
Susana aula istana sudah dipenuhi oleh beberapa menteri dan pejabat tinggi kekaisaran. Ini adalah kunjungan resmi Kerajaan Wei jadi orang-orang penting berada dalam pertemuan itu.
Kaisar duduk di singgasananya dengan Permaisuri di sisi kirinya.
"Kupikir Anda tidak akan berani datang kemari," ucap Zi Xuan membuka suara pada beberapa orang di depannya.
"Untuk masalah yang diciptakan oleh putriku, hamba mohon maaf, Yang Mulia. Dia biasa dimanjakan olehku sehingga membuatnya menjadi seperti ini," jelas Raja Yinluo sopan. Sedangkan putri Bingyan hanya memasang wajah malasnya saat mendengar ucapan sang penguasa Wei yang sayang sekali itu adalah ayahnya.
"Kamu jelas tau kesalahan putrimu itu adalah kesalahan yang tidak bisa di maafkan. Apakah kamu ingin menyerahkan putrimu untuk dihukum sekarang?"
"Tidak ada orang tua yang ingin putrinya dihukum, Yang Mulia. Hamba memohon belas kasih Anda untuk mengampuninya dan membicarakan pernikahan."
"Ayah!" interupsi Bingyan dengan wajah memerah marah. Ayahnya itu masih tidak menyerah membuatnya menikah dengan kaisar.
"Tutup mulutmu!" ucapnya tegas pada putrinya.
Zi Xuan menatap ayah dan anak itu dalam diam, kemudian ia kembali bersuara. "Putrimu bukan hanya merugikanku, tetapi juga merugikan banyak pihak lain. Salah satunya putri pertama kerajaan Zhou yang sekarang menjadi istriku, Permaisuri Zhou Yanli."
Pandangan Raja Yinluo jatuh pada perempuan yang duduk di sisi Kaisar Zi Xuan. Ia menatap Yuan dengan meremehkan.
"Bukankah begitu, Permaisuriku?" tanya Zi Xuan seraya merapikan beberapa helai rambut Yuan di pelipis.
"Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, boleh saya izin bicara?" ujar Wei Bingyan.
Raja Yinluo menatap tajam Putri Bingyan, tetapi anak itu sama sekali tidak mempedulikannya.
"Silakan," ujar Zi Xuan memberi izin.
"Anda sudah mendapatkan permaisuri dan saya pikir ibu suri juga pasti sudah merestui kalian. Untuk masalah yang saya buat, saya mohon maaf, tetapi tolong jangan paksakan pernikahan ini. Berikan saja hukuman mati pada saya!" Pernyataan dari Putri Bingyan tentu saja membuat ayahnya sangat marah.
"Bingyan! Apa yang kamu katakan?!"
Sementara Yuan yang memperhatikan keadaan itu sudah berhasil menarik benang merah. Pernikahan ini memang tidak diinginkan oleh putri Bingyan. Terlepas apakah orang yang dinikahinya itu kaisar atau bukan, tampan atau tidak, dia benar-benar tidak peduli. Itu sebabnya dia melarikan diri. Ini semua adalah rencana dari ayahnya.
"Mengapa kamu tidak ingin menikah dengan Kaisar? Jika kamu menikah dengannya, bukankah kamu bisa memiliki segalanya?" Pertanyaan yang dilontarkan Yuan membuat semua orang melihat ke arah Wei Bingyan. Menunggu jawaban apa yang akan diberikannya.
Wei Bingyan tersenyum samar sebelum menjawab, "Aku seorang putri, aku sudah cukup memiliki segalanya. Kalau boleh meminta, aku lebih suka menjadi seorang anak petani yang sederhana tetapi memiliki kasih sayang keluarga dari pada seorang putri bangsawan yang terikat banyak peraturan. Aku bahkan tidak bisa memilih sendiri orang yang ingin aku nikahi. Apa yang lebih menderita daripada ini?"
Walaupun suasana hening, tetapi sebagian orang membenarkan apa yang dikatakan Wei Bingyan.
"Saya juga memohon maaf kepada Yang Mulia Permaisuri karena apa yang saya lakukan, sekarang anda juga tidak bisa bersama dengan orang yang anda cintai." Lanjutnya.
Yuan tersenyum tipis. "Semuanya sudah terjadi. Tidak perlu menyalahkan dirimu lagi."
Bingyan ikut tersenyum dan berkata, "Yang Mulia mendapatkan istri yang baik. Sepertinya kalian memang ditakdirkan bersama, jadi aku akan menerima apun hukuman Yang Mulia, tetapi tolong jangan memaksaku untuk menikah."
"Bingyan! Yang Mulia, jangan anggap serius ucapannya." Raja Yinluo menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Putrimu memang harus mendapatkan hukuman mati. Menipu Kaisar, merugikan orang lain, dan menghancurkan pernikahan yang dibuat Ibu Suri." ujar Zi Xuan datar.
"Mengapa kamu melakukan ini disaat seharusnya kamu meminta ampunan, Putri Bingyan?" tanya Yuan heran.
