
///***///
Besoknya
"Varo bangun, ayo bangun. Kamu kan sekolah" ucapku sambil membangunkan Alvaro yang masih tertidur.
"iya mii... " jawab Alvaro berat
"ayok mandi, nanti kamu telat masuk sekolah loh" ucapku
"hm hm... " jawab Alvaro sambil duduk
"sini mami bantu mandi" ucapku
"jangan" kaget Alvaro
"loh kenapa? Bukannya biasanya kamu seneng kalo mami bantu?" tanyaku
"mami didapur aja siapin makan Varo ya. Ga usah bantu Varo. Varo kam udah gede jadi bisa mandi sendiri. Lagian kasihan adik nanti kedinginan" ucap Alvaro memelas sambil mengelus perutku
"ihh, kakak udah perhatian aja sama adeknya" gurauku
"iya dong, nanti kalo adik udah besar kan bisa main sama kakak" ucap Alvaro
"loh, udah kakak adik aja manggilnya" gurauku
"iya dong, kakak harus baik sama adiknya" ucap Alvaro
"hehe, iya-iya. Tapi nanti kalo ada yang gak bisa, kakak panggil mami ya. Mami bangunnya kesiangan jadi gak masak banyak. Maaf ya" ucapku sambil mengelus kepala Alvaro
"ok mi, kakak mandi dulu ya dek" ucap Alvaro sambil mengelus perutku
Aku bergegas menuju dapur untuk memasak. Dirumah kami memang ada pembantu, namun hanya untuk bersih-bersih rumah. Untuk masak, masih tetap aku yang handle walau kadang dimarahi Kenzo karena tidak boleh terlalu lelah.
Sejak semalam aku masih marah pada Kenzo dan tidak berbicara padanya sama sekali. Saat semua selesai pas dengan Alvaro dan Kenzo yang datang. Karena kesiangan aku hanya masak nasi goreng dan telur saja.
"pagi mami" sapa Alvaro
"pagi juga kakak" sapaku
"pagi sayang" sapa Kenzo
Aku diam tak menjawab bahkan tidak memandangnya. Aku malah melihat Alvaro lalu tertawa.
"hahahahaha, ya ampu kakak" tawaku
"kenapa mi? Ada yang salah?" tanya Alvaro bingung
"sini mami benerin bajunya" ucapku pada Alvaro
Aku mendekat pada Alvaro dan membenarkan bajunya. Aku tertawa karena bajunya yang depan sangat rapi namun yang dibelakang keluar semua, almamater yang dipakainya pun juga tidak rapi dengan dasi yang salah ikat.
"kakak salah ya mi pake bajunya?" tanya Alvaro
"bukannya salah, tapi belum benar. Ini belum rapi" ucapku sambil tertawa
Dia bisa tertawa sesenang itu pada Alvaro. Tapi dia tidak malah tidak mau berbicara padaku bahkan memandangku pun tak mau. Apa dia semarah itu padaku? bisa-bisa malah aku yang nanti jadi cemburu-Batin Kenzo
Seperti biasanya. Aku kekantor, Kenzo kekantor dan Alvaro kesekolah. Siang harinya aku tetap kekantor Kenzo untuk makan bersama. Semarah apapun diriku ada Kenzo aku tetap tak bisa jadikan anak sebagai korban. Jika itu terjadi apa bedanya aku dengan ayahku yang dulu?
///***///
Di Kantor Kenzo
Seperti biasa aku berjalan menggandeng Alvaro masuk. Saat aku masuk semua orang membungkuk memberiku hormat. Ya, siapa yang tidak tau tentang diriku dan pernikahanku. Pernikahanku menjadi pernikahan paling megah dalan 5 tahun terakhir. Aku juga tertawa mengetahui itu, padahal kenyataannya pernikahanku itu bisa menjadi lelucon paling lucu sepanjang sejarah.
Bagaimana tidak? Kami yang menikah tapi aku sebagai pengantin wanitanya tidak tau kalau akan menikah.
///***///
Didepan Ruang Kenzo
Aku berlagak normal seperti tidak ada masalah dengan Kenzo saat ada orang. Aku membuka pintu dan melihat sekretarisnya sedang menyodorkan data pada Kenzo dengan sedikit membungkuk dan 2 kancing tertatasnya tidak dikancing kan. Alias sengaja 'memamerkan' dadanya.
Kaget atau tidak? Yah tidak lah, siapa yang terkejut kalau wanita murahan memamerkan tubuhnya?
"nona Catherine" panggilku dengan tenang
"ya?" kaget Catherine
"90, 80, 90" jawabku
"ha?" bingung Catherine
"lingkar dada, pinggang dan pinggulmu" jawabku santai
Catherine terdiam tanpa berbicara karena merasa kalah telak.
