My Devil Emperor

My Devil Emperor
Dugaan dan Melepaskan



Di kediaman Putri Yanli, saat akan menjemput sang putri untuk makan malam, Jingli terkejut melihat orang lain yang berada di kamar itu.


"Siapa kamu?" tanya Jingli setengah berteriak membuat para pelayan yang kebetulan berada di luar menerobos masuk.


"Di mana Putri kami?" tanya Jingli menatap waspada wanita itu.


"Aku---" wanita itu tergagap untuk menjawab pertanyaan Jingli.


"Saudari Jingli, sebaiknya bawa saja dia untuk menghadap Raja dan Ratu," saran salah satu pelayan.


"Anda benar! Bawa dia!"


"Jangan menyentuhku! Aku bisa jalan sendiri, aku akan ikut!" ujar wanita itu saat melihat dua pelayan berjalan mendekatinya.


Dan di sinilah sekarang wanita itu berada. Berlutut menghadap Raja dan Ratu kerajaan Zhou.


Sang Ratu terlihat tidak tenang setelah mendengar penjelasan Jingli.


"Seharusnya aku tidak mengizinkan Xiao Li pergi kemarin. Yang Mulia, ini semua salahku," ujar Ratu Yin yang tak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Yang Mulia, ini juga kesalahan hamba yang tidak bisa mengawasi tuan putri. Hamba pantas dihukum," kata Jingli dengan suara yang terdengar lemah.


"Sudahlah, hal terpenting yang harus kita lakukan sekarang adalah menemukan Xiao Li terlebih dahulu. Istriku, yakinlah semuanya akan baik-baik saja." Raja Huang mengusap lembut pundak Ratu Yin menenangkan.


Tiba-tiba, Putri Feng Ji dengan raut wajah yang sedikit khawatir dan Selir Zhuang masuk ke aula pertemuan. Setelah mengucapkan salam kepada Raja dan Ratu, Feng Ji bertanya, "Ayah, Ibu, apa kabar yang aku dengar ini benar? Kak Xiao Li sungguh menghilang?"


"Itu benar, Ji'er," jawab Ratu dengan lemah.


"Bagaimana itu bisa terjadi, Yang Mulia?" tanya selir Zhuang.


"Kami semua tidak ada yang mengetahuinya, untuk itu kita harus menanyakan nona ini," jelas Raja.


Mendengar pernyataan ayahnya, FengJi menoleh untuk melihat orang yang dimaksud. Pupil matanya membesar, dia memicingkan matanya saat melihat seorang gadis yang sedang berlutut dengan wajah yang sedikit tertunduk. Tanpa sadar, kakinya bsrjalan mendekat.


"Ini—Bukankah dia Putri dari kerajaan Wei?" kata Feng Ji agak sangsi.


"Putri kerajaan Wei?" ulang Raja Huang.


"Benar, Ayah. Ji'er mengingat wajahnya. Bukankah hari ini Putri kerajaan Wei, Wei BingYan akan menikah dengan kaisar?" jawab Feng Ji yang pada akhir kalimat memelankan suaranya hingga yang bisa mendengar suaranya hanya Putri Bingyan.


"Bagaimana kamu bisa mengenalinya?" tanya selir Zhuang pada putrinya.


"Ji'er pernah melihat lukisannya. Dia dibicarakan semua orang karena akan menjadi Permaisuri Kaisar. "


Tubuh Ratu Yin menengang. Jika yang di depannya ini adalah calon permaisuri kekaisaran, apakah...


"Menjawab kebingungan Yang Mulia Raja dan Ratu, aku memang Putri kerajaan Wei, Wei Bingyan. Sebelumnya aku memang pengantin Yang Mulia Kaisar, tetapi sepertinya seseorang sudah menggantikanku. Dan jika aku tidak salah menebak, dia pasti putri pertamamu," ujar Bingyan membuka suara.


"Lancang! Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu?" ucap Raja Huang marah.


"Ini memang kesalahanku, tetapi jika saat itu putri anda tidak mengenakan gaun pengantin, dia tidak akan ditangkap oleh para pengawal istanaku," jawab Bingyan tanpa rasa bersalah.


"Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana jika Kaisar Qin marah atas kesalahpahaman ini? Bagaimana jika Xiao Li-ku dilukai olehnya?" tanya Ratu Yin beruntun.


"Tenanglah, Istriku. Kita akan menemui Yang Mulia Kaisar besok. Pelayan! Antar Putri Bingyan ke kamar tamu dan jangan biarkan dia melarikan diri!" titah Raja.


Tanpa perlawanan, Putri Bingyan berjalan santai meninggalkan ruangan. Masih banyak cara untuknya melarikan diri.


Di lain tempat, Yuan terpaku dengan apa yang dilakukan Kaisar Qin. Spontan ia menyentuh bibirnya dan melihat ke arah pintu yang baru saja di tutup.


"Itu ciuman pertamaku," gumam Yuan tanpa sadar.


"Pria brengsek!" lanjutnya sambil melempar sepatu yang mengenai pintu.


Yuan sudah sangat lelah dengan kehidupan yang seperti drama ini memilih untuk tidur setelah sebelumnya mengunci pintu kamar.