"Seseorang yang sangat dicintai tidak akan pernah tau perasaan orang yang tidak pernah mendapatkan cinta. Saat aku berada di istanamu, aku bisa merasakan kasih sayang keluarga dan semua orang di istana. Kamu memiliki ibu, ayah, saudara dan mantan kekasih yang mencintaimu. Sedangkan aku hanya bidak catur ayahku sendiri. Sampai akhir, bahkan aku tetap tidak bisa bersama orang yang aku cintai. Lebih baik mempercepat kematianku saja, walaupun Yang Mulia mengampuniku saat ini, dia mungkin akan membunuhku di perjalanan kembali." Beberapa detik setelah mengucapkannya, suara tamparan yang cukup keras bergema di aula kekaisaran.
"Lancang! Kamu berani melakukan kekasaran di depanku?! Kamu tidak menghargaiku?!" ucap Zi Xuan menaikkan suaranya.
Semua orang juga tampak terkejut tetapi tidak seperti Yuan yang wajahnya langsung menegang. Ini adalah pertama kali dia melihat pria itu marah.
"Ada banyak cara mengajari anak selain dengan kekerasan. Raja YinLuo anda terlalu impulsif. Bagaimana bisa kamu menampar putrimu di depan umum? Ini sama saja mempermalukannya," ujar Yuan setelah merasa sedikit tenang.
"Kamu lanjutkan. Hal ini kamu saja yang memutuskan mengingat kamu adalah korbannya. Aku mengikuti keputusanmu." ZiXuan melemaskan badannya setelah berkata begitu.
Semua orang tambah tercengang saat mendengar apa yang dikatakan Kaisar Xuan pada permaisurinya. Ini pertama kali pria itu menyerahkan urusannya pada orang lain.
"Disini masih ada Ibu Suri. Mengapa Yang Mulia menyerahkannya padaku?"
"Menantu, tidakkah kamu memperhatikanku hanya diam saja dari tadi? Itu berarti aku sangat malas untuk bicara pada mereka. Putri Bingyan sudah sangat mempermalukan kami, apakah menurutmu jika aku yang menanganinya, mereka akan tetap hidup? Menipu kekaisaran adalah sebuah kejahatan yang tak termaafkan," ujar Lian Chun membuka suara.
Yuan menelan salivanya yang terasa seperti paku. Benar saja, saat melihat Ibu Suri, ekspresi wanita setengah baya itu memang terlihat menyeramkan. Seperti ibu tiri kejam yang hendak menyiksa anaknya.
"Jika bukan karena aku menyukaimu dan kamu menantu yang cukup baik dengan latar belakang yang baik, tidak sulit bagiku memberikannya hukuman tujuh turunan."
"Ah, kalau begitu saya saja," ujar Yuan dengan cepat.
ZiXuan menahan tawa saat menyadari gadis di sampingnya menegang.
"Yang Mulia, bagaimana jika memaafkannya saja? Maksudku jangan memberinya hukuman yang berat," kata Yuan sedikit ragu.
"Lalu bagaimana menghukumnya?"
"Aku tidak hanya akan menghukumnya tetapi juga memberikanya hadiah, apakah boleh?"
"Katakan."
"Putri Kerajaan Wei, Wei Bingyan menipu keluarga Kekaisaran. Menghukumnya untuk tidak boleh keluar dari istananya selama empat bulan, tidak boleh ada yang mengunjungi kecuali seorang pelayan yang mengantarkan makanan. Karena dua menolakmu untuk seseorang, selepas masa hukumannya, saya Permaisuri Xuan meminta dengan rendah hati kepada Raja YinLuo untuk menikahkannya dengan lelaki pilihannya. Membiarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Aku memberikannya perlindunganku. Ini adalah hukuman untuk ayah dan anak, bukan?"
Semua orang terdiam. Tidak menyangkan Permaisuri Xuan memiliki pemikiran yang sangat jauh. Tidakkah ini terlalu baik?
"Maafkan hamba, Yang Mulia Permaisuri. Tetapi ini bukan hal yang baik. Tidakkah anda memikirkannya? Karena hati anda yang sangat lembut jika di kemudian hari hal seperti ini terjadi, mereka akan menganggap menipu kekaisaran bukanlah hal yang besar? Mereka akan berpikir anda juga akan mengampuni mereka seperti hari ini? Jika begitu, peraturan tidak akan bisa ditegakkan lagi," ujar seorang mentri yang terlihat cukup tua mengutarakan keberatannya.
"Maksudmu, Yang Mulia akan menikah lagi? Kamu berniat mencarikannya selir?"
"Tidak, bukan seperti itu—"
"Kalau begitu diubah saja. Tidak perlu ada kurungan, berikan Putri Bingyan 50 hukuman cabuk. Tidak akan mati, kan?" tanya sambil menoleh menatap ZiXuan.
"Tidak akan mati, tapi mungkin bisa langsung membawanya ke alam baka," jawab ZiXuan tersenyum tipis.
"Ah? Yang Mulia, saya benar-benar tidak bisa memikirkan hukuman yang tepat untuknya. Anda saja. Tetapi jangan membunuhnya."
"Tulis dekritnya. Tulis semua yang dikatakan Permaisuri Xuan dan tambahkan hukuman 20 cambuk untuknya. Bagaimana menurutmu Tuan Menteri Qiu?" katanya pada menteri yang tadi mengajukan keberatan.
"Yang Mulia Kaisar, adil dan bijaksana."
"Apakah ada yang keberatan lagi?"
"Tidak, Yang Mulia," jawab semua orang serempak.
"Terima kasih kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri. Panjang umur Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...