
"Yang Mulia, putriku, bagaimana menurutmu?"
"Ayah!" bisik Liang Rong sembari menarik lengan baju ayahnya.
Ruangan itu terasa sedikit tegang setelah pertanyaan dari Raja Liang keluar.
Siapa yang tidak mengerti maksudnya?
ZiXuan tersenyum tipis dan menjawab, "Putri Liang sangat baik dan berbudi. Karakter yang sangat lembut."
Mendengar pujian langsung dari pria yang disuka, tentu saja Putri Liang tersipu malu.
Raja Liang tertawa dengan kebanggaan di wajahnya. "Dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan aturan kerajaan yang ketat. Walaupun terkadang sedikit manja, dia masih bisa diandalkan. Dia—mungkin bisa juga membantu Yang Mulia Permaisuri untuk mengatur hareem ke depannya," ucapnya dengan sedikit keberanian ketika mengatakan kalimat terakhir.
"Ya, anda benar. Pria yang menikahinya pasti akan sangat beruntung."
"Yang Mulia—"
ZiXuan tersenyum sopan dan mengangkat telapak tangannya. "Saya mengerti. Selain itu—" Dia menoleh ke arah pintu dan melanjutkan, "Istriku, apakah kamu akan berdiri diluar saja?" tanyanya yang membuat Raja, Ratu dan Putri Kerajaan Liang itu menoleh bersamaan. Tetapi, tidak ada siapapun di sana.
Di sudut lain, Yuan yang sedari tadi bersanda dan melihat ke bawah mengangkat matanya dengan keterkejutan di sana. Bagaimana pria itu bisa tau dia ada di sini? Dia merasa yakin bahwa dia tidak membuat suara sekecil apapun.
Yuan berdeham pelan sebelum akhirnya melangkah masuk.
Dia membungkuk memberi hormat kepada ZiXuan.
"Mencariku?" tanya pria itu langsung.
"Iya, tetapi sepertinya saya datang disaat yang tidak tepat. Tidak masalah, Yang Mulia bisa menyelesaikan urusannya dahulu, saya bisa menunggu."
Yuan hendak mundur tetapi ZiXuan menghentikannya dengan berkata, "Saya sudah hampir selesai. Pergi bersama."
Wanita itu diam menurut dan berdiri di sampingnya.
ZiXuan kembali menatap Raja Liang. "Saya tidak bisa menikahi Putri Liang, selain karena tidak ingin, saya rasa saya juga orang yang cukup emosional. Saya tidak bisa melihat istri tercinta saya menangis sedih karena saya menikahi gadis lain, bukan begitu, istriku?" tanyanya dengan wajah yang dibuat memelas.
Yuan menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Jika bukan karena didepannya ada orang lain, dia pasti sudah lama menendang kaki ZiXuan.
"Saya tahu, kamu pasti malu mengatakannya. Tidak apa-apa," katanya lagi sambil mengusap puncak kepala Yuan.
"Dia memang agak pemalu. Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya dan istri saya akan pergi. Raja dan Ratu Liang, silakan beristirahat dengan nyaman."
Ada pandangan kecewa di mata Raja Liang atas penolakan ZiXuan. Dia tersenyum masam dan membungkuk. "Terima kasih, Yang Mulia. Kami akan beristirahat dan akan kembali besok."
"Oh? Begitu cepat?"
"Saya memiliki urusan yang tertunda di kediaman saya."
"Baiklah."
Liang Rong menatap ZiXuan tidak puas. Dia bahkan dengan berani memandangnya tajam. "Saya bisa menjadi yang lebih baik dari Permaisuri," ucapnya yang membuat Raja dan Ratu Liang yang sudah berjalan duluan segera berbalik.
Raja Liang segera menghampiri putrinya dan menarik tangannya sambil berkata, "Apa yang kamu lakukan!"
"Aku bilang, aku bisa menjadi yang lebih baik dari permaisurimu, berikan saya kesempatan."
ZiXuan menaikkan alisnya sebelum menyunggingkan senyuman. "Seseorang yang terlahir kembar sekalipun, tidak bisa menjadi kembarannya. Anda berkata begitu, saya menjadi semakin tidak menyukaimu. Saya tidak menyukai seseorang—yang menjadi orang lain," ujarnya sambil melirik Yuan.
"Yang Mulia, maafkan hamba atas kelancangan putri hamba. Ayo pergi!" Kali ini, Raja Liang benar-benar berhasil menyeret putrinya keluar dari sana.
Yuan berbalik menghadap ZiXuan. "Kamu tidak menyukai seseorang yang menjadi orang lain?"
