
"Apakah ini yang kamu sebut luka ringan? Saudara, aku tau kamu terlalu gengsi untuk mengakuinya tapi tidak perlu sejauh ini kan? Putra Mahkota Ling itu juga terlalu kejam!"
"Ada beberapa hal yang kamu tidak perlu membesarkannya dan kontrol diri itu sangat perlu. Jika kamu ingin menjatuhkan seseorang, kamu tidak perlu mengotori tanganmu sendiri."
Yuan menyipitkan matanya menatap pria itu. ZiXuan sangat manipulatif, sepertinya dirinya sendiri juga harus waspada.
"Kenapa? Ada yang salah?"
Yuan menggeleng cepat. "Tidak. Hanya saja aku sedikit takut padamu."
ZiXuan tertawa keras mendengar ucapan jujur wanitanya. "Kamu jangan khawatir, selama kamu menuruti perintah dan setia padaku, tidak akan ada masalah."
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Sudah memasuki musim panas sekarang. Seorang wanita muda nan cantik itu duduk dengan pandangan kosong menatap ke depan.
"Permaisuri, Permaisuri." Jingli berlari sambil memegang sebuah gulungan kertas di tangannya.
"Ada apa?"
Jingli menyerahkan gulungan kertas itu pada Yuan. "Undangan pernikahan Pangeran Liu dan Putri FengJi," katanya setelah itu.
Yuan mengambil gulungan kertas berwarna merah itu dan membacanya. "Lalu mengapa kamu sampai seheboh ini?"
Jingli menghembuskan napas pelan. "Permaisuri akan datang?" tanyanya tanpa menyembunyikan rasa penasaran.
"Tentu saja aku akan datang. Mengapa tidak datang? Lagipula kami adalah keluarga, sudah seharusnya aku menghadiri pernikahannya," lanjut Yuan bijaksana.
"Permaisuri baik-baik saja?" Jingli menatap Yuan yang terlihat santai. Padahal dia pikir akan ada kesedihan di wajahnya.
"Memangnya aku harus bagaimana?" tanya balik Yuan dengan kerutan di dahinya.
"Permaisuri tidak sedih?"
"Kenapa aku harus sedih?"
"Anda dan Pangeran Liu--"
"Itu sudah masa lalu. Lagipula aku tidak mengenalnya." Yuan menghentikan ucapan Jingli saat tau ke mana arah pembicaraan itu.
"Ah, baiklah." Jingli berhenti sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Yuan dengan ragu.
"Ada apa? Saudari ingin mengatakan sesuatu lagi? Jika ada, katakan saja. Jangan ragu," tebak Yuan.
Jingli meringis dan menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Anu, sebenarnya saya penasaran. Saat Permaisuri bertemu Pangeran Liu beberapa bulan yang lalu, apakah benar-benar tidak merasakan apapun?"
"Mmm, tidak ada. Apa yang bisa kamu rasakan saat kamu tidak begitu mengenalnya? Kalaupun ada cerita, itu dulu sebelum saya kehilangan ingatan saya, juga apa yang harus saya lakukan jika masih menyukainya? Kami sudah dalam posisi yang berbeda. Aku sudah menikah dan dia akan menikah," jelas Yuan sambil berpangku tangan.
Jingli mengangguk ringan. "Permaisuri, kamu benar. Seharusnya saya tidak mengungkit hal ini lagi. Mohon maafkan kelancangan saya," ujarnya sambil menunduk.
Yuan tersenyum tipis. "Tidak masalah. Kedepannya, jika kamu memiliki pertanyaan, kamu bisa langsung bertanya. Kamu dan aku adalah keluarga."
Mendengarnya, Jingli menjadi sangat sensitif. Dia mengusap sudut matanya yang berair. "Permaisuri, bisa mengikuti dan melayanimu adalah kehormatan dan anugerah yang pernah saya dapatkan."
***
Yuan memasuki Istana Qin, saat dia bertanya pada salah satu kasim di aula yang mengatakan bahwa kaisar sudah kembali ke kediamannya.
Dia menutup pintu kamar ZiXuan dan segera mencari pria tampan itu.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Ah! Yang Mulia, kamu mengejutkanku!"
"Kamu sudah dua kali masuk ke kamarku tanpa izin. Bukankah seharusnya saya yang kaget?"
"Kami adalah pasangan suami dan istri, mengapa saya perlu meminta izin untuk memasuki kamar suami saya sendiri? Nah." Yuan menyodorkan undangan itu di depan Zi Xuan.
ZiXuan mengambil dan membukanya. Alisnya terangkat saat sudah selesai membacanya. Dia menatap Yuan dengan pandangan mengejek. "Permaisuri sedang patah hati ya?" tanyanya.
Yuan mengernyitkan keningnya, bingung. Ada apa sih dengan orang-orang itu? "Mengapa harus aku patah hati? Itu hanya sebuah pernikahan."
Tiba-tiba ZiXuan mendekatkan dirinya membuat Yuan memundurkan langkah dengan mata waspada. Pria itu menarik lengan Yuan dengan satu tangan dan tangan lainnya ia lingkarkan di pinggang gadisnya hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.
Yuan menahan napasnya selama beberapa saat. Dengan jarak sedekat ini, ia bisa mendengar ritme detakan jantung Zi Xuan yang teratur.
ZiXuan tersenyum tipis. Dengan sebelah tangan yang sudah melepaskan lengan gadis itu, dia menyelipkan anak rambut Yuan di belakang telinga dan berbisik, "Mengapa? Apakah pelukanku terlalu erat?"
