My Devil Emperor

My Devil Emperor
Apakah Kamu Milikku?



Angin malam masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka membuat seorang gadis cantik yang sedang menulis menolehkan kepalanya pada pandangan di luar jendela.


Bintang-bintang bertaburan dengan cahaya bulan yang terlihat indah menghiasi langit malam yang gelap.


Yuan masih terjaga. Gadis itu terlihat sedang berpikir dengan kerutan di dahinya.


Suasana malam hari di hareem cukup tenang, hanya ada beberapa pelayan dan kasim yang terjaga.


Setelah menimbang-nimbang, Yuan akhirnya keluar dari kamarnya menuju istana Qin -kediaman Kaisar Qin Zi Xuan.


"Salam, Permaisuri," ucap kedua pengawal yang menjaga pintu istana Qin.


"Apakah Yang Mulia ada di dalam?" tanya Yuan.


"Iya, Yang Mulia Kaisar Xuan ada di dalam."


Setelah mendengar jawaban itu, Yuan langsung masuk ke dalam tanpa ada yang berani menghentikannya.


Ini kali kedua gadis itu masuk ke kamar tidur Zi Xuan. Yang pertama adalah saat malam pernikahannya.


Jika dilihat-lihat, ruangan besar ini sangat amat indah, rapi dan bersih. Yuan juga bisa mencium wangi harum saat membuka pintunya tadi. Kakinya terus berjalan sampai ia melihat sebuah ranjang tidur dengan ukiran halus yang dilapisi emas. Jika dijual mungkin hartanya tidak akan habis tujuh turunan.


"Sedang apa kamu di sini?" Suata itu sudah sangat familiar di telinga Yuan.


Dia berbalik dan melihat Zi Xuan yang sudah berdiri di belakangnya.


"Yang Mulia Kaisar, saya ingin membicarakan sesuatu yang penting," kata Yuan tanpa basa-basi. Entah itu hanya perasaannya tapi mengapa semakin hari Zi Xuan terlihat semakin tampan.


Zi Xuan berjalan melewati Yuan dan duduk di atas ranjangnya. "Katakan."


Yuan berjalan mendekati Zi Xuan dan berhenti di depannya. "Yang Mulia, kudengar Raja Wei beserta Putrinya akan sampai ke sini besok, " ujar Yuan pelan.


"Mn, itu benar. Ada apa?" Tanpa menatap gadis di depannya itu, Zi Xuan membuka sepatunya.


"Apakah Yang Mulia akan menikahi Putri Bingyan?" tanya Yuan tanpa basa-basi lagi.


"Apakah itu menjadi urusanmu?"


"Mengapa bukan urusanku? Seperti yang kamu katakan pada orang tuaku, kami sudah menikah, urusanmu adalah urusanku."


"Jadi?"


Yuan mendengus kesal. Apakah laki-laki itu sedang berpura-pura bodoh atau dia memang bodoh?


"Jadi kamu akan menikahinya atau tidak? Jawab saja iya atau tidak!"


"Permaisuri, kamu yang seperti ini... aku jadi merasa seperti suami yang sedang dimarahi istri karena ingin menikah lagi."


"Yang Mulia, jangan mengalihkan pembicaraan!"


ZiXuan mengangkat wajahnya. Menatap dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. "Aku baru memikirkannya. Sepertinya menyenangkan memiliki beberapa wanita cantik di hareem. Kamu juga akan memiliki beberapa saudari yang menemanimu di sana. Bukankah ini bagus?"


"Jadi kamu akan menikahinya?"


"Bagaimana menurutmu?"


Sudah cukup! Pria ini benar-benar menguji kesabarannya!


Yuan berjalan mendekat dan menarik kerah baju pria di depannya itu.


ZiXuan terkejut tetapi dia tidak berusaha untuk melepaskan diri. "Apa yang sedang kamu lakukan? Apakah seperti ini sikap dan kelakuan seorang putri atau gadis-gadis yang berasal dari Kerajaan Zhou?" tanyanya santai. Dia bahkan tersenyum mengejek pada Yuan.


"Bukankah sama saja sepertimu? Kaisar Dinasti Qin tidak sepintar yang aku pikirkan."


Bukannya merasa kesal seperti yang dipikirkan Yuan, laki-laki itu malah tertawa dengan keras.


Yuan menatap ZiXuan aneh. Dia tidak kesurupan, kan?


"Mengapa kamu tertawa? Aku sedang berbicara serius!"


