My Mysterious Future Wife

My Mysterious Future Wife
Penjelasan



Aku langsung membawa Clarissa kerumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Lalu ia hanya diberi obat tidak disuruh rawat inap. Aku bersyukur.


"Angel ayo kita mampir ketaman sebentar saat pulang" ajak Clarissa


"mau ngapain sih Ca? Lu kan masih sakit" ucapku


"yah, gue bosen. Yah mau yah.... " bujuk Clarissa


"ya ya, taman mana?" tanyaku


"taman kota" ucap Clarissa


"ok" jawabku


Setelah berobat kami pergi ketaman seperti yang diminta Clarissa.


///***///


Di Taman


"Angel yuk duduk disana" ucap Clarissa


"kemana sih Ca, gue capek dari tadi lu ajak muter-muter terus" ucapku


"iya iya, noh duduk sana yok" ajak Clarissa


"ya ya" ucapku


Kami menghampiri sebuah bangku, aku melihat dari belakang ada seorang pria dibangku itu.


"mau kemana si Ca?" tanyaku


"noh, dibangku itu" ucap Clarissa


"mana, itu kan ada orangnya" ucapku


"ye, udah diem aja. Serahin semua ke gue" ucap Clarissa


"yeee, gayalu. Orang masih sakit juga" ucapku


Clarissa langsung berjalan dan langsung duduk dipinggir sisi lain bangku itu. Aku mengikutinya dari belakang. Saat aku melihat dari depan aku baru tersadar kalau pria itu adalah Kenzo.


"Kenzo.... " panggilku


"Angel... " ucap Kenzo


Aku bergegas berbalik badan untuk pergi tapi tangan Clarissa menarikku dan mencegahku untuk pergi.


"apa sih Ca.. Udah pulang yok" ajakku


"yee, orang baru sampe kok pulang. Duduk sini nih (nepuk bangku)" ucap Clarissa


"ah ogah ah" ucapku


"please dong, ya demi gue ya" ucap Clarissa


"ya ya serah, geser" ucapku sambil menggeser Clarissa


"ye, kok jadi disitu sih kaga disini" ucqp Clarissa


"udah lah, ssttt.... " ucapku


Seharusnya aku berada ditengah, disamping Kenzo tapi aku menggeser Clarissa hingga jadinya aku yang dipinggir.


"diem-diem ae, kaga ada yang mau ngomong ni?" tanya Clarissa


Aku dan Kenzo hanya saling melirik canggung.


"eh iya Ta, sebelum gue diculik lo mau ngomong apaan? Kayaknya penting banget" ucap Clarissa


"oh, waktu ituuu..... Oh iya gue inget, gue mau bilang kalo gue udah ketemu siapa penyebab kecelakaan Kenzo" ucapku


"benarkah? Jadi benar kalau kecelakaan itu ada yang ngerencanaain" ucap Clarissa


"iya bener" ucapku


"trus siapa pelakunya?" tanya Clarissa


"kau pasti tak menduganya" ucapku


"siapa? Lisa, Levi atau siapa?" tanya Clarissa


"huh, kau saja tak mengiranya... " ucapku


"siapa sih pelakunya?" tanya Clarissa


"pelakunya adalah...... Leo.... " ucapku


"apaa....... " ucap kaget bersamaan Kenzo dan Clarissa


"tapi apa motifnya hingga dia mencelakaiku?" tanya Kenzo


"aku tak tau, tapi pasti kita segera tau" ucapku


"apa salah Kenzo padanya hingga ia mencelakai Kenzo" ucap Clarissa


"entahlah, sabar sedikit lagi. Kita pasti akan tau" ucapku


Aku langsung mengambil ponselku dan menelfon bu Adele.


'halo boss, ada apa?'


'adakan pertemuan dengan grup Oliver besok secepatnya, dan kau atur jadwalku untuk itu'


'baik boss'


Aku hanya saling melihat dengan Kenzo dan merasa canggung. Sunyi, hanya itu kata yang menggambarkan suasana saat itu. Tapi aku merubahnya, aku bertanya pada Kenzo.


"Kenzo, bagaimana kau ada disana saat insiden tadi?" tanyaku


"oh, tadi aku melacakmu. Aku merasakan firasat tak enak jadi aku menyusulmu" jelas Kenzo


"cie yang udah tau kebenarannya... " ucap Clarissa


"apa maksudmu?" tanyaku


"ya, sebelum aku diculik, Kenzo bertanya tentang kalian berdua dulunya" ucap Clarissa


"oh begituuu, katanya ingat.... (melirik sadis)" ucapku


"eh aku benar-benar ingat, aku bertanya hanya untuk memastikan apa itu benar" jelas Kenzo


"ya ya, memastikan yaa... Tapi bagaimana kau bisa berdarah padahal kau tidak tertembak?" tanyaku


"yah, dilapisan terluar aku membuat satu lapisan lagi dan lapisan itu ku isi dengan air yang kuberi pewarna dan kuolah agar sedikit kental. Jadinya kayak darah deh" ucap Kenzo


