My Devil Emperor

My Devil Emperor
Saran Para Menteri



"Yang Mulia, para menteri kembali membicarakan—"


"Saya tahu, jangan katakan lagi."


"Anda tidak akan mempertimbangkannya?"


ZiXuan menoleh dan menatap skeptis Li Wei. "Apakah kamu menganggapku selemah itu untuk mempertahankan kekaisaran ini sampai aku harus melakukan pernikahan politik yang diusulkan itu?"


"Yang Mulia mungkin harus mempertimbangkannya kembali," interupsi Yuan itu membuat kedua orang di dalam ruangan langsung menatapnya terkejut.


"Mengapa kamu di sini?" tanya ZiXuan setelah tersadar dari keterkejutannya.


Yuan tersenyum dan berjalan mendekat. Sambil mengangkat keranjang yang ia bawa, Yuan berkata, "Tuanku sudah terlihat sangat tirus, beberapa bulan terakhir juga tidak makan dengan baik."


Yuan menatap ZiXuan dan kemudian Li Wei bergantian.


"Hamba izin meninggalkan ruangan," ujar Li Wei menunduk sebelum akhirnya berjalan keluar.


"Kudengar keadaan tidak begitu baik. Dan salah satu cara—"


"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apapun. Jangan terlalu dipikirkan," ujar ZiXuan menyela pembicaraan.


"Bagaimana bisa tidak khawatir? Aku adalah permaisurimu. Permaisuri dinasti Qin. Suami, tolong pikirkan—."


"Aku tidak ingin membicarakannya! Jika kamu masih ingin membahasnya, maka pergi saja."


Yuan terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali berkata, "Baiklah, baiklah." Ia menarik tangan ZiXuan dan membawanya untuk duduk.


Yuan membuka penutup keranjang dan mengeluarkan isinya. Dia mengambil kue berbentuk bunga dan mengarahkannya pada ZiXuan. "Aaa," ujar Yuan seperti ibu yang sedang membujuk anaknya untuk makan.


ZiXuan menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka mulut dan menggigit kecil kue yang diberikan.


"Bagaimana rasanya?"


"Tidak buruk."


Yuan mengerucutkan bibirnya dan memukul pelan dada ZiXuan dengan tangannya yang lain. "Aku bertanya dengan serius!"


ZiXuan tersenyum tipis dan menjawab,  "Apa aku terlihat sedang bercanda?"


"Lupakan. Wajahmu bahkan tidak pernah berekspresi," gumam Yuan pelan.


"Apa yang baru saja kamu katakan?"


Melihat ZiXuan menatapnya penuh selidik, Yuan tertawa garing dan berkata, "Ah, tidak ada."


"Aku mendengarnya, ayo katakan lagi!" ZiXuan menggeser dirinya, mulai mendekat.


"Tidak ada, sungguh! Mungkin kamu salah dengar," sanggah Yuan menjauh.


"Oh? Benarkah?" ZiXuan meletakkan tangannya di belakang kepala Yuan saat wanita itu hampir terbentur penyangga tempat tidur karena terus membuat jarak.


"Suamiku harus segera menghabiskan makanannya, jika tidak itu akan segera dingin," ujar Yuan pelan. Kepalanya menoleh ke arah lain, tidak berani menatap ZiXuan yang berjarak sangat dekat darinya.


"Kamu bisa memanaskannya kembali."


"Ma—makanan yang dihangatkan kembali, tidak sehat. Makan sekarang."


"Mengapa wajah permaisuri memerah? Apa kamu sakit?" tanya ZiXuan pura-pura khawatir. Dia menyentuh ringan pipi Yuan dengan jarinya.


"Yang Mulia, berhentilah menggodaku dan cepat makan!" Akhirnya Yuan bisa mematahkan godaan itu dan mendorong dada ZiXuan agar menjauh darinya.


"Istriku, mengapa kamu sangat kejam? Bukankah beberapa menit yang lalu kamu yang melakukan kesalahan? Sekarang mengapa aku yang merasa teraniaya?" ujar ZiXuan dengan wajah memelas.


"Kamu pantas mendapatkan yang lebih dari ini!" sarkas Yuan.


"Kamu lebih menarik dari makanan ini. Aku menginginkanmu."


"Makan atau kamu tidak boleh menyentuhku?!"


"Permaisuri, Anda begitu kejam!"


Yuan keluar dari ruang baca dengan semringah. Tentu saja karena ia berhasil membujuk ZiXuan untuk menghabiskan makanan yang ia bawa.


"Salam pada Yang Mulia Permaisuri."


Langkahnya terhenti saat mendengar sapaan dari arah belakang.


Yuan menoleh dan mengerutkan keningnya. "Kamu?"


Melihat kebingungan yang tergambar jelas di wajah Yuan, pria paruh baya itu menunduk sopan dan berkata, "Hamba adalah Gao Yan, menteri pertahanan yang baru."


