
"Ini—ini tidak mungkin." Yuan menggelengkan kepala pelan, tatapan matanya sedih seakan menolak kebenaran yang terpapar jelas di depan.
"Permaisuri, hamba tidak melakukannya. Hamba tidak peduli dengan omongan semua orang, hamba hanya ingin kepercayaan Yang Mulia Permaisuri. Hamba, Yunniang dengan tulus melayani tuanku, tidak mungkin mengkhianti." Yunniang bersimpuh di depan Yuan sembari memegang ujung bajunya.
"Kamu sangat pandai bersandiwara. Apakah aku harus memberimu penghargaan? Apa yang sedang kamu mainkan sekarang? Xiao Li kemarilah!"
Bukannya menghampiri ZiXuan, Yuan malah berkata, "Yang Mulia, tolong selidiki lagi. Permaisuri ini sangat yakin Yunniang tidak bersalah. Di istana ini bukan hanya Yunniang yang berasal dari bagian barat, kenapa—kenapa hanya dia yang ditahan?"
"Maksudmu, kamu meragukan keputusanku? Apa semua bukti ini tidak cukup untukmu?"
"Aku hanya mempercayai apa yang aku lihat. Yang Mulia, selama ini, Yunniang selalu berada di sisiku. Penjahat itu pasti sengaja melemparkan bukti pada Yunniang seperti apa yang dilakukannya pada Jingli dulu."
ZiXuan menatap istrinya datar dan berkata, "Permaisuri, kamu sangat naif. Apakah kamu tidak bisa menggunakan logikamu? Orang ini bahkan dengan mudah menaruh racun dalam makananmu, bukankah berarti dia orang terdekat? Di dalam istana selain dirimu sendiri, kamu memang tidak boleh mempercayai siapapun. Aku bisa mengerti jika kamu melakukannya untuk Jingli, dia teman masa kecilmu. Tapi, untuk dia yang tidak lama kamu kenal, apakah itu layak?"
"Yunniang sudah berkali-kali menyelamatkanku, memiliki hubungan yang baik dengan semua orang di istana. Dia juga yang membuatku tersadar untuk tidak terus mengabaikanmu, bagaimana mungkin orang yang sama yang meracuniku?"
"Permaisuri, jangan berdebat lagi. Hamba sudah puas atas kepercayaan yang diberikan Permaisuri untuk hamba. Bisa bertemu dan melayani Permaisuri adalah sebuah kehormatan tertinggi. Yang Mulia Kaisar, walaupun hamba tidak bersalah, jika dengan mengambil nyawa hamba dapat menjamin keamanan Permaisuri dan Kaisar, maka hamba bersedia."
"Tidak! Yang Mulia, Permaisuri ini meminta agar Yang Mulia menyelidiki kasus ini lagi. Pasti—pasti ada kesalahan. Yang Mulia, saya memohon padamu." Entah mengapa, ikatan perasaan ini begitu dalam. Yuan merasa Yunniang tidak mungkin melakukan kejahatan itu. Di dalam hatinya, Jingli dan Yunniang seperti saudara sendiri, tidak mungkin mengkhianati.
Melihat Yuan yang bersikeras melindungi Yunniang, ZiXuan melemah. "Xiao Li, Xiao Li, kamu begitu sulit untuk ditangani," desahnya pelan.
"Pengawal! Bawa pelayan ini ke penjara, pastikan menjaganya dengan baik!"
"Yang—Yang Mulia akan memenjarakannya?" tanya Yuan tak percaya.
"Lalu apa lagi? Dia tetap tersangka. Bagaimana mungkin aku melepaskannya. Seharusnya dia dihukum mati saat ini juga, tetapi karena permintaanmu, maka dia terbebas kali ini. Tenang saja, dia akan baik-baik saja di penjara."
"Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri," ucap Yunniang penuh rasa syukur.
Dia berbalik menatap Yuan dan berkata, "Permaisuri, kebaikanmu ini, Yunniang akan mengingatnya sampai mati. Permaisuri jangan khawatir, hamba akan baik-baik saja. Kita pasti akan bertemu lagi."
Dua pengawal berjalan mendekati Yunniang dan menarik tangannya dari kedua sisi.
"Pelayan Yunniang, memberi hormat kepada Permaisuri," ujarnya menunduk dan membiarkan kedua pengawal itu membawanya pergi.
Sebelum pergi, dia kenatap Jingli dan tersenyum. "Saudari, pastikan menjaga Permaisuri dengan baik."
"Kakak," ujar Jingli sedih. Dia pun mengangguk sebagai jawaban.
Sebenarnya ada banyak orang yang tidak puas dengan hasil persidangan ini, tetapi mereka juga tidak berani buka suara. Keputusan ZiXuan adalah mutlak, hanya Yuan yang bisa mengubahnya.