Yuan menggertakkan gigi. Tangannya hendak menampar ZiXuan tetapi dia malah merasa tubuhnya berputar 180° dan terbanting di atas ranjang empuk itu.


"Aku tidak akan menikahinya tergantung apakah kamu bisa melayaniku dengan baik."


Yuan melebarkan matanya. "Yang—Yang Mulia, kamu—kamu jangan seperti ini."


ZiXuan tersenyum tipis. Jarinya mengusap ringan pipi merah itu. "Apa ini? Apakah kamu takut? Beberapa saat yang lalu kamu bahkan berani menarik kerah bajuku seperti perampok. Ke mana hilangnya keberanianmu itu, hmm?"


Yuan ingin bangun, tetapi tubuhnya terasa kaku. Padahal ZiXuan jelas tidak menindihnya tapi seperti ada sesuatu yang menahan tubuhnya.


"Yang Mulia, jangan marah. Aku—aku hanya merasa kesal karena kamu malah balik bertanya padaku. Aku mana berani padamu," katanya pelan yang hampir seperti bisikan.


"Oh?"


"Kamu—kamu lepaskan aku, oke?"


ZiXuan menaikkan alisnya tetapi dia tetap menyingkir dari atas tubuh Yuan. Melepaskannya.


"Kamu kembali saja,"  katanya dengan tangan yang terlipat.


Takut laki-laki di depannya itu berubah pikiran. Yuan juga segera bangun. "Kamu—marah?"


"Tidak. Aku lelah, kecuali jika kamu ingin tidur denganku maka terserahmu."


Zi Xuan tidak mempedulikannya lagi. Dia melepaskan pakaiannya yang menyisakan baju tidur berwarna putih dan langsung berbaring di ranjang kemudian terlelap.


***


"Selamat pagi, Yang Mulia." Suara lembut itu dengan sopan menyapa telinganya.


Zi Xuan sedikit terkejut saat pandangan pertama yang dia lihat ketika terbangun adalah wajah cantik Yuan.


"Kamu tidak kembali semalam?"


Yuan tersenyum polos dan menggeleng. "Jalanan sangat gelap. Aku takut kembali ke istanaku jadi aku bermalam saja di sini. Bukankah Yang Mulia juga mengizinkannya?"


ZiXuan menatap wanita yang masih gadis di depannya itu dengan serius. "Aku mengerti. Jangan khawatir, aku tidak berniat memperbanyak orang di hareem. Wanita itu terlalu merepotkan," katanya sambil turun dari ranjang. Posisinya adalah Yuan berada di pojok tempat tidur dan ZiXuan berada di pinggirnya. Ntah kapan wanita itu naik ke sana, ZiXuan terlalu lelah sampai tidak menyadarinya.


Senyuman di wajah Yuan semakin mengembang. Dia bersingsut mendekat dan meraih lengan ZiXuan yang berdiri membelakanginya membuat pria itu berbalik menatapnya.


"Aku tau Yang Mulia memang pria yang sangat cerdas. YanLi sangat mengaguminya," katanya memuji.


"Lalu, apakah aku akan mendapatkan sesuatu darimu?"


"Tentu saja! Saudara, karena kamu sangat baik padaku tentu saja aku akan baik padamu. Dalam hidup ini, aku hanya akan menjadi istrimu, setia padamu, tidak akan pernah mengkhianatimu, membantumu dan semuanya. Jadi katakan saja jika kamu membutuhkan bantuanku!"


"Apa itu juga termasuk dirimu adalah milikku?"


"Sebelum menikah, seorang putri adalah milik ayah dan ibunya. Setelah menikah, dia adalah milik suaminya. Apa saudara tidak pernah mendengar kalimat seperti itu?" tanya Yuan dengan kepala yang dimiringkan. Gadis itu benar-benar terlihat sangat polos dan cantik.


ZiXuan menghela napas pelan. "Hmm, baiklah. Kamu boleh kembali dengan tenang ke istanamu sekarang, kan?"


"Yang mulia tidak mengajakku untuk bertemu kerajaan Wei?"


"Tidak. Aku menyuruhmu kembali untuk bersiap-siap."


"Tidak bisakah aku bersiap-siap di sini? Terlalu jauh kembali ke istanaku."


ZiXuan tersenyum tipis. "Apakah maksud permaisuri adalah mengajakku mandi bersama?"


"Ah? Tidak! Tidak! Yang Mulia maksudku—"


Sudah terlambat bagi Yuan untuk menolak. Tentu saja kekuatan pria lebih besar dibanding gadis kecil sepertinya. Tangan hangat itu sudah menariknya entah ke mana.


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...