My Devil Emperor

My Devil Emperor
Hari H



"Suami, apakah aku sudah terlihat cantik?" tanya seorang wanita yang sedang duduk di depan cermin. Mata persiknya menatap wajah pria tampan yang sedari tadi memperhatikannya di belakang.


Pria itu tertawa kecil dan menjawab, "Kapan kamu pernah terlihat buruk?"


Wanita itu tersenyum sombong dan berdiri kemudian berjalan mendekati prianya. "Aku tau aku memang cantik. Bukankah begitu, suamiku?" Dia berjinjit dan melingkarkan lengannya di leher pria itu.


Mendengar panggilannya, dia tertegun. "Kamu sedang menggodaku?"


Wanita itu tertawa. "Aku tidak. Kamu tidak punya waktu."


"Oh? Jika kamu mau, aku bisa melakukannya dengan cepat."


Wajah si wanita memerah. Dia mendorong dada pria itu menjauh darinya dan dengan marah berkata, "Siapa yang mau?"


Si pria meraih pinggang ramping wanitanya. "Aku serius," bisiknya pelan.


"Yang Mulia Kaisar, berhentilah menggodaku!"


"Siapa yang memulainya, hm?"


Yuan merengut kesal. "Kamu menang!" katanya.


ZiXuan tersenyum tipis. Dia menundukkan kepala mencium pipi putih kemerahan itu. "Aku tidak berani melawan. Nyonyaku yang menang."


Mendengar rayuan itu, Yuan menyembunyikan wajahnya pada leher ZiXuan setelah kembali melingkarkan lengannya lagi. "Suamiku, aku sangat mencintaimu."


"Mengapa permaisuriku menjadi sangat romantis akhir-akhir ini? Katakan, apa yang kamu inginkan?"


Yuan mengangkat wajahnya dan menatap sengit pria di depannya itu.


"Aduh! Xiao Li, apa yang kamu lakukan!" ujarnya terkejut. ZiXuan mengusap pinggangnya yang menjadi sasaran keganasan Yuan.


"Apakah aku orang yang seperti itu?!"  kata Yuan marah.


"Kamu galak sekali!"


"Siapa yang memulainya?"


"Kamu juga tidak kreatif!" ZiXuan menatap wanita itu berpura-pura kesal karena Yuan menyalin ucapannya.


Yuan melambaikan lengan bajunya dan berkata, "Jangan bercanda lagi. Ayo keluar." Dia berbalik tetapi sebuah tarikan dari belakang dan pelukan yang menguncinya tiba-tiba membuatnya berhenti.


"Xiao Li, jangan terburu-buru. Aku masih merindukanmu. Tidakkah kamu menyadarinya? Kita sudah jarang bersama." Suara lirih itu jatuh di telinga Yuan. Dia menunduk untuk melihat sepasang lengan besar melingkar di pinggangnya.


Tanpa melepaskan lengan itu dari pinggangnya, Yuan berbalik dan menatap pahatan wajah tampan di depannya. Seulas senyuman terbingkai di bibir merah itu dan membuat lesung pipit di pipinya muncul.


Yuan mengangkat tangannya dan menangkup wajah ZiXuan. "Kalau begitu, biarkan acara ini selesai dulu. Setelahnya Tuanku dapat melakukan apapun padaku, oke?"


"Apapun?"


"Apapun, selama suamiku menginginkannya."


Dengan wajah berseri, ZiXuan menunduk dan mencium sekilas bibir wanitanya baru kemudian melepaskan Yuan.


"Baiklah!"


Yuan tertawa kecil dan bergumam, "Kekanakan."


***


"Apakah semuanya sudah siap?"


"Menjawab Ibu Suri, semuanya sudah siap."


Ibu Suri Lian Chun mengangguk dan tersenyum puas. Dia menoleh melihat wanita paruh baya yang berada di belakangnya.


Wanita itu tersenyum sopan dan menunduk. "Ibu Suri sangat mencintai Xiao Li, membuat hamba merasa tenang."


"Omong kosong apa itu? Sejak Xiao Li menikah dengan Xuan'er, dia bukan hanya putrimu tapi juga putriku. Besan, kamu tidak perlu khawatir, kami semua mencintai Xiao Li."


"Acaranya akan dimulai, mari kita pergi," lanjut Ibu Suri Lian Chun kepada Ratu Yin.


Keduanya berjalan bersama menuju aula kekaisaran.


Para tamu kehormatan yang sudah duduk kembali berdiri saat melihat kedatangan Kaisar dan Permaisuri yang masuk ke aula tak lama setelah kedatangan Ibu Suri dan Ratu Yin.


Mereka berjalan berdampingan ke atas singgasana. Baju keduanya terlihat senada, pada pakaian kaisar berwarna emas dengan sulaman naga di bagian belakang jubah dan bagian depan bajunya. Pada baju permaisuri yang juga berwarna emas dengan sulaman burung phoenix di jubahnya dan pola bunga dibagian depan. Keduanya terlihat agung dan mulia.


"Yang Mulia, kamu bilang, aku akan mengetahui apa yang dikatakan Putri Rong hari ini," ujar Yuan mengingatkan. Dia berkata dengan pelan agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.


"Apa lagi? Yang Mulia, aku terlahir dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Siapa suruh kalian terlihat mencurigakan!"


"Kalau begitu, tunggu saja. Dia akan memberitahukannya pada kami."


Yuan menghembuskan napas pelan. "Sudahlah. Yang Mulia juga tidak akan memberitahukannya padaku! Ngomong-ngomong, hari ini cuacanya sangat bagus! Sepertinya ini pertanda baik."


"Darimana kamu tau?"


Yuan mengernyitkan keningnya. "Tidakkah Yang Mulia tadi memperhatikannya saat kami menuju ke sini? Bintang-bintang menyebar di langit, tidak ada awan mendung. Itu berarti tidak akan hujan," analisisnya.


"Bukan itu. Maksudku, darimana kamu tau kalau cuaca cerah berarti pertanda baik?"


"Bukankah biasanya seperti itu?"


ZiXuan menggeleng. "Aku tidak percaya. Cuaca tidak bisa menentukan nasib. Manusia adalah pelaku dan Tuhan adalah penentu."


Yuan terdiam. Dia bingung mau menjawab apa. Pria di sampingnya ini terlalu menanggapinya serius, kan?


Keduanya berbalik bersama dan menatap para tamu undangan.


"Panjang umur Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri," ucap semua orang di dalam aula.


ZiXuan dan Yuan mengangguk samar sebelum akhirnya duduk diikuti pada tamu yang kembali duduk di kursinya masing-masing.


Seorang wanita cantik berdiri dan berjalan ke depan singgasana. Bajunya berwarna merah muda dengan sulaman bunga kecil di setiap bagiannya.


Di belakang wanita itu, seorang pelayan berjalan mengekorinya dengan sebuah nampan yang ditutupi kain beludru merah.


"Putri Liang Rong memberikan salam kepada Kaisar dan Permaisuri," ucapnya sambil mundukkan kepala dengan kedua tangan yang saling tumpang tindih di letakkan di pinggang sebelah kanan.


ZiXuan menangguk sedangkan Yuan tersenyum tipis.


Beberapa bisikan terdengar di beberapa titik aula.


"Apakah itu adalah Putri Rong yang akan menjadi selir pertama di kekaisaran ini?"


"Putri Rong terlihat sangat cantik walaupun masih lebih cantik Permaisuri Kekaisaran."


"Tidak! Menurutku Putri Rong tidak kalah jauh."


"Untuk apa kalian ributkan? Keduanya jelas lebih cantik dari kalian semua. Yang satu adalah Permaisuri Kekaisaran dan satu lagi adalah Selir Kekaisaran yang tidak menutup kemungkinan akan naik pangkat."


Yuan menatap seluruh penjuru aula dan berdeham pelan. "Putri Rong tidak perlu sungkan," ujarnya membuka suara yang membuat suasana aula kembali khidmat.


"Terima kasih, Yang Mulia Permaisuri. Di perayaan hari lahir permaisuri, Putri ini memberikan sebuah hadiah yang tidak tau apakah Permaisuri akan menyukainya." Liang Rong menoleh ke arah Xiao Ling dan memberi kode padanya untuk berdiri di samping.


"Ini pasti merepotkan Putri Rong." Yuan melihat ke arah Jingli yang berdiri di dekat undakan tangga pertama.


Jingli mengangguk paham dan berjalan mendekati Putri Liang Rong dan pelayannya, Xiao Ling.


Dia berdiri di depan Xiao Ling dan mengangkat kain penutup yang berada di atas nampan yang dibawa Xiao Ling.


Itu adalah sebuah baju berwarna merah dan emas yang terlihat sangat mewah dan indah.


Para tamu yang datang terlebih lagi para wanita yang melihatnya seakan tersihir. Gaun itu benar-benar sangat indah.


"Itu sangat Indah," gumam seorang wanita yang sedari tadi hanya memperhatikan. Wajahnya terlihat sedikit mirip Yuan, tapi jelas berada dibawahnya.


Pria yang duduk di sebelahnya menoleh. "Jika kamu menyukainya, aku akan menyuruh seseorang untuk membuatkannya untukmu."


Wanita itu menoleh dan tertegun. Tak lama sebuah senyuman tulus terlukis di bibirnya. "Terima kasih, Yang Mulia Pangeran Liu."


Di sisi lain, Yuan juga terpana sejenak sebelum akhirnya kembali tersadar. "Gaun yang sangat indah. Terima kasih untuk hadiahnya, Putri Rong."


Jingli mengambil nampan itu dan membawanya pergi.


Yuan menatap bingung Putri Rong yang masih berdiri di depan sana.


"Ada hal lain"


"Iya. Ada hal yang ingin hamba sampaikan kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, mungkin ini sebuah permintaan, berharap kaisar dan permaisuri bisa menyetujuinya."


Yuan sedikit gugup. Walaupun ZiXuan sudah mengatakan bahwa itu bukanlah hal yang merugikan, tapi tetap saja dia merasa cemas.


"Katakan."


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...