
Malam yang gelap tanpa sinar bintang dan bulan. Angin berhembus kencang membuat salah satu jendela yang tidak ditutup rapat itu tiba-tiba terbuka menimbulkan suara yang keras. Hembusannya juga memadamkan semua penerang yang ada di kamar itu.
Sepasang mata yang baru saja terpejam itu sontak terbuka dan menoleh ke asal suara. Diam-diam dia bernapas lega saat mengetahui itu hanya suara jendela yang terbuka. Dengan langkah gontai, dia turun tadi ranjangnya dan berjalan pelan untuk mengunci jendela.
Tangannya meraba-raba sekitar tempat, mencari letak lentera untuk dinyalakan. "Eh? Bagaimana aku akan menyalakannya?" ujarnya tanpa sadar.
"Sauda—" ucapannya terputus saat sebuah telapak tangan besar yang dingin menutup mulutnya.
Mata gadis itu terbelalak. Belum lagi pikirannya menjadi tenang, sebuah tangan yang lain sudah melingkari pinggangnya. Dia dikunci oleh seseorang di belakangnya.
Walaupun tidak yakin dirinya bisa melepaskan diri dari orang asing yang tiba-tiba berada di kamarnya itu, dia tetap berusaha memberontak dalam pelukan itu.
"Ini aku." Sebuah suara terdengar di belakangnya. Suara itu lemah tetapi dia masih bisa mengenalinya.
"Yang Mulia Kaisar!" ujarnya terkejut. Yuan melemahkan perlawanannya, membiarkan orang di belakang itu secara alami melepaskannya. Benar saja, setelah pria itu tidak merasakan perlawanan gadis di depannya, dia pun melepaskannya.
"Bagaimana kamu bisa ada di kamarku? Kapan kamu kembali?" tanya Yuan sambil berbalik. Di dalam kegelapan, dia meraba tempat ZiXuan berada.
Wajah cantik itu mengernyit saat merasakan sesuatu yang aneh.
"Bantu aku dulu." Zi Xuan berkata tanpa menjawab pertanyaan Yuan sebelumnya.
Yuan meringis pelan. "Itu, aku tidak tau arahnya. Ini terlalu gelap. Aku baru saja ingin memanggil Jingli untuk menghidupkan lilin di kamarku, tapi kamu menghentikannya." Dia mendengar pria di depannya itu membuang napas pelan tak lama Yuan kembali mendengar suara jentikan jari dan ruangan itu kembali terang dalam kedipan mata.
Matanya terbelalak. Bukan karena keajaiban yang baru saja terjadi, tetapi karena pandangannya kembali jelas dan dia benar-benar dapat melihat keadaan orang di depannya.
"Saudara, apa yang terjadi padamu? Kamu—kamu—bagaimana kamu bisa terluka?" tanya Yuan terbata-bata. Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Yuan melangkah maju, menuntun ZiXuan untuk duduk di ranjangnya. Mata seindah bunga persik itu entah sejak kapan sudah berkaca-kaca.
"Aku—akanku panggilkan tabib istana," ujar Yuan hendak pergi. Tetapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahan lengannya. Yuan berbalik dan melihat ZiXuan yang sudah menatapnya.
"Tidak perlu. Ini bukan luka yang serius."
Yuan menatap pria itu ngeri. "Bagaimana kamu bisa mengatakan itu bukaan luka yang serius? Perlukah aku mengambil cermin agar kamu bisa melihat keadaanmu sekarang?"
ZiXuan tersenyum tipis. "Itu benar-benar tidak perlu. Kamu bahkan tidak boleh membiarkan berita ini sampai keluar pintumu." Wajahnya sedikit mengernyit sambil menekan perutnya.
Yuan yang menyadari perubahan raut wajak pria itu langsung berjongkok di depannya. "Lihat? Masih bilang ini bukan luka yang serius?"
Pria itu mendengus kesal. "Kamu pikir aku apa? Manusia normal tentu bisa kesakitan. Ini reaksi alami ketika terluka!"