Yuan meringis pelan. Dia merinding saat napas hangat itu membelai kulit leher dan telinganya. "Tidak, tapi ini masih terlalu dekat."
"Oh?" Alih-alih melepaskan gadis di pelukannya itu, ZiXuan justru menggendongnya.
"Eh!" Yuan refleks melingkarkan tangannya pada leher pria itu.
ZiXuan membawanya duduk dengan posisi Yuan di pangkuannya.
"Saudara, kamu biarkan aku turun, oke?" bujuk Yuan sambil berusaha melepaskan tangan pria itu yang masih melingkar di pinggangnya.
"Kamu ingin pergi?" Tanpa menanggapi permintaan gadis itu, ZiXuan mengubah topik pembicaraannya.
"Ah? Oh itu, tergantung apakah saudara ingin pergi atau tidak." Merasa usahanya sia-sia, pada akhirnya Yuan mengikuti alurnya saja.
"Sebagai menantu, tentu saja kami akan pergi. Hanya saja aku mengkhawatirkanmu. Apakah kamu siap?" tanyanya. ZiXuan memainkan jarinya pada pola baju Yuan, membuat gadis yang berada di pangkuannya itu menegang.
Yuan menepis pelan tangan ZiXuan dan menatapnya. "Aku sudah mengatakannya, itu hanya sebuah pernikahan antara adikku dan mantan kekasih yang bahkan aku sendiri masih belum mengingatnya. Sejak aku menikah denganmu, maka dia dan aku tidak lagi memiliki hubungan. Bahkan jika kamu menceraikanku, aku juga tidak tertarik padanya. Dia bukan tipeku."
"Bagaimana jika suatu hari kamu mengingatnya?"
"Kurasa hari itu tidak akan pernah terjadi. Jikapun terjadi juga tidak akan bisa mengubah apapun lagi. Saudara, aku memiliki pendirian yang kuat. Meskipun kami menikah tanpa sengaja, karena kamu sudah menjadi suamiku, maka aku tidak akan pernah mengkhianatimu."
ZiXuan tersenyum puas. "Kita akan berangkat besok."
***
Sesuai dengan rencana, ZiXuan bersama dengan Yuan pergi keesokkan harinya.
Dengan penjagaan yang ketat dan panjang mengiringi kereta kuda yang dinaiki Kaisar dan Permaisuri menuju tanah Zhou.
Yuan mengenakan baju berwarna emas dengan sedikit warna perak di beberapa bagiannya, sebuah mahkota emas, dan perhiasan yang semakin menegaskan kedudukannya sebagai Permaisuri Kekaisaran. Setengah bagian wajah cantik itu tertutupi cadar yang hanya menampakan mata indahnya.
Sementara ZiXuan memakai baju yang berwarna senada dengan Yuan dengan beberapa aksesorisnya.
"Saudara, berapa lama kami akan sampai?"
"Bukankah kamu pernah melewatinya?"
Yuan mengernyit bingung, tetapi kemudian dia menggeleng. "Tidak. Saat aku ke ibukota, Jenderal kerajaan Wei membuatku tidak sadarkan diri, ketika aku membuka mata, aku sudah dikurung olehnya. Jadi aku tidak tau berapa lama waktu yang dihabiskan selama perjalanan."
"Itu kurang lebih dua belas jam."
Tiba-tiba Yuan teringat sesuatu yang lain. "Saudara, boleh aku bertanya lagi?"
"Kamu katakan."
"Apa itu inti spiritual dan penyimpangan Qi?"
Ekspresi ZiXuan berubah serius saat mendengarkan pertanyaan Yuan tadi. "Darimana kamu mendengarnya?"
"Saudari Jingli. Dia menceritakanku sejarah leluhur kekaisaran kami."
"Inti spiritual adalah wadah untuk aliran Qi. Sedangkan pengertian dari Qi ini adalah energi, spiritual dan kekuatan hidup. Jika aliran Qi menyimpang tentu saja dapat menyebabkan hal yang berbahaya seperti kematian."
"Oh aku mengerti. Jadi inti spiritual ini adalah jantung dan qi adalah napas atau darah?"
ZiXuan menggeleng dan berkata, "Tidak. Untuk inti spiritual bukan begitu artinya. tetapi pengertian Qi sudah benar. Inti spiritual tidak dimiliki oleh semua orang, itu hanya orang-orang tertentu saja. Kamu pernah mendengar tentang teknik kultivasi?"
"Jalan untuk mendapatkan kekuatan dan menuju keabadian dengan cara meditasi?" jawab Yuan ragu. Sebenarnya dia pernah menonton drama dengan tema seperti itu, jadi dia sedikit tahu tentang beberapa hal termasuk kultivasi ini.
"Cerdas! orang yang memiliki inti spiritual ini lah yang dapat mengambil teknik kultivasi dan menjadi seorang kultivator. Bisa di bilang, inti spiritual adalah hal yang paling dasar dan diperlukan untuk menjadi seorang kultivator. Jika dia tidak memilikinya, maka dia tidak akan bisa berkultivasi bahkan di teknik terendahnya."
"Apakah sekarang ini masih ada yang mengambil jalan itu?"
"Sulit untuk dikatakan. Tapi seiring berkembangnya zaman ditambah sulit dan lamanya metode itu, orang-orang mulai meninggalkannya. Semua bisa menjadi kuat asalkan mereka memiliki kecerdasan dan kekuasaan. Sepertinya kekayaan lebih berguna dibanding kehidupan yang panjang."
Yuan mengangguk-angguk setuju. "Benar juga."
•••••