
Jeritan itu membuat penjaga dan beberapa pelayan datang.
"Apa yang terjadi?"
Seorang pelayan memberanikan diri untuk masuk ke dalam istana Qin. Betapa terkejutnya dia melihat Yuan sudah terduduk di bawah tepat tidur sambil memegangi perutnya.
"Permaisuri!" pelayan itu dengan segera mendekati Yuan.
"Panggil tabib istana segera!" teriaknya pada orang-orang yang berdiri di depan pintu.
Keadaan kacau, para pelayan berlari masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi, beberapa lagi berlari memanggil tabib istana. Kediaman kaisar dijaga ketat.
Yuan memejamkan matanya menahan rasa sakit yang luar biasa itu. Bahunya bergetar. Bulu matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka sedikit.
Dengan lemah, tangan Yuan memegang lengan pelayan itu dan berkata, "Selamatkan... Selamatkan anakku."
Pelayan itu menggenggam tangan Yuan, menyalurkan sedikit rasa tenang seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya. "Permaisuri, tidak akan terjadi apapun pada calon penerus dinasti. Jangan khawatir."
Sebenarnya dia tidak jauh berbeda dari Yuan. Dia juga merasa khawatir dan takut. Batinya terus bertanya, mengapa Tuhan menguji permaisuri sebaik Yuan dengan ujian seberat ini?
"Aku mengantuk," ujar Yuan lirih.
"Tetaplah terjaga, Yang Mulia Permaisuri."
Yuan tidak mendengarkannya. Dia merasa matanya sangat berat. Seluruh tubuhnya seperti hancur, sangat sakit hingga mati rasa. Matanya perlahan kembali terpejam, sebelum kesadarannya hilang, dia bisa mendengarkan suara pelayan itu kembali memanggilnya.
Tak lama setelahnya, ZiXuan tiba. Dia seperti mendapatkan pukulan besar ketika melihat Yuan tak sadarkan diri. Tempat di mana wanita itu berada sudah dipenuhi genangan darah, bahkan baju Yuan yang berapa menit lalu masih bersih, kini sudah berubah warna.
ZiXuan mengambil alih tubuh Yuan dari pelayan itu. Pandangan matanya terlihat bingung dan kosong.
"Xiao Li," panggilnya pelan.
Bertepatan setelah dia memanggil Yuan, tabib istana datang tergopoh-gopoh.
Tabib istana langsung memeriksa denyut nadi Yuan. Matanya melebar terkejut.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya ZiXuan langsung.
"Ada racun dalam tubuhnya." Mata tabib itu mengarah pada meja batu yang sedikit berantakan. Dia berjalan mendekati makanan yang berada di atas sana, mengeluarkan sebuah jarum perak dari kotak dan memeriksa satu persatu makanan itu.
"Permaisuri!" Jingli dan Yunniang masuk ke dalam istana Qin. Keduanya sama-sama terlihat khawatir. Mereka ingin mendekati Yuan, tetapi ditahan Li Wei.
"Apa... Apa yang terjadi?" tanya Jingli terbata. Air mata menetes dari matanya. Ia merasa sangat amat takut.
Li Wei mengusap pelan punggung Jingli dan berkata, "Permaisuri diracuni."
Di sisi lain, tabib itu masih belum menemukan makanan yang beracun. Ia baru saja akan menyerah sebelum pandangannya jatuh pada cangkir emas yang jatuh di kolong meja. Dia segera memungut cangkir itu dan memasukan jarum perak ke dalamnya.
Jarum perak itu seketika berubah warna menjadi hitam. Sang tabib langsung mencium sisa racun yang ada di gelas itu. Dia terkejut sambil berkata, "Racunnya berada di dalam minuman ini."
"Racun? Tapi semua makanan itu dibuat oleh permaisuri sendiri. Bagaimana bisa ada racun di dalamnya?" kata Yunniang tidak percaya.
"Ini racun penghancur meridian. Tapi setahu hamba, racun jenis ini tidak berasal dari daerah kita."
Dalam Pengobatan tradisional Tionghoa, Meridian, Hanzi: 经络; pinyin: jīngluò merupakan jaringan jalan chi (energi) yang tersebar di dalam tubuh. Jika darah mempunyai jaringan sirkulasi darah, dan saraf mempunyai jaringan saraf, maka energi juga mempunyai jaringannya sendiri yang disebut meridian.