Bagaimana dia mengetahuinya-Batin Catherine
"kau bisa menjadi model. Kalau mau akan kucarikan agensi untukmu. Setidaknya kau akan dibayar untuk memamerkan tubuhmu tidak secara gratis memamerkan tubuhmu pada suami orang dan secara 'gra-tis' nona" ucapku sambil menekankan kata-kataku
Kezo hanya diam menahan tawa karena penghinaanku.
"baik nona" jawab Catherine
Aku langsung datang dengan kesal. Aku mendekat pada Catherine dan mencengkram kerahnya serta mengangkatnya tinggi hingga dirinya ikut sedikit terangkat.
"siapa kamu berani memanggilku nona ha? Bosan hidup? Panggil aku 'no-na mu-da Aileen' paham" bentakku
"sayang" panggil Kenzo
"diam atau kubunuh dia" ancamku
Srekkk.....
Aku merobek bajunya dan mendorongnya keluar.
"kalo mau pamer body sekalian. Tunggu aku di toilet khusus dalam 2 menit lagi. Jika kau tak ada, kau akam tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi" ancamku
Catherine lari ketakutan menuju toilet khusus dengan baju robek-robek. Aku kembali kedalam. Aku lupa kalau ada Alvaro didalam.
"sayang kenapa kau semarah itu?" tanya Kenzo
"diam" bentakku
Aki berjalan menuju Alvaro yang duduk disofa. Sudah 2 kali ia melihatku bertengkar dengan Kenzo dan Catherine. Aku duduk disampingnya dan mengelus rambutnya.
"kakak, kakak ga boleh tiru kayak tadi ya. Mami minta maaf ya, kamu jadi liat hal kayak gitu" ucapku menyesal
"gapapa mi, kakak tau kok mana yang baik mana yang buruk" ucap Alvaro
"kakak disini dulu ya makan sama papi, mami mau ke toilet bentar" ucapku
"ok mi, cepetan balik ya. Kakak mau makan bareng adik" ucap Alvaro
"ok" jawabku
Aku bergegas keluar untuk menyusul Catherine. Sedangkan Alvaro berjalan mendekat pada Kenzo.
"pi, mami kalo marah bisa segalak itu ya? kakak jadi takut" ucap Alvaro
"ha? kakak? siapa?" bingung Kenzo
"kakak itu aku, kan aku bentar lagi jadi kakak. Sekarang papi manggil Varo jadi kakak ya" ucap Alvaro
"ok" jawab Kenzo
"kenapa kakak jadi merinding inget mami marah tadi ya" bingung Alvaro
"mami kalo marah ya gitu. Kayak singa belum makan 1 tahun" ucap Kenzo
"masa sih pi" bingubg Alvaro
"iya, makanya hati-hati kalo dideket mami. Nanti dimakan haummmm" gurau Kenzo
"hahaha papi, kakak ga bakal deh buat mami marah. Selain karena takut, kasian juga mami kalo marah. Udah rawat adik didalam perut masih marah-marah" ucap Alvaro polos
"hmm.... " jawab Kenzo
Kenzo seolah tersadar dengan ucapan Alvaro. Memang benar juga. Aku sudah hamil tapi masih dibuat marah. Aku memang terhitung sabar karena masih sabar mengandung dan tiap kali ngidam aku pasti mencari sendiri kemauanku tanpa bilang Kenzo karena takut mengganggunya.
///***///
Di Toilet
Toilet itu memang khusus, hanya dipakai saat ada tamu atau hanya untuk pimpinan.
"hoe" panggilku
"astaga, apa maumu?" kaget Catherine
"bagaimana kalau kita bersaing secara adil?" tanyaku dengan nada mengejek
"maksudnya?" tanya Catherine
"aku tidak sebodoh dirimu j*lang. Bahkan IQ mu pun jauh dibawahku. Kau beruntung kuberi kesempatan bersaing. Kita bersaing secara adil untuk Kenzo, jangan gunakan cara murahan tadi. Aku jijik liatnya" ejekku
"kauu.... " geram Catherine
Bruk...
Aku melempar paper bag berwaran coklat kewajah Catherine.
"pakai itu! Itu jelas tidak murah, itu atasan keluaran terbaru Channel. Aku tidak mau kau merusak citra perusahaan suamiku. Jika kau menang aku akan melepaskan Kenzo...." jelasku
"baiklah aku setuju" jawab cepat Catherine
"huh, kau benar-benar bodoh. Bahkan aku belum menyelesaikan kata-kataku kau sudah menyela. Tapi ya bagaimana lagi, kata-kata tak dapat ditarik. Kalau kau menang Kenzo milikmu, kalau kau kalah kau akan kubunuh, atau setidaknya kau jadi budakku. Ok aku pergi" ucapku sambil melihat dengan tatapan membunuh
Catherine masih diam ketakutan dan gemetaran melihat tatapanku sambil melihatku perlahan menjauh.
JANGAN LUPA LIKE, COMMENT DAN VOTE 🙏