"Kenapa? Apakah kamu bukan Zhou YanLi?"
Yuan terdiam, bingung akan menjawab apa.
ZiXuan tertawa pelan dan mengibaskan lengan bajunya. "Jangan terlalu serius. Saya hanya bercanda ketika mengatakannya," ucapnya sambil berjalan mendahului wanita itu.
"Bagaimana jika saya memang bukan YanLi?" pertanyaan itu membuat ZiXuan menghentikan langkahnya.
Pria itu menoleh. "Tidak tahu. Yang jelas, kamu yang di depanku adalah milikku," jawabnya penuh penegasan.
"Oh, bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu?" tanya ZiXuan mengingatkan.
"Sudah makan malam?"
Yuan menggeleng ragu. Dia sudah makan, tapi tidak menyelesaikannya karena buru-buru ke sini.
"Ayo," ajaknya sambil kembali melangkah. Tetapi baru dua langkah, dia berhenti dan berbalik.
"Apakah kamu butuh bantuan?"
Yuan buru-buru menggeleng. Wajahnya tersipu. "Tidak. Tidak perlu."
ZiXuan hanya mengangguk dan kembali berjalan. Kali ini dia berjalan dengan lambat menyesuaikan langkah wanitanya.
Dia membawa Yuan kembali ke kamarnya.
"Ah, sebenarnya Yunniang sudah menyiapkan makan malam untukku, tetapi aku belum menghabisinya. Aku—aku kembali saja," ujar Yuan gugup.
"Tidak masalah. Saya akan menyuruh pelayan memindahkan makananmu ke sini. Kami makan bersama." Tanpa menunggu Yuan mengatakan keberatannya lagi, pria itu buru-buru keluar dari sana.
Yuan menghembuskan napas pasrah. Dia agak sedikit gugup ketika berada di kamar ini lagi. Bayangan itu terlalu jelas dan mengganggu pikirannya.
Tidak terlalu lama, beberapa pelayan masuk membawakan makanan yang sepertinya sudah dihangatkan kembali.
Semua pelayan itu keluar dan ZiXuan masuk. Dia menutup pintunya dengan pelan dan berjalan mendekat.
"Mengapa kamu menunduk dari tadi?" tanyanya ketika melihat tingkah aneh wanita cantik itu.
"Apakah ada? Tidak tuh," jawab Yuan menyangkal.
Dia menahan napaskan ketika tiba-tiba saya pria itu mendekat dan menyentuh lehernya.
"Kamu—apa yang kamu lakukan?"
"Apakah kamu sedang sakit? Wajahmu merah sekali," katanya sambil merasakan suhu tubuh wanita itu.
Yuan menepis tangannya pelan. "Saya baik-baik saja!" Dia kembali menunduk dan memegang sumpitnya, menyuapkan makanan ke dalam mulut.
ZiXuan hanya mengedikkan bahu dan duduk di depan Yuan.
Wanita itu meliriknya dan tertegun. "Kamu terluka?"
ZiXuan menurunkan lengan bajunya dan berkata, "Hanya luka kecil. Seekor tikus yang menggigitnya."
Yuan mengernyit. "Bagaimana di kamarmu bisa ada tikus? Sudahkah kamu mengibatinya dengan benar? Jika tidak itu akan infeksi."
ZiXuan menggeleng. "Tidak tahu. Jangan khawatir, itu sudah diobati. Lanjutkan makan malammu."
Yuan menurut dan kembali fokus dengan makanannya, sedangkan ZiXuan tenggelam dalam pikirannya sambil menatap luka yang ada di tangan.
"Oh iya, mengapa kamu menolak lamaran dari kerajaan Liang? tidakkah menurutmu putri Liang itu cantik?"
"Selesaikan makananmu dulu, baru berbicara."
Yuan meletakkan sumpitnya dan menatap pria itu dengan polos. "Saya sudah selesai."
"Apakah kamu sangat penasaran?"
Wanita itu mengangguk semangat. "Beritahu aku!"
ZiXuan tersenyum miring. "Menurutmu sendiri, apakah kualifikasimu jauh dibawahnya?"
Yuan berpikir sejenak dan menjawab, "Tidak tahu, tetapi saya rasa saya lebih baik dari dia."
"Apakah kamu berharap saya mengambilnya sebagai selir?"
Yuan menggeleng. "Tidak. Bukankah kami sudah memiliki perjanjian?"
"Lalu mengapa kamu bertanya seolah-olah menginginkan saya menikahinya?"
Yuan merengut kesal. "Saya hanya penasaran! tidak bolehkah?"
"Bodoh!"