Tanpa disadari semua orang, ZiXuan dan Li Wei menegang. Itu berarti, A-Xue yang dibicarakan pedagang obat itu benar-benar orang yang sama dengan yang menyebabkan kekacauan di Ruang Penyimpanan beberapa bulan yang lalu dan orang yang ingin menyingkirkannya.
"Yang Mulia, bisakan Anda dan semua orang keluar dulu? Hamba akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Permaisuri dan... calon penerus dinasti."
ZiXuan tidak menjawab, tapi dia langsung mengangkat badan Yuan dan membaringkannya di tempat tidur. Kemudian dengan langkah berat keluar dari kamarnya. Orang-orang juga mengikutinya dalam diam.
Li Wei berjalan di samping ZiXuan. Dia tidak berniat mengatakan sesuatu sekarang. Serangan ini terlalu tiba-tiba bagi mereka berdua sebelum bersiap.
"Jingli berhentilah menangis. Aku yakin, Permaisuri dan calon penerus akan baik-baik saja."
Suara itu membuat Li Wei menoleh. Dia melihat Yunniang yang sedang menghibur Jingli.
Matanya tiba-tiba terbelalak. Dia menatap lekat kedua gadis yang berjalan tak jauh darinya itu. Ini sulit dipercaya. Napasnya tercekat.
"Yang Mulia, tangannya—" Li Wei seperti kehilangan kata-kata. Tapi matanya menatap tajam salah satu dari mereka.
ZiXuan yang menyadari keanehannya ikut menatap objek yang sedang dilihat Li Wei. Tidak ada yang aneh sampai dia melihat tangan itu.
Perkataan pedagang obat beberapa saat yang lalu kembali terngiang di telinganya. "... Ta—ta—tapi hamba ingat, Nona A-Xue memiliki tahi lalat di lengan kirinya."
Tahi lalat di lengan kiri. Mengapa dia baru menyadarinya sekarang? Tanpa sadar, ZiXuan mengepalkan tangannya. Dia hendak menghampiri kedua pelayan itu tetapi ditahan oleh Li Wei.
"Lepaskan! Aku akan membuatnya membayar apa yang telah dia lakukan!"
"Anda tidak bisa melakukannya sekarang!"
ZiXuan menatap tajam Li Wei. "Apa maksudmu? Mengapa aku tidak bisa? Kamu ingin menghalangiku? Jenderal Li, kamu sudah melihatnya sendiri, untuk apa kamu melindunginya?!"
"Saya tidak melindunginya! Tapi anda tidak bisa melakukan apapun tanpa bukti."
ZiXuan tersenyum sinis. "Bukti? Aku tidak memerlukannya. Aku bisa langsung membunuhnya. Tidak, membunuhnya terlalu ringan, aku akan memberikan seribu penderitaan yang tidak akan pernah dia rasakan sebelum sampai dia memohon sendiri untuk kematiannya!" Dia kembali ingin menghampiri kedua gadis itu yang terlihat semakin menjauh tetapi Li Wei juga kembali menariknya dengan paksa.
"Lalu apa yang akan anda jelaskan pada Permaisuri? Tanpa bukti, anda pikir dia akan percaya padamu karena sudah melenyapkan pelayan pribadinya? Dia akan semakin menderita. Anda ingin melihatnya bersedih? Terlebih lagi, hubungan mereka sangat baik."
Menyadari yang dikatakan LiWei adalah benar, ZiXuan merasa semakin tidak berdaya. Dengan perasaan marah, dia berjalan pergi.
Li Wei hanya menatapnya prihatin. Dia sangat mengerti apa yang dirasakan ZiXuan walaupun dia tidak berada di posisinya. Li Wei segera berjalan cepat mengikuti ZiXuan.
"Yang Mulia tenang saja. Fokus pada permaisuri, masalah bukti, hamba akan segera menemukannya. Orang ini begitu cerdas, dia menjadikan permaisuri sebagai kambing hitam sebab dia tau jika rencananya gagal, anda tidak akan pernah menyalahkan permaisuri karena dia tau seberapa berharganya permaisuri untukmu dan anda tidak pernah meragukannya. Jika rencananya berhasil, maka permaisuri yang akan menanggung kesalahan itu. Satu panah untuk membunuh dua sekaligus. Benar-benar rencana yang sempurna. Tapi siapa yang akan menyangka bahwa permaisuri selalu berhasil mengalahkannya?"
"Itu tidak penting lagi. Aku hanya menginginkan nyawanya! Aku ingin dia menderita!"
"Baik!"