My Devil Emperor

My Devil Emperor
Perhatikan Langkahmu



Ruangan berbentuk persegi yang luas dengan beberapa sekat itu terlihat sedikit tenang.


Seorang wanita terlihat bersandar di kebagian kepala tempat tidur.


"Aku membuatkan sup ini untukmu, bagaimana rasanya?" Seorang wanita lansia yang masih terlihat cantik itu menatap wanita yang sedang bersandar di ranjang dengan pandangan lembut.


"Membuat Nenek kekaisaran repot. Rasanya sama seperti buatan ibuku," jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Xiao Li, apakah sudah merasa lebih baik?"


Yuan menoleh pada wanita paruh baya di samping Janda Permaisuri, gadis itu tersenyum dan menggeleng pelan. "Xiao Li sudah merasa baik-baik saja, Ibu Suri."


"Syukurlah, kami semua sangat mengkawatirkanmu." Kini Ibu Selir Zhu yang bersuara.


Saat ini di Istana Qin setelah Yuan baru saja tersadar, Janda Permaisuri, Ibu Suri, dan Ibu Selir Agung Zhu serta Putri YouHua segera datang ke sana.


Mereka memastikan sendiri keadaan dari Permaisuri Xuan setelah melewati masa kritisnya. Untung saja pertolongan pertama yang di lakukan ZiXuan memang sangat membantu.


"Orang yang berusaha menyakitimu itu seharusnya saudara kekaisaran sudah memberikan hukuman yang berat padanya!"


Ibu Suri Xiao Chun menoleh cepat menatap tajam putrinya yang tidak melihat sikon itu.


YouHua mengerjapkan matanya, bingung. "Apa aku salah?"


"Apakah kamu harus membahas itu sekarang saat kakak iparmu baru saja terbangun?" tanyanya sambil menggertakkan gigi.


"Aku—"


"Yang Mulia Kaisar memasuki ruangan." Pengumuman yang terdengar dari luar kamar itu membuat YouHua menghentikan ucapannya.


ZiXuan masuk dengan mata langsung tertuju pada Yuan yang setengah berbaring di ranjangnya itu.


"Kamu sudah datang. Bagaimana?" tanya Janda Permaisuri langsung saat pria itu sudah berada di depan mereka.


ZiXuan tersenyum dan mengangguk ringan. "Ditunda."


Lian Chun menaikkan alisnya, bingung. Tetapi wanita itu kemudian menghela napas pelan. "Kamu temui kami setelah ini. Ibu, ayo kita kembali," katanya pada Janda Permaisuri.


Lian Chun membantu ibu mertuanya untuk berjalan setelah memberikan mangkuk kosong pada pelayannya.


Selir Agung Zhu dan YouHua pun mengikutinya tanpa banyak bicara. Mereka meninggalkan ruangan itu, memberikan sepasang suami dan istri itu waktu berdua.


Pinti tutup pelan. Tetapi ruangan itu tetap terang karena jendela yang dibiarkan terbuka.


ZiXuan mengambil posisi yang tadi ditempati neneknya, duduk di tepi ranjang. "Sudah merasa lebih baik?" tanyanya membuka percakapan.


Yuan hanya mengangguk dan menunduk. Ditinggalkdn hanya berdua dengan ZiXuan membuat jantungnya entah mengapa menjadi berdetak cepat. Wajahnya bahkan mulai memerah ketika mengingat beberapa hari yang terjadi di antara mereka.


"Sudah meminum obatnya?"


"Um, Ibu sudah memberikannya," jawab Yuan pelan.


Keduanya terdiam selama beberapa saat.


Yuan menggigit bibir bawahnya, perlahan mengangkat wajah. "Itu, apa yang Saudara maksud dengan ditunda? Apa yang ditunda?" tanya Yuan yang tidak dapat menahan rasa penasarannya.


"Oh itu? Tidak ada apa-apa. Hanya terjadi sesuatu di persidangan hari ini, tetapi karena kamu sudah tersadar, aku menundanya dan segera menemuimu."


"Kamu menundanya untukku?"


ZiXuan tersenyum tipis dan mengangguk mengiyakan.


Yuan kembali menunduk dengan wajah yang semakin memerah. Kemudian dia teringat sesuatu dan kembali menatap wajah tampan di sampingnya itu. "Yunniang, bagaimana dengan dia? Apa dia baik-baik saja?"


Pria itu mengernyit, bingung. "Kamu masih ada waktu untuk memikirkan orang lain saar dirimu sendiri hampir mati?"


"Bukan begitu, tetapi Yunniang menyelamatkanku. Jika dia tidak menarikku saat itu, mungkin yang terpanah bukan hanya lenganku saja," ujar Yuan pelan.


"Tidak apa. Dia baik-baik saja. Pelayanmu yang menjaganya."


Yuan bernapas lega. "Itu bagus," gumamnya.


Kemudian mata indahnya kembali terlihat khawatir, tetapi dia ragu apakah harus bertanya atau tidak.