"Ah, aku tahu. Tuan Gao memanggilku, apa ada masalah?"


"Apakah penting? Aku juga memiliki urusan yang lain."


"Ini sangat penting."


Setelah menimbang-nimbang akhirnya Yuan menyetujui permintaan Menteri Gao. "Katakan."


***


Yuan duduk termenung menatap air kolam teratai yang tenang. Dia sudah menghabiskan waktu lebih dari satu jam di sana.


"Yang Mulia, hamba dan Jingli sudah mencarimu sedari tadi? Mengapa masih di luar?" Suara itu membuat Yuan tersadar dari lamunannya.


Dia menoleh dan mendapati Yunniang dan Jingli yang menatapnya khawatir.


"Sebentar lagi," ucap Yuan kembali menatap kolam.


Jingli menoleh pada Yunniang dan berkata, "Aku akan mengambil baju hangat." Setelah itu bergegas pergi.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Yang Mulia?" tanya Yunniang memberanikan diri.


Yuan tersenyum tipis. Tangannya mulai menyentuh permukaan air, dan gelombang tipis pun muncul. "Apa yang kamu lihat?"


Meskipun bingung, Yunniang menjawab, "Gelombang kecil."


"Menurutmu bagaimana caranya agar air kolam ini tetap tenang?"


Yunniang terdiam. Dia terlihat berpikir keras tapi pada akhirnya ia menyerah. "Hamba tidak tahu."


"Tidak perlu dipikirkan, kamu tidak akan menemukan caranya. Itu tidak mungkin."


"Bagaimana dengan menutupnya?"


Yuan menoleh dengan kening berkerut. "Apa yang ditutup?"


"Kolamnya. Tutup dengan kaca atau tabir, dengan begitu airnya akan tetap tenang dan bersih."


"Kamu akan membuat bunganya mati karena tidak mendapat oksigen."


"Oksigen?"


Yuan menghela napas panjang. "Maksudku udara."


"Ah, apakah teratai membutuhkan udara untuk hidup?"


"Apakah kita sedang membahas itu?"


Yunniang tertawa garing sambil menggaruk belakang lehernya. "Maaf, Yang Mulia. Jadi mengapa Anda bertanya tentang hal itu?"


Disaat yang sama, Jingli kembali dengan membawa baju mantel. "Yang Mulia, pakailah agar tidak dingin," katanya seraya memakaikan mantel itu di pudak Yuan.


"Tidak ada. Hanya ingin bertanya saja."


Jingli melihat keduanya dengan raut wajah bingung. "Apa yang sedang dibicarakan?" tanyanya pelan pada Yunniang.


"Permaisuri bertanya, bagaimana agar air kolam ini tetap tenang."


"Bagaimana pendapatmu?" tanya Yuan setelah Yunniang memberitahu.


"Permaisuri, hamba hanya tau membaca dan menulis. Untuk pertanyaanmu itu, hamba tidak memiliki jawabannya. Berdasarkan apa yang hamba mengerti tentang Yang Mulia, sudah pasti kami memiliki pemahaman yang berbeda. Benarkan?"


"Kamu juga jelas tau, aku selalu menginginkan jawaban terlepas dari benar atau salah."


Jingli menghela napas dalam-dalam sebelum kembali berkata, "Baiklah. Sebenarnya hamba tidak memiliki jawaban yang pasti. Jika ingin airnya tetap tenang, maka tutup saja permukaannya. Tapi bunga teratainya akan mati, jadi hamba akan mengganti saja bunganya dengan bunga palsu yang tidak akan layu tetapi tetap terlihat indah. Air kolamnya juga tetap akan tenang kan?"


Yuan mengangguk-angguk paham. "Itu mungkin. Tapi juga palsu. Apa yang kamu lakukan?" Yuan terkejut melihat Jingli bersimpuh di sampingnya.


"Apa maknanya?"


Yunniang mengernyit bingung. "Jingli, apa maksudmu?"


Jingli beralih menatap Yunniang dan menjawab, "Saudari Niang, kamu harus tau salah satu fakta tentang Tuan Putri kami, setiap kalimat atau pertanyaan aneh seperti yang baru saja kamu dengar darinya itu memiliki makna. Maka dari itu, aku terkadang bisa terlihat cerdas." Ia berkata dengan penuh kesombongan.


"Benar, tapi kamu lebih banyak tidak cerdasnya," ujar Yuan yang langsung di balas tatapan sedih Jingli. "Anda sangat kejam, Yang Mulia," katanya pelan.


"Jadi apa maksud dari pertanyaan Anda, Yang Mulia?" tanya Yunniang yang mulai tertarik.


Yuan menghela napas pelan. Ia kembali menatap air kolam teratai yang tenang.


"Lihatlah."