
Aku langsung menelfon asistenku didunia mafia dan menggunakan koneksiku untuk mencari informasi.
'cari informasi tentang kecelakaan ini, cari tau juga identitas pengemudi truknya. Kutunggu sampai besok, jika tidak kau tidak tau apa yang akan terjadi'
'baik bos'
Aku berencana untuk istirahat dan tidur. Namun aku ditelfon Chriss dan mendapat kabar kalau Kenzo sudah sadar. Seketika aku langsung menuju rumah sakit untuk kembali.
///***///
Dirumah Sakit
"bagaimana keadaanya kak?" tanyaku
"mulai membaik. Namun dari tadi ia hanya membicarakan Levi" jawab Chriss
"Levi? Siapa dia? Jelaskan padaku" bentakku
"dia adalah kakak sepupu dari Lisa. Dulu ia selalu mengejar Kenzo, namun Kenzo selalu menolaknya. Dari info rumah sakit, aku melihat kalau tadi Levi datang. Levi datang saat aku pergi mengurus obat. Namun kini semua ingatan Kenzo berubah. Menurutnya kini ia berpacaran dengan Levi" jelas Chriss
"who is her? How dare she play with my boy! Jika berani macam-macam, akan kupenggal kepalanya" gertakku
"te tenanglah Angel" gugup Chriss
Aku sesegera mungkin menelfon Bu Adele.
'cari info tentang Levi Theo. Kirim secepatnya'
'baik bu'
Aku menyuruh Chriss pulang untuk menemani Clarissa. Aku hanya diam. Menunggu Kenzo sadar kembali. Tak lama, Kenzo sadar kembali.
"Kenzo? Kau sudah sadar?" tanyaku
"siapa kau?" tanya Kenzo
"hah? Apa kau benar-benar lupa padaku?" tanyaku
"maaf, aku benar-benar tak mengenalmu" ucap Kenzo
Air mataku perlahan menetes. Aku dengan sabar menghadapi Kenzo tiap harinya. Membawa makanan kesukannya, menceritakan kisah kami dan melakukan banyak hal namun semua sia-sia. Kenzo hanya mengingat Levi, ia menganggap kalau Levi adalah calon istrinya. Entah apa kebohongan yang telah dibuat Levi. Aku merasa sedikit lelah, aku turun keluar rumah sakit untuk kembali keperusahaan sebentar mengurus beberapa hal. Namun saat aku akan kembali, ditaman dekat rumah sakit aku bertemu ayahku.
"Angel?" sapa ayah
"siapa kau?" ucapku dingin
"aku ayahmu, kau ini bagaimana?" ucap ayah
"ayah? Tapi kau tak pernah menyayangiku. Kau hanya memperhatikan perusahaanmu saja, kenapa saat kini aku sukses kau mendekatiku? Kau sungguh penjilat yang hebat" ucapku
"maafkan aku nak" ucap ayah
"maaf? Pikir, berapa kesalahanmu selama ini padaku?" bentakku
"maaf..... " ucap ayah
"jawab jujur, kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Jawab" teriakku
"maaf... "
"karena kau bukan anakku!" bentak ayah
"bukan anakmu? Apa buktinya? Apa alasanmu?" tanyaku
"saat ibumu mengandungmu, nenekmu mengatakan padaku kalau ia melihat ibumu bersama pria lain. Dia juga berkata, mungkin kau juga anak orang lain. Kau bukan anakku" jelas ayah
"mungkin? Kau dasarkan semua ini pada kata mungkin?" tanyaku
"itu memang benar" teriak ayahku
"tidak, pria itu adalah temanmu yah. Dia temanmu yang jadi dokter. Ia membantu ibu konsultasi karena saat akan melahirkanku ibu memiliki kondisi rahim lemah. Namun kau lebih percaya kata mugkin. Itu juga salah satu alasan mengapa ibu meninggal beberapa minggu setelah kau usir dari rumah" ucapku
"ti ti tidak, itu tidak benar" jawab ayah
"tidak, memang itu kebenarannya" bentakku
"apa buktinya? Dari mana kau tau" tanya ayah
"bagaimana kalau aku bilang, saat aku di Amerika aku bertemu kakek. Ya, ayah dari ibuku. Ia menceritakan semuanya. Namun kau hanya pria yang mudah ditipu" jelasku
"ba ba bagaimana mungkin? Itu bohong!" jelas ayah
Wushh..
Aku mengambil sebuah kertas dari tasku, aku melepar itu pada ayahku.
"lihat.. " bentakku
"a a apa, ti tidak mungkin?" gugup ayah
"apa yang tidak mungkin, aku memang anakmu. Itu hasil tes DNA kita. Jika kau ragu kita bisa tes DNA lagi" jelasku
"ma ma maafkan aku nak... " pinta ayah
"maaf? Berapa kali kau mencoba mencelakaiku?" ucapku
"maksudmu?" tanya ayah
"jangan pura-pura bodoh. Aku tau semuanya. Saat aku kecil, aku hampir tertabrak truk itu semua adalah perintahmu kan, namun akhirnya kakak yang tertabrak. Di Swiss kau juga masih mencoba membunuhku dan kini saat sukses kau mendekatiku. Mana hati nuranimu? Seekor harimau pun tak akan memangsa anaknya sendiri meski kelaparan. Namun kenapa kau begitu kejam sebagai ayah" ucapku
"maaf nak" ucap ayah
"maaf? Apa motifmu ? Apa kau sebenci itu padaku?" tanyaku
"aku hanya merasa tersiksa jika setiap hari melihat wajahmu. Parasmu yang cantik mengingatkanku pada ibumu yang cantik. Sekaligus mengingatkan perselingkuhannya" teriak ayah
"huh, kau pikir itu alasan yang cukup kuat untuk minta maaf? Maaf ayah, aku tak sepolos dulu" ucapku
Aku mengarahkan pistol kekepala ayahku. Aku berusaha menembaknya dan lagi-lagi aku tak sanggup melakukannya. Tuhan, kenapa aku tak sanggup melakukannya. Sedangkan ayahku hanya menangis menyesali perbuatannya.
"pergilah, aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Anggap saja ini keberuntunganmu yang kuberikan karena selama ini kau merawatku" ucapku dingin
"terima kasih nak" ucap ayah sayu
"dan satu lagi, aku bukan lagi putrimu. Kita tidak ada hubungan lagi. Aku tidak punya lagi marga Maureen. Sekarang pergi" bentakku
Ayahku perlahan pergi, aku berusaha menenangkan diri untuk tidak lemah. Aku berjalan perlahan menuju ruangan Kenzo sambil mengusap air mata yang terus mengalir.