
Alvaro hanya terdiam melihatku dan tiba-tiba tangannya menyentuh pipiku.
"kak jangan nangis, Alvaro disini. Kakak jangan nangis yaa" ucap Alvaro sambil mengusap air mataku.
"humm.. Iya. Alvaro harus jadi anak baik ya, mau main sama temen-temen. Gak boleh nakal. Temen-temen sebenernya pengen main sama Varo tapo Varo cuma diem aja" ucapku sambil mengelus kepalanya
"hehe iya kak" jawab Varo
"Varo gak boleh sedih yaa. Varo masih kangen sama ayah dan ibu Varo ya?" tanyaku
"iya kak" jawab Alvaro
"hum, gini aja. Varo boleh anggep kakak sebagai ibu Varo gimana?" tanyaku
"boleh kak?" tanya Alvaro polos
"boleh, asal Alvaro gak boleh nakal sama gak boleh sedih lagi ya" ucapku lembut
"oke kak. Varo boleh panggil kakak Ibu?" tanya Alvaro
Aku hanya terdiam sesaat membayangkan aku yang sekarang jadi seorang ibu.
"iya boleh" jawabku semangat dan lembut
"yey, aku senang sekali" ucap Alvaro sambil memelukku
Aku memeluk balik Alvaro. Sebenarnya aku sangat ingin mengadopsi Alvaro sebagai anak angkatku. Namun untuk sekarang, hidupku masih tidak terduga. Aku tidak mau mengambil resiko dan menempatkan Alvaro dalan masalah.
Aku hanya diam dengan air mata yang terus mengalir. Aku memeluk Alvaro dengan sangat erat dan hangat. Terkadang aku berfikir kalau anak kecil bisa lebih memahami posisi dan masalahku daripada orang dewasa. Aku hanya terdiam memeluk Alvaro dengan hangat dan sambil mengelus kepalanya.
Didalam hatiku.
'andai dulu aku mendapat pelukan sehangat ini dari ayah ataupun ibu, walau hanya sekali. Mungkin jalan hidupku tidak serumit ini'
Aku hanya ingin bersenang-senang dengan anak panti. Aku tak ingin ada anak lain yang memiliki posisi sepertiku. Memiliki orang tua namun seperti tidak memiliki orang tua.
Kenzo hanya memperhatikanku dari jauh.
///***///
Di Taman
Kami bermain di taman dan bersenang-senang. Kami bermain tutup dan tangkap. Anak-anak membentuk lingkaran, dan kini bagianku untuk yang jaga. Mataku harus ditutup dan anak-anak diam membentuk, tidak boleh pindah. Nanti apabila ada yang tertangkap aku harus menebak siapa itu. Aku berputar mencari anak-anak.
"yey, dapet. Ini siapa ya?" tanyaku
Anak-anak hanya diam dan tertawa kecil. Aku menyentuh wajah orang yang aku tangkap.
"hum, kenapa sepertinya aku mengenali wajah ini yaa?" tanyaku
Anak-anak hanya terkekeh kecil.
"ayo tebak siapa kak" ujar salah satu anak
"ah udahlah, nyerah aku. Gak kenal" ucapku
"yakin nyerah?" tanya orang itu
Aku membuka penutup mataku, pemandangan yang tak pernah kuduga hadir dihadapanku. Orang yang kutangkap tadi adalah Kenzo. Anak-anak membentuk lingkaran sambil memegang bunga, didepan mereka masing-masing ada lilin. Aku hanya terdiam terkejut.
"i i ini apa?" tanyaku
Kenzo berlutut dihadapanku.
"maaf kalau selama ini aku selalu mengecewakanmu. Aku tak pernah tau bagaimana beban hidupmu. Aku tak mau berjanji, karena setiap manusia pasti ada saatnya akan mengungkari janjinya. Namun aku akan berusaha yang terbaik untukmu. Ikhlaskan masa lalumu, hadapi masa kini dan mari membangun masa depan bersamaku" ucap Kenzo
Kenzo mengambil sebuah kotak dan dibukanya kotak itu. Berisi cincin pertunangan kami sebelumnya.
"bersediakah kau memakai kembali cincin ini?" tanya Kenzo
Aku hanya terdiam sejenak, dan air mataku pun mulai berjatuhan.
"ya aku..... Bersedia" ucapku
Kenzo pun berdiri dan memelukku hingga sangat erat. Sampai aku sulit bernafas.
Setelah puas bermain kami pulang.
///***///
Di dalam Mobil
"Aku sangat senang hari ini" ucap Kenzo
"aku juga" jawabku tidak fokus
"hei nona fokus" jawab Kenzo
"aku fokus" jawabku kesal
"kau fokus, tapi pikiranmu tidak disini. Kenapa? apa ada masalah?" tanya Kenzo
"tidak" jawabku singkat
"kau sangat sayang Alvaro kan" ucap Kenzo
Ucapan Kenzo saat itu membuatku menjdai fokus kembali dan menengok.
"tentu saja" jawabku
"kenapa tidak kau jadikan anak angkat?" tanya Kenzo
"pertama, hidupku masih terlalu tidak terduga. Kedua, aku belum siap untuk merawat Alvaro, aku masih takut akan menelantarkannya. Ketiga, aku tak mau ambil resiko dengan menempatkannya dalam bahaya. Keempat, aku masih belum menikah dan belum punya suami. Aku bisa saja mengadopsinya, namun itu akan mempengaruhi pertumbuhannya dan juga pemerintah mungkin tidak akan menyetujuinya lagipula aku belum pernah punya pengalaman menjaga anak. Aku harus benar-benar befikir keras sebelum mengambil keputusan sebesar itu. Aku tak mau menyakitinya hanya karena masalah pribadiku" jelasku
"oh begitu. Santai saja. Aku yakin pasti akan ada saat dimana kau akan siap dan menjadi ibu yanh sesungguhnya. Lalu aku jadi ayahnya" gurau Kenzo
"dih, gamau ah. Nanti anakku ceroboh kayak kamu" gurauku
"perasaan yabg ceroboh itu kamu deh. Kenapa aku yang salah ya?" gurau Kenzo
Kami saling bercanda dan tertawa bersama didalam mobil itu. Menikmati hari seolah tiada beban.