
Hamba pikir, kami tidak akan pernah bertemu lagi, Yang Mulia," ujar Jingli dengan perasaan haru. Saat ini mereka berada di Hareem, tepatnya kamar baru Yuan.
"Itu tidak akan terjadi," jawab Yuan tersenyum tipis.
"Tapi bagaimana Permaisuri meyakinkan Kaisar?"
"Menurutmu bagaimana?" kata Yuan balik bertanya.
"Ini, hamba tidak tahu."
"Tentu saja karena aku sangat mempesona. Lelaki mana yang akan mengabaikanku?" ujar Yuan membanggakan diri.
Jingli menyipitkan matanya. Tentu saja dia tidak percaya. Putri YanLi memang sangat cantik, tetapi Kaisar Dinasti Qin, Qin ZiXuan juga bukan pria yang mudah tergoda kecantikan. "Hamba tidak percaya! Permaisuri pasti ada kesepakatan, kan?"
"Saudari Jingli, katamu kami sudah saling mengenal sejak kecil. Jadi bisakah saat kita sedang berdua, kamu tidak perlu seformal ini denganku? Aku sedang tidak belajar bahasa yang baik dan benar!"
"Ini—"
"Apa? Kamu ingin menolakku?"
Jingli terlihat ragu. Dia memang sudah menemani putri pertama sejak kecil. Bagaimana sifat Yanli, dia sangat paham. Putri pertama memang sangat baik dalam memperlakukan orang lain terlebih padanya. Tetapi Jingli bukan orang yang tidak tahu diri.
"Saya menuruti perintah Yang Mulia Permaisuri," katanya mulai merubah panggilan untuk dirinya sendiri.
"Itu lebih baik. Kamu juga tidak perlu memanggilku permaisuri ataupun putri, panggil namaku saja."
Jingli segera menggeleng dan berkata," Tidak, tidak. Untuk yang satu itu, saya tidak bisa. Permaisuri, walaupun kami dekat tapi saya tetap tidak bisa menyebut langsung namamu. Saya akan dihukum."
"Ah, aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu."
"Oh iya, Saudari. Siapa nama Kaisar Qin itu?" tanya Yuan mengganti topik pembicaraan.
"Anda tidak tahu?" ujar Jingli tidak percaya.
Yuan menggeleng pelan.
Jingli tercengang. Nama besar Kaisar Qin sudah terkenal ke penjuru dunia, di setiap wilayah, Nama kaisar muda itu tidak asing lagi. Dia mengerti jika Yanli mungkin tidak mengingatnya karena hilang ingatan, tapi dia berpikir seharusnya mereka sudah berkenalan. Mengingat bagaimana YanLi berhasil membawanya masuk ke istana kekaisaran dan sudah berada di sana sekitar dua hari hanya nama saja, Yanli pasti sudah tahu, kan?
"Apakah rasa penasaranmu tidak bekerja di sini?"
"Bukan tidak bekerja, hanya ini adalah wilayahnya. Jika aku salah bertanya atau bertindak mungkin tidak bisa bertemu dengan kalian. Lagipula dua hari ini alu selalu memikirkan cara bagaimana bisa keluar dari sini walaupun hasilnya nihil," jelas Yuan yang mengerti bahwa Jingli menyindirnya secara halus.
"Kaisar Xuan adalah Kaisar muda Kekaisaran Qin. Beliau diangkat saat usianya genap 10 tahun karena kaisar sebelumnya jatuh sakit dan meninggal. Walaupun Kaisar Xuan masih tergolong muda, tetapi dia berhasil membawa kejayaan pada seluruh wilayahnya diusianya yang ke 17 tahun. Beliau berhasil melakukan ekspansi wilayah kekaisaran Qin, selalu menang dalam peperangan, otak yang cemerlang dan wajah yang tampan. Tetapi dibalik semua kesempurnaan itu, Kaisar Qin dikenal sebagai pemimpin yang berhati dingin, kejam dan menakutkan. Itu yang aku dengar dari cerita orang-orang tentang Kaisar Qin Zi Xuan," jelas Jingli dengan wajah serius.
