My Devil Emperor

My Devil Emperor
Berita Buruk



"Ternyata Tuanku di sini." Suara lembut itu membuat pria yang sedang fokus menatap replika peta pasir dengan bendera di atasnya mengangkat wajah.


Wanita itu masuk setelah menutup pintu di belakangnya dengan sebelah tangan, sedangkan tangan lainnya memegang sebuah keranjang berukuran cukup besar. Dia meletakkan keranjang itu di atas meja kecil dan berjalan menghampiri sang pria.


"Apa yang sedang kamu kerjakan?" tanyanya menatap wajah si pria dari bawah sinar lilin.


"Merancang strategi."


Wanita itu menatap replika peta dengan seksama. "ini...?"


"Lihatlah. Bendera berwarna biru ini menandakan wilayah kekuasaan dinasti kita, sedangkan yang merah adalah wilayah yang akan aku taklukkan. Dan garis ini, disebut sebagai daerah perbatasan, daerah yang sering terjadi perang."


Mendengar hal tersebut, senyum yang berada di bibirnya menghilang. Ada kesedihan dan kekhawatiran di mata wanita itu.


"Apakah kamu akan pergi berperang?"


Menyadari perubahan pada suara wanitanya, si pria pun menoleh lagi. Dia menggenggam tangan mungil wanita itu dan menciumnya.


"Apa yang Xiao Li pikirkan?"


"Suami, kamu akan pergi berperang?" ulangnya lagi tanpa mengindahkan pertanyaan ZiXuan.


"Ah, aku mengerti. Tidak. Tidak. Aku tidak akan pergi, aku hanya akan mengirimkan pasukan ke sana."


"Sungguh?"


"Sungguh. Untuk apa suamimu ini berbohong? Oh iya, mengapa kamu mencariku?"


Yuan menghela napas sebelum akhirnya kembali tersenyum. "Aku membawakanmu camilan," katanya sambil menunjuk keranjang yang tadi dia bawa.


Bibirnya mencebik kesal, dan kembali berkata, "Ada seseorang yang berjanji padaku akan membuatkan aku makanan, tapi sekarang aku tidak tau di mana dia berada."


ZiXuan tertawa. Dia mengetuk pelan dahi Yuan dengan telunjuknya. "Sindiran yang sangat tepat, Permaisuri Xuan. Orang yang anda bicarakan itu ada di depanmu. Jangan marah, Aku akan membuatkannya besok."


Yuan ikut tertawa dan menjawab, "Baiklah Yang Mulia, bisakah kamu meletakkan itu dulu, dan mari makan bersama." Dia menarik tangan ZiXuan untuk duduk di kursi.


Yuan membuka keranjangnya dan mengeluarkan beberapa makanan dari dalamnya.


"Cobalah," ujar Yuan sambil meletakkan sumpit ke tangan ZiXuan.


Kemudian Yuan duduk di sampingnya.


"Xiao Li sudah bekerja sangat keras. Makanlah lebih banyak." ZiXuan menaruh beberapa makanan di mangkuk Yuan.


Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Tanpa ragu memakan makanan yang berada di mangkuknya.


"Suamiku makanlah juga," ucapnya setelah berhasil menelan satu makanan ke dalam perutnya.


ZiXuan tersenyum memandangi wajah yang terlihat murni itu. "Makanlah pelan-pelan," katanya sambil membersihkan sisa makanan di sudut bibir Yuan.


"Mengapa kamu tidak memakannya? Apakah ini tidak sesuai dengan seleramu?"


ZiXuan tertawa pelan. "Bukan begitu. Aku akan memakannya," ujarnya setelah setelah berhenti tertawa. Ingin sekali dia menggoda wanitanya itu dengan menjawab, ''Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan.'' Tapi itu akan membuatnya marah, jadi tentu saja ZiXuan tidak mengatakannya.


Dia baru saja akan memasukan makanan ke dalam mulutnya sebelum ketukan pintu menginterupsi mereka.


"Yang Mulia, ada sesuatu yang penting yang ingin hamba beritahu," ujar seseorang dari luar sana.


Yuan sudah menghentikan suapannya dan menatap bingung ZiXuan.


"Saudara, mari kita bicarakan besok," jawab ZiXuan tanpa berniat membuka pintu.


"Tapi ini sangat penting."


"Pergilah. Mungkin Jenderal Li Wei benar-benar ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting," ujar Yuan tersenyum lembut. Dia paham betul ZiXuan bukan hanya seorang suami, tapi juga seorang pemimpin. Sebagai pendampingnya, Yuan tidak boleh egois walaupun dia ingin.


