My Devil Emperor

My Devil Emperor
Kamu akan aman



Setelah kejadian mengerikan itu, Yuan merasa bagaikan sedang bermimpi buruk. Ketika membuka mata, dia sudah berada di Istana Qin.


"Kamu sudah bangun," ujar seseorang di sebelahnya yang membuat Yuan tersadar penuh.


Kepalanya menoleh dan mendapati ZiXuan yang duduk sambil menatapnya.


Yuan segera membangunkan tubuhnya yang masih terasa lemas dibantu dengan ZiXuan yang membantunya.


Bulu mata Yuan bergetar sebelum akhirnya menatap mata gelap yang dalam itu. "Suami, A—aku tidak melakukannya," ucapnya lirih.


"A—ku—"


ZiXuan mengangkat jari telunjuk dan meletakkannya di bibir tipis Yuan. "Sstt, jangan katakan apapun. Aku mempercayaimu."


"Kamu bersungguh-sungguh?"


Yuan menatap mata coklat itu lekat-lekat. Hanya ada ketulusan dan kelembutan di sana. Dia menunduk dan memejamkan matanya sebelum kembali berujar pelan, "Mengapa kamu mempercayaiku?"


"Apakah aku harus menjawabnya?"


Keduanya terdiam beberapa saat dan berujar bersamaan.


"Tidak."


"Kamu memiliki banyak kesempatan untuk membalasku."


Yuan tertegun.


ZiXuan melanjutkan, "Jika kamu mau, tidak perlu menunggu saat ini untuk membalasku, menyakitiku, membebaskan dirimu sendiri atau apapun alasannya. Kamu memiliki banyak waktu untuk melakukannya mengapa harus repot menunggu hari ini? Saat aku terluka dulu, kamu bisa saja langsung membunuhku. Atau waktu di saat kita bersama. Jika kamu memang berniat membebaskan dirimu dan membunuhku, kamu tidak akan melakukan pengorbanan sebesar ini sampai sekarang. Menyerahkan dirimu sendiri padaku, melayaniku setiap malam, memperlakukan keluargaku dengan baik, mengatur semuanya dengan baik dan sekarang mengandung anakku. Kamu tidak akan melakukannya jika hanya ingin terbebas dariku, bukan?" Setelah mengatakannya, ZiXuan menghela napas. Tangannya terulur merapikan anak rambut Yuan yang jatuh dan menyelipkannya di telinga.


"Lupakan. Yang Mulia ini hanya ingin permaisurinya lebih memperhatikan diri sendiri. Masalah lain, biarkan aku yang mengurusnya." ZiXuan teringat perkataan tabib istana beberapa saat yang lalu.


Tabib itu mengatakan bahwa Yuan terlalu tertekan dan memiliki banyak pikiran ditambah di aula pengadilan tadi, wanita itu melihat kejadian tidak mengenakan. Tubuhnya semakin melemah. Keadaan itu tidak akan baik bagi ibu dan anak yang belum dilahirkannya. Jadi, tabib istana menyarankan agar tidak membiarkan Yuan terlibat dalam masalah apapun. Pastikan suasana hatinya selalu dalam keadaan baik.


"Suami... "


"Aku akan selalu mempercayaimu!" tegasnya.


Air mata yang sempat mengering, kini jatuh lagi. Yuan menahan isak tangisnya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan keras.


"Jangan menangis," ucap ZiXuan lembut. Dia menarik dagu Yuan, membuat gigitan wanita itu pada bibirnya sendiri terlepas. Ibu jarinya mengusap ringan bibir tipis yang terasa sedikit bergetar itu, kemudian beralih mengusap air mata yang mengalir di pipi.


ZiXuan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Tidak akan ada yang menyakitimu," ujarnya pelan. Ia membawa bibirnya ke mata Yuan dan memberikan kecupan ringan di sana.


Yuan menarik leher ZiXuan kembali menghadap wajahnya. "Suami, aku mencintaimu." Setelah itu, bibir tipisnya bertemu dengan bibir dingin ZiXuan. Yuan mencium lembut bibir kekasihnya itu, menyalurkan semua perasaan yang terkadang tidak bisa ia ungkapkan.


Entah siapa yang memulainya, ciuman lembut itu kini beralih menjadi sebuah ciuman yang panas dan menuntut. Kedua bibir tipis itu saling ******* dengan gerakan yang sedikit memaksa dari salah satu pihak.


