My Devil Emperor

My Devil Emperor
Spring of Love



Siang ini, matahari tidak begitu terik. Dia bersembunyi di balik gumpalan awan putih di langit. Semir angin berhembus pelan menggugurkan beberapa daun dari cabang.


Bunga-bunga bermekaran dan pohon-pohon sudah berbuah. Pemandangan yang indah pada puncak musim semi membuat hati juga ikut menghangat dan bersemangat.


"Saudari, ayo kita keluar!" ujar Yuan antusias.


"Baik, Permaisuri."


Keduanya berjalan pelan menikmati pemandangan indah halaman istana kemudian melangkah lebih jauh ke taman istana, di sana lebih banyak bunga dan beberapa pohon.


Pandangannya jatuh pada pohon plum dengan buah yang menggiurkan. Gadis itu berlari mendekati pohon itu meninggalkan Jingli yang langsung menyusulnya.


"Permaisuri, Jangan berlari! Anda bisa terjatuh," katanya panik saat melihat Yuan berlari.


"Itu terlihat manis!"


"Anda menginginkannya?"


Yuan mengangguk dan berkata, "Pegang ini, aku akan memanjat." Dia memberikan kipas lipat yang sedari tadi dibawanya.


Jingli membelalakkan matanya terkejut. "Permaisuri, Anda tidak boleh melakukannya. Itu berbahaya!" kata Jingli mencegah.


"Jangan khawatir. Aku sudah biasa melakukannya." Tanpa mempedulikan ucapan Jingli, gadis itu mengambil ancang-ancang untuk segera memanjat pohon.


"Permaisuri, biar aku yang melakukannya." Ucapan Jingli membuat Yuan berhenti. Dia menatap wanita itu sangsi. "Kamu? Kamu bisa melakukannya?"


Jingli menghembuskan napas pelan dan menjawab, "Saya akan mencobanya."


Terhitung sudah sepuluh menit Yuan berdiri menunggu Jingli. Wajahnya terlihat sedang bosan dan menahan kesal. "Saudari, apakah kamu benar-benar bisa melakukannya?" tanya Yuan.


"Saya bisa, tunggu sebentar lagi."


"Saudari Jingli, kamu bahkan tidak bisa mencapai cabang pertamanya. Aku sudah lelah menunggu! Menyingkirlah." Yuan menarik tangan Jingli untuk menyingkir dari pohon. Selama sepuluh menit wanita itu hanya bisa mencapai tujuh puluh senti batang pohon dari tanah. Jelas-jelas dia tidak bisa memanjat tapi memaksa untuk membantunya.


Yuan mulai memanjat meninggalkan Jingli di bawah dengan wajah khawatir. Perempuan itu bahkan dengan cepat sudah mencapai batang pohon pertama. Wajahnya berseri-seri saat melihat buah berwarna merah keunguan itu di depannya.


Para pelayan istana yang melihat permaisuri mereka memanjat pohon itu langsung mengerumuninya.


"Yang Mulia, turunlah. Itu sangat berbahaya!" kata salah satu pelayan.


"Permaisuri, jika kamu menginginkan buah itu, kami akan mengambilkannya untukmu," ujar salah satunya lagi.


"Yang Mulia Permaisuri, Jika kaisar melihatmu seperti ini, Anda dan juga kami semua akan mendapat masalah."


"Tidak akan ada masalah. Jangan mengganggu konsentrasiku atau aku akan benar-benar terjatuh karena kalian sangat berisik," ujar Yuan kesal.


Mereka semua terlihat panik melihat Yuan. Tetapi gadis itu sama sekali tak menunjukkan raut wajah takut.


"Permaisuri, berhati-hatilah," kata Jingli yang masih melihat Yuan khawatir.


Yuan tidak menjawab, dia asik memetiki buah plum dan menampungnya di baju.


Dari kejauhan, kaisar yang baru saja keluar dari perpustakaan kekaisaran melihat permaisurinya sudah menyangkut di pohon. Tenggelam dalam dunia buahnya sendiri. Dia berjalan mendekati kerumunan itu.


"Salam, Yang Mulia Kaisar," ujar para pelayan saat Zi Xuan sudah berada dekat dengan mereka.


Yuan hanya menatap sekilas pada laki-laki itu dan kembali memetik buah plum.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya ZiXuan sambil mendongakkan wajahnya menatap gadis itu.


"Apakah Yang Mulia tidak bisa melihat apa yang sedang aku lakukan?" tanyanya balik tanpa menatap wajah tampan di bawahnya.


"Turun!" perintahnya tegas.


"Aku akan turun nanti. Ini masih belum cukup," ujarnya sambil melihat buah yang baru dipanen itu.


"Turun!" perintah Zi Xuan yang tak terbantahkan.


Yuan tak mengindahkan perintah Kaisar muda itu dan tetap memetik buah plum.


Mereka semua termasuk Jingli pun pergi meninggalkan Yuan dan Zi Xuan.


"Saudari, ke mana kamu akan pergi?Mengapa kamu meninggalkanku?" teriak Yuan saat melihat pelayan pribadinya juga ikut pergi. Jingli hanya menatap Yuan dengan pandangan memelas dan menundukan kepala sambil mengatakan maaf yang bisa terlihat dari gerakan bibirnya.


