
Bukannya aku mau menolak jika hanya makan dikantor, hanya saja aku merasa sedikit risih saat dilihat para karyawan
"tenang saja" ucap Kenzo
Click....
Kenzo menekan sebuah remote dan kaca itu berubah menjadi buram.
"nah gimana? Sekarang udah gak ada yang liat kan?" tanya Kenzo
"hehe iya, makasih ya" ucapku
"duduk sini" ajak Kenzo
Sebuah sudut ruangan dengan sofa empuk dan meja yang menghadap keluar. Pemandangannya sangat indah karena perusahaanku sangat tinggi dan kantorku serta kantor Kenzo berada dilantai teratas.
"gimana? Suka nggak?" tanya Kenzo
"hum. Indah sekali dan wah enak sekali rasanya bisa duduk dengan santai. Sudah lama aku tak seperti ini" ucapku
"maka sekarang nikmatilah. Omong-omong, kenapa kamu tadi tanya masalah keluarga Theo?" tanya Kenzo
"hum gimana ya, susah jelasinnya" ucapku
Click...
Kenzo kembali menekan sebuah remote.
"nih sudah, aku sudah membuat kacanya tidak tembus pandang dan sekarang ruangan ini juga kedap suara" ucap Kenzo
"hum gimana ya. Aku agak gimana gitu mau jelasinnya" ucapku
"kenapa sih? Jujur aja gak papa. Kan ke aku, bukan orang lain" yakin Kenzo
Tak... Tak... Tak....
Jari telunjukku mengetuk-ngetuk meja seperti orang bingung. Lalu aku menghela nafas panjang sebelum berbicara.
"huh, jadi penyebab mereka mendapat masalah seperti itu semuanya karena aku" jelasku lirih
"apa? Beneran?" tanya Kenzo
"hehe iya" jawabku malu
"yakin?" tanya Kenzo
"iya, kenapa? Kamu gak suka sikapku yang kayak gitu ya? Aku terlalu kasar ya jadi cewek?" tanyaku
"bukan begitu, tapi apa alasannya?" tanya Kenzo
"aku gak suka mereka, lagian mereka juga berusaha banget buat rebut kamu" ucapku
"eh, kenapa mukamu memerah?" tanya Kenzo
"eh tidak-tidak" ucapku
"jelaskan? Gak mungkin cuma karena itu" gertak Kenzo
"ya gak suka aja. Ya boleh punya ambisi punya kemauan tapi juga liat-liatlah kondisinya. Gak usah sampek jual diri juga, perasaan aku yang cewek juga kalau punya kemauan juga gak ngejual harga diri aku. Aku aja yang jadi cewek merasa gak semurah mereka" jelasku
"iya juga sih, tapi gimana kamu bisa ngelakuim itu semua?" tanya Kenzo
"yah kamu lupq ya, aku ini siapa. Didunia bisnis maupun didunia mafia" ucapku
"iya juga sih ya, kadang aku sendiri sebagai cowok juga merasa jijik sama miris ngeliat cewek kayak mereka" ucap Kenzo
"tanya apa?" tanya Kenzo
"kenapa sih, rasanya kayak setiap saat kamu selalu bawa cincin pertunangan kita? Apalagi kalau pas aku gak make" tanyaku
"ya aku selalu siap mengejar dan mengunggu kamu sampai kapanpun. Aku sendiri juga bukan Tuhan yang bisa tau kapan kamu bisa nerima aku lagi. Jadi ya aku cuma bisa berusaha sama doa. Jadi ya hampir tiap saat aku bawa cincin kamu kalo pas nggak kamu pake. Lagipula cincin itu juga jadi batasan buat aku" jelas Kenzo
"batasan?" tanyaku
"iya lah, tiap kali liat cewek lain aku langsung liat cincin kamu dan inget kamu" jelas Kenzo
"oh jadi kalo kamu gak bawa cincinnya juga masih berani lirik cewek lain?" tanyaku kesal
"eh eh bukannya gituu. Maksud aku tu........ " jelas Kenzo
"alah sudahlah, i dont care" jawabku kesal
Aku langsung makan dengan cepat sambil merasa kesal.
///***///
Di Rumah
21.00 PM
Ding dong... Ding dong...
Suara bel berbunyi, aku segera turun untuk melihat siapa yang datang.
"hai sayang" sapa Kenzo
"apa?" tanyaku ketus
"jangan nagmbek lah" bujuk Kenzo
"terserah aku dong" ketusku
"nih bunga, coklat sama kado (memberikan barangnya)" ucap Kenzo
"buat apa?" tanyaku
"udah, ambil aja. Aku paham kamu perlu waktu sendiri, aku pulang dulu ya. Jangan lupa maafin aku" ucap Kenzo
"apaan sih, dah sono pulang" ketusku
Duarr....
Aku membanting pintu karena kesal. Aku menuju kamarku dan membanting semua barang dari Kenzo tadi keatas kasur.
"huh apaan sih tu cowok. Dia pikir gue ni cewek apaan? Kasi ginian langsung gak marah" gerutuku
Lalu aku mencium bunganya dan menaruhnya diatas meja riasku. Aku juga melihat coklat yang diberikan Kenzo. Ah, aku tak sanggup jika menolak coklat. Semarah apapun diriku padanya aku tetap tak sanggup jika harus menolak coklat. Tak lama aku juga membuka sebuah kotak berwarna merah berukuran sedang.
Klotak... Klotak... Klotak...
Aku mengocok-ocok kotak itu.
"apa sih isinya, bikin penasaran aja" tanyaku
Aku membuka kotaknya dan ternyata berisi.......
"ya ampun inikan komik yang selama ini aku cari, darimana dia dapat. Trus ini juga novel favoritku, komedi romansa. Ah ini juga novel karya penulis favoritku, ah ada tanda tangan penulisnya. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam" ucapku kaget.
Aku melompat-lompat sendiri dikamar karena mendapat buku yang kusukai. Sebenarnya pria seperti apa dia ini, dia cukup mengesalkan dan suka membuatku marah. Tapi jika seperti ini caranya, bagaimana aku bisa marah padanya. Dia pintar membuatku marah juga bisa membuatku senang. Ah, aku sungguh mencintainya.