My Mysterious Future Wife

My Mysterious Future Wife
Senyum



Kami memakan makanan kami dengan santai dan menikmatinya. Namun Kenzo terkadang juga melihatku hingga berhento makan.


"kau kenapa?" tanya Kenzo


"entahlah, aku hanya ingin memandang wajahmu dan berharap wajah itu tak akan pernah berpaling dariku seumur hidupku" ucap Kenzo


Aku hanya terdiam dan tersenyum mendengar perkataan Kenzo. Aku sebenarnya tidak menyimpan perasaan apapun terhadap Kenzo kecuali cinta. Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya dan menua bersama Kenzo sambil menikmati indahnya dunia. Namun kehidupanku tidak sesederhana itu. Masih banyak orang yang membutuhkanku diluar sana. Ingin rasanya kembali kesisi Kenzo, namun aku harus meyakinkan diriku sendiri terlebih dahulu, mengahalau semua rasa takut dan semua kekhawatiran.


"apa kau tak berniat menyetujui kerja sama geng kita?" tanya Kenzo


"jangan disini?" ucapku


"tenanglah, aku disini. Lagipula ini tempat umum dan cukup ramai hingga aku merasa tidak terlalu nyaman lagi. Tak ada yang akan menyerang kita disini" ucap Kenzo


"huh, baiklah. Tapi bisakah kau jawab dulu pertanyaanku dengan jujur" ucapku


"oke baiklah? Ada apa?" tanya Kenzo


"siapa pemimpin gengmu yang sebenarnya. Jawab jujur!" gertakku


"huh baiklah. Akulah pemimpinnya" ucap Kenzo


"kenapa kau menyembunyikannya?" tanyaku


"yah, aku tak mau identitasku terekspos. Aku tak mau ambil resiko. Lagipula aku cukup menikmati identitasku sebagai asisten didunia itu. Aku hanya akan muncul dan memperlihatkan identitasku yang sebenarnya pada saat tertentu saja" ucapku


"yah seperti tebakanku" ucapku


"apa kau sudah tau? Lalu kenapa kau tanya?" ucap Kenzo kesal


"yah, aku hanya mau memastikannya darimu dan mendengarnya darimu secara langsung" ucapku


"kenapa?" tanya Kenzo


"entahlah, rasanya lebih menyenangkan" ucapku


"jangan-jangan sekali lagi kau naksir aku ya?" gurau Kenzo


"dih, narsistik banget sih. Udah yuk, kita turun" ucapku


"baiklah" ucap Kenzo


Kenzo membayar semua makanan kami dan turun keparkiran. Aku melihat asistenku didalam mobil menungguku.


"ayok" ajakku


"kemana kali ini?" tanya Kenzo


"jalan saja sesuai arahanku" ucapku


"huh aku merinding" ucapku


"kenapa, aku tak akan membunuhmu. Terkecuali kalau kau selingkuh lagi" gurauku


"wah begitu ya. Berarti kita pacaran lagi nih" ucap Kenzo


"ih, siapa bilang" ucapku


"katanya kalau 'selingkuh lagi'. Kan aku bisa selingkuh kalau aku punya pacar. Sedangkan yang mengancamku tadi cuma kamu. Berarti kamu pacarku dong" jelas Kenzo


"eh um. Ayo jalan" ucapku


"kenapa wajahmu memerah?" tanya Kenzo


"ayo jalaaann.." ucapku


"hahahaha, baiklah" ucap Kenzo


Kami berjalan dikota dan Kenzo berjalan sesuai arahanku. Kami berhenti disebuah bangunan yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar.


"ayo turun" ucapku


"ini kemana?" tanya Kenzo


"bersenang-senang lagi" ucapku


"ha? Disini?" tanya Kenzo


"apa yang salah. Ayo masuk" ajakku


Kami berduapun masuk dan menemui ibu pengasuh. Yah, itu adalah panti asuhan yang sering aku kunjungi.