"Yang Mulia, tidak bisakah kamu melihatku bahagia?" kata Yuan mencebikkan bibirnya.


"Aku bilang turun!"


"Baiklah, baiklah!"  Dengan setengah hati, Yuan pun akhirnya mau menuruti perkataan ZiXuan. Tetapi sebelum turun, dia menatap pria di bawahnya ini dengan aneh. Sambil mengulum senyum, Yuan menjatuhkan buah yang tertampung di bajunya ke bawah. Tepat ke arah pria itu.


Kaisar yang memiliki spontanitas cepat, tentu saja tidak sulit untuk menghindar.


"Gadis nakal!" ujarnya pelan.


Yuan kecewa melihat tak ada satupun buah yang mengenai kepala ZiXuan. "Aku tidak sengaja!" elaknya.


Dia mulai menginjak beberapa dahan pohon untuk turun, tapi karena tidak hati-hati dia salah meletakkan kakinya dan...


Yuan memejamkan mata saat ia terjatuh dan perlahan membukanya. Dia menatap ZiXuan yang berdiri membelakangi matahari. Pria itu tepat berada di depannya.


"Ah!" rintih Yuan sambil memegang bokong dan kakinya. Sakit itu baru terasa sekarang.


"Yang Mulia, mengapa kamu tidak menangkapku?" tanyanya memelas. Matanya terlihat berkaca-kaca.


"Harusnya kamu bilang tadi." ZiXuan menatap Yuan dengan tanpa rasa bersalah.


Yuan menyipitkan matanya dan membuang muka. "Aku tidak mau berbicara padamu!"


Zi Xuan mengulurkan tangannya di depan Yuan.


Yuan mendengus kasar melirik tangan itu. "Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri!" Katanya tanpa menerima uluran itu.


Mendengar ucapan ketus gadis di depannya, sudut bibir ZiXuan terangkat. Dia menarik kembali uluran tangannya.


Yuan mencoba bangun dengan perlahan, tetapi ia tidak bisa menahan massa tubuhnya sendiri. "Ah," rintihnya saat kembali terjatuh duduk.


ZiXuan memperhatikan Yuan dengan menahan senyum gelinya. Gadis yang malang itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya.


"Kamu memang kejam! Jika tidak ingin membantu, maka pergi saja!" katanya hampir menangis. Kaki dan bokongnya terasa sangat nyeri tetapi pria di depannya ini hanya berdiri menonton.


ZiXuan berjongkok di depan Yuan dan menghapus air mata gadis itu yang sebentar lagi akan turun. "Mengapa kaum wanita sangat sulit dipahami? Jelas-jelas tadi kamu sendiri yang menolakku, sekarang kamu menyalahkanku," ujarnya pelan.


"Sakit," Adunya pada Zi Xuan sambil menarik pelan baju suaminya.


Zi Xuan menatap Yuan dengan pandangan yang tak terbaca. Laki-laki itu meletakkan tangannya di bawah lutut dan di belakang punggung Yuan, dengan mudah ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.


Yuan spontan mengalungkan kedua lengannya di leher Zi Xuan. Matanya menatap wajah dingin pria itu. Sangat tampan. Itu adalah pria yang sangat tampan yang pernah dia lihat selama hidupnya. Mata biru yang selalu menggodanya itu sangat indah. Walaupun penuh intimidasi tetapi jika kamu lebih mendalaminya, itu sangat tenang. Bulu mata ZiXuan juga sangat panjang dan lentik, alisnya tebal dan jangan lupakan bibir merah ranumnya yang bahkan lebih menggoda dari buah plum yang tadi dia petik.


"Buah plumku!" kata Yuan yang baru teringat pada buah-buah yang baru saja dia perjuangkan.


"Yang Mulia—"


"Apakah isi otak kecilmu hanya ada makanan? Biarkan pelayan yang akan membawakannya untukmu," jawab Zi Xuan yang sudah bisa menebak isi pikiran gadis mungil itu.


Yuan kembali merapatkan bibirnya. Tidak. Dia tidak kesal atau tersinggung dengan apa yang barusan dikatakan ZiXuan, hanya saja dia tidak tau akan meresponnya bagaimana.


Para pelayan dan pengawal yang melihat Kaisar dan Permaisuri mereka lewat pun menundukkan kepala tanpa berani menatap apa yang sedang terjadi di depan mereka.


Wajah Yuan memerah. Jantungnya berdetak sangat cepat, dia bahkan takut jantung itu akan meledak karena bekerja terlalu keras. Dia melirik wajah ZiXuan, dan berharap laki-laki itu tidak mendengar detak jantungnya juga. Itu akan sangat memalukan.


Senyuman tiba-tiba muncul di bibir ZiXuan. Dia menunduk menatap wajah cantik Yuan dan berkata, "Apakah suamimu sangat tampan? Tidak perlu malu-malu, kamu bisa menatap wajahku sesuka hatimu."


Mendengar godaan yang dilemparkan pria itu, Yuan menggeleng cepat dan menguburkan wajarnya yang semakin merah merona pada dada bidang pria itu.


"Aku tidak seperti itu!"


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...