dan dihiasi beberapa gliter dan renda. Baiklah ini cukup indah namun terlalu biasa bagiku. Aku akan membuat sebuah desain sederhana namun berbeda yang akan membuat semua mata kagum saat melihatnya.
Para wanita kaya menyukai gaya anggun, namun kalangan muda yang menghabiskan uang mereka lebih banyak, akhirnya aku menemukan sebuah ide.
Aku mengambil buku gambar, pensil dan penghapus. Aku mulai memberi beberapa coretan garis untuk membuat dasarnya.
Setelah hampir seharian desain itu terselesaikan.
Sebuah gaun yang pendek dibagian depan dan bagian belakang yang cukup panjang dan menyentuh lantai, dengan renda di pinggang dan kain menyilang di leher.
Aku menjual hampir semua pakaian mahalku, beberapa ada yang masih baru. Aku menjualnya untuk membeli bahan kualitas bagus.
Aku memerlukan 1 bulan untuk menyelesaikannya. Beberapa kali Chriss menelfon dan bertanya bagaimana kabarku sebagai Nona Maureen. Karena aku sendirilah Nona Maureen itu, aku tak terlalu silut menjawabnya. Hanya saja aku menambahkan beberapa kalimat dan tidak menjelaskannya secara detail karena itu bisa menjadi titik lemahku.
Setelah 1 bulan aku menyelesaikan gaunku. Aku cukup merasa puas dengan karyaku. Tak sia-sia aku mengabiskan malamku untuk lembur mengerjakannya. Aku merubah beberapa desain yang menurutku kurang bagus.
Sebuah gaun yang kupajang di manequin. Gaun berwarna merah menyala yang mengartikan semangat dengan kain jaring hitam dengan gaya klasik yang kuhiasi dengan gliter berwarna emas yang mengartikan kemewahan. Tak lupa aku memasang sabuk dengan kain polos berwarna emas dan kubentuk pita disebelah kanan. Bagian bahu sedikit kurubah, pertama hanya kain menyilang. Kini menjadi sebuah renda berwarna merah menyala yang hampir membentuk bunga melintang dari sudut kanan depan ke sudut kiri belakang. Bagian rok kubuat kain berlapis agar memberi kesan anggun saat digunakan berjalan. Rok bagian depan sengaja kubuat pendek, hanya setinggi diatas lutut. Aku buat tail dress. Bagian belakang kubuat agak panjang dan menyeret dibawah sekitar 30 cm.
Aku mencampur 2 gaya, aku mengkolaborasikan gaya Klasik dan Moderen
Karena kali ini aku membuat gaun tanpa model akhirnya, aku menggunakan tubuhku untuk referensi ukuran. Untungnya aku memiliki ukuran tubuh ideal serta bentuk tubuk bagus. Mungkin ini juga efek aku sering mengikuti kelas bela diri dulu. Tinggiku 165 cm dengan berat 47 kg. Pinggangku cukup kecil. Jadi akan menjadi ukuran ideal untuk wanita lain.
Aku beristirahat dan tidur seharian dikamar untuk mengisi energiku kembali yang sudah kugunakan sepenuhnya untuk membuat gaun itu.
"Angel, kenapa kau tak bilang pada ayah kalau kau butuh uang untuk membeli bahan gaun itu?" tanya ayah angkatku
"ayah, harga bahan-bahan itu tidak murah, aku membeli kualitas terbaik untuk menjualnya dengan harga mahal. Lagipula aku tak terlalu membutuhkan pakaian mahalku itu, itu terlalu banyak" jawabku
"aku sungguh beruntung bertemu Putri sebaik dirimu" sanjung ayah angkatku
"hahahha.... Ayah bisa saja, ini karena sejak kecil aku diajari oleh bi Sumi untuk selalu hidup sederhana. Dia pembantuku juga ibu asuhku, ia yang selalu merawatku sejak kecil. Sejak aku kecil, ayahku selalu sibuk dengan kantornya. Setelah kematian kakak aku semakin tak pernah diperhatikan lagi" ucapku sedih
"tak apa putriku, lupakan itu semua. Biarkan dirimu yang sekarang mebuat jalan takdirmu sendiri" saran ayah angkatku.
Kami hanya menghabiskan waktu akhir pekan dengan berbicara diteras ditemani makanan ringan.
Malamnya aku kembali kekamar menghadap laptopku. Apakah ada jadwal Fashion Show umum untuk kalangan menengah keatas.
Ya akhirnya, ada sebuah jadwal Fashion Show yang hanya akan dihadiri oleh kalangan orang elit. Bahkan desainer yang karyanya akan dutampilkan pun diseleksi. Inilah kesempatanku. Aku pun mendafatar dan besok aku akan pergi ke gedungnya untuk mengikuti seleksinya.
***///***
Esoknya aku pergi ke sebuah gedung pertemuan mewah dipinggir kota. Hanya orang dengan undangan yang bisa masuk kedalamnya. Ternyata desainer diseleksi dengan pertimbangan Ijazah terakhir, sertifikat dan pengalaman. Untung saja aku membawa semua itu saat pergi dari rumah. Tentu saja sertifikatku satu meja sendiri karena banyak lomba yang kumenangkan di Swiss. Aku langsung lolos seleksi. Aku diberi sebuah Undangan dengan amplop emas dan tulisan berwarna silver. Baiklah dunia inilah jalanku. Inilah kesempatanku. Kenzo, tunggu saja aku.