My Mysterious Future Wife

My Mysterious Future Wife
Indah



Hari itu berakhir dengan sangat indah, aku menikmati hari itu dengan semua keluargaku. Seolah semua rasa sakitku selama ini terbayarkan. Aku hanya bisa berharap kebahagiaan ini tak akan pernah berakhir.


///***///


3 Hari setelah menikah


3 hari setelah menikah, kami mengunjungi rumah kakek dan nenek Kenzo lalu mengunjungi apartemen mama dan kakekku.


///***///


Di Apartemen Mama


"loh, menantu mama datang" sapa mama


"ma... Kok aku nggak dianggep sih" kesalku


"oh iya, anak mama juga datang" sapa mama


"telat" kesalku


"iiii, cucu mama yang imut disini. Ya ampuunnn... Mama gemes banget (mencubit pipi Alvaro)" ucap mama


"aduuhh.... " geram Alvaro


"yah, sakit ya.. Maafin nenek ya, ayo masuk (menggendong Alvaro)" ucap mama


"ayo masuk.. " ucap mama


Kamipun masuk kedalam.


"dimana kakek ma?" tanyaku


"biasa.. Diruang baca" ucap mama


"oh.. Alvaro, mulai sekarang panggil nyonya cantik ini nenek yaa... " gurauku


"ahh aku jadi malu" ucap mama


"nenek" panggil Alvaro


"wahhh. Kamu benar-benar imut. Rasanya pengen jadiin boneka aja" gemas mama


"ma.. Dia anakku" jawabku datar


"oke-oke" jawab mama


"kenapa rasanya aku seperti tak dianggap ya" lirih Kenzo


"kata siapa?" tanyaku


"eh, kamu denger ya" tanya Kenzo


"kamu itu juga penting, tapi cuma aku yang boleh cubit pipi kamu. Yang lain gak boleh" ucapku


"jadi pengen nyium" goda Kenzo


"eh, anu. Alvaro, mama ayok main" hindarku


"dasar.. " geram Kenzo


Kami bermain bersama, lalu ponselku berbunyi.


Kring... Kring... Kring...


"ada apa?"


"bos, gadis bernama Laurena itu sudah ada ditangan kita. Mau kita apakan?"


"humm, moodku sedang bagus. Hukuman yang ringan saja lah. Cambuk tangannya 10x. Tetap jangan beri identitas kita, lalu jangan tinggalkan bukti apapun. Oh iya, kamu apain kek, tampar apa tendang apa apain terserah. Kalo udah puas pulangin"


"oke bos"


Tut... Aku mematikan ponsel.


"tumben banget, boss lagi baik" ucap asistenku


///***///


"telfon siapa sayang?" tanya Kenzo


"ah enggak. Biasa, urusan mafia" ucapku sambil membelakangi


Seketika Kenzo berdiri, memelukku dari belakang dan melingkarkan tangan kekarnya dipingganggku.


"jangan gini ah" ucapku


"kamu sih, kalo ditanya tu dijawab. Kalo diajak ngomong, natap mata yang ngajak omong dong" ucap Kenzo


"hehe, iya-iya maaf. Udah lepasin, malu diliat mama sama Alvaro" ucapku


"mereka main di taman belakang. Mana liat kita" ucap Kenzo


"ahh, lepasinn... " geramku


"apa sih... " ucapku


"imut banget sih jadi cewek" ucap Kenzo


Aku membalikkan tubuhku dan menghadap Kenzo.


"kenapa? Gak boleh. Udah ah, kamu mau laper gak? Mau makan apa, aku masakin" ucapku


"humm... Gimana kalo... Makan kamu" bisik Kenzo


Deg... Seketika pipiku memerah.


"hih.. Kamu mah, ini dirumah mama loh" ucapku


"tapi kan mama gak ada, mama gak liat" ucap Kenzo


Kenzo masih memegangi pinggangku. Perlahan wajahnya mendekat padaku hingga aku bisa merasakan nafasnya. Wajahnya mendekat hingga hidung kami bersentuhan.


"kamu mau apa.. " tanyaku


"apa lagi. Cium dikit boleh lah" goda Kenzo


Pipiku memerah tapi juga tersenyum. Wajah kami mendekat, kami hendak berciuman namun...


"Angel... Kemar... " ucap Kakek


Kami terkejut kakek membuka pintu dan melihat kami. Kami reflek terkejut, aku melompat mundur dan mendorong Kenzo sedangkan Kenzo langsung lompat dan membalikan badan. Namun dahinya terantuk tembok.


"aww.... Aduhh.. " keluh Kenzo


"ah maaf, aku mengganggu kalian. Kalian bisa lanjutkan" ucap kakek


"ah ti tidak kakek. Silakan" ucap Kenzo


"ah ti tidak, aku mau ketaman bertemu cucuku" ucap kakek


Kami menunggu Kakek dengan wajah tegang tanpa bergerak. Setelah kakek pergi kami menghela nafas.


"huh... " helaku


"huh.. Akhirnya.. Aww (mengusap dahi)" keluh Kenzo


"ah maaf. Sakit ya... (mengelus dahi Kenzo)" ucapku


"ahh.. Iya agak lama, siapa tau sakitnya ilang" goda Kenzo


Tuk... Aku menjitak dahi Kenzo.


"aduh sakit sayang.. Beneran" keluh Kenzo


"ah maaf. Lagian kamu sih, bercanda mulu" kesalku


"gimana? Lanjut?" tanya Kenzo


"ntar aja dirumah. Ayok pulang, aku masih malu" ucapku


"yahh... " keluh Kenzo


Kami berjalan mememui Mama dan Kakek yang sedang bermain bersama Alvaro.


"mah, kami pula dulu ya. Ayok Alvaro" ajakku


"yah.. Kok pulang, mama masih belum puas main sama cucu mama" kesal mama


"mah, udah mau sore" ucapku


"udah kalian pulang aja, jalan-jalan kek atau honey moon gitu. Terserah kalian mau jenput Varo kapan. Mengding cepetan buatin temen buat Varo, kasian nanti mainnya cuma sama kakek sama mamamu yang cantik ini. Alvaro biar sama mama, makanan sama pakaian mama yang urus. Dah, hati-hati dijalan. Dadah (mendorong kami keluar lalu menutup pintu)" ucap mama


" mah.. Mah.. " panggilku


"udah biarin aja" ucap Kenzo


"ih si mama ih.. Ketemu cucunya lupa sama anaknya" kesalku


"udah biarin aja, ini waktunya buat berdua oke" mesra Kenzo


"udahlah, aku mau pulang dulu. Mau mandi" ucapku


"yaudah ayo" ajak Kenzo


Kami pun pulang. Rumah baru kami adalah Rumah yang diberikan Kenzo saat membeli gaun desainku yang pertama. Cukup besar dan mewah dengan arsitektur rumah kaca yang mewah.


///***///


Di Rumah


"wah capek banget, pengen buru-buru tidur" ucapku


"ayok, kalo aku mah oke-oke aja" ucap Kenzo