"Baiklah, baiklah. Lalu biarkan aku membantumu menghentikan pendarahannya dulu." Yuan berdiri dan hendak pergi.
"Tidak perlu keluar. Di lacimu paling bawah itu ada beberapa obat-obatan."
Yuan mengerjapkan matanya. Dia tidak menjawab, tetapi kakinya melangkah ke tempat yang ditunjuk ZiXuan. "Mengapa bisa ada obat-obatan di kamarku?"
"Itu obat darurat. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi. Juga, itu bukan hanya ada di kamarmu saja."
Yuan mengangguk paham sambil ber'oh' ria.
Dia kembali duduk di sebelah Zi Xuan dengan beberapa wadah kecil yang terbuat dari keramik. Ia meletakkan obat-obat itu di sampingnya.
"Apa?" tanya Yuan bingung saat ZiXuan merentangkan kedua tangannya.
"Bukankah kamu bilang ingin mengobatiku? Lalu buka bajunya."
Yuan menunduk dalam. Wajahnya mulai memerah. Mengapa pria itu bisa mengatakannya begitu santai.
Dia mulai membuka baju zirah ZiXuan dengan mudah dan menurunkannya. Wajahnya semakin memerah saat tidak sengaja menatap bentuk tubuh pria itu.
Sangat proporsional!
Tiba-tiba wajahnya kaku. Dia mengangkat wajahnya menatap ZiXuan. "Saudara, yang mana yang harus aku pakaikan terlebih dahulu?" tanyanya pelan.
"Kamu tidak tahu? Ini bahkan jenis obat-obatan dasar."
Yuan menggeleng ragu. Bukannya tidak tahu, tapi obat-obatan tradisional dan modern jelas berbeda. Ditambah lagi, Yuan kan bukan anak farmasi! Dan obat-obatan modern memiliki label dan nama. Yang bentuknya seperti ini, bagaimana dia bisa membedakannya?
"Ambil tempat yang berwarna putih itu," katanya pasrah.
Yuan segera mengikuti instruksinya. Dia membuka wadah keramik obat itu, ternyata sebuah obat dengan bentuk salep berwarna hijau. Baunya sedikit menyengat tetapi tidak sampai membuat Yuan mual. Jari telunjuknya mengambil obat tersebut dan mulai mengoleskannya pada bagian pinggang ZiXuan dengan perlahan. Matanya menyipit melihat luka sobek yang mengerikan itu. Ini jelas luka berat!
Sedangkan pria itu secara alami memejamkan matanya saat obat menyentuh luka. Keningnya sedikit mengerut tetapi bibirnya tidak mengeluarkan suara sekecilpun.
"Tunggu sebentar." Yuan berdiri dan mengambil sebuah sapu tangan di atas meja yang tak jauh darinya. Dia kembali berlutut di depan ZiXuan dan menempelkan sapu tangan itu pada lukanya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu.
"Saudara, bantu aku pegang ini sebentar," lanjutnya yang langsung dilakukan ZiXuan.
Gadis itu segera kembali dan mengikat luka ZiXuan. Dia menghela napas lega saat melihat hasil tangannya.
"Saudara, kamu beristirahatlah," ujar Yuan lembut dan membantu membaringkan badan Zi Xuan di ranjangnya. Dan tanpa perlawanan, lelaki itu menurut saja saat Yuan membaringkan tubuhnya. Ia sudah sangat lelah dan mengantuk dan tanpa sadar mulai terlelap.
***
Yuan terbangun saat merasakan sesuatu mengusap kepalanya. Dia tertidur duduk di lantai dengan kepala yang dia sandarkan di ranjangnya.
"Saudara, kamu sudah baik-baik saja?"
Zi Xuan hanya mengangguk sambil menarik tangannya dari kepala Yuan.
"Ingat untuk jangan mengatakan apapun tentang keadaanku pada orang lain," kata Zi Xuan membuka suara.
