
"Yang Mulia, apa maksudmu? Kamu sengajakan?"
ZiXuan berbalik dan tersenyum pada orang di depannya. "Aku tidak melakukannya. Bukankah Xiao Li yang menyuruhku untuk beristirahat?"
"Perkataanmu itu, saya tidak lagi mempercayainya. Jika tidak ada urusan, aku akan kembali." Yuan baru saja berbalik, tetapi laki-laki itu berjalan cepat menghadang di depan.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Yang Mulia ini haus. Tuangkan teh untukku."
Yuan menarik napas panjang dan tersenyum paksa. "Baik."
"Xiao Li, menurutmu apa tujuan mereka datang ke sini?" tanya ZiXuan memulai percakapan.
Sambil mengangkat bahu, Yuan menjawab, "Bukankah untuk menanyakan kabar keluarga Qiu?"
ZiXuan menatap gadis di depannya. Dia mengibaskan tangan dan berkata, "Baiklah, Kamu boleh pergi."
"Baik, Yang Mulia. Terima Kasih!" Tanpa menunggu respon dari pria itu, Yuan segera melipir sebelum ZiXuan mengubah pikiran.
Hari ini sangat melelahkan, setidaknya biarkan dia beristirahat dulu!
"Permaisuri, anda sudah datang." Suara itu menyambut ketika dia baru saja menginjakkan kaki di halaman kediamannya.
Jingli dan Yunniang berjalan cepat menghampiri Yuan.
"Permaisuri, tamu dari kerajaan Liang—"
"Saya tau, tidak perlu mengatakannya. Ahh, saya sangat lelah! Kalian berdua, jangan menggangguku untuk saat ini, oke?" potong Yuan dan segera berjalan menuju kamarnya.
"Tapi—"
"Adik Jingli, sepertinya kami harus membiarkan permaisuri beristirahat dulu. Karena permaisuri mengatakan sudah mengetahuinya, mungkin permaisuri juga sudah menemui tamu dari Liang itu. Jangan khawatir," ucap Yunniang sembari menepuk pundak Jingli.
"Mn, baiklah."
Di tempat lain, ZiXuan yang sedang duduk membaca beberapa dokumen di ruang bacanya terinterupsi suara langkah kaki yang masuk.
"Ada apa?" tanyanya tanpa mengangkat wajah. Tentu saja dia tau dengan jelas siapa orang yang sudah berdiri di depannya itu meskipun tanpa melihat.
Pria di depannya menunduk dan berkata, "Tuan Putri Liang meminta izin untuk bertemu dengan anda."
"Bukankah saya sudah mengatakan bahwa saya tidak ingin diganggu saat ini?"
"Putri Liang Rong berkata, dia bersedia menunggu Yang Mulia sampai pekerjaan anda selesai."
ZiXuan membuang napas pelan. Tangannya melipat dokumen dan berdiri. "Sangat menyusahkan," gumamnya pelan.
Dia berjalan mendahului Li Wei dan menemui seorang gadis yang sudah berdiri di depan pintu itu.
Melihat pria tampan dengan wajah lelah berdiri di depannya, Liang Rong bergerak maju.
ZiXuan memundurkan langkahnya dan berkata, "Ada urusan apa sampai Putri Liang Rong datang ke sini?"
Liang Rong sedikit merasa malu, wajah cantiknya memerah dan dia segera menundukkan kepala.
"Itu, Ying'er mei—"
"Tidak ada yang bisa saya lakukan. Jika anda ingin bertemu dengan mereka, mati saja."
"Pffft"
ZiXuan melirik sinis pria di sebelahnya.
Li Wei berdeham pelan dan meluruskan kembali ekspresinya.
"Jika tidak ada yang lain, jangan ganggu saya!" ZiXuan hendak berbalik, tetapi tarikan pelan di ujung lengan bajunya membuat dia berhenti.
Menyadari tatapan tajam ZiXuan, Liang Rong buru-buru melepaskan tangannya dan berkata, "Saya—saya membuatkanmu makanan ringan." Dia menyodorkan keranjang yang berada di tangannya yang lain dengan wajah yang semakin memerah.
"Terima kasih," ucapnya kembali masuk ke ruang baca.
Li Wei mengambil keranjang yang di bawa Liang Rong.
"Tuan Putri, silakan kembali beristirahat. Saya permisi." Li Wei menundukkan kepala sebelum berbalik mengikuti langkah ZiXuan dan menutup pintu.
Li Wei meletakkan keranjang itu pada sebuah meja yang terletak tidak jauh dari tempat duduk ZiXuan.
"Bawa kembali."
"Apa?"
"Saya tidak memakannya, kamu berikan saja pada orang lain."
Li Wei mengangguk paham dan tersenyum. "Sepertinya yang dapat memahami selera makanan anda hanya koki kekaisaran, Janda Permaisuri dan Permaisuri saja," ucapnya pelan.