"oh gitu, pinter ya sekarang kalo ngibulin orang" ucapku kesal


"eh nggak gitu juga, pelurunya itu kalau melest 2 cm saja aku jadi tertembak karena rompi yang kupakai hanya melindungi bagian depan" ucap Kenzo


"cie yang udah baikan" goda Clarissa


"yee, sapa yang baikan. Jangan ngarep baikan ma gue segampang itu" ucapku


"hahahaha, noh Kenzo perjuanganmu kurang keras nak hahahaha" ledek Clarissa


"ya ya, ledek aja gue terus" ucap Kenzo


"sumpah ngakak gue Hahahahahaha" tawa Clarissa


"udah kan Ca, yuk balik. Capek gue lagian besok ada kejutan" ucapku


"ok ok, yok balik" ucap Clarissa


"lah, la gue gimana?" tanya Kenzo


"lu disini aja, jadi penunggu taman" ucapku kesal


"Hahahahahaha, sabar ya Kenzo" ledek Clarissa


Aku berjalan kembali untuk mengantar Clarissa pulang.


///***///


Dihalam Rumah Chriss


"dah sono turun...." ucapku


"yee, kek ngusir aja lu" ucap Clarissa


"udah, turun. Jangan lupa istirahat. Diminum obatnya" ucapku


"yee iya iya" ucap Clarissa


"dah sono masuh gih" ucapku


"iya iya, bye Taa... " ucap Clarissa


"bye... " ucapku


Aku pergi meninggalkan Clarissa dan bergegas ke kantor.


///***///


Dikantor The Dimont


Aku berjalan masuk kekantor, tapi aku merasa aneh karena semua orang melihatku.


"apa yang salah sih sama gue... " ucapku sendiri


Lalu aku melihat ketubuhku.


"astaga... Bajuku penuh darah, haduuhh.. Gimana sih gue nil ucapku


Aku pergi bergegas menuju lift pribadi dan menuju ruang ganti pribadi yang ada dikantorku untuk ganti baju, untung disana juga tersedia kamar mandi jadi aku bisa mandi sekalian. Setelah mandi aku duduk dikantor dan memanggil Bu Adele.


'bu tolong masuk kekantorku sekarang'


'baiklah boss'


Tak lama Bu Adele masuk kekantorku.


"baik bu ada apa?" tanya Bu Adele


"kirimkan jadwalku besok" ucapku


"baik bu, ada lagi?" tanya Bu Adele


"tidak, eh tunggu siapkan ruangan kedap suara di kantor untuk pertemuanku dengan Tuan Leo besok" ucapku


"baik bu" ucap Bu Adele


"ok, kau bisa pergi" ucapku


"baik, saya undur diri" ucapku


Aku mengerjakan beberapa dokumen-dokumen tertentu perusahaan. Aku pulang dari kantor agak malam, sesampainya aku dirumah aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur tanpa melakukan apa-apa lagi dan langsung memejamkan mata tanpa ganti baju ataupun membersihkan diri, aku hanya merasa lelah atas apa yang terjadi hari itu.


///***///


Besoknya


Di Kantor The Dimont


Aku datang dengan pakaian formal kantoran, hanya kemeja dengan jaz dan rok setinggi lutut dengan high heels hitam dan rambut ku kuncir kuda poni agak ke atas. Saat aku masuk semua orang memandangiku dengan kagum, beberapa karyawan membungkuk saat melihatku. Saat hendak naik lift aku disapa oleh bu Adele.


"selamat pagi boss... . " sapa Bu Adele


"selamat pagi bu, bagaimana keadaan?" tanyaku


"silakan naik keatas, Tuan Leo sudah menunggu diruangan" ucapku


"baiklah" ucapku


Kami masuk lift dan menuju ruang pertemuan.


///***///


Di Ruang Pertemuan


"selamat pagi Tuan Leo, maaf terlambat hingga membuat anda menunggu" sapaku


"tak apa nona, santai saja. Saya juga barusan sampai" ucap Leo


"oh begitu" ucapku


"iya, lalu bagaimana? Ada apa? Ada keperluan apa hingga nona Angel mengundang saya secara pribadi?" tanya Leo


"yah, saya kesini untuk bertanya" ucapku


"bertanya? Tentang apa?" tanya Leo


Aku memberi sinya pada Bu Adele, hingga semua karyawan yang ada disitu keluar hingga menyisakan aku dan Leo saja.


"apa motif anda hingga berani mencelakai Tuan Muda Aileen?" tanyaku langsung


"ha? A a apa maksud anda saya tak mengerti?" tanya Leo


Byur....


Aku melempar sebuah map berisi kertas yang jatuh berserakan.


"tak usah mengelak, saya bukam orang bodoh tuan" ucapku kesal


"yah Angel sepertinya aku tak bisa menutupi ini lagi" ucap Leo