"selamat siang buu.... " sapaku


"Angel..... " ucap ibu panti


Ibu panti pun berjalan menuju diriku dan memelukku.


"lama sekali tak datang. Anak-anak semua merindukanmu. Dan sekarang kau jadi makin cantik ya. Lupa dengan kamu ya?" gurau ibu panti


"hahahaha ibu bisa saja, enggak dong bu. Mana bisa saya lupa, saya hanya agak sibuk bu" ucapku


"baiklah, ayo masuk. Dan siapa pria tampan itu. Pacarmu ya?" tanya Ibu Panti


Kenzo pun berjalan dan menyapa ibu panti.


"perkenalkan nama saya Kenzo bu" sapa Kenzo


"oh hai nak. Kamu sangat tampan, kamu pasti pacarnya Angel ya" ucap ibu panti


Mataku pun terbelalak kaget karena ibu panti mengatakan itu.


"kau sangat beruntung mempunyai pacar sebaik Angel" ucap ibu panti


"hahaha, ibu bisa saja. Dimana anak-anak bu? Saya rindu dengan mereka" tanyaku


"oh, mereka dibelakang. Coba kau lihat. Pasti mereka sangat senang" ucap ibu panti


"baiklah bu, Kenzo kau ikut tidak" ucapku


"ah aku nanti menyusul" ucap Kenzo


"baiklah, aku kebelakang dulu ya" ucapku


"oke" ucap Kenzo


Aku berjalan menuju halaman belakang, disana anak-anak yatim piatu sedang bermain. Aku menyapa mereka.


"hai anak-anak" sapaku


Anak-anak pun berlari menuju diriku dan memelukku.


"hei pelan-pelan, nanti jatuh" ucapku


"aku sangat kangen kakak. Kok lama banget gak kesini kak? Lupa sana kita ya kak?" tanya salah satu anak


"mana mungkin bisa lupa sama anak-anak imut dan ganteng kayak kalian. Kalian lagi main ya. Udah belajar?" tanyaku


"udah dong kak. Pake buku yang kakak kasih" ucap anak-anak


"oh begitu ya. Beneran belajar?" tanyaku


"iya dong kak" ucap anak-anak


"hari ini ujian ya" ucapku


"kok ada ujiannya sih kak. Kayak sekolah beneran aja" ucapku


"iya dong. Biar kakak tau kalian belajar bener atau enggak. Nanti yang bisa kakak kasih hadiah loh" ucapku


"beneran kak?" tanya anak-anak antusias


"iya dong, kakak kasih kalian waktu 5 menit ya belajar. Nanti kakak kasih soal. Yang bisa jawab angkat tangan ok. Tapi ingat, jangan berebut" ucapku


"ok kak" ucap anak-anak


///***///


Disisi lain


"kau sungguh beruntung nak mendapat pacar sebaik Angel" ucap ibu panti


"iya bu, aku benar-benar beruntung. Entah kelakuan baik apa yang kuperbuat hingga tuhan mengirim malaikat sempurna sepertinya kepadaku" ucap Kenzo


"Angel hanya dingin dari luar. Namun sebenarnya hatinya sangat rapuh" ucap ibu panti


"maksud ibu?" tanya Kenzo


"yah, Angel mulai kesini sejak SMP. Dia selalu kesini saat luang dan hanya sendiri. Kadang ia menceritakan semua keluh kesahnya padaku. Tak jarang ia memberikan bantuan seperti uang, makanan, buku, pakaian dll" ucap ibu panti


"benarkah? Dia benar-benar malaikat" ucap Kenzo


"yah begitulah dia. Walau dia kadang sedikit ceroboh, tegas dan terlihat galak, namun sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik. Dia hanya menginginkan kehangatan sebuah keluarga. Kami sangat sedih saat tau bahwa ia dikirim kuliah oleh ayahnya keluar negeri, walau begitu ia masih sempat menyuruh orang untuk mengirimkan uang untuk panti ini" ucap ibu panti


"benarkah?" tanya Kenzo


"ya begitulah. Memang kadang dia memang sedikit nakal namun sebenarnya ia anak yang konsisten, walau tidak disiplin. Kadang aku sangat sedih saat mengingatnya. Bagaimana bisa Tuhan memberikan jalan hidup seberat itu pada gadis sebaik dirinya" ucap ibu panti


Ibu panti terus membicarakan diriku dengan Kenzo sambil melihatku dari jauh.