"Jadi namanya Qin Zi Xuan?" ulang Yuan dan diangguki oleh Jingli.
Yuan seperti mengingat sesuatu dan bergumam, "Apakah Zi Xuan dan Yanli memang berjodoh?"
"Anda mengatakan sesuatu, Permaisuri?" tanya Jingli.
"Tidak ada. Hanya teringat sebuah buku di mana salah satu pasangan dalam buku tersebut adalah ZiXuan dan YanLi."
Jingli mengernyit. "Saya tidak pernah mendengar ada buku milik Permaisuri yang seperti itu."
"Lupakan saja, oke?"
***
Yuan sedang menulis saat seorang pelayan tiba-tiba mengetuk pintu dan masuk ke kamarnya.
Pelayan itu membungkuk di depannya dan berkata, "Salam kepada Yang Mulia Permaisuri. Ibu Suri mengundangmu untuk minum teh di istananya."
"I—Ibu Suri?"
"Benar. Ibu Suri sudah menunggu Anda."
Yuan menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Jantungnya seperti dipompa saat mendengar pelayan itu bicara. "Saya akan segera menemunya."
"Kalau begitu, hamba permisi."
Pelayan itu keluar bersamaan dengan Jingli yang masuk.
"Permaisuri, kamu baik-baik saja?" tanya Jingli saat melihat tatapan kosong Yuan.
"Tamatlah sudah."
"Apa maksudmu?"
Yuan menatap Jingli dengan memelas. "Saudari, Ibu Suri ingin bertemu denganku."
"Lalu kenapa? Apa yang anda takuti?"
"Ini pertama kalinya aku akan bertemu langsung dengan Ibu Suri. Aku sudah merasa sedikit lega saat pertama kali berita ini tersebar, Ibu Suri tidak langsung menemuiku. Kupikir dia tidak akan begitu peduli siapa istri dari anaknya, tetapi sekarang nampaknya dia akan menganiaya atau meracuniku," ujar Yuan dramatis.
"Tapi aku menghancurkan pernikahan putranya."
"Tapi ini bukan kesalahan Permaisuri. Jika mereka melukaimu, saya akan melindungimu. Anda adalah putri kesayangan Kerajaan Zhou, mana boleh dianiaya?!"
"Aku tidak ingin menemuinya. Ayo kita pergi saja!"
"Jika bisa pergi dari sini itu mudah, saya rasa anda tidak akan berada di sini sekarang, kan?"
Yuan terdiam. Dalam hati membenarkan perkataan Jingli.
"Permaisuri, kamu harus menemui Ibu Suri sekarang. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama atau beliau akan marah."
Pada akhirnya, Yuan menuruti perkataan Jingli. Yang membuatnya terkejut adalah, bukan hanya ada Ibu Suri, tetapi juga beberapa wanita lainnya. Yang mana Ibu Suri Kekaisaran itu?
"Kemarilah, Nak." Suara itu berasal dari wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Wanita tua itu duduk di tengah dan terlihat di segani oleh para wanita yang lebih muda darinya.
Yuan berjalan pelan ke arahnya. Membungkuk hormat tetapi bingung bagaimana cara untuk menyapanya.
Wanita tua itu tertawa pelan. Dia menarik tangan Yuan dan memberikan kode untuk duduk di sampingnya.
"Mengapa cucu menantuku terlihat takut?" tanyanya geli.
Cucu menantu? Itu adalah Nenek Kekaisaran atau bisa juga dibilang Janda Permaisuri.
Yuan menarik dirinya kembali dan membungkuk dengan hormat. "Zhou YanLi telah melihat Nenek Kekaisaran."
"Anak baik. Duduklah kembali di sampingku," ujar sambil tersenyum.
Walaupun canggung, Yuan tetap kembali duduk di samping Nenek Kekaisaran.
"Jadi, kamu adalah Putri Kerajaan Zhou, Zhou YanLi?" Kali ini suaranya berasa dari wanita setengah baya di sisi kanan Nenek Kekaisaran. Walaupun sudah berumur, wajahnya terlihat sangat cantik dan familiar. Dia menatap Yuan dengan pandangan menilai.