***


Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela mengenai wajah cantik yang masih tertidur nyenyak itu.


Bulu matanya sedikit bergerak sebelum akhirnya membuka mata.


Dia turun dari ranjang dan berjalan mendekati jendela kemudian membukanya. Ternyata sudah pagi.


Perhatiannya pecah saat mendengar suara pintu yang di ketuk.


"Permaisuri, Anda sudah bangun?" tanya seorang wanita dari balik pintu.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Yuan bingung.


"Salam, Yang Mulia Permaisuri Xuan, hamba adalah kepala pelayan di sini dan kami ditugaskan untuk melayanimu. Hamba juga akan membawamu berkeliling istana," jawab wanita paruh baya yang terlihat masih cukup cantik itu dengan sopan.


Yuan mengerjapkan matanya. "Apakah aku benar-benar menjadi seorang permaisuri sekarang?" tanyanya tanpa sadar.


Kepala pelayan itu tersenyum tipis dan menunduk sopan. "Itu memang Anda, Yang Mulia."


"Kami sudah mempersiapkan pemandian untuk Permaisuri. Silakan," kata pelayan itu melanjutkan.


Yuan memilih untuk menurut saja. Dia tidak mengatakan apa-apa tetapi mengikuti langkah pelayan itu.


"Sudahlah. Begini saja dulu," batinnya.


***


"Yang Mulia, semuanya sudah siap."


Berita putri pertama kerajaan Zhou yang menghilang dan dugaan kalau dia sudah menjadi permaisuri kekaisaran menyebar dengan cepat.


Pagi-pagi sekali Raja Huang, Ratu Yin, Selir Zhuang, Putri Bingyan, dan keluarga Pangeran Liu beserta beberapa pelayan termasuk Jingli dan pengawal berangkat menuju istana kekaisaran.


Putri Bingyan menolak saat Jingli ditempatkan bersamanya dengan alasan ia tidak menyukai Jingli dan bagaimanapun permintaannya harus dipenuhi mengingat dia adalah Putri kerajaan Wei yang merupakan salah satu kerajaan besar di kekaisaran Qin bahkan lebih kuat daripada kerajaan Zhou dan statusnya masih merupakan calon permaisuri kekaisaran yang dipilih oleh Ibu Suri.


Memakan waktu 12 jam untuk sampai ke Istana Kekaisaran Qin. Putri Bingyan sesekali membuka tirai jendela kereta untuk mengusir kebosanannya.


Matahari yang semakin naik membuat Raja Huang memerintahkan para prajurit untuk beristirahat sejenak.


Saat semua pasang mata tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitar, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kereta yang Putri Bingyan naiki.


"Salam, Putri Bingyan," ucap pelayan muda itu.


Matanya melirik ke arah pelayan itu. "Ada apa?" jawab Bingyan acuh tak acuh.


Pelayan itu memberikan sebuah jubah berwarna putih dan berkata, "Pergilah."


Tentu saja itu membuat Bingyan sedikit terkejut. Dia menegakkan duduknya dan menatap jubah putih itu. "Siapa orang yang baik hati ingin melepaskanku ini?" ucapnya dengan suara yang sedikit dikeraskan yang membuat pelayan itu gelagapan.


"Putri, tolong pelankan suara Anda."


"Kalau begitu, beritahu aku siapa dia?" tanya Bingyan yang sudah pasti di mengerti oleh si pelayan.


"Apakah itu penting?"


"Kamu hanya perlu menjawabku,"


"Putri, orang itu tidak mau namanya disebutkan. Dia hanya ingin membantumu, itu saja."


"Aku tidak ingin menerima bantuan orang yang tidak kukenal," tolak Bingyan memancing.


Pelayan itu sedikit kesal melihat tingkat Bingyan yang menyulitkannya. "Putri, ini adalah kesempatan terakhir Anda. Tolong pikirkan baik-baik," ujar pelayan itu yang secara tidak langsung menolak memberitahu Bingyan.


Bingyan tersenyum manis dan menjawab, "Kalau begitu pergilah. Aku akan ikut Raja dan Ratu Zhou, Hitung-hitung ini sebagai permintaan maafku pada putri pertama mereka."


"Ini adalah bantuan dari Selir Agung Zhuang," kata pelayan itu pada akhirnya.


"Selir Zhuang? Dia memang terlihat berbeda. Kalau begitu ucapkan terima kasihku padanya," ucap Bingyan menyeringai seraya mengambil jubah itu dan memakainya.


Wei Bingyan pun keluar dengan mengendap-endap dibantu oleh pelayan itu.


Setelah menyelesaikan tugasnya, si pelayan kembali dan melaporkan semua yang terjadi pada selir Zhuang.


"Pelayan bodoh! Aku sudah memberitahumu untuk tidak menyebutkan namaku di depannya!" katanya marah.


"Ampuni hamba, Yang Mulia Selir Agung Zhuang, " ujar si pelayan menunduk takut.


"Pergilah! Jangan muncul lagi di depanku dan jangan mengatakan apapun tentang hari ini!" usirnya yang membuat si pelayan langsung pergi dari hadapannya.


Selir Zhuang memijat pelipisnya.


"Semoga dia tidak melakukan apapun."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...