Yuan menatap laki-laki itu sebentar. Sepertinya Zi Xuan sudah lebih baik sekarang. Diapun mengangguk dan menjawab, "Baiklah."
"Aku akan mengambil sarapan," lanjutnya dan segera meninggalkan ZiXuan yang kali ini tidak menahannya.
Rasanya Yuan tidak pergi lama, tapi saat dia kembali, ZiXuan sudah menghilang.
"Rasanya aku tidak bertemu dia di luar. Lewat mana dia pergi?" gumam Yuan dan kemudian keluar dari kamarnya.
"Apa kamu melihat seseorang keluar dari kamarku?" tanya Yuan pada salah seorang pelayan yang berada di depan kamarnya.
"Tidak, Permaisuri."
"Oh, baiklah. Kembali bekerja." Yuan kembali menutup pintu kamarnya.
Jadi lewat ZiXuan pergi? Dia juga masih tidak tau bagaimana pria itu semalam bisa masuk ke kamarnya. Apa ada jalan rahasia di sini?
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, itu juga membuatnya kembali tersadar. Yuan kembali memutar badannya dan membuka pintu.
"Ah, itu kamu. Saudari, bantu aku membersihkan diri."
Jingli membungkukkan badannya dan menjawab, "Baik. Yang Mulia, ada hal lain juga yang ingin saya sampaikan."
"Katakan," ujar Yuan sambil melangkah masuk diikuti Jingli.
"Yang Mulia Kaisar memintamu untuk menemuinya."
Yuan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jingli. "Oh? Yang Mulia sudah kembali? Apa dia baik-baik saja?"
Jingli mengangguk. "Yang Mulia baik-baik saja."
"Oke."
Selesai berhias diri, Yuan segera pergi ke ruang baca kekaisaran seorang diri. Dan di sinilah dia berada sekarang.
Dia menyipitkan matanya memperhatikan ZiXuan yang seperti biasanya, membaca dokumen tanpa mempedulikan Yuan. Padahal dia jelas tau ada orang lain di sana.
"Saudara, mengapa kamu menyuruhku kemari jika kamu hanya fokus dengan dokumenmu saja?"
"Kemarilah."
"Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku semalam? Dan bagaimana kamu keluar daru kamarku tadi? Apakah lukamu sudah tidak apa-apa? Tidakkah perlu memanggil tabib agar lukanya tidak infeksi? Mengapa aku harus merahasiakannya?"
ZiXuan meletakkan dokumen ditangannya dan mengangkat wajahnya. Dia menatap wajah cantik gadis di depannya itu. "Kamu ke sini dulu," katanya sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk.
Yuan pun menghampiri Zi Xuan dan saat jaraknya sudah tidak terlalu jauh, pria itu langsung menarik lembut lengan Yuan yang membuat gadis itu terjatuh di pangkuannya.
Yuan tentu saja terkejut. Dia mencoba berdiri tetapi lengan pria yang menahan pinggangnya itu terlalu kuat. "Saudara, apa yang kamu lakukan? Jangan macam-macam, lukamu nanti akan berdarah lagi!"
"Maka dari itu, kamu jangan banyak bergerak."
Menyadarinya, gadis itu pun berhenti bergerak. Dia tidak punya pilihan lain sekarang.
Sebelah tangan ZiXuan terulur mengambil sebuah kotak kayu panjang dengan ukiran yang terlihat halus. Dia membukanya dan berkata, "Ini untukmu."
Yuan mengerjapkan matanya. Di hadapannya itu adalah sebuah jepit atau tusuk rambut burung Phoenix berwarna emas dengan permata sembilan warna. Panjang tusuk rambut itu sekitar empat belas senti dengan rumbai emas lima belas senti. Sanga indah.
Melihat mata penuh kekaguman itu, ZiXuan tersenyum tipis. Dia mengambil jeput rambut itu dan memakaikannya pada rambut Yuan.
"Begini lebih terlihat bagus."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...