///***///


Aku memanggil asistenku dan semua hadiah yang kubeli tadi diturunkan.


"ok baiklah, yang bisa jawab angkat tangan. Kalau benar kakak bakal kasih hadian buat kalian" ucapku


"oke kak" semangat anak-anak


Kami melakukan tanya jawab. Dan mainan serta alat tulisnya hampir habis. Setiap anak yang menjawab dengan benar akan kusuruh mengambil sendiri hadiah yang mereka inginkan. Namun aku terpaku melihat seorang anak laki-laki yang duduk diam termenung didekat bunga dan menyendiri.


"Alfi siapa dia?" tanyaku


*Alfi adalah anak yatim piatu paling tua disini.


"oh dia? Namanya Alvaro. Dia baru pindah kesini sekitar 1 minggu. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dan saudaranya tak ada yang mau merawatnya dan malah mengirimnya kesini" ucao Alfi


"berapa usianya? Kelihantannya masih sangat kecil" ucapku


"usianya 5 tahun. Dia anak yang sangat pendiam dan dingin, dia agak susah bergaul dengan anak yang lain. Jika ada waktu luang dia hanya akan duduk sendirian. Bahkan ibu panti pun kadang kesulitan saat mengajaknya bicara" jelas Alfi


"kenapa anak lain tidak mengajaknya bicara atau bermain?" tanyaku


"entalah, anak lain merasa takut saat melihatnya. Karena kadang Alvaro memiliki tatapan yang sadis" ucap Alfi


"oh begitu yaa... Yasudah kalian main dulu ya. Oh ya bilang ke paman yang itu suruh kasih nasi kotaknya. Kalian makan ya, ingat jangan berebut. Kalian semua saudara" ucapku sambil menunjuk asistenku


"baik kak" ucap Alfi


Aku perlahan mendatangi Alvaro dengan sebuah mobil-mobilan yang kusembunyikan.


"hai...." sapaku


Alvaro hanya menengok kearahku lalu melamun lagi.


"aku Angel, kau Alvaro kan" ucapku


"hum ya" jawab Alvaro


"bolehkah aku memanggilmu Varo?" tanyaku


"ya" jawab Alvaro


"kenapa kau tidak ikut main?" tanyaku


"aku tidak mau" ucap Alvaro


"lalu kau mau apa?" tanyaku


"aku mau ayah dan ibu" ucap Alvaro


Aku terdiam sesaat dan hampir meneteskan aira mata. Aku teringat pada ayahku yang selalu jahat padaku dan ibuku yang sudah tenang disurga. Lalu Alvaro menengok padaku dan mengusap air mataku.


"maaf kak, aku tak berniat membuatmu menangis" ucap Alvaro


"ah tidak, aku hanya. Um mataku kemasukan debu. Apa kau rindu pada orang tuamu?" elakku sambil mengusap air mata


"iya aku sangat merindukannya. Biasanya jika jam segini mereka mengajakku bermain" ucap Alvaro


"hahaha. Kau tak sendiri, aku juga merindukan ayah dan ibuku" ucapku


"memangnya ayah ibu kakak dimana?" tanya Alvaro polos


"ayah kakak pergi jauh dan tak akan pernah kembali pada kakak. Sedangkan ibu kakak sedang melihat kakak sambil tersenyum dari surga" ucapku


Aku benar-benar tak bisa mengontrol diriku sendiri. Air mataku tak henti-hentinya mengalir hanya karena sebuah memori.