Meskipun bingung pada perintah terakhirnya, Li Wei tetap mengambil jubah panjang berwarna emas itu dan segera pergi.
Siapa yang tidak tau, dibalik wajah tampan yang terlihat ramah itu ada sosok yang gelap di dalamnya.
Seorang pria berdarah dingin dan kejam di medan perang, misterius, dan licik itu semuanya adalah dia.
ZiXuan menatap kearah pintu yang sudah tertutup, kepalanya menunduk dengan tangan yang meraih pegangan laci di bawah mejanya.
Laci itu terbuka, menampakan sebuah gulungan kertas putih. Dia mengambil dan membukanya.
Bibirnya menyunggingkan senyum tipis dan dengan pelan berkata, "Siapa kamu sebenarnya?"
***
Yuan sedang tertidur saat Jingli tiba-tiba saja masuk ke kamarnya.
"Iya, letakkan saya di sana."
Gadis itu terbangun dan menatap beberapa orang termasuk Jingli dari sekat yang memisahkan.
Yuan perjalan pelan dan menatap orang-orang dengan pandangan bertanya.
Para pelayan itu menunduk dan memberi salam pada Yuan sedangkan Jingli berjalan menghampiri.
"Ada apa?"
Sambil menoleh pada arah pandang Yuan, Jingli menjawab, "Ah, ini baju untuk perayaan festival Chuxi. Yang Mulia memerintahkan pelayan istana ini untuk mengantarnya ke kediaman Permaisuri."
Yuan mengerutkan dahinya. Ah ternyata ini adalah malam pergantian tahun. Pantas saja beberapa hari ini dia memperhatikan orang-orang terlihat lebih sibuk.
"Permaisuri, apakah ada yang dibutuhkan?" Suara itu menarik dirinya dari lamunan. Yuan segera menggeleng sambil berkata, "Tidak. Tidak ada."
"Permaisuri, apakah ingin makan malam sekarang?" tanya Jingli.
Yuan menolehkan kepalanya dan baru menyadari ternyata hari sudah gelap. "Iya. Tapi aku akan memasak sendiri."
Mendengar itu, raut wajah Jingli berubah sedikit berlebihan. "Yang Mulia Permaisuri masih lelah, lebih baik hamba yang memasaknya untukmu."
"Tidak ada. Kakak, mengapa wajahmu seperti itu? Adakah yang menggertakmu?"
"Ahaha, Tidak ada."
Yuan menyipitkan matanya, curiga. "Kamu katakan. Mengapa saya tidak boleh memasak di dapur kekaisaran?"
Sambil menoleh ke belakang, Jingli berkata, "Kalian pergi dulu."
Para pelayan yang datang bersamanya itu menunduk dan segera pergi dari sana.
Jingli kembali menghadap Yuan. "Anda adalah permaisuri."
"Lalu kenapa? Apakah dapur istana adalah tempat yang tidak boleh saya masuki?"
"Tidak, bukan begitu. Karena anda adalah permaisuri, kedudukan anda sangat istimewa. Memasak adalah tugas bawahan."
"Tidak masuk akal." Yuan hendak meninggalkan Jingli, tetapi dihentikan oleh wanita itu.
"Permaisuri, sebenarnya saat pertama kali anda memasak, kepala pelayan istana menegurku karena membiarkanmu memasak. Bagaimanapun status anda sudah berubah sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini. Mohon Permaisuri mengikuti aturan," jelasnya sambil menunduk.
Yuan terdiam selama beberapa saat, sebelum kembali berkata, "Baiklah, kamu menyingkir dari hadapanku."
"Permaisuri akan pergi ke mana?"
"Menemui Yang Mulia Kaisar."
"Mengapa anda ke sana?"
"Apakah harus ada alasan untuk bertemu suamiku? Kakak, jangan bicara lagi. Biarkan aku pergi, oke??" Setelahnya Yuan segera pergi dari dari hadapan Jingli sebelum gadis itu kembali menghentikan.
Tidak lama kemudian, Yuan sudah sampai di Istana Qin, kediaman Kaisar. Dia langsung masuk tanpa ada yang berani menghentikannya.
"Yang Mulia," panggilnya begitu memasuki ruangan dengan pencahayaan yang temaram.
Dia memelankan langkahnya ketika melihat Zi Xuan berbaring di tempat tidur.
'Apakah dia tertidur? Ini belum terlalu larut,' pikirnya.
Jika dilihat-lihat, pria ini ketika tidur seperti orang polos.
Tanpa sadar, Yuan berjongkok dan menatap dalam wajah yang damai itu. Tangannya terulur menyentuh alis tebal ZiXuan.
Tiba-tiba tubuhnya berputar dan posisinya sudah berbalik.
"Sangat menyenangkan lihatku tertidur?"