"Itu—Saudara, ketika kami di gua—" Yuan menggantung kalimatnya. Telapak tangan gadis itu bahkan mulai berkeringat.


"Itu—ketika kami di gua, kamu—" Kalimatnya terhenti lagi.


"Aku kenapa? Bisakah kamu jangan bicara setengah-setengah seperti ini?" tanya ZiXuan mendesak.


Yuan menelan salivanya untuk membasahi kerongkongan yang terasa sangat kering. "Kamumembantukuuntukmengeluarkan rancunyaapakamubaik-baiksaja?" ujarnya dengan sekali tarikan napas.


"Ah?" Tentu saja ZiXuan tidak dapat mendengarnya dengan jelas. "Apa yang katakan tadi? Bicaralah pelan-pelan," lanjutnya.


Yuan menarik napas panjang, kemudian berkata, "Ketika di gua, kamu—kamu membantuku mengeluarkan racunnya. Kamu baik-baik saja?" Dia menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang memerah.


ZiXuan tertawa pelan. "Kamu mengkhawatirkanku tetapi juga malu untuk bertanya. Jangan khawatir, kamu bisa melihatnya sekarang. Aku baik-baik saja," jawabnya.


Yuan menghela napas lega, tetapi dia masih enggan menatap pria yang sedari tadi memperhatikannya itu.


"Permaisuri, apa yang kamu katakan saat kami di gua, apakah itu benar?" ZiXuan kembali membuka suara.


"Yang mana? Aku lupa. Yang Mulia, aku masih sedikit mengantuk, bisakah aku tidur sekarang?"


"Eh!" ZiXuan menahan pundak Yuan yang akan kembali berbaring. "Jangan mencari alasan! Kamu katakan dulu," katanya memaksa.


"Aku tidak mengerti! Aku tidak mengerti!"


***


Ini sudah seminggu sejak insiden penyanderaan Permaisuri Xuan terjadi. Selama beberapa hari ini pula, suasana istana kekaisaran menjadi damai.


Yuan sudah kembali ke kamarnya sejak tiga hari setelah dia terbangun. Jadi selama tiga hari itu, dia mau tidak mau harus berbagi tempat tidur dengan ZiXuan.


Untungnya pria itu sedang dalam mood normal. Dia tidak selalu menggoda Yuan.


"Permaisuri, apakah kamu masih sulit untuk tertidur?" Suara lembut Yunniang menariknya kembali dari lamunan.


Yuan menoleh menatap lesu Yunniang yang sudah berada di sampingnya. "Yunniang, aku benar-benar lelah sekali!" katanya mengeluh. Sebenarnya, dari sejak dia terbangun sudah merasakan bahwa setiap malam sangat sulit untuk tertidur nyenyak. Luka di dadanya membuat Yuan sedikit kesakitan ketika tak sengaja bergerak, maka dari itu dia selalu terbangun. Jadi Yuan hanya terjaga dan tertidur sebentar lalu terjaga lagi agar dia bisa mengontrol gerak tubuhnya. Terkadang dia hanya memejamkan matanya saja, tidak benar-benar tertidur.


"Ini. Hamba memintanya dari tabib istana. Dia bilang obat ini dapat meredakan rasa sakit Permaisuri selama beberapa jam. Waktu yang cukup untuk Yang Mulia tertidur. Hamba juga membawakan tanaman mint dan bunga melati untuk di tanam di luar jendela. Dengar-dengar dapat membuat kamar lebih sejuk dan nyamuk berkurang. Bisa membuat tidur lebih nyenyak," ujar Yunniang panjang dan lebar disertai senyumannya.


"Yunniang, kamu sudah bekerja keras. Setelah ini beristirahatlah."


Yunniang membungkuk hormat dan berkata, "Baik. Mematuhi perintah Permaisuri."


"Kamu boleh pergi."


"Baik."


Setelah Yunniang pergi dan menutup pintu kamarnya, Yuan menghembuskan napas panjang. Kepalanya terasa sedikit berat karena kurang tidur.


"Siapa?" ujarnya tiba-tiba saat mendengar pintu yang didorong terbuka.


"Sangat waspada. Ini aku."


Melihat orang itu, Yuan memegang tiang penyangga tempat tidur, hendak berdiri.


"Tidak perlu. Kamu duduklah."


Orang itu berjalan mendekat padanya.


"Yang—Yang Mulia, ini tidak perlu." Yuan menolak saat tangan pria itu terangkat membantunya memijat kepala.


"Jangan bergerak."


ZiXuan tetap memijat kepala gadis itu dengan pelan.


"Aku sudah mendengarnya. Kamu kesulitan untuk tertidur."


"Ah, bukan masalah besar. Yunniang sudah menemukan jalan keluarnya," ujar Yuan.


"Yunniang?"


Yuan mendongak menatap ZiXuan. "Mn. Dia sangat cerdas."


"Itu bagus jika dia dapat membantumu, tetapi kamu juga harus berhati-hati dengan orang yang begitu pintar."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...