My Mysterious Future Wife

My Mysterious Future Wife
Pembalasan



Setelah aku lari dari Kenzo aku pergi dan mengelilingi markas, untuk menghafal setiap sudut ruangan, namun aku terhenti di sebuah lorong saat ada orang yang memanggilku.


"Angel" panggil Chriss


"ya" aku berbalik


"kau bisa bergabung sekarang, namun aku peringatkan kau untuk tidak memasuki sebuah ruangan diujung lorong sebelah kiri" ucap Chriss tegas


"baiklah, tapi boleh aku tau kenapa" tanyaku


"maaf itu pribadi, aku tidak bisa mengatakannya. Baiklah aku menunggumu 5 menit lagi di aula utama, aku akan memperkenalkanmu pada para anggota lainnya" ucap Chriss


"baiklah, aku akan datang" jawabku.


Setelah itu aku pergi ke toilet untuk membenarkan pakaian dan rambutku. Lalu setelah selesai aku pergi ke aula utama, disana sudah terdapat banyak anggota mafia Naga Darah.


"hai semua saudaraku, aku perkenalkan pada kalian anggota baru kita, nona Valerie. Dia adalah tangan kananku, dia memiliki IQ yang cukup tinggi jadi kalian jangan coba menipunya, karena dia sangat cerdas. Posisi pengatur strategi akan sangat cocok untuknya. Silakan memeperkenalkan diri nona Valerie" ucap Chriss tegas.


"hai kalian semua, perkenalkan namaku Angelica Valerie, panggil saja Angel" ucapku


"bailklah kalian semua sudah mengetahuinya, baiklah ada yang ingin kau sampaikan nona Valerie" tanya Chriss


Mataku terbelalak melihat ke arah pojok kanan, disana berdiri. Ya ada seorang pria yang berdiri sendiri didepan segerombol orang. Kemungkinan orang itu adalah ketuanya.


"oh iya, kau paman yang ada di pojok di depan kemarilah" ucapku


"wah beraninya dia memanggil jendral seperti itu" bisik anggota lain


"ya nona" jawab pria itu sambil menunduk.


"tatap mataku sekarang" jawabku tegas membentak


Pria itu mengarahkan pandangannya padaku


"aku jendral disini, aku yang memimpin untuk menyerang suatu kelompok" jawab sombong


"woah, jabatanmu lumayan tinggi ya. Tapi kemampuanmu kurang. Kau terlalu lemah untuk wanita. Kau terlalu mudah tertipu dengan kecantikan wanita. Kau begitu sangat mudah dikelabuhi. Ketika bertarung kau harus waspada siapapun lawanmu paman sayang" jawabku merayu.


"wah beraninya dia merendahkan jendral" bisik anggota lain


"jangan begitu, katanya saat dia datang pagi ini dia berhasil melawan Jendral hingga jendral jatuh tersungkur. Bahkan dia mampu menggunakan jurus kunci yang sangat sulit, bahkan Jendral pun sampai tak bisa bergerak dibuatnya" jawab anggota lain


"kalian jangan membicarakanku dibelakang. Daripada bisik-bisik dibelakang, lebih baik kalian kemari temani aku berbicara disini" jawabku lembut


"ti..tidak nona Valerie. Maaf" jawab anggota yang bergunjing


"baiklah pertemuan selesai, aku harap kalian bisa adaptasi dengan nona Valerie" ucap Chriss tegas.


Ya memang saat aku memasuki dunia gelap itu aku membuat semua orang terkagum saat melihatku. Namun perjuanganku tak hanya akan sampai situ saja. Aku akan berjuang sampai aku memegang bendera kemenangan di garis akhir.


Saat pertemuan itu selesai aku bergegas untuk pulang.


Saat sampai dirumah aku segera menghapus riasanku.


"oh Ya Tuhan, ini pertama kalinya aku memakai riasan setebal ini" ucapku sambil melihat wajahku di cermin.


Aku segera bergegas mandi. Setelah mandi aku membuka koperku.


"ahh... Untunglah aku membawa laptopku, jadi aku bisa merencanakan langkahku selanjutnya"


Aku memandang laptop dan berpikir sampai larut malam.


Akhirnya aku mengambil keputusan, aku akan membuat perusahaan menggunakan nama asli ku. Putri dari Tuan Maureen. Aku akan membangun perusahaan yang melebihi perusahaan Kenzo. Memang menurut orang-orang itu mustahil. Membangun perusahaan besar dalam waktu yang singkat. Namun aku tau, Tuhan kan memberikan jalan pada hambanya yang mau berusaha.


Aku tidak pergi ke markas selama beberapa minggu. Namun saat semua orang pergi, saat aku berkeliling aku memasang CCTV disetiap sudut ruangan. Aku menyambungkannya ke laptopku, jadi aku bisa mengawasi tanpa harus datang kesana. Chriss pun juga mengizinkanku untuk dirumah saja. Ia hanya akan memanggilku saat ada tugas. Kamipun sepakat.