Tanpa basa-basi lagi, ZiXuan bangkit sambil berkata, "Tunggulah. Aku akan segera kembali." Dia melangkah cepat ke depan pintu dan membukanya.


"Tuanku! Kamu harus segera kembali atau makanannya akan segera dingin."


ZiXuan menoleh dan tersenyum. "Aku tau," ujarnya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu yang tertutup kembali. Dia kini menatap Li Wei yang berdiri tegak di depannya.


Tanpa mengatakan apapun, ZiXuan berjalan mendahuluinya. Mereka kembali pada tempat di mana mereka menahan pedagang obat itu.


Masih dalam satu wilayah yang sama, tetapi pedagang obat yang sudah paruh baya itu sudah tidak lagi berendam pada air berwarna hitam seperti terakhir kali. Dia lebih seperti tamu rahasia.


"O-orang tua ini memberi salam kepada Yang Mulia. Apakah... Apakah Yang Mulia dan Jenderal datang kemari untuk memeriksa hamba lagi?" Pedagang itu berdiri membungkuk di depan ZiXuan dan Li Wei.


"Tidak. Aku akan bertanya padamu tentang beberapa hal. Duduklah kembali," jawab Li Wei. Kini dia beralih menatap ZiXuan dan mulai menjelaskan. "Yang Mulia, hamba sudah melakukan pemeriksaan tentang pelanggan yang membeli dupa itu dari catatan jual beli. Semuanya teridentifikasi tetapi ada satu pelanggan yang kami tidak bisa temukan."


"Siapa itu?"


"A-Xue." Li Wei kembali menatap pedagang itu dan bertanya, "Apa kamu mengenalnya?"


Pedagang itu mengerutkan keningnya. Ia tampak sedang mengingat dan kemudian berujar, "Oh hamba mengenalnya! Nona A-Xue salah satu pelanggan tetapku. Dulu dia sering sekali membeli obat-obatan ringan di tokoku."


"Dulu?" ulang ZiXuan bingung.


Menangkap kebingungan di wajah kaisar tampan itu, si pedagang kembali menjelaskan, "Iya, dulu nona A-Xue sering sekali beli obat-obatan herbal di tokoku tapi empat tahun belakangan ini, dia sudah tidak pernah lagi datang sampai pada bulan ke sembilan, dia datang lagi dan membeli dupa itu."


"Apa dia berasal dari daerah yang sama denganmu?"


Seraya mengangguk, pedagang itu menjawab, "Iya, dia berasal dari daerah yang sama denganku. Sepertinya berasal dari keluarga kaya. Dia juga perempuan yang lembut dan sopan. Saat itu hamba juga bertanya mengapa dia sudah jarang lagi terlihat. Dan nona A-Xue mengatakan bahwa dia bekerja di tempat yang jauh."


ZiXuan dan Li Wei saling berpandangan. Mereka telihat semakin mendekati pelaku di balik layar ini.


"Apa kamu mengingat wajahnya?" tanya Li Wei tak sabaran.


"Hamba bahkan tidak tau wajahnya seperti apa."


"Mengapa?"


"Nona A-Xue selalu mengenakan cadar untuk menutupi sebagian wajahnya, tapi hamba yakin dia memiliki wajah yang cukup cantik."


"Aku tidak peduli dia cantik atau tidak! Tidak berguna!" sarkas ZiXuan sambil mengibaskan lengan bajunya.


Melihat ZiXuan tidak senang dengan jawabannya, nyali pedagang itu kembali menciut. Dengan terbata ia berkata, "Yang-Yang Mulia, hamba benar-benar tidak bisa melihat wajahnya. Ta—tapi hamba ingat, nona A-Xue memiliki tahi lalat di lengan kirinya."


"Kamu yakin? Kamu tidak sedang menipuku, kan?"


"Hamba tidak berani."


"Apakah kita akan memeriksa satu persatu pelayan istana untuk menemukannya?" tanya Li Wei.


"Itu tidak akan mudah. Apa dia hanya membeli dupa itu? Tidak ada hal lain lagi?" tanya ZiXuan pada si pedagang.


Pedagang itu menggeleng, tapi sedetik kemudian dia menangguk semangat karena mengingatnya. "Tidak, dia membeli satu obat lagi."


"Apa yang dia beli?"


"Bukan obat, lebih tepatnya racun penghancur meridian."


Tepat setelah pedagang obat itu mengatakannya, salah seorang pengawal rahasia ZiXuan masuk ke dalam dengan wajah panik.


"Yang Mulia, terjadi sesuatu pada Huanghou!"