Merasa ditatap sedemikian rupa oleh wanita itu, Yuan menundukkan kepalanya lebih rendah.
"Xiao Chun, jangan menatapnya seperti itu. Kamu bisa membuat menantumu dan cucu menantuku ini takut."
Mendengar teguran ibu mertuanya, wanita setengah baya yang di panggil Xiao Chun itu melunakkan ekspresinya.
Atmosfer di ruangan ini sungguh membuat Yuan ingin segera menghilang. Ini seperti dia sedang berada di ruang persidangan.
Yuan dengan takut-takut menatap ibu mertuanya yang tampak sulit. Kembali berdiri dan berkata, "Anak telah melihat Ibu Suri."
Lian Chun menatap tajam menantu perempuannya itu. Tiba-tiba seulas senyuman muncul di bibirnya. "Duduklah kembali," katanya dengan suara yang lebih bersahabat.
"Terima kasih, Ibu Suri."
"Itu adalah Selir Zhu, dan yang itu adalah adik iparmu." Nenek Kekaisaran kembali berbicara, memperkenalkan dua orang lainnya yang berada di sana.
Yuan tersenyum kepada dua orang yang di sebutkan itu.
"Halo, Kakak Ipar. Namaku Qin YouHua," ujar gadis yang paling muda. Wajahnya cantik dengan kepribadian ceria.
"Senang bertemu dengan Ibu Selir Zhu dan Adik YouHua."
"Memang seperti yang dibicarakan. Putri kerajaan Zhou sangat cantik," puji Selir Zhu dengan senyumannya.
"Apakah Xuan'er memperlakukanmu dengan baik?" tanya Janda Permaisuri seraya mengusap puncak kepala Yuan dengan lembut.
Yuan tersenyum dan mengangguk. "Yang Mulia sangat baik."
"Mengapa kamu memilih untuk tetap tinggal?" tanya Ibu Suri Lian Chun. Dia terlihat sangat serius saat ini.
Kini semua mata menatapnya, seakan menunggu Yuan untuk segera menjawab.
Tanpa sadar, Yuan menelan salivanya. Dia merasa kerongkongannya tiba-tiba saja kering.
Dengan senyum canggung, dia menjawab, "Untuk saya, pernikahan adalah sesuatu yang sangat suci. Dalam hidup ini, YanLi hanya akan menikah sekali saja. YanLi juga sangat mempercayai takdir Tuhan. Setelah semua yang terjadi, ini mungkin adalah takdirku. Seberapa kuat saya menolak, saya tetap tidak bisa menghindarinya."
"Walaupun kamu tidak mencintai suamimu?"
"Aku akan mencintainya. Aku hanya akan mencintai orang yang menjadi suamiku. Menyerahkan sisa hidupku untuk tinggal bersamanya, memberikan kesetiaanku padanya, dan memberikan segalanya untuk dia." Ini bukanlah bualannya saja. Tetapi ini adalah apa yang berada di hatinya. Untuk pasangan hidup, entah di dunianya atau dunia itu tetaplah sama. Yuan hanya akan mencintai suaminya. Dia hanya akan menikah sekali dalam seumur hidupnya.
Mendengar keyakinan dan ketegasan dalam setiap kata yang diucapkan menantunya, Lian Chun tersenyum. Dia lega setidaknya putra satu-satunya itu menikahi orang yang tepat. Bahkan lebih baik dari pilihannya. Oleh karena itu, Lian Chun tidak akan memperhitungkan ini pada kerajaan Wei.
Lian Chun bukan orang satu-satunya yang tersenyum mendengar jawaban Yuan, tetapi juga semua yang ada di sana. Ini mungkin adalah awal yang baik untuk masa depan Dinasti Qin.
Sedangkan di sini Yuan, menerima posisi permaisuri ini jelas bukan hal yang mudah. Akan ada konsekuensi yang mungkin dia terima di kemudian hari. Tetapi dia juga bukan orang yang lemah pendirian.
"Menantuku yang sangat baik."
......▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎......