
Matahari menyembul malu-malu di balik gumpalan awan putih. Sinarnya meredup tetapi tidak menghalangi kehangatan di pagi hari.
Yuan sudah terbangun satu jam lebih awal dari terbitnya matahari pagi. Melangkah keluar kamar untuk menghirup udara segar.
Dia berjalan lambat menyusuri taman istana ditemani Jingli dan Yunniang. Sesekali tangannya menyentuh embun di daun dan bunga yang ia lewati.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara lembut seorang wanita dari arah lain.
Yuan menaikkan alisnya bingung. Ia melihat seorang wanita bangsawan sedang tertawa kecil. Di sampingnya ada lelaki yang cukup tampan. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang menarik sampai tidak menyadari kehadiran Yuan dan dua pelayannya.
"Siapa mereka?" tanya Yuan pada siapa saja yang dapat menjawabnya.
"Dia adalah Putri dari Kerajaan Luo. Tuan Putri Luo Li," jawab Jingli. "Yang di sampingnya mungkin calon suami pilihan Putri Luo Li," lanjutnya sedikit ragu pada bagian kedua.
"Benar. Itu Putri Luo Li dan Panglima Perang sekaligus tunangannya, BaiSan," ujar Yunniang menambahkan sekaligus menghilangkan keraguan Jingli.
"Putri Luo Li?" ulang Yuan tanpa sadar.
Jarak yang semakin dekat membuat Luo Li dan BaiSan akhirnya menyadari kehadiran Yuan.
Luo Li berjalan mendekati Yuan dan membungkuk. "Salam kepada Yang Mulia Permaisuri. Maaf tidak menyadari kehadiran Anda sebelumnya," ucap Luo Li sopan. Senyumnya tak pernah tertinggal di setiap kalimat menambahkan kesan bahwa wanita itu memiliki hati yang lembut dan karakter yang baik.
Yuan membalas senyumnya dan berkata, "Tidak perlu terlalu sungkan."
Luo Li kembali menegakkan tubuhnya. "Tidak sungkan. Sebuah kehormatan bisa bertemu dan menyapa Permaisuri secara langsung. Oh iya, dia adalah Panglima Perang kerajaan kami, BaiSan." Luo Li menarik tangan lelaki yang sedari tadi diam itu ke sampingnya.
"Salam kepada Yang Mulia Permaisuri Xuan," ujar BaiSan memberi salam.
Yuan melirik sekilas kemudian kembali menatap Luo Li dengan senyuman. "Juga calon suamimu, bukan?" tambahnya.
Luo Li terlihat malu. Ia menundukkan pandangan. Bulu matanya sedikit bergetar dan berkata dengan pelan, "Itu benar."
"Kalian pasangan yang serasi. Semoga selalu bahagia dan lancar hingga hari pernikahan."
"Terima kasih atas doa yang diberikan Yang Mulia Permaisuri," ujar Luo Li bersamaan dengan BaiSan. Keduanya sempat saling melirik sebelum kembali menundukkan pandangan.
Yuan berpikir, pasangan ini terlihat menggemaskan. Ia pun tertawa kecil dan berkata, "Aku ingin mengajak Putri Luo Li, tetapi nampaknya ini bukan kesempatan yang tepat. Kalau begitu aku akan pergi sekarang."
Digoda secara terang-terangan oleh Yuan membuat wajah kedua orang berbeda jenis itu semakin memerah.
"Permaisuri—"
"Sampai jumpa lain waktu."
•••••
Seorang wanita cantik berjalan pelan menapaki sebuah jalan yang menuju ke Istana Qin. Di tangannya memegang sebuah nampan yang ditutupi oleh sebuah anyaman.
Sinar jingga menyapu wajah sebening batu giok itu. Matanya sedikit menyipit saat sinar matahari terbenam tepat menyorot ke arahnya.
Ia berhenti di depan pintu dan bertanya pada penjaga. "Apakah Yang Mulia ada di dalam?"
Kedua penjaga itu kompak membungkuk di depannya dan segera menjawab pertanyaan dari wanita itu yang mengatakan bahwa kaisar ada di dalam.
Kemudian wanita itu pun membuka pintu dengan sebelah tangan dan masuk ke dalam.
"Suami," panggil wanita itu pelan. Kakinya melangkah semakin masuk ke dalam ruangan megah itu.
Ia mencari ke sekeliling dan ke setiap sudut kamar, tetapi orang yang di carinya tidak ada. Wanita itu menggeram kesal dan hendak pergi sebelum sepasang tangan memeluknya dari belakang.
"Mencariku?"
Yuan mendelik kesal. "Jika tidak?"
ZiXuan tertawa pelan dan mencium pipi Yuan dari samping. "Duduklah dulu," ujarnya sambil melepaskan pelukan dan menuntun Yuan untuk duduk di ranjangnya.
"Apa yang kamu bawa?"
Wajah yang sebelumnya ditekuk itu kembali cerah. Yuan membuka penutup pada nampan dan meletakkannya di atas pangkuan.
"Cobalah," ujarnya sambil menyodorkan sepiring kue berbentuk bunga berwarna merah muda.
"Kue jenis baru?"
Yuan mengangguk semangat. Ia menjelaskan bahan dan cara membuatnya kepada ZiXuan. Sedangkan pria itu hanya sesekali menjawab, mengangguk dan berdeham pelan sambil memakan kue itu.
"Apakah rasanya enak?" tanya Yuan setelah selesai berbicara.
ZiXuan menurunkan tirai matanya kemudian tersenyum. "Enak. Kemampuan memasakmu semakin meningkat."
"Suamiku, aku memang bisa memasak, hanya saja kamu memiliki selera yang tinggi. Kamu tidak suka terlalu dingin atau panas, tidak suka terlalu pedas atau hambar, tidak suka terlalu manis, dan tidak suka terlalu asin. Aku menghabiskan banyak waktu hanya untuk memasak satu jenis makanan yang kau sukai."
"Xiao Li-ku sudah bekerja keras. Terima kasih."
"Benarkah?" ZiXuan mendekatkan wajahnya pada Yuan, tetapi wanita itu menahannya dengan meletakkan tangan mungilnya pada dada bidang ZiXuan.
"Yang itu, kamu masih tidak boleh melakukannya." Bulu matanya bergerak gelisah. Di bawah pantulan cahaya lilin, wajahnya telihat merona sampai ke telinga.
"Mengapa? Bukanlah seharusnya sudah? Xiao Li, aku sudah sangat merindukanmu," kata ZiXuan dengan suara parau tetapi tidak berniat menyingkirkan tangan Yuan yang menahannya.
Yuan semakin menundukkan wajahnya yang kian memerah. Bukannya tidak mau atau tidak suka, ia hanya belum siap saja. Jika Yuan memberikan izin, ZiXuan tidak akan cukup hanya dengan satu kali, pria itu sulit untuk dihentikan. Jadi Yuan memakai alasan kehamilannya dan saran tabib istana sebagai tameng untuk menghentikan godaan yang ZiXuan berikan padanya.
"Bulan depan. Mari lakukan bulan depan!" putusnya tanpa menatap ZiXuan.
ZiXuan menggeram tertahan. "Minggu depan!"
"Tidak bisa! Bulan depan!" ujar Yuan menolak.
ZiXuan menatap kesal Yuan. Ia menepis pelan tangan wanita itu di dadanya. "Minggu depan atau hari ini!?" katanya yang terdengar seperti ancaman. Ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Baiklah, baiklah. Minggu depan!" jawab Yuan cepat-cepat.
ZiXuan tersenyum penuh kemenangan dan menarik kembali wajah tampannya.
Yuan menghela napas lega. Matanya kembali terbuka sempurna. Masih dengan wajah yang memerah, Yuan memperhatikan kamar ZiXuan. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah sebuah lukisan yang tertutupi sekat pembatas.
Yuan berjalan ke balik sekat. Memperhatikan lukisan pohon persik yang sedang ditumbuhi bunga. Tidak ada yang aneh sampai ia menemukan warna dinding yang sedikit berbeda di balik lukisan.
"Apakah ini ruang rahasia?" tanyanya berbalik menatap ZiXuan dari balik sekat.
Pria itu tidak bergerak dari posisi duduknya. Sambil memakan kue bunga itu, ia menjawab, "Permaisuri memiliki mata yang tajam. Kamu melihat berbedaan warna dindingnya, bukan?"
"Benar. Suami, apa yang ada di dalamnya?"
"Hanya ruang kosong dengan beberapa barang peninggalan. Kamu boleh masuk jika mau."
Mendengar itu, Yuan sudah akan mencari kunci pembukanya saat sebuah ketukan di pintu menginterupsinya.
ZiXuan melirik Yuan sebentar sebelum akhirnya berkata, "Siapa?"
Orang di luar menjawab bahwa dia adalah seorang pelayan dan mengatakan bahwa permaisuri memerintahkannya untuk menyampaikan pesan.
Mendengar dirinya disebut-sebut, Yuan berhenti bergerak. Mendengarkan apa yang akan pelayan itu sampaikan.
ZiXuan berdiri dan membuka sedikit pintunya. "Apa yang ingin permaisuriku katakan?"
"Menjawab Yang Mulia, permaisuri meminta Anda untuk menemuinya di Ruang Penyimpanan malam ini."
Keningnya berkerut bingung. "Mengapa dia tidak datang menemuiku sendiri?" tanya ZiXuan pada pelayan yang tidak dikenalnya itu.
"Hamba kurang tau, Yang Mulia."
"Baiklah, kamu boleh pergi."
Pelayan itu membungkuk sebelum pergi meninggalkan Istana Qin dengan patuh.
ZiXuan kembali masuk dan menutup pintunya. Ia menatap Yuan yang termangu di balik sekat.
"Mengapa kamu menyuruhku menemuimu di Ruang Penyimpanan?" tanyanya penasaran.
Yuan seakan tersadar saat mendengar pertanyaan ZiXuan. Ia berjalan keluar dari sekat dan berkata setengah bercanda, "Aku tidak pernah menyuruh seseorang untuk datang padamu dan menyampaikan pesan bahwa 'aku menunggumu di Ruang Penyimpanan'. Untuk apa juga memintamu bertemu di sana? Menangkap nyamuk? Membersihkan sarang laba-laba kecil yang ingin naik ke talang air?"
ZiXuan terdiam sesaat. Sepertinya pria itu mulai mengerti ada yang salah di sini.
Ia kembali menatap Yuan yang sudah berada di depannya.
"Tunggulah di sini. Aku akan kembali." ZiXuan berjalan kembali menuju pintu. Ia sudah akan pergi meninggalkan Yuan untuk memastikan sesuatu, tetapi sebuah kulit yang terasa dingin menyentuh lengannya.
ZiXuan menunduk dan mendapati tangan kecil Yuan menahan lengannya. "Ada apa?" tanyanya lembut sambil membalikkan badan.
"Bawa aku bersamamu," ucap Yuan sambil menarik-narik lengan ZiXuan.
Tangannya terulur mengusap puncak kepala Yuan. "Tidak aman. Tetap di sini."
"Tidak pasti. Bagaimana jika orang jahat menculikku saat kamu pergi? Bukankah akan lebih baik jika kamu membawaku?"
ZiXuan tau sangat sulit bagi seseorang untuk membawa pergi orangnya, terlebih itu seorang permaisuri kecuali jika orang itu memiliki kultivasi yang tinggi. Tetapi pada masa ini, sudah sangat jarang ditemui seorang kultivator atau sekte-sekte yang melakukan kultivasi. Hanya ada satu daerah yang masih bertahan hingga saat ini, tetapi daerah tersebut dilindungi oleh kaisar sendiri. Sebuah desa kultivasi dengan beberapa sekte di dalamnya. Bagian dari daerah kekuasaan di bawah gunung kekaisaran tetapi kaisar terdahulu sudah memberikan kebebasan untuk daerah itu. Jelasnya istana kekaisaran tidak memiliki masalah pada desa itu. Desa ini di beri nama Desa Tanpa Bulan yang sudah menarik diri dan terisolasi dari daerah sekitarnya. Jadi sangat kecil kemungkinan mereka berkhianat pada dermawannya.
Tetapi mendengar penuturan Yuan membuatnya sedikit paranoid untuk meninggalkan wanita itu sendiri sekarang.
"Kalau begitu, tetaplah di sampingku!"
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...