Ruang untuk Yuan bergerak pun sangat sempit. Badan mungilnya terhimpit di antara badan tegap ZiXuan dan kepala ranjang di belakangnya.


Tangan kecil seputih salju itu juga mencoba mendorong dada ZiXuan agar memberinya ruang untuk bernapas. Hasilnya, pria itu malah menangkap kedua lengan Yuan dan menahannya di atas kepala wanita itu dengan sebelah tangan.


ZiXuan mengakhiri ciumannya dengan menggigit pelan bibir bawah Yuan saat merasakan tubuh wanitanya itu melemah. Dahinya di sandarkan pada dahi Yuan. Bulu mata keduanya bahkan saling beradu.


"Istirahatlah, jangan pikirkan apapun yang tidak penting," ujarnya lembut namun penuh penekanan.


"Hmm, aku mengikuti perintah suami. Jangan khawatir," jawab Yuan lemah. Napasnya masih terengah-engah karena perbuatan kekasihnya itu.


ZiXuan melepaskan tangan Yuan yang ia tahan di atas kepalanya. Ia beralih mengusap lembut rambut panjang nan sehalus sutra itu dan menjauhkan tubuhnya. ZiXuan membantu Yuan untuk kembali merebahkan badannya, menarik selimut hingga dada wanitanya itu dan berkata, "Aku akan segera kembali."


Yuan menatap tubuh tinggi ZiXuan yang berjalan meninggalkannya. Ia menghela napas berat. Kepalanya terasa sakit dan badannya terasa lemas. "Ibu, Aku ingin pulang," gumamnya lirih. Kemudian kelopak matanya kembali tertutup dan ia jatuh terlelap.


Di sisi lain, ZiXuan menemui Li Wei yang sudah berdiri di depan ruang bacanya.


Ia menatap sekilas pria yang lebih tua beberapa tahun darinya itu dan berujar, "Masuklah."


Li Wei mengikuti ZiXuan dari belakang setelah menutup pintu. Ia menundukkan kepala dengan tangan terlipat memberi hormat.


"Yang Mulia, pelayan ini tidak kompeten. Hamba tidak bisa menangkap orang itu. Mohon Yang Mulia memberikan hukuman," ujarnya penuh tanggung jawab.


ZiXuan menghembuskan napas kasar. "Lupakan. Tidak akan mudah menangkapnya jika orang itu bersembunyi di antara kita. Mulai hari ini perhatikan setiap sudut istana! Laporkan kejanggalan apapun yang kamu temui dan berikan perhatian khusus pada kedua pelayan Permaisuri Xuan."


Li Wei tampak ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk berkata, "Anda masih mencurigai Jingli?"


ZiXuan menyeringai ke arahnya. "Kakak, aku tau kamu memiliki ide pada pelayan itu, tapi aku hanya ingin memastikan keamanan permaisuriku. Kamu melindunginya, dan aku melindungi istriku," ujarnya diselingi sindiran.


"Omong kosong! Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya!" tukas Li Wei tidak terima.


"Kakak, bahkan anak kecil sekalipun dapat melihat ada sesuatu di antara kalian. Mengapa terus membantahnya?"


"Yang Mulia, sepertinya ada masalah di otakmu. Kusarankan untuk memberikan istirahat pada tubuhmu sendiri!" Li Wei mengibaskan lengannya dan berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.


ZiXuan hanya tertawa pelan melihat Li Wei yang menurutnya sedang salah tingkah itu. Walaupun cahaya di ruangan itu tidak begitu terang tetapi penglihatannya yang tajam dapat menangkap rona merah di leher dan telinga Li Wei. Apalagi penyebab jika bukan karena dia menaruh hati pada Jingli.


Setelah Li Wei pergi dan menutup pintu, senyum di wajahnya menghilang. Dia mengetuk-ketuk meja di depannya dengan mata yang menerawang jauh. Matanya kembali melihat bekas luka yang sudah memudar dan tersenyum miring.


"Kamu tidak bisa terus bersembunyi. Cepat atau lambat, saya pasti akan menemukanmu. Hanya seekor tikus kecil yang sedang bermain-main seperti ini, tidak menarik."


Secercah cahaya kebiruan muncul di bekas luka itu dan menghilang bersama dengan lukanya.


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...