Mereka pun pergi meninggalkan ruang persidangan. Termasuk ZiXuan yang diikuti Li Wei di belakangnya.
"Yang Mulia, Anda benar-benar melepaskannya?"
"Apa lagi yang bisa aku lakukan?"
"Anda benar-benar sudah berubah."
ZiXuan tertawa pelan. "Kamu juga akan berubah ketika sudah menikahi wanita yang kamu sukai nanti."
Li Wei mengangguk pelan. "Itu benar. Perkataan istri harus dituruti," ujarnya polos.
"Tapi Yang Mulia, hamba masih tidak mengerti. Mengapa tidak kita bawa saja pedagang obat itu? Mungkin Permaisuri akan percaya."
"Hamba mengerti. Yang Mulia bijaksana."
"Saat ini, awasi pelayan itu dari jauh. Jangan biarkan dia melakukan kejahatan yang lain. Aku akan pergi melihat Permaisuri."
"Baik, Yang Mulia."
Di tempat lain sesudah Jingli mengantarkannya kembali, Yuan termenung. Ini semua terjadi dengan tiba-tiba. Perkataan ZiXuan yang bilang di Istana ini hanya diri sendiri yang dapat dipercaya, terngiang-ngiang di telinganya. Sebenarnya dia mulai ragu dan membenarkan ucapan suaminya itu. Semua orang di Istana memang terasa palsu, bahkan dirinya sendiri.
"Apakah aku tidak layak untuk bahagia? Pertama, datang ke dunia ini, lalu menjadi seorang istri, kemudian—kemudian kehilangan anak." Suaranya terdengar lirih di dalam kamar yang sunyi itu. Tanpa sadar, Yuan menyentuh perut datarnya. "Ini seperti mimpi, tapi perasaannya terasa sangat nyata. Sangat nyata sampai tidak ingin melepaskannya."
"Apa yang mimpi dan apa yang nyata?"
Suara berat itu memecah keheningan. Sepasang tangan besar tetapi dengan jari-jari yang lentik melingkar sempurna di pinggang ramping Yuan. Tanpa menolehpun, dia sudah bisa menebak siapa orangnya.
"Masih merasa kurang puas?" tanya ZiXuan berbisik di telinganya.
Yuan tersenyum masam. "Tidak, aku hanya mulai merasa ragu saat ini. Yunniang, dia terlihat sangat baik. Tidak tau siapa yang harus dipercaya."
"Yaa, saya dapat mengerti kebingunganmu. Tetapi perkataan saya juga harus kamu pertimbangkan, di istana ini kamu tidak dapat mempercayai siapapun selain aku."
Yuan tersenyum tipis dan berkata, "Mengapa saya harus mempercayaimu? Sejak kamu bilang tidak ada seorangpun yang bisa di percaya, itu juga termasuk kamu."
"Itu juga tidak apa, percaya saja pada dirimu sendiri."
Yuan melepaskan tangan ZiXuan yang memeluk pinggangnya dan berbalik menatap laki-laki itu. "Bagaimana denganmu? Apakah kamu selalu mempercayaiku?"
ZiXuan menaikkan alisnya dan tersenyum. "Apakah yang saya lakukan kurang jelas? Menurutmu, jika saya tidak mempercayaimu apakah hari ini saya akan melepaskan pelayanmu itu?"
Tanpa sadar, Yuan mengangguk pelan. "Lalu, apakah suatu hari nanti kamu akan mengkhianatiku?"
ZiXuan menyisir rambut Yuan lembut dengan jari-jarinya. "Hal ini, kamu harus mengingatnya dengan baik. Aku adalah satu-satunya yang tidak akan pernah menyakiti, meninggalkan ataupun mengkhianatimu seumur hidupku. Kamu harus mempercayaiku untuk itu." Dia berhenti sebentar sebelum lanjut berkata, "Huh, saya sangat mempercayaimu tetapi kamu bahkan meragukanku. Permaisuri hatiku sangat sakit."
Yuan yang tadinya sedikit terlihat lelah mulai terhibur. Dia tersenyum. "Sungguh?"
"Sungguh."
"Bagaimana jika aku yang mengkhianatimu?"
ZiXuan menekuk wajahnya dan mundur selangkah. "Apakah meragukanku saja tidak cukup sampai kamu berniat mengkhianatiku?"
Yuan tertawa. "Tidak. Tidak berani."
"Sudah lebih baik?"
Yuan mengangguk. "Tidak pernah merasa tidak baik saat bersama dengan, tuanku."
"Oh? Saya bahkan bisa membuatmu jauh lebih baik lagi sekarang."
Yuan menatap ZiXuan bingung. Sedetik kemudian dia terperanjat saat ZiXuan mengikat kedua tangan dan membawanya ke ranjang.
"Apa—apa yang kamu lakukan